Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Save Junda


__ADS_3

Relina mengangguk, sementara Junda terdiam dengan mata yang tidak bergerak dari menatap Relina. Dia tidak percaya dengan apa yang didengar dan menganggap ucapan wanita yang ada di hadapannya hanyalah candaan belaka.


Sebaliknya Relina sangat serius dengan keinginannya, dia menduga mungkin Junda sudah memikirkan tentang hal ini sebelumnya. Dia mendekati Relina, sedangkan kepercayaan keluarganya menikahi wanita yang tidak memiliki tanda yang sama dengan dirinya.


“Pernikahan bukan permainan,” kata Junda menunjukkan keseriusannya.


“Aku tahu, lalu apa kamu khawatir dengan keluargamu?”


“Bukan seperti itu.”


“Lalu seperti apa?”


“Bagaimana dengan keluargamu.”


Relina mengambil tasnya yang sejak tadi tergeletak di sampingnya. “Keluargaku baik-baik saja. Mereka akan setuju dengan keputusanku. Aku yang menikah dan aku yang menjalani pernikahan, bukan mereka. Kenapa harus khawatir?”


Dia mengambil ponsel dan sebuah buku, dari tas itu, lalu melihat beberapa jadwal acara, rapat, meninjau proyek dan lain-lain. Semua jadwal yang sudah Relina susun sendiri dengan menyesuaikan pekerjaan dan rekan kerjanya.


Masalah keluar dan pernikahan memang harus dibicarakan bersama, oleh karena itu Relina harus mencari waktu yang tepat untuk mengunjungi kedua orang tuanya. Tentunya di luar semua jadwal itu.


Kening Relina berkerut membaca semua agenda, dia akan memiliki waktu untuk pergi ke kampung halamannya sekitar tiga bulan lagi. Dia menghela napas panjang sambil menoleh pada Junda yang masih terpaku, sepertinya pria itu berpikir sangat keras.


“Apa yang kamu pikirkan? Aku punya waktu pulang sekitar tiga bulan lagi, dan itu masih lama ...” kata Relina menunjukkan raut wajah sedih.


Junda mengusap pipi Relina lembut, sambil merenung tentang keputusannya untuk menuruti keinginan wanita yang dicintainya. Dia ingat perjalanannya untuk sampai pada titik ini, di mana dengan leluasanya mereka bisa bersama tanpa disertai pertengkaran seperti biasanya.


Bahkan sekarang, dengan tenangnya Relina mengajaknya menikah, di saat dia sudah putus asa dan memutuskan untuk tidak menikah dengan siapa pun walaupun dia menginginkan gadis itu menjadi kekasihnya.


Junda memang pernah bertekad untuk menjalin hubungan serius dengan, karena dia menyayangi Relina, tapi juga menyayangi Shasi. Neneknya itu sudah banyak berkorban mendampinginya selama ini. Dia tidak ingin wanita yang sudah tua dan sekarang sakit itu lebih menderita lagi.

__ADS_1


“Aku tahu, kamu mikirin Nenek, kan? Tenanglah, aku cuma mengusulkan dan nggak maksain kamu, kok. Tadinya aku kira, kita bisa menikah tanpa harus Nenekmu tahu. Itu pun kalau kamu sungguh-sungguh.”


Junda dalam dilema kini, semua yang dikatakan Relina benar, semua akan mudah bila dia bersungguh-sungguh. Hatinya kembali seperti dua cakrawala yang terbelah menjadi dua. Satu sisi menginginkan Relina tanpa memedulikan mitos serta Neneknya, di sisi lain dia tidak ingin membuat Shasi sedih karena dirinya.


“Baiklah. Ayo! Kita coba buat rencana. Tiga bulan lagi aku akan ikut denganmu pulang. Bagaimana?” Akhirnya itulah kalimat terbaik yang bisa diucapkan Junda. Ya, mengapa tidak berupaya untuk memulai dan merencanakan sesuatu dari pada terus pasrah tanpa berbuat apa-apa?


Rencanakan saja, atur target dan mimpi, dan dengan apa yang menjadi dikemudian hari, maka itu atas kuasa Tuhan. Kalaupun pada akhirnya semua tidak terwujud, mungkin Tuhan memang tidak menghendaki.


Relina mengangguk dan tersenyum puas.


“Sebentar, ya.” Relina meninggalkan Junda sendiri di ruangan itu. Dia pergi ke kamar kecil karena sesuatu yang harus segera dia selesaikan.


Sementara Junda menikmati minuman yang disediakan di meja sambil mengedarkan pandangannya. Tiba-tiba tatapan matanya bertumpu pada buku agenda Relina di atas meja. Dia tersenyum karena menurutnya gadis itu ceroboh sudah membiarkan catatannya begitu saja.


‘Ck! Apa dia tidak takut buku agendanya dibaca orang'


Pandangan matanya tiba-tiba menyipit, saat pada satu lembar di mana ia melihat namanya tertulis di sana.


‘Save Junda, apa maksudnya?’ pikir Junda sambil membolak-balik Lembata itu dan tidak ada lagi catatan lain yang memberi petunjuk maksud dari tulisan itu.


‘Apa dia pikir aku akan tiada, tapi kenapa?’ pikirnya lagi.


Relina kembali tepat ketika Junda menutup buku agenda itu dan membuat Relina tersenyum malu kepada pria yang justru menjatuhkan pandangan bagaikan menghunjamkan sebilah perdang.


“Apa kamu sudah selesai?” tanya Junda ketus.


“Ya,” jawab Relina singkat dan duduk di samping Junda, melihat buku agendanya yang ada ditangannya.


“Sekarang jelaskan apa maksudnya ini? Apa kamu pikir aku bakal tiada sekarang juga?”

__ADS_1


Relina tentu tidak mengerti apa yang dikatakan Junda, hingga dia mengerutkan alisnya sambil mengambil buku agendanya dari tangan pria yang duduk di sampingnya.


“Apa yang harus aku jelaskan?” katanya. Dia merasa tidak menulis apa pun, yang bisa menyinggung Junda. Dengan cepat dia mengambil dan melihat buku itu lembar demi lembar, siapa tahu ada yang tertinggal ataupun memang dia menulis sesuatu yang menyinggung seseorang.


Junda menunjukkan lembaran di mana namanya tertulis.


“Ini?” tanya Rina ketika dia melihat tulisan yang di maksud Junda. “Inj bukan apa-apa, aku hanya ....”


“Aku tidak butuh kamu selamatkan! Aku bukan anak kecil atau orang lemah yang butuh pertolongan!”


Relina menulis kata-kata itu saat dia mendengar kisah mitos tanda lahir pada Junda, yang dianggap membawa kesialan. Lalu secara spontan dia menuliskannya sebagai empati dan pengingat bahwa pria itu memang membutuhkan pertolongan.


Ya, pertolongan dalam bentuk imateri yang bisa membuat pria itu tidak putus asa lagi dalam hubungannya dengan wanita. Sebab menurutnya, tidak ada alibi yang bisa menyelamatkan kepercayaan keluarganya.


Relina hampir menitikkan air mata saat dia melihat Junda berdiri, beranjak dari duduknya. Dia merasa tidak ada yang salah dalam tulisannya. Apalagi dia belum menjelaskan apa pun soal tulisan itu padanya.


Sebenarnya itu adalah ungkapan bahwa dia siap menjadi kekasih sekaligus istri, bila Junda bersungguh-sungguh dalam mencintainya. Baginya mitos adalah mitos dan tentang kebenarannya, tidak ada yang bisa memastikannya.


Semua tergantung nasib dan takdir Tuhan, kalaupun mereka memang di takdirkan bersama maka apa pun mitos yang menghalangi tidak akan berarti apa-apa.


Junda melangkah keluar sambil memakai helmnya, dan berkata. “Soal aku mencintaimu, lupakan saja. Anggap aku tidak pernah mengatakannya. Apalagi soal menikah ... Itu tidak akan pernah terjadi!”


Setelah berkata demikian, Junda pergi meninggalkan Relina begitu saja.


Dari Jendela kamar, Relina menatap kepergian Junda yang meninggalkan rumah dengan mengendarai motor besarnya, dengan kecepatan tinggi.


‘Mungkin belum jodoh. Ah ... Lupakan saja’


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2