
Syalu mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya dan menggenggam bungkusan itu dengan erat. Dia menoleh ke arah Relina dan Junda dengan kesal, karena tidak mendapatkan jawaban yang diinginkan. Tatapannya itu penuh dengan kebencian dan kecemburuan.
Junda adalah sahabatnya sejak dari masa remaja dan mereka masih sekolah. Dia adalah anak seorang pengusaha makanan terkenal dan kedua orang tua mereka bersahabat sejak mereka masih kecil. Walaupun sekarang sudah dewasa, Syalu tetap saja bersikap cuek dan manja, bahkan terkadang tidak melihat situasi dimana ia harus menempatkan diri sebagai sekretaris Junda.
Selama ini junda sudah cukup banyak bersabar, dalam menghadapi sikap kekanakan dan kemanjaan Syalu. Namun kali ini berbeda, sikap Syalu mendapatkan balasannya. Dia diabaikan Junda! Kesal sekali perasaan wanita itu.
Syalu sebenarnya hanya memanfaatkan kesempatan saja, ketika dia tidak bisa memiliki Junda secara utuh atau menjadi istri dan pendampingnya, setidak-tidaknya dia bebas bermanja-manja dengan pria itu kapan saja, di mana saja. Walaupun dia sadar bila sedikit merusak kewibawaan dirinya sendiri dan juga Junda, tapi karena sudah sangat terbiasa, susah sekali mengendalikan dirinya.
Sementara itu Relina dan Junda masih bercakap-cakap sambil melihat kearah halaman luar dengan bersandar pada tepi pagar. Keheningan tercipta di antara mereka setelah kepergian Syalu.
Tiba-tiba Junda bertanya, “apa kamu butuh sesuatu, mau minuman yang hangat misalnya?” Suaranya memecah keheningan. Dia menoleh ketika bicara dan mata mereka saling menatap.
“Memang ada ya, minuman hangat yang bisa kita pesan dan minum di sini?”
“Tentu saja ada.”
Relina tidak begitu memperhatikan ketika mereka berbincang sejak tadi, ada beberapa pelayan yang membawa nampan, mondar-mandir berjalan di antara mereka. Ketika seorang pelayan lewat, Junda memesan dua gelas teh manis hangat agar dibawakan untuk mereka.
Sambil menunggu pesanan datang, Relina memulai percakapan dengan bertanya, “aku pikir Bu Syalu kekasihmu dan kalian pasangan yang sebentar lagi akan menikah, kulihat kalian terlihat sangat mesra.”
“Bukan, dia temanku sejak kami masih sekolah dia memang manja dan mau jadi pendampingku, tapi aku tidak menyukainya.” Junda menjawab pertanyaan Relina dengan tenang, seolah-olah mereka sudah sangat akrab sejak lama. Dia tampak berusaha untuk menyingkirkan dugaan Relina.
‘Apa ini dirimu yang asli, atau hanya kamuflasemu saja ...?’
Banyak sekali pertanyaan yang muncul di otak Relina, seperti pertanyaan ‘mengapa kamu nggak suka, bukankah dia cantik, apa dia begitu mengganggu, apa kau mempunyai kekasih yang lain, tapi kenapa mengajakku, apa kau masih berpikir aku wanita malam?’
Relina tidak mengutarakan semua keingintahuannya karena semua pertanyaan itu bersifat pribadi. Dia tidak mempunyai hak untuk mempertanyakannya, mereka tidak begitu akrab dan Relina terjebak dalam sebuah keterpaksaan.
__ADS_1
Tiba-tiba Junda bebertanya, “apa kau percaya dengan mitos?”
“Mitos tentang apa?”
Saat bertanya, Relina mengingat kembali, jika ayah Junda waktu itu, dia belum tahu siapa namanya, mengatakan tentang mitos yang dipercaya keluarganya, terutama sang nenek. Pria itu menjelaskan tentang mitos sebuah tanda yang membawa kutukan pada Junda, sehingga dia tidak bisa dinikahkan dengan sembarang wanita. Relina tersenyum masam dibuatnya.
Dia menjawab, “Apa itu soal kamu percaya ketika seorang pelaut yang mengarungi lautan di sebelah timur Yunani, kemudian pelaut itu hilang karena dia secara tidak sengaja mendengar suara Lirolay yang tengah bernyanyi?” Suara tawa gadis itu pecah seketika dan membuat Junda menatapnya takjub.
“Iya, seperti itu,” jawab Junda, dia tahu ucapan Relina tentang mitos yang berkembang di pesisir Yunani dan masih dipercaya sampai sekarang, bahwa suara seorang wanita bernama Lirolay, yang terdengar disaat tertentu dan menyebabkan beberapa awak kapal menghilang.
“Bagaimana denganmu apa kamu percaya?” Relina balik bertanya. “Maaf, aku tidak.”
“Kenapa?”
“Entahlah, kedua orang tuaku bukan orang yang religius, tetapi mereka tidak pernah mengajarkan hal-hal seperti itu.” Relina menjawab jujur.
Dia hanya terbiasa dengan hal-hal yang sifatnya rutinitas pada umumnya. Relina pun menjelaskan, “pokoknya hal-hal yang aku tahu, cuma hak biasa, ibuku tidak pernah misalnya, bila ada kupu-kupu yang masuk rumah kemudian berkata, oh, akan ada tamu, tidak pernah seperti itu.”
“Jadi, seperti itu ...” Junda menimpali sambil mengangguk.
“Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal ini? Dulu, Ayahmu juga mengatakan hal yang sama. Waktu kamu mengakui aku pacarmu. Beliau bilang kamu nggak bisa menikah, dengan sembarang orang karena tanda kutukan yang kamu miliki, sebenarnya tanda seperti apa sih?”
“Kalau kamu nggak percaya, untuk apa kamu tahu?” Junda terlihat tidak suka karena Relina terkesan mengejeknya, ada kilatan suram di matanya. Akan tetapi dia merasa bersalah dengan gadis ini karena sikapnya yang dulu memaksa dan membawanya ke rumah Atmaja dan mengakuinya sebagai kekasih.
“Maafkan aku, waktu itu memaksamu, aku hanya tidak mau kamu pergi, itu saja. Lalu, apa ada lagi yang ayahku katakan padamu?”
Relina menoleh dan menggelengkan kepalanya, lalu menjawab, “tidak ada. Aku sudah memaafkanmu. Setelah ini, hubungan kita benar-benar berakhir. Jangan ganggu aku lagi, seperti janjimu.”
__ADS_1
Relina menatap Junda sejenak, wajah laki-laki itu tiba-tiba terlihat memerah. Lalu dia berinisiatif memberikan tisu, untuk menghapus keringat yang membanjiri kening pria itu. Setelah mengambil serbet instan itu dari dalam tasnya, dia mengulurkannya pada Junda.
Disaat yang bersamaan, seorang pelayan yang membawa nampan mendekat dan akan mengulurkan minuman pesanan mereka. Relina tidak menyadarinya, hingga kemudian minuman itu pun tumpah tersenggol tangannya.
“Maaf ...!” ujar Relina dan pelayan itu secara bersamaan.
Minuman itu tumpah mengenai tangan dan tissu yang dipegang Relina, sedang sisanya membasahi lantai, untng saja gelasnya tidak terjatuh dan pecah.
“Maafkan saya, Pak.” Kata pelayan itu sekali lagi, dan Relina dengan cepat menjawab, “tidak apa, aku yang salah.”
“Saya akan membuatnya lagi, Tuan, Nona ...”
“Tidak perlu.” Junda menjawab ketus, setelah itu pelayan pria itu pun pergi.
Relina mengibas-ngibaskan tangannya yang terasa panas dan basah, sambil melihat ke arah tissu yang juga basah di tangannya, dia sedikit mengernyitkan dahinya.
‘Kenapa warna tissu ini menjadi biru?’
“Apa kamu gak apa? Tanganmu panas, ya? Coba aku lihat!” Junda berkata sambil memegang tangan Relina yang basah. Gadis itu segera menarik kembali tangannya karena ia tidak ingin Junda melihat tanda di kulit yang, dia malu bila ada orang melihatnya.
“Kamu tadi pesan teh manis, kan?” tanya Relina. Junda mengangguk yakin, sambil menatapnya lekat-lekat. Sorot matanya seolah berkata, 'ada apa?'
“Lihat, ini,” kata Relina menunjukkan tissu yang sudah berubah warna. “Sepertinya bukan teh manis kalau warnanya seperti ini, kamu yakin gak salah pesan?”
Melihat apa yang ada di tangan Relina, Junda mengernyit dan mengambil benda itu, dia melihat sendiri kronologi kejadiannya. Gadis itu hendak memberikan tissu itu, untuk dirinya dan yang terjadi kemudian adalah, insiden gelas yang isinya tumpah ... Junda mengerti, bahwa ada seseorang yang mungkin berniat tidak baik. Dia tidak tahu apa penyebabnya dan apa yang telah dicapurkan dalam minuman pesanannya, apa semacam racun atau obat tertentu?
Kemungkinan sesuatu itu tidak memiliki warna dan bau bila di campur dengan minuman atau makanan, tapi akan bereaksi berbeda bila ditaruh pada beberapa benda yang lain, seperti tissue.
__ADS_1
Bersambung