
Relina tertegun mendengar ucapan Junda yang menyudutkan dirinya, kejadian di tangga tidak ia sengaja, tapi haruskah dipecat sebagai hukumannya? Memang ia mengakui kecerobohannya yang tidak hati-hati, tapi di pecat di depan semua orang yang ada dalam ruangan, sungguh tidak berperikemanusiaan.
'Mungkin cuma orang seperti dia yang bisa melakukan hal yang riskan seperti ini. Aku juga bukan pegawainya, kenapa aku harus dipecat dua kali oleh orang yang sama?'
Galuh, sebagai pimpinan Relina pun menjawab dengan sopan, "maaf, Pak Junda. Siapa yang anda maksud?"
"Sebenarnya dia bukan pegawai saya, dia sepertinya bawahan Anda," sahut Junda masih dengan senyum miring di sudut bibirnya. "Hanya saja saya tidak terima, dia sudah berbuat tidak sopan."
"Benarkah?" Galuh tidak tahu kejadian dan duduk permasalahannya, lagipula Relina pegawai baru yang pastinya akan belum dikenalnya.
Juanda mengangguk. lalu menceritakan sedikit tentang kejadian di bawah tangga. Galuh pun menatap Relina dengan sinar mata menunjukkan kebingungan. Orang yang berpikir jernih pasti akan menganggap semua adalah kecelakaan yang tidak disengaja.
Galuh menatap Fuad, karena Relina adalah asistennya, hingga ia menyerahkan keputusan di tangan managernya itu.
"Maaf, Pak Junda." Fuad hendak menyampaikan keberatannya. "Sebenarnya kalau dilihat dari kejadiannya, Reli tidak salah ..."
Belum sempat Fuad menyelesaikan kata-katanya, Relina memegang tangannya memberi isyarat, ia menggeleng, khawatir akan terjadi keributan di ruangan itu hanya karena dirinya.
"Cukup, Pak. Tidak usah. Biar saya saja," kata Relina, mencegah agar keadaan tidak melibatkan para pimpinan yang tidak ada hubungannya dengan kejadian itu.
Dia berdiri, menunduk pada semua orang, lalu berkata dengan suara tegas, "Saya Relina, pegawai baru asisiten Pak Fuad, secara otomatis menjadi karyawan Pak Galuh, saya memang tidak sengaja menabrak Pak Junda, kalau karena itu saya harus dipecat, rasanya aneh."
Relina diam sejenak, lalu kembali berkata, "Saya pikir, seandainya saya tidak menabrak Bapak tadi, bisa dibayangkan apa akibatnya, bisa jadi kepala Anda bisa benjol." Tersenyum sinis pada Junda, sedangkan pria itu terlihat kesal, menatap sinis pula pada Relina.
Semua orang berbincang dan membenarkan. Galuh serta Fuad juga mengangguk.
"Lalu, kamu menolak dipecat, begitu?" Tanya Junda.
"Keputusan ada di tangan Pak Galuh dan Pak Fuad." Relina berkata sambil menunduk hormat pada kedua atasannya.
"Pak Galuh." Junda berdiri dan menghadap Galuh. "Kalau perempuan ini tetap menjadi bagian dari kerjasama kita, maka saya batalkan semua kesepakatan ini."
'Apa. Apa ini? Hais dia arogan sekali!'
Fuad ikut berdiri, berusaha membela Relina, ia merasa Relina gadis yang baik dan sopan, tidak genit mencoba menggodanya, bahkan ia terlihat sangat segan untuk sekedar berbasa-basi.
Fuad beberapa kali mendapatkan pegawai yang selalu berpenampilan seksi menggoda, padahal seberapa kali mereka mencoba menakhlukkannya, tidak akan menggoyahkan cintanya untuk seseorang yang entah berada di mana?
__ADS_1
Ia pun berkata dengan perlahan. "Pak Junda, saya ingatkan, Anda bukan bos bagi asisten saya. Jadi--"
Ucapan Fuad terhenti oleh suara Junda yang menggelegar. "Kalau begitu saya akan mundur dari kontrak!"
"Pak Junda ...!" Kata Fuad dan Galuh bersamaan.
"Cukup!" Tukas Relina, ia masih berdiri dan seketika semua mata tertuju padanya. "Maaf kan saya sudah membuat keributan." Berhenti sejenak dan mengambil napas dalam. "Pak Galuh, Pak Fuad, terima kasih atas pembelaan Bapak berdua pada saya, tapi dari pada kerjasama ini batal. Labih baik saya yang mengundurkan diri. Sekali lagi maaf dan terima kasih ... Saya permisi."
Setelah berkata demikian, Relina menyambar tas, membungkuk hormat untuk yang terakhir kalinya dan pergi begitu saja. Tidak ada yang berusaha mencegahnya karena semua yang ada di sana, belum ada yang akrab dengan dirinya. Termasuk Fuad, pria ini tidak enak dengan Relina tapi ia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Terlalu riskan untuk memanggil Relina kembali.
Gadis berbaju biru muda itu berdiri di pinggir jalan depan hotel untuk menunggu taxi. Sesekali ia masih menoleh ke belakang melihat lokasi rapat yang baru saja ia tinggalkan, dengan pikiran yang kacau. Entah kapan lagi ia bisa berada di hotel seperti itu, mengikuti rapat dengan pimpinan. Rupanya ini menjadi yang pertama dan terakhir kalinya. Ahk ....
'Harus kemana lagi aku mencari pekerjaan, apa aku harus pulang? Aku kan baru setahun kerja di kota, masa pulang, si?'
Begitu ada taxi yang lewat, Relina menghentikannya dan saat ada di dalam, sopir taxi bertanya tujuannya, tapi Relina hanya diam saja.
"Neng, mau ke mana?" Tanya sopir taxi itu lagi.
"Gak tahu, Mang. Jalan sajalah." Relina menjawab asal. Ia sendiri tidak tahu mau kemana, mau pulang rasanya enggan karena hari masih pagi.
'Bingung juga di rumah mau ngapain?'
Relina turun sesudah membayar taxi, ia berjalan ke pos penjaga untuk menumpang istirahat, duduk di sana sambil mengeluarkan ponselnya. Ia ingin menghubungi seseorang.
"Halo. Anne?" Kata Relina saat ponselnya sudah terhubung. "Iya, aku di pos satpam. Kamu keluar bentar, bisa gak? Aku tunggu."
Tak berapa lama ia menunggu, Anne datang mendekati Relina yang duduk di samping pos penjaga.
"Ngapain si, kamu ke sini. Bukannya kamu kerja?" Tanya Anne yang heran dengan kedatangan Relina yang tidak biasa.
"Aku di pecat lagi," Relina memeluk Anne sambil menangis, menumpahkan kekesalan. Anne membalas pelukan Relina hangat.
"Apa? Kok bisa ...?" Tanya Anne lembut, dengan kening yang berkerut.
"Ahk, panjang deh ceritanya," Relina berkata sambil melepaskan pelukannya dan menghapus air mata. "Oh iya, kamu repot gak?"
"Iya. aku lagi banyak kerjaan nih ...."
__ADS_1
"Hmm ... aku kira bisa bolos."
"Emang sekolah kali. Gimana kalo kita ketemu lagi nanti makan siang."
"Oke, aku tunggu di mana? Masih lama, kan?"
"Gimana kalo di kantin?"
"Gak ah, nanti orang yang kenal aku malah pada banyak tanya."
"Ke ruanganku, yuk!"
"Nanti ketahuan, kamu kena masalah karena aku. Gak ahk!"
"Ya terus gimana?"
Disaat Anne bicara, sebuah mobil BMW X15 warna hitam melintas, dan berhenti di depan pos satpam. Relina segera menunduk dan bersembunyi, berharap Junda yang ada di kendaraan itu tidak melihat.
Junda menurunkan kaca mobil lalu menoleh keluar menatap Anne, dan berkata, "Hei! Sekarang jam kerja, kenapa kamu di sini? Ayo masuk!" menutup jendela kembali.
Anne mengangguk sambil mengusap dada yang tiba-tiba saja berdebar karena takut ia akan di marahi.
"Ayo! Neng, masuk. Nanti kena marah bos lagi." Satpam yang sedari tadi hanya diam, menginginkan Anne, sambil melirik Relina yang bersembunyi di balik kursi.
"Ya udah sana masuk, aku mau pulang saja. Mainlah ke kosanku kalau ada waktu, sebelum aku pulang."
"Serius kamu mau pulang?"
Relina mengangguk. Walaupun, hatinya sedikit bimbang, ia tetap tidak mungkin bertahan di tempat ini terus, tanpa penghasilan. Ia pergi lebih dulu meninggalkan Anne yang menatapnya penuh rasa bersalah.
Anne merasa tidak enak, dia yang mengajak Relina melamar pekerjaan di kota itu dan secara tidak langsung menemani serta tidak membuatnya kesepian selama menjadi karyawan baru. Kepergiannya ke kampung halaman tentu akan mengundang banyak pertanyaan dari orangtuanya, juga orang tua Relina.
Sementara Relina memilih untuk menghabiskan waktu untuk berkeliling di kota Bogor, tempatnya mengadu nasib dan menemukan seseorang yang pernah ia sukai. Itu dulu, Gunara orang yang di sukainya pergi meninggalkannya, lalu sekarang dirinya yang akan pergi meninggalkan Gunara.
Ia memanggil taxi untuk pergi ke suatu tempat yang belum pernah ia datangi. Di dalam taxi, Ia memandang ke luar jendela, menikmati perjalanan sendiri, melupakan kejadian buruk yang harus ia lewati. Mungkin hari ini adalah hari terakhir ia berada di sini, sebab besok dia sudah berniat untuk pergi.
Selama setahun, ia hampir tidak pernah pergi ke manapun kecuali kantor, pasar, sekolah tempat berjualan dan taman kota di akhir pekan untuk berolahraga. Selain itu ia gunakan untuk beristirahat, tidur di kamar kostnya. Ia tidak banyak menikmati waktu luang, untuk melakukan hal-hal seperti berbelanja ke mall karena ia harus banyak menabung.
__ADS_1
Sekarang Relina berada di sini, melihat sekelilingnya dengan penuh kekaguman di depan pintu masuk Kebun Raya Bogor, salah satu tempat yang terkenal di Kota, bahkan di seantero negeri.
Bersambung