
Malam harinya, saat Relina sudah siap dan Junda menjemputnya tepat waktu.
Relina tercengang, ketika Junda membukakan pintu mobil bagian depan untuk dirinya. Dia berpikir bahwa selalu akan ikut serta bersama mereka dan dia tidak harus duduk di samping Junda. Sebelum masuk, dia pun terdiam lalu menoleh ke arah Junda yang berdiri di sampingnya. Tatapan mereka pun bertemu, dengan membawa perasaan masing-masing yang dilemparkan melalui sorot mata mereka.
Gadis itu menatapnya dengan tatapan heran sedangkan Junda menatapnya dengan takjub. Relina tampak begitu manis malam ini, dengan riasan wajah dan rambut sebahu, yang terkesan seadanya, tapi gaun, sepatu dan aksesoris lain yang Junda berikan secara bersamaan, tadi pagi, menutupi kekurangan yang ada, hingga gadis itu terlihat sempurna.
Relina memakai gaun malam dengan warna peach kesukaannya. Walaupun, modelnya memang sederhana, berupa terusan dengan lengan panjang menutupi pergelangan tangannya dan rok menutupi lututnya, tapi tetap terkesan elegan dan serasi.
Model baju seperti itu yang selalu dipakai Relina karena menutupi tanda putih yang cukup besar dan mencolok di bawah siku tangan kirinya. Dia selalu minder dengan tanda lahir itu sejak dia masih sekolah dulu.
Setelah saling melihat cukup lama, Relina bertanya dengan perasaan herannya. “Kenapa cuman berdua, kemana Bu Sya?”
“Dia sudah ada di sana.” Junda menjawabnya asal.
Meskipun terasa agak canggung, tapi Relina tetap masuk dengan terpaksa dan duduk di samping Junda yang akan menjadi pengemudi bagi mobilnya sendiri.
Junda menoleh lurus melihat Relina, setelah mereka selesai memakai sabuk pengaman. Dia berkata sambil tersenyum.
“Kita buat kesepakatan sebelum berangkat ... kalau kamu setuju boleh ikut, kalau tidak kamu bisa tinggal, lalu kembali pada kesepakatan awal.”
“Apa?” Relina tampak tidak bersemangat. Bahkan dia tidak membalas tatapan Junda.
“Jangan berbicara formal padaku nanti, jangan panggil aku Bapak, jangan gunakan kata Anda dan saya, perkenalkan dirimu sebagai kekasihku, oke?”
‘Hais, menggelikan sekali'
“Apa? Tapi itu bohong, Pak!”
“Anggap saja kamu sangat membenciku seperti dulu, bukankah kita pernah berbicara, dengan aku dan kamu? Jadi panggil saja namaku.”
‘Ya, baiklah memang aku sangat membencimu, haha’ Relina tertawa dalam hati.
“Baiklah,” sahut Relina sambil menyeringai.
__ADS_1
Mobil pun melaju membelah jalanan, sepanjang jalan mereka tidak saling berbicara sedikit pun, hanya sesekali Relina melirik Junda di sampingnya, yang sedang sibuk mengemudi. Ingatannya tertuju kepada Gunara yang sedang berada di rumah sakit. Dia membatalkan rencananya untuk pergi ke sana karena harus mempersiapkan segala sesuatu untuk malam ini.
Relina manfaatkan waktu siang sampai sore hari tadi, untuk lebih banyak bekerja karena tidak akan bekerja malam harinya. Sebenarnya semua itu dia lakukan demi menutupi rasa sedikit tidak nyaman di hati pada pamannya, walaupun Danu tidak mempermasalahkannya.
Setelah sampai di tujuan, Junda memarkirkan mobilnya dan turun, membukakan pintu untuk Relina. Membuat gadis itu merasa seolah-olah dirinya adalah kekasih yang sebenarnya bagi Junda.
Apalagi saat pria itu meraih dan menyimpan tangan Relina ke atas lengannya, sambil berjalan tegap di karpet merah, yang sengaja di gelar untuk para tamu undangan. Mereka layaknya sepasang kekasih pada umumnya.
Kemarin malam saat Junda mengambil keputusan untuk mengajak Relina ke pesta gala dinner, dia pergi menuju salah satu butik terkenal, yang ada di sekitar hotel tempatnya menginap.
Dia mencari gaun yang pas untuk Relina di acara itu. Saat tiba di sana, Junda meminta para pegawai butik membawakan beberapa contoh gaun resmi, dengan model yang sederhana dan tertutup.
Saat para pegawai membawakan beberapa gaun yang diinginkannya, dia hanya membayangkan Relina dengan segala kepribadian yang dia kenal sebelumnya. Pilihannya pun jatuh pada gaun yang sekarang dipakai gadis itu. Ketika Junda melihatnya keluar dengan pakaian yang diberikannya, dia pun tersenyum puas.
Junda masih ingat saat para pegawai menyerahkan bingkisan gaun yang sudah di kemas rapi lengkap dengan sepatu, tas dan perhiasannya, salah satu di antara mereka berkata, “silahkan, Tuan, semoga Nona muda menyukainya.”
Sebenarnya ucapan pegawai itu hanyalah formalitas tapi Junda menyukainya.
Gedung tempat acara digelar dikelilingi oleh bendera warna-warni berbagai sponsor dan merek produk terkenal yang semuanya mendapatkan label top brand tahun ini. Walaupun, malam hari, tetapi lampu dan cahaya yang terang di mana-mana membuat suasana seolah tidak ada bedanya dengan siang hari.
Relina dan Junda memasuki gedung sambil bergandengan tangan, Junda bersikap sangat lembut dan hangat kepada Relina, dia adalah pacarnya! Walaupun risih karena belum seberapa dekat dengan Junda, Relina tetap memaksakan senyum manisnya.
Melihat kenyataannya mereka seperti pasangan, Relina merasa geli, mengingat mereka menjadi dekat seperti ini karena sesuatu yang absurd.
Junda duduk bersebelahan dengan Relina, berada dalam satu meja bundar, bersama dua orang lainnya, kebetulan sekali dua orang itu adalah sepasang suami istri. Semua meja dan kursi yang ada semua sudah sesuai jumlah dan nama dari para tamu. Mereka menikmati hidangan yang sudah tersedia, sambil menikmati hiburan yang merupakan penutup dari sekian rangakaian acara sebelumnya. Adapun pidato dan sambutan, serta motifasi dari beberapa tokoh terkemuka, hanya bersifat selingan saja.
Junda memiringkan badannya dan berbisik pada Relina setelah selesai makan. “Apa kau senang?”
“Aku gugup,” Relina menjawab sambil berbisik karena dia malu di dengar oleh orang di sebelahnya.
“Benarkah?” Junda menatapnya tak percaya, sebab Relina terlihat sangat tenang. Gadis itu pun mengangguk.
“Kamu, dapat apa dari acara ini?” Relina kini memiringkan badannya, berinisiatif untuk membuka obrolan dengan Junda.
__ADS_1
Pria di samping Relina itu ikut mengimbangi gerakan tubuh Relina, hingga mereka begitu dekat. Dia berkata, “produk perusahaan dapet label top brand tahun ini. Produk akan lebih unggul, perusahaan mendapatkan plakat dan penghargaan.”
“Oh.” Relina mengangguk dan menerka bahwa untuk mendapatkan penghargaan seperti ini, sebagai pemimpin perusahaan akan membutuhkan banyak inofasi dan kerja keras, serta dukungan semua pihak. Hal besar tidak akan pernah terjadi dengan sendirinya, melainkan butuh sebuah kolaborasi.
“Ayah pasti bangga, aku berhasil tahun ini.”
“Selamat, ya. Itu pasti tidak mudah.”
“Seandainya sekarang aku sudah punya istri, akan kuberikan penghargaan itu untuk istriku.”
“Wah, pasti dia wanita yang beruntung,” sahut Relina sambil mengangguk.
“Apa kamu sudah selesai makan?” tanya Junda kemudian yang diangguki oleh Relina. Dia sangat menikmati makanan yang ada, walau sedikit jumlahnya, seperti makanan di hotel bintang lima pada umumnya, tapi sudah cukup bagi Relina.
Dia tahu, makanan seperti itu memang sedikit, dihias dengan sangat indah bahkan terkesan sayang untuk memakannya, tapi harganya sangat mahal. Belum lagi cara makan yang harus sesuai dengan situasi, terlihat sopan serta tenang, sebab kalau tidak, akan sangat memalukan. Relina cukup bersyukur, dia tidak terkesan kuno dalam hal ini.
Setelah Relina mengangguk, Junda berdiri dan menggamit tangan Relina, seraya berkata, “Ayo! Kita berkeliling sebentar.”
Mau tidak mau Relina mengikuti dan membiarkan tangan mereka kembali bergandengan. Gadis itu sedikit heran, karena sikap Junda sangat berbeda dengan yang ditunjukkannya selama ini.
Junda mengajak Relina berjalan perlahan menuju samping gedung dan melihat pemandangan di luar, sambil bersandar di sisi pagar pembatas. Ada taman yang cukup indah dan bisa lebih indah dinikmati bila pagi atau sore hari.
“Kenapa kamu berbeda?” Relina memulai pembicaraan setelah kedua tangan mereka terlepas lalu sama-sama menggunakan kedua tangan mereka untuk bertopang di sisi dinding setinggi pinggang orang dewasa.
Junda menoleh, lalu berkata. “Aku?” sambil menunjuk dirinya sendiri. “Berubah?”
“Iya.” Relina menjawab dengan cepat. Menurutnya memang Junda berubah drastis. Biasanya kasar dan memaksa, tapi sekarang terkesan lembut dan ramah.
“Sebenarnya aku memang seperti ini,” jawab Junda tenang. Membuat Relina mengerutkan alisnya, dia berpikir.
Tiba-tiba seseorang memanggil nama Junda dari jauh, sebelum Relina sempat mengeluarkan segala rasa penasarannya.
“Hai, Jun. Aku cari kamu dari tadi, nggak tahunya di sini. Kenapa hp kamu? Kok nggak bisa dihubungi? Terus ngapain sih, kamu di sini?” cecar Syalu setelah dekat dengan Junda. Wanita itu tanpa malu memeluk dan bergelayut manja pada satu tangan Junda.
__ADS_1
Bersambung