
Kata-kata yang diucapkan Junda itu sangat melukai hati Shasi, sehingga dia pun merasakan kesdihan dan kecewa karena tidak bisa mengatakan yang sebenarnya pada Junda, bahwa gadis yang pernah ditemuinya waktu itu, adalah orang yang selama ini dicarinya.
Hatinya sakit saat menyadari bahwa Junda telah salah dalam memahami dirinya, tapi apa boleh buat, dia tidak bisa mengatakan apa-apa. Bahkan memberinya isyarat, atau menuliskan sesuatu saja dia tidak bisa. Dia ingin Sekali mengatakan agar Junda segera melanjutkan hubungannya dengan Relina.
‘Junda, jangan berkata seperti itu, dia Gadis yang terbaik untukmu’ batin Shasi terus bergemuruh mengatakannya.
Shasi menilai sendiri kepribadian Relina yang menunjukkan bahwa dia adalah gadis yang baik. Bahkan mempunyai senyum yang tulus kepadanya.
Setelah dia mengetahui bahwa Relina mempunyai tanda yang sama dengan Juanda waktu itu, Shasi merasa senang luar biasa, hingga dia ingin berteriak, agar Junda segera menikahinya karena Relina adalah orang yang akan membahagiakannya.
Shasi tidak bisa menyalahkan takdir atas semua yang telah terjadi padanya. Dia mengakui kecerobohannya, tidak hati-hati saat berjalan padahal dia memakai sepatu hak tinggi, saat dia di bandara.
Perasaan senang yang membuncah membuatya begitu bersemangat, namun kakinya tidak seimbang, sementara dia membawa angsa kesayangannya. Akhirnya dia jatuh dengan sangat keras ke tanah.
Sekarang pun sama, Shasi berusaha berteriak sekuat tenaga, untuk mengatakan yang sebenarnya dan menghilangkan kesalahpahaman Junda pada sikapnya, namun tiba-tiba pandangan matanya menjadi gelap dan wanita tua itu tidak bisa melihat dan merasakan apa-apa, hingga wanita itu kembali terjatuh.
Perawat yang bertugas menduga bahwa kemungkinan Shasi terlalu lelah, karena sejak kemarin wanita tua itu terus menangis dan memberontak dengan gerakan tubuh yang tidak beraturan. Susah dikendalikan walaupun, dua palayan sudah membantu.
Seandainya Shasi bisa berkata waktu itu, maka dia ingin mengatakan bahwa dia merestui hubungan Junda dan Relina. Dia sangat menyayanginya dan ingin, ketika kelak dia tiada, Junda sudah memiliki pasangan dan baik-baik saja.
Junda segera mengangkat tubuh Shasi yang tergeletak tak berdaya di atas lantai dekat dengan kamar mandi dan membaringkannya dengan perlahan di atas tempat tidur. Dia meminta perawat dan pelayan menggantikan pakaiannya karena Junda akan membawanya ke rumah sakit.
“Cepatlah!” pinta junda.
“Baik, Tuan!” kata dua perawat dan pelayan.
Setelah Shasi selesai memakai pakaian, Junda pun segera mengangkat tubuh neneknya dan dibawa ke mobil. Kali ini Junda meminta seorang sopir untuk menemaninya, agar bisa menjaga neneknya di kursi belakang. Sementara mobil melaju dengan kecepatan tinggi meninggalkan rumahnya.
Sesampainya di rumah sakit, petugas langsung membawa Shasi ke ruang unit gawat darurat, dan menunggu dokter untuk menanganinya.
__ADS_1
Sementara menunggu, Junda menghubungi ayahnya, Dion dan saudara lainnya, mengabarkan tentang keadaan Shasi yang harus dirawat di rumah sakit untuk yang kedua kali.
Junda adalah manusia biasa, yang membutuhkan kekuatan serta sandaran dan dukungan atas kejadian yang menimpa Shasi—neneknya.
“Nenek, bertahanlah ... bertahan!” kata Junda berulang-ulang ke
Junda masih ingin tetap bersama nenek atau ibunya, dia masih teringat bagaimana ibunya yang menderita penyakit menular mematikan dan meninggal tanpa boleh dilihat dan di makamkan keluarga. Bahkan mereka tidak boleh melihat mayatnya.
Sangat menyakitkan rasanya kehilangan, apalagi orang yang paling dekat dengannya. Sekarang melihat Shasi berada di posisi yang sama dengan ibunya dahulu.
Melihat kondisi Shasi yang seperti tadi, hatinya seolah tercabik-cabik, hingga dadanya menjadi sesak dan dia tak mampu menahan air matanya yang berlinang begitu saja. Dia belum siap bila harus kehilangan wanita yang sudah menemani dan mengganti ibunya dan disayanginya.
Hatinya semakin kesal saat menyadari dia sendiri belum memiliki wanita yang akan mendampingi hidupnya.
ibunya sudah tiada dan sekarang neneknya pun dalam keadaan kritis. Setelah beberapa lama berbincang, Junda pun menyelesaikan panggilan kepada ayah dan saudaranya. Mereka semua sudah memberikan motivasi yang bagus pada Juanda walaupun neneknya tidak ada hubungannya dengan ayah maupun Dion, tetapi mereka tetaplah keluarga.
Junda melihat dokter keluar kamar dari ruang ICU dan dia pun menghampirinya, sambil berkata, “Bagaimana Dok? Apa Nenek baik-baik saja?” Raut wajah Junda memperlihatkan kepanikan.
Mendengar penjelasan dokter, Junda seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia heran kenapa Shasi memilih untuk meninggalkan dunia dan dirinya, seperti yang dikatakan dokter padanya.
Dokter tidak tahu apa yang terjadi dalam sebuah keluarga pasien yang meninggal. Ekspresi sedih, kecewa, panik, kaget, dari berbagai kalangan sudah biasa dia dapatkan. Baik itu dari para saudara, atau keluarga pasien. Akan tetapi rasa sedih dan pandangan mata bersimpati tetap ada dari dokter itu, saat dia mengatakan kematian seperti sekarang ini.
Sebelum dokter itu pergi Junda mengeratkan kan giginya antara satu dan yang lainnya sehingga menimbulkan suara gemeretak dan rahangnya mengeras. Tangannya terkepal lalu mengarahkan tinju ke dinding. Dia tidak peduli tangannya yang berdarah seolah dia tidak merasakan sakit. Dia masih berusaha berdamai dengan keadaan dan hatinya sendiri, dengan langkah cepat menuju ruang ICU, di mana terlihat neneknya sudah ditutup oleh selembar kain putih.
“Kenapa nenek meninggalkan Junda sendiri? Kenapa nenek tidak bertahan, apa Nenek sudah tidak sayang lagi denganku? Nenek sudah rindu dengan ibu? Kalau begitu, apa sekarang nenek sudah bertemu? Kalau sudah, sampaikan salamku kepada Ibu ....” Junda berkata dengan suara keras seolah dia protes, bahwa kepergian Shasi adalah keinginan wanita itu sendiri.
“Teganya kalian, sekarang bahagia sudah bertemu, tapi kalian meninggalkan aku di sini sendiri? Aku dengan siapa Nek? Ayah tidak mungkin lagi aku andalkan untuk bisa menemaniku.” Junda kembali bersuara keras, sepertinya dia tidak perduli bila ada orang lain yang mendengar dan menilainya lemah, serta menganggapnya lelaki cengeng.
Junda merasa dunia tidak adil dan semesta tidak mengizinkannya untuk hidup bahagia. Sepertinya percuma saja memiliki segalanya tapi tidak bisa membeli selembar nyawa.
__ADS_1
Tidak ada gunanya walaupun, dia memimpin perusahaan besar yang mempunyai keuntungan besar tapi tidak memiliki seseorang yang bisa diajak untuk menikmatinya bersama.
Dia mengelola perusahaan dengan mudah karena tidak perlu lagi repot-repot untuk memulainya dari bawah, semuanya hasil jerih payah yang diberikan oleh ayahnya dan dia hanya menjalankannya begitu saja, setelah dia lulus kuliah.
Belum pernah dia merasakan kehilangan dan tidak berarti seperti sekarang ini. Hidungnya seolah tak berguna dan semua yang dia usahakan hanyalah sia-sia.
Setiap orang memiliki ujian hidupnya sendiri, berbeda-beda, begitu pula dengan endingnya.
Memang Junda tidak harus mendirikan dan mengelola usahanya dengan kerja keras dari awal, saat perusahaan itu belum sesukses ini. Akan tetapi dia diuji dengan kehilangan, ibunya meninggal di usia muda, dengan cara yang miris. Dia hidup dengan neneknya, lalu ditinggalkan oleh ayahnya yang menikahi wanita lain, hingga sekarang dia menjadi sebatang kara.
“Nek, aku beri tahu, ya, kalau Nenek pergi meninggalkanku, maka semua kepercayaan Nenek itu akan kukubur juga.” Setelah berkata demikian, Junda beranjak pergi, meninggalkan ruangan yang menakutkan itu dan membiarkan para pengurus jenazah melakukan tugasnya.
Itulah tekad Junda, yang berpikir bahwa akan tetap mempertahankan apa yang dipercayai neneknya selama neneknya itu masih hidup karena dia ingin membahagiakannya. Oleh karena itu, Junda selalu menuruti semua yang diperintahkan dan di yakini oleh neneknya.
“Junda, jangan pergi kamana pun hari ini, sekarang waktu apes, ini tanggal ganjil Kamis Wage.” Suatu ketika Shasi pernah melarang dengan alasan aneh, tapi Junda tetap menurutinya.
Atau pernah juga Shasi merebut peralatan elektronik yang sedang Junda bersihkan di malam hari saat dia baru saja pulang dari bekerja, dengan alasan nnati rezekinya akan habis.
Pernah juga ketika dia hendak mengalihkan kantor untuk sementara waktu di proyek yang cukup jauh, neneknya ikut bersama sambil membawa lampu bersumbu dengan minyak tanah kecil, yang dibiarkan terus menyala dan sebuah sapu lidi di tangannya, dia terus menggerakkan sepanjang perjalanan.
“Ini, biar jalanmu nanti lancar!” kata wanita itu. Bahkan saat masuk rumah apartemennya pun Shasi membawa batu ulekan yang biasa digunakan untuk menghaluskan bumbu dapur, dan memasukkannya pertama kali sebelum barang-barang lainnya. “Ini biar rumahmu aman, nggak ada gangguan,” jawab Shasi ketika Junda bertanya.
Akan tapi sekarang Shasi--neneknya itu sudah pergi, sehingga dia merasa tidak perlu lagi mempertahankannya.
Junda menunggu semua proses pemulangan jenazah ke rumah duka, sambil meNenangkan hatinya dari kekecewaannya, termasuk pada Relina.
Bersambung
__ADS_1