
Di tempat lain dan waktu yang berbeda. Tampak Ane berjalan mondar-mandir gelisah, dia meninggalkan ponselnya di kamar kost dan sekarang tiba-tiba perasaannya tidak enak.
Dia ingin menghubungi ibu dan juga Relina, sudah lebih dari dua hari dua sahabatnya itu tidak saling berkirim kabar. Biasanya Relina selalu memberinya cerita tentang kegiatan-kegiatannya, secara rutin setiap hari. Bahkan mereka melakukan panggilan video jika malam hari.
“Uuh ...” Suara anak kecil mengeluh dan terbangun di atas tempat tidurnya. Ane menoleh dan menghampirinya, lalu mengusap lembut kepala Alex.
“Alex ... sudah bangun ya ....? Mau minum susu?” tanyanya.
“Mau ....,” jawab anak itu sambil memeluk gulingnya, degan tangan yang terdapat jarum infus menempel di punggung tangannya. Sudah dua hari ini anak itu sakit dan harus dirawat di rumah sakit. Dia demam sangat tinggi dan Ane yang kebetulan sedang bersamanya, bertanggung jawab menjaganya disiang hari, saat Dion pergi bekerja.
Alex menjadi dekat dengan Ane sejak hari di mana dia sempat menghilang, di perusahaan Junda, Ane yang membawanya ke tempat kost Relina dan tanpa diminta, Alex selalu saja ingin menemui Ane, pasangan anak dan ayah itu pun selalu mengunjungi Ane di perusahaan Junda sampai masa cuti Dion selesai.
Alex anak yang mudah akrab dengan siapa saja, namun sejak kenal dengan Ane, dia menjadi anak yang pemilih dan tidak mau diasuh oleh orang lain atau dekat dengan pengasuhnya, kecuali dengan Ane.
Ketika masa cuti Dian sudah habis, dia pun berpamitan ke kantor Junda untuk terakhir kalinya, namun ketika dia bertemu dengan Ane, Alex, anaknya itu tidak mau melepaskan diri dari gadis itu, hingga kemudian Junda memberi kebijakan agar Ane, mau bekerjasama dengan Dion untuk menjadi pengasuhnya sementara waktu, sampai Alex menemukan pengasuh baru.
Tentu saja Ane menolak karena dia tidak mungkin menjadi seorang pengasuh karena dia sudah berpengalaman kerja selama satu tahun lebih di perusahaan. Dion membujuk Ane dengan segala cara, termasuk memberinya bayaran tinggi setiap harinya. Akhirnya dengan berat hati, dia menyanggupi untuk menjadi pengasuh Alex sementara waktu. Kesepakatan terjadi, Dion rela memberi gaji tinggi, karena Alex tidak mau pulang kalau Ane tidak mau ikut bersamanya.
Hari sesuai dengan kesepakatan Ane dijemput oleh Dion di tempat kosnya, sepulang bekerja. Dia akan ikut bersama ayah satu anak itu, dengan Alex karena sejak keluar dari kantor Alex selalu menempel padanya.
Ane tinggal di rumah Dion, untuk sementara waktu. Dia akan kembali bekerja di perusahaan, bila Alex sudah menemukan pengasuh yang cocok. Akan tetapi, saat Ane sudah akan pulang dan Alex sudah mau bermain kembali dan bertemu dengan pengasuh yang lainnya, justru anak itu jatuh sakit dan Ana tidak tega meninggalkannya, hingga hari ini dia pun merawatnya.
Ane membuatkan susu yang biasa diminum oleh Alex dan memberikannya pada anak itu, sambil menemaninya. Alex meminum susunya dalam keadaan duduk di atas tempat tidur dan Ane bercerita. Disaat yang bersamaan, Dion datang datang, dengan membawa makanan dalam kotak untuk mereka bertiga. Ini sudah waktunya makan ....
“Bagaimana perkembangannya hari ini?” tanya Dion sambil menyimpan makanan di atas meja kecil dekat tempat tidur. Ketika malam, Alex dijaga oleh ayahnya dan saat makan siang tiba, pria itu akan datang untuk mengirimi Ane makan siang bersama dengan dirinya, lalu kembali ke kantor untuk bekerja.
Sedangkan Ane akan menjaga Alex sejak pagi hari hingga sore dan saat malam, dia akan pulang ke rumah Dion. Ane selama beberapa hari ini menempati salah satu kamar yang ada di apartemen lelaki lajang itu.
“Sudah cukup lumayan, kemungkinan besok atau lusa sudah bisa pulang.” Ane menjawab sesuai ucapan dokter yang dia dengar saat pemeriksaan tadi pagi.
“Syukurlah, kalau begitu.”
Dua orang itu mulai menikmati makanan yang dibawa Dion tadi. Mereka berbicara seolah sudah sangat akrab saja. Ane juga terlihat cuek dan tidak canggung sama sekali.
__ADS_1
“Pak Dion, bisakah saya pulang sekarang, ke tempat kosnya saya? Ponsel saya ketinggalan, Pak. Hari ini perasaan saya nggak enak, mungkin ibu atau Relina menelepon, kalau bisa saya sekalian pulang dan tidak kembali ke sini, gimana, Pak?”
Mendengar ucapan Ane, Dion mengerutkan alisnya dan berpikir menduga bahwa kemungkinan Ane tidak betah tinggal bersamanya dan Alex.
“Kenapa, apa kau tidak suka merawat Alex dan tinggal di rumahku?”
“Bukan, bukan begitu, pekerjaan saya banyak pasti sudah menumpuk di kantor. Lagi pula saya memang bukan pengasuh bayi, saya bekerja di kantor Pak Junda,” kata Ane terdengar tidak suka Dion menuduhnya sembarangan.
“Kalau bukan karena hp saya ketinggalan, saya juga nggak akan pulang kalau Alex belum sembuh. Saya khawatir orang tua saya akan menghubungi, apa yang harus saya katakan nanti, apalagi sepertinya sudah lama tidak diisi daya apa siap HP itu mati.”
“Baiklah, kalau begitu saya akan mengambilnya besok ke tempat kostmu.”
“Kalau bapak mengizinkan, sekarang juga saya akan ke sana dan besok saya akan kembali lagi ke mari ... pagi-pagi sekali, untuk menjaga Alex, bagaimana?”
“Kamu pulang mau naik apa?”
“Mungkin taksi, lagi pula rumah sakit ini tidak terlalu jauh dari tempat saya, mungkin sekitar 30 atau 45 menit perjalanan”
Setelah Ane selesai bicara, Dion berdiri, menyudahi makan dan mengambil tasnya, lalu bersiap hendak pergi.
Ane tidak menduga kalau Dion bersiap melakukan sesuatu demi dirinya dan akan pergi ke tempat kosnya hanya untuk mengambil ponsel.
Ane memberikan kunci kamarnya dengan wajah malu-malu. Tanpa menunggu persetujuan dari Ane, Dion pun bergegas mengendarai mobilnya dan melajukan dengan kencang menuju tempat kos Ane yang tinggal sekamar dengan saudara sepupunya.
Sampai di tempat kos Ane, suasana di sana terlihat sepi karena jam kerja masih berlangsung. Dion dengan leluasa membuka pintu dan masuk dengan kunci cadangan dari Ane.
Dia orang yang baik dan berniat baik, tidak mempunyai keinginan yang macam-macam berada di kamar itu, tetapi tidak demikian dengan orang lain yang melihatnya dengan tatapan curiga.
Ada seseorang yang melaporkan kepada Ibu kos, saat dia sedang mencari-cari ponsel Ane, beberapa orang wanita setengah baya, masuk dan berdiri di depan pintu. Di saat yang sama pula Dion berhasil menemukan ponsel Ane yang tergeletak di atas tempat tidur.
Kamar Ane cukup rapi hanya satu yang terlihat mencolok mata yaitu, adanya beberapa pakaian dalam yang sepertinya masih belum kering, dijemur secara berjajar tergantung rapi di sisi lemari pakaian. Hal itu sempat mengusik penglihatan Dion sebagai laki-laki.
Selain itu, kamar Ane sangat rapi dan bersih Dion mencari ponsel pun gampang ditemukan karena terletak di dekat bantal. Tidak ada hal aneh lain yang tertangkap mata Dion. Kecuali sekarang, di mana ibu-ibu yang datang dan menuduhnya sebagai pencuri.
__ADS_1
Dion berdiri dengan tenang di hadapan para wanita itu dan meyakinkan mereka dengan melambaikan kedua tangannya di depan dada.
Dion berkata dengan tenang, “saya bukan pencuri, Saya temannya Ane, saya ke sini diminta untuk mengambil ponselnya.”
Dion penuh dengan keyakinan dan ketenangan menghadapi para wanita yang terlihat emosi. Sungguh keterangan seperti itu tidak akan didapatkan secara mendadak dan tiba-tiba. Orang-orang yang memiliki ketenangan seperti itu, adalah orang-orang yang memang sudah terbiasa menghadapi berbagai masalah, terbiasa berhadapan dengan banyak orang yang berbeda dan juga terbiasa memikirkan serta mengatasi banyak persoalan dalam hidupnya.
“Apa buktinya kalau kamu tidak mencuri?” kata salah seorang wanita.
Dion dengan ketenangan luar biasa, menunjukkan kunci cadangan yang diberikan Ane kepadanya. Pada gantungan kunci itu terdapat foto Ane di dalam sebuah lingkaran kaca.
“Kalau kamu berani kesini sendiri, dan punya kunci cadangan sama Ane, kamu ini siapanya Ane?” tanya seorang wanita lainnya penasaran.
“Saya temannya ... “
“Kamu jangan bohong, mana ada Ane punya teman laki-laki seperti kamu. Kamu lebih tua dari Ane kan?” tanya ibu yang lain.
Tentu saja usia Dion terpaut cukup jauh dengan Ane karena dia sudah memiliki anak yang cukup besar, sedangkan Ane baru saja tamat kuliah tahun lalu. Hal yang wajar membuat kecurigaan beberapa ibu ibu tadi tidak cukup.
“Tentu saja Saya lebih tua dari Ane, karena sudah menikah saya sudah punya anak.” Jawab Dion masih dengan tenang.
“Berarti kamu bukan temennya doang, kalau temannya mana mungkin sudah menikah dan punya anak?” tanya wanita yang tadi bertanya.
Dion terdiam sejenak. Menghela nafas panjang dan menggelengkan kepala. Lalu berkata, “Ibu-ibu ... memangnya ada batasan untuk berteman? Kan, tidak ... saya kenalan dengan Ane dari bosnya di perusahaan. Jadi saya sekarang berteman dengan Ane, apa itu salah?”
Dion menjawab dengan tentang dan menunjukkan kewibawaan karena dia seorang pimpinan. Wajar saja dia bersikap demikian, membuat ibu-ibu yang tadinya curiga saling berpandangan dan kemudian mengangguk, tanda mengerti.
“Apa jangan-jangan kamu pacarnya atau calon suaminya atau Kamu senang sama Ane?” Tanya ibu yang lain.
Mendengar pertanyaan yang bersifat pribadi seperti itu tiba-tiba Dion melenggang. Dia tidak pernah berpikir apabila dia akan memiliki hubungan yang lebih dengan ane, tapi kemudian dia menjawab dengan bijaksana.
“Bisa saja ... Bukan tidak menutup kemungkinan seorang teman menjadi dekat dan saling suka, apalagi saya dengan Ane adalah seorang laki-laki dan perempuan wajar saja kalau saya menyukainya. Bagaimana menurut ibu ibu semua apa saya pantas untuk menjadi pendamping Ane?”
Lalu ibu-ibu itu tersenyum dan mengangguk setelahnya, kemudian mereka pun membubarkan diri. Dion meresa lega karena berhasil melepaskan diri dari ibu itu dan kembali ke mobilnya..
__ADS_1
Bersambung