
Suara keras yang terdengar memekakkan telinga bahkan menghancurkan sebagian dinding bata restoran, berasal dari tabung gas yang meledak di bagian dapur. Satu orang dinyatakan tewas di tempat, yaitu seorang koki yang sedang memasak di dapur.
Beberapa orang lainnya terluka termasuk di antaranya adalah Relina. Saat Relina mendekat ke arah Juanda dia berencana membisikkan sesuatu pada pria itu bahwa dia ingin agar Junda mau menciumnya dengan lembut. Gadis itu akan mengajaknya kembali ke mobil.
Akan tetapi yang terdengar bukan bisikan Relina melainkan teriakan keras dan suara ledakan.
Ada beberapa benda yang menghantam bagian belakang tubuh Relina hingga tubuh gadis itu terhempas dan jatuh ke atas tubuh Junda yang secara bersamaan terjengkang ke belakang. Kepala dan punggungnya membentur lantai sedangkan Relina berada di atasnya.
Junda sempat melihat Relina tersenyum tipis dan mata yang memandangnya dengan teduh, menahan rasa sakit yang amat sangat, tapi kemudian mata itu terpejam.
Relina tidak sadarkan diri, sedangkan Junda seperti dilindungi oleh orang yang dicintai. Dia iingin berada dalam posisi seperti ini dengan Relina, berbaring dan saling berpelukan lalu berganti posisi, antara dirinya atau Relina. Akan tetapi tidak dalam kondisi yang menyakitkan seperti ini, tidak! Melihat gadis bertubuh kurus, sering sakit-sakitan sejak kecil dan terkesan rapuh itu kini bersimbah darah, sangat menyakitkan.
Junda bergeser untuk bangkit tanpa melepaskan tubuh Relina yang terkulai tak berdaya. Setelah berhasil duduk, dia memeluk tubuh bersimbah darah dengan erat. Seperti tidak rela bila Relina terluka, kalau bisa dia ingin bertukar nasib dengannya. Ya, perempuan ini benar-benar menjaga dan melindunginya secara tidak sengaja terus-menerus dari awal kedekatan mereka.
Sementara suasana di sekitar sedikit gelap karena asap dan api mulai menjalar ke sekelilingnya. Beberapa orang yang selamat segera berlarian panik, mereka berusaha membantu orang lainnya, atau berusaha memadamkan api dengan menggunakan alat seadanya. Udara terasa tipis tanpa oksigen membuat semua orang yang masih berada di area itu terbatuk-batuk.
Sudah berapa kali Junda berhutang nyawa dengan Relina dan kejadian kali ini adalah yang paling menghancurkan hatinya. Dia semakin gelisah saat melihat Relina dalam pingsannya, terlihat kesusahan menghirup udara, napasnya terlihat sesak.
Junda berusaha untuk bangkit, setelah berhasil membersihkan beberapa bongkahan bata dan material lainnya dari tubuh Relina dan dirinya sendiri. Darah di kepala dan tubuh gadis itu masih terus menetes, membuatnya mengepalkan tangan dan memejamkan mata, miris sekali melihatnya. Dia mengabaikan rasa sakit yang mendera bahkan, tanpa terasa air mata pun meleleh.
“Maaf ... seharusnya aku yang berada di posisimu sekarang ....” gumam Junda lirih, sambil berdiri. Dia harus kuat mengangkat tubuh Relina tanpa menunggu orang lain membantunya.
__ADS_1
“Tuhan ... kumohon selamatkan dia!” kata Junda lagi dengan penuh pengharapan.
Junda mengabaikan rasa sakit di tubuhnya, akibat terjatuh, juga kepala yang sakit akibat suara ledakan. Dia bergegas mengerahkan sekuat tenaga untuk mengangkat tubuh Relina, memasukkan ke mobil dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
Pria itu mengendarai mobilnya dengan membabi buta, sebentar-sebentar dia mengusap lelehan air mata di pipinya. Tak tega rasanya melihat wanitanya bersimbah darah. Ada rasa takut kehilangan yang sangat besar dan kuatir hal buruk akan terjadi. Dia baru pertama kali memiliki rasa cinta pada wanita sahabat ini.
Setelah sampai di rumah sakit, Junda segera menyerahkan Relina kepada para petugas yang ada di UGD, mereka pun melakukan tindakan sebagai pertolongan, sedang Junda menunggunya dengan gelisah di luar ruangan operasi.
Sementara menunggu, Junda menghubungi beberapa orang yang terlibat dengan pekerjaan Relina, sehingga mereka tidak mempertanyakan keberadaannya. Biar bagaimanapun sebuah perusahaan dan proyeknya harus tetap berjalan sebagaimana mestinya. Siapa yang menduga hal buruk akan terjadi pada pimpinannya. Orang kepercayaan akan melakukan apa saja yang harus mereka lakukan untuk mengatasi pekerjaan mewakili tanggung jawab pimpinan perusahaan, bila tengah berhalangan.
Dua orang penting yang dihubungi Junda adalah Fuad dan Erwin, mereka begitu terkejut dan tidak percaya dengan apa yang terjadi pada Relina, akan tetapi mereka tetap tenang dan menggantikan tugas Relina dengan baik, serta mempercayakan wanita itu pada Junda sebab mereka tahu Relina hanya sebatang kara di tempat itu.
Cukup lama Junda berdiri mondar-mandir di depan pintu ruang operasi, hingga kemudian pintu terbuka dan beberapa dokter dan perawat keluar dari sana. Salah satu dari dokter itu berdiri di hadapan Junda yang sudah menunggu.
Tanpa ragu Junda menjawab, “Ya.” Sambil mengangguk cepat, “bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok?”
“Istri Anda masih kritis, lukanya cukup serius, di bagian belakang telingan, bahu dan punggung ada luka memar yang parah dan ada sedikit cidera di bagian lainnya. Tapi yang lebih buruk, istri anda menghirup asap yang banyak sehingga mengganggu paru-parunya. Jadi Anda harus banyak berdoa saja untuk kesembuhannya.” Setelah berkata demikian, dokter itu pun pergi.
Bersamaan dengan kepergian dokter itu, beberapa perawat mendorong brankar Relina ke ruang ICU. Junda mengikutinya sambil berurai air mata. Miris melihat Relina tergolek lemah dengan posisi miring karena sebagian bahu dan punggung terluka.
Junda hanya bisa melihat Relina dari balik kaca, setelah Relina dipindahkan. Pria itu terus saja bergumam menyebutkan nama Relina dan dan berdoa untuk kesembuhannya.
__ADS_1
“Cepat sembuhlah. Kita akan menikah bukan? Aku akan mempercepat pernikahan kita, sebelum kamu sembuh,” ujarnya lirih dari balik kaca. Setelah itu dia menghubungi seseorang.
*****
Pagi-pagi sekali Junda sudah tiba di rumah sakit, seharian kemarin dia tidak pulang dan hanya menunggu di luar ruangan dengan gelisah, mengharap adanya perubahan, mengharapkan Relina segera siuman. Akan tetapi tidak ada apa pun yang terjadi.
Dia pulang setelah larut malam karena tubuhnya sangat lelah, dia juga sebenarnya sakit, tapi diabaikan. Seorang suster mengingatkannya untuk pulang sebab percuma saja menunggu. Junda menurutinya, setelah suster itu mengatakan bahwa akan menghubunginya bila Relina sudah siuman.
“Pasti, kamu yang sudah buat anak saya begini, kan?” kata sebuah suara yang menyapa Junda begitu dia tiba di sana. Itu adalah Renita—ibu Relina dan Rosihan—ayah Relina.
Junda yang mengabari mereka tentang keadaan Relina.
“Aku harap, kamu menjauh dari anakku sekarang juga. Kalau tidak, Relina akan selalu sial seperti ini, semua karena kamu, tahu!” kata-kata wanita itu begitu menyakitkan bagi Junda.
Perjalanan cinta bersama Relina tidaklah mudah, penuh dengan jatuh bangunnya sebuah rasa dan keyakinan untuk menyayangi dan sekarang bahkan dia akan menikahinya walau tidak tahu gadis itu akan sadar atau tidak. Akan tetapi yang dia dapatkan adalah penolakan. Terlihat jelas Renita tidak menyukainya dan memperlihatkannya dengan terus terang.
Rosihan yang hanya diampun terlihat sama, wajahnya menunjukkan ketidak rekaan atas semua yang terjadi pada anak perempuan yang sangat dia sayangi.
“Ibu ... sa—“ kalimatnya terputus karena Renita kembali bicara.
“Jangan panggil aku ibu! Aku bukan ibumu,” kata Renita setengah berteriak.
__ADS_1
Mereka berada di luar ruangan yang tertutup, hanya bisa melihat Relina dari balik kaca. Keadaannya mengenaskan, banyak selang dan kabel yang terpasang di tubuhnya.
Bersambung