Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Istana Negara


__ADS_3

Relina membantu Icha menarik kopernya keluar dari Hotel Salak The Heritage Bogor, sambil terus bercakap-cakap. Ia melirik beberapa kamar yang ia duga salah satunya adalah kamar Junda. Ia kemudian menggeleng dan menipiskan bibirnya, berharap tidak bertemu laki-laki itu di sana hari ini.


'Apes banget kalau aku ketemu lagi sama dia'


Icha memutuskan pulang hari itu juga ke Jakarta, karena subuh tadi ia dihubungi oleh pengasuh anaknya, bahwa anaknya tiba-tiba demam tadi malam. Ia mempunyai seorang anak laki-laki dari hubungan satu malamnya dengan seseorang yang tidak bisa ia temukan selama tiga tahun ini. Meskipun demikian, wanita tetap akan membantu Relina yang ingin bisa mendapatkan izin untuk masuk ke Istana negara.


"Maaf ya, Rel. Aku gak bisa nemenin kamu japan-jalan ke istana," kata Icha ketika sudah sampai di pintu gerbang Istana. Wanita itu sudah meminta izin pada pihak pengawal dengan menunjukkan beberapa kartu identitas serta alasan kunjungannya.


Permintaan izin kunjungan ke Istana negara tidak bisa dilakukan secara dadakan, atau tanpa pemberitahuan. Sebab biasanya kunjungan dilakukan oleh sekolah-sekolah, yayasan satu organisasi atau instansi, atau kelompok tertentu, termasuk di dalamnya media massa yang memiliki kebutuhan meliput Istana kepresidenan.


Namun Icha berhasil meminta izin khusus untuk Relina karena ia hanya ingin berswa foto di halamannya saja.


"Tapi, Bu. pengunjung biasa dilarang membawa kamera, atau mengambil gambar di dalam istana." kata Pengawal yang saat itu menemui Icha dan Relina.


"Pak, kami juga tidak akan masuk ke Istana kok. Cuma di halamannya saja," kata Relina setelah tahu bila memerlukan izin untuk bisa masuk ke sana.


Setelah itu Icha menggamit tangan Relina, sementara kopernya ia simpan di luar pos penjaga.


"Rel, sekali lagi maaf ya, aku harus pulang."


"Iya, gak apa," kata Relina sambil menepuk-nepuk bahu Icha.


Setelah itu Icha memberikan sebuah gantungan kunci yang berbentuk gitar, dari saku bajunya. Saat itu mereka berdiri tak jauh dari pos penjaga, Icha berpenampilan lebih anggun, sedangkan Relina masih memakai pakaiannya yang kemarin.


"Rel, ini buat kamu. Jaga baik-baik jangan sampai hilang."


"Kenapa, apa benda ini berharga? Kalau memang berharga, kenapa gak kamu simpan saja?"


"Ini salah satu barang miliknya yang tertinggal di kamar waktu itu, aku selalu membawanya. Kalau aku bertemu dia, aku ingin mengembalikannya. Tapi ternyata aku tidak pernah bertemu dengannya."


"Jangan putus asa, Cha!"


"Ini sudah tiga tahun, Rel. Anakku juga sudah besar. Aku gak mau berharap lagi sekarang."


"Kamu gak tahu, siapa namanya?"


"Aku lupa. Waktu aku bangun dia sudah pergi."


"Kamu gak mabuk miras waktu itu, kan?"


Mendengar Relina bicara, Icha tertawa dan menyahut, "bukan karena miras. Aku kelelahan sampai hampir pinsan. Dia yang membantu. Dia keren, aku yang menggodanya waktu itu."


Relina menggelangkan kepala saat Icha menceritakan hal memalukan itu tanpa malu.


"Baiklah, aku akan simpan baik-baik di sini." Relina berkata sambil memasang gantungan kunci itu di resleting tasnya.


Sebelum pergi, Icha kembali bicara pada Penjaga istana yang selalu waspada.


"Pak, saya tahu kalau masuk istana, tidak boleh mengambil gambar kecuali atas izin khusus seperti pihak media, atau televisi,"


"Bagus kalau sudah tahu, makanya, tas Anda juga harus di simpan di tempat penitipan barang, Bu."

__ADS_1


"Iya, iya, baik," kata Relina dan Icha bersamaan.


"Jadi, boleh ya, Pak. Teman saya ini mau foto di halamannya saja."


"Boleh, Bu. Silahkan."


Begitu pengawal istana negara itu selesai bicara, kedua perempuan itu saling berpelukan dan Relina mengucapkan banyak terima kasih, sebelum akhirnya Icha pergi.


Protokol ketat seperti itu memang biasa dilakukan setiap pengunjung di Istana Negara, yang di bangun tahun 1744, di atas tanah bekas wilayah Kerajaan Padjajaran itu. Di antaranya adalah ketika istana pengunjung di larang menyentuh perabotan apa pun yang ada di dalamnya, seperti kursi, meja, lukisan, bufet dan pernak-pernik lainnya, pengunjung hanya diperbolehkan melihat-lihat, dengan mendengarkan penjelasan dari seseorang atau guide istana.


Setiap istana negara memiliki ciri khas tersendiri, begitu pula Istana Kepresidenan Bogor yang memiliki ciri khas sebagai istana seribu cermin. Disebut seperti itu karena ada banyak sekali cermin di dalamnya.


Ada dua istana negara yang berada di satu propinsi sama, yaitu istana Cipanas yang juga memiliki ciri khas, yaitu istana seribu lukisan. Dikatakan seperti itu karena ada begitu banyak lukisan dari pelukis terkenal yang menghiasi dindingnya.


Istana Bogor mempunyai ciri khas lain, seperti adanya rusa yang di datangkan secara khusus dari Nepal. Rusa khas berwana coklat itu dipelihara dengan baik di sana.


Setelah Icha pergi, tinggallah Relina sendiri di halaman istana mengambil beberapa gambar, tentu dengan pengawal yang selalu setia berdiri di dekatnya.


'Memang harus seperti itu ya, pengamanannya? Padahal aku sudah gak bawa apa-apa lho cuma hp saja'


Relina memanjakan matanya melihat halaman yang luas yang ditumbuhi rumput hijau dan terawat rapi, mengelilingi bangunan megah bercat putih khas istana-istana raja, dengan tiang-tiang besar sebagai penyangga.


"Bu, nanti siang ada kunjungan dari sekolah, kalau mau bergabung dengan rombongan? Ibu bisa melihat isi istana." Tanya pengawal yang selalu mengikuti kemana pun kaki Relina melangkah. Padahal gadis itu hanya berjalan tak jauh dari pos penjaga.


"Oh ya. Bolehkah?"


"Mungkin saja, boleh. Anda tinggal minta izin pada kepala rombongan dan membayar sesuai ketentuan."


"Oh, tidak. Terima kasih." Relina enggan mengurus soal izin apalagi harus membayar. Ahk, ia mendesah bosan.


Ini adalah kenangan berharga, bisa masuk halaman istana negara. Bangunan ini semula dibangun sebagai tempat kediaman resmi bagi Gubernur Jendral Belanda dan Inggris pada tahun 1870-1942. Sekarang masuk di wilayah Kampung Baru. Bogor.



Bangunan itu dibangun oleh sang gubernur dengan mencontoh arsitek Blehem Palace, rumah Duke Malborough di kota Oxford Inggris. Jadi tidak mengherankan bila kedua bangunan itu sangat mirip. Kemudian pada tahun 1950 bangunan itu resmi menjadi istana kepresidenan Republik Indonesia, dan dibuka untuk umum pada tahun 1968.


Relina meninggalkan istana dengan perasaan gembira sekaligus sedih, ia harus pulang hari ini. Ia masih bingung dengan apa yang harus ia katakan pada ibunya nanti, tapi kalau ia tidak segera pulang, tabungannya sudah semakin menipis.


Saat ia berdiri menunggu angkutan umum, ada seorang wanita tua yang melintas, menawarkan makanan kecil khas daerah yang dibuatnya sendiri.


Wanita itu menceritakan tentang mitos tentang istana Bogor dan juga istana Cipanas, dua istana negara yang berada di provinsi Jawa Barat.


"Jadi ngebut, Neng. Kalau keluar dari sana, istana itu angker," kata Nenek itu sambil mengemasi dagangannya setelah Relina membelinya.


"Iya, Neng," kata wanita tua itu kemudian pergi.


Relina tahu beberapa mitos bahwa pohon besar di istana Bogor itu angker dan air panas di kolam mandi di istana Cipanas itu bisa membuat awet muda. Itu mitos, tapi ia bukanlah orang yang percaya. Ia dibesarkan oleh seorang guru yang hanya mengajarkan fakta, hingga ia juga tidak pernah mendengar hal-hal mitos seperti ini dalam keluarganya.


Di tengah jalan saat ia menumpang sebuah angkutan umum untuk pulang ke tempat kost-nya, ia menerima sebuah panggilan telepon, dari ibunya. Ia agak khawatir bila ibunya menanyakan tentang pekerjaan ia tidak ingin berbohong tapi juga enggan untuk jujur bila ia dipecat.


"Jadi, sekarang Paman Seno tinggal di Jakarta?" Tanya Relina setelah menjawab salam dan menanyakan kabar pada ibunya.

__ADS_1


"Iya, datanglah ke sana, sekali-kali saja kalau tidak sibuk, tengok saudaramu, kalau bukan kita yang menyambung tali persaudaraan, siapa lagi?"


"Iya, Bu. Nanti aku ke sana."


"Bisnis Pamanmu berkembang di sana, beda sama kedai kopi yang ada di sini," kata Reni dari balik telepon.


"Apa paman buka cabang di Jakarta?"


"Ya, sepertinya begitu."


Relina merasa bahwa kabar dari ibunya seperti menjadi jalan keluar yang tidak ia duga sebelumnya. Ia tersenyum puas sambil menutup telepon, ia memastikan tujuan selanjutnya yaitu mengunjungi pamannya. Mungkin ia kelak bisa membantunya menjalankan usaha dan ia tidak perlu mencari tempat tinggal lagi.


'Ahk, sepertinya gak apa kalau aku tinggal sementara di rumah Paman Eri'


***


Relina masih merebahkan diri di kasur busa, sehabis membersihkan diri, saat pintu kamar kost-nya di ketuk seseorang dari luar. Ia masih lelah karena ia baru saja pulang dari jalan-jalan, melihat lihat istana dan menikmati waktu sendirian sambil merenungkan kembali perjalanan hidupnya.


Ia sudah menemukan solusi untuk hidupnya sendiri setelah ia merasa tidak mungkin untuk melamar pekerjaan lainnya. Ia memilih untuk pulang.


Relina membuka pintu, saat ia menerima panggilan secara bersamaan. Ia melihat Anne yang berdiri sambil memangku seorang anak kecil dalam dekapannya. Ia mengerutkan keningnya, saat aneka pertanyaan muncul di otaknya.


Setelah Anne masuk dan duduk di karpet, Relina memilih untuk mengambil ponsel dan langsung menempelkan benda pipih itu ke telinganya.


"Halo, Paman?" Tanyanya penuh semangat. Ternyata Eri yang menghubunginya.


"Iya, Paman. Ibu sudah bilang begitu," katanya lagi setelah beberapa saat lamanya ia diam.


"Tentu, Paman. Jangan kuatir. Lusa hari libur akhir pekan saya pasti ke sana."


Relina mengakhiri panggilan setelah mengucap salam dan terima kasih. Ia menunduk melihat sahabatnya menidurkan anak laki-laki kecil yang tadi di gendongnya. Ia duduk di samping Ane, memperhatikan cara Anne yang begitu telaten dan lembut menidurkannya.


Sahabatnya itu memang sejak dulu mmenyukai anak-anak, mungkin karena ia terbiasa tinggal dengan kakaknya yang punya anak kecil, masa sekolah dulu. Ia lebih mahir dalam mengurus atau menggendong anak bayi dibandingkan dengan anak seusianya.


"Anak siapa, Nee?"


"Gak tau." Anne menjawab tanpa ekspresi masih mengusap pipi gembul anak laki-laki yang berumur sekitar tiga atau empat tahun itu.


"Lah, kok gak tau. Ntar kamu dikira penculik lagi."


"Biarin."


Relina merasa ada yang aneh dengan sahabatnya itu. Ia mengambil air minum untuk dirinya sendiri juga Anne.


"Ayo cerita dia anak siapa?"


"Dia lucu, ya? Aku gemes banget deh. Gimana kalau dia jadi anakku?" Anne balik bertanya.


"Terus siapa bapaknya? Ngawur kamu."


"Bapaknya cakep sih ...."

__ADS_1


"Terus? Kamu suka?"


Bersambung


__ADS_2