
Junda hanya menghawatirkan gadis itu, tapi dia tidak mengatakan seperti apa perasaannya dengan jujur. Dia tidak ingin Relina kesakitan, seandainya bisa, biar dia saja yang merasakannya. Apakah seperti ini cinta? Dia tidak tahu, perasaan apa yang sedang menghinggapinya.
Dia tidak pernah merasakan hal seperti ini, saat bersama perempuan lain yang pernah menjadi pacarnya. Ya, rasa ini tidak pernah muncul sebelumnya. Dia hanya ingin Relina baik-baik saja.
Junda tidak pernah terlihat begitu rapuh, bahkan tangannya gemetar saat hendak menyentuh kening Relina tadi. Banyak emosi berkumpul dalam hatinya seolah-olah dia ingin mengganti posisi gadis itu saat ini.
Benarkah cinta bisa membuat seseorang rapuh dan enggan melihat orang yang dicintainya kesakitan. Tiba-tiba dia menyesal seandainya dia datang lebih cepat. Ya, dia tentu bisa mencegah Relina mengatasi masalah seperti ini seorang diri.
“Aku hanya mengantarkan makanan. Apa tidak boleh? Makanlah kalau kau lapar?” Junda berkata sambil menarik napas panjang. Dia memaklumi sikap cuek Relina. Meskipun demikian, sebenarnya dia berharap lebih besar bahwa Relina menyetujui untuk memulainya dari awal.
Relina tertegun, dia mencoba bangkit, tidak enak rasanya berbaring sementara ada laki-laki yang duduk di sebelahnya. Akan tapi dia merasakan sakit yang luar biasa di seluruh tubuhnya. Ini aneh, sakit di tubuh baru terasa setelah lebih dari tiga jam lamanya.
Tadi saat dia membersihkan diri dan mengobati lukanya, tidak terasa sesakit ini. Dia berharap setelah dia tidur dan istirahat, maka tubuhnya akan pulih seperti sedia kala dan sekarang yang terjadi justru sebaliknya.
Memang terkadang beberapa hal terasa lebih sakit setelah beberapa waktu berlalu. Saat awal tidak terasa tapi setelah itu, seluruh tubuh akan merasa lebih sakit. Ini reaksi alami tubuh yang mengalami cidera. Di mana beberapa bagian akan terasa lebih sakit karena anti bodi dalam sel tubuh sedang bekerja.
Junda melihat Relina yang berusaha bangkit sambil meringis dan memejamkan matanya. Ekspresi wajah yang menahan rasa sakit sangat jelas terbaca.
“Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu mau bangun?”
Relina hanya melirik makanan yang ada di sampingnya. Dia lapar, tapi sepertinya mulutnya tiba-tiba terasa pahit.
Junda mengulurkan tangannya, mencoba memegangi punggung Relina dan membantunya bangkit.
“Apa kamu mau makan? Biar aku suapi.”
Relina berhasil duduk dengan perlahan dibantu Junda. Dia tidak bisa menolak pria ini lagi dan lagi. Terlihat Junda sangat gigih mengambil hatinya. Relina sedikit tersentuh.
“Tidak perlu.” Relina mengambil air mineral yang Junda bawa, tapi tangannya gemetar hebat, dia mengerutkan alisnya tidak terasa air matanya menetes.
‘Ini sakit sekali. Padahal aku hanya dibanting, jatuh dan disiram air panas, kenapa yang sakit seluruh tubuhku?’
Junda semakin panik melihat air mata Relina yang tiba-tiba saja kelar. Gadis itu sering menahan sakitnya selama beberapa kali sejak dia merantau, dia biasa menyimpan duka dan sakitnya sendiri. Dia tidak akan mengeluh pada orang lain, kecuali Ane. Hidup di perantauan yang memaksanya berbuat demikian.
Saat dia sakit pun tidak pernah diurus seorang pun. Dia mengurus diirinya sendiri. Bila memang sedikit parah, maka dia akan meminta izin kerja sehari, setelah itu dia akan baik-baik saja.
Relina memang memiliki penyakit yang sudah lama dia derita, tuberkulosis, sampai sekarang belum juga sembuh. Dia hanya perlu berobat secara rutin tanpa harus terjerat. Begitu terus seharusnya, dia tidak boleh telat minum obat walau sehari! Akan tapi akhir-akhir ini dia jarang melakukan pengobatan untuk dirinya sendiri.
__ADS_1
Ibunya tidak boleh tahu bahwa dia bahkan sudah melewati pengobatan lebih dari tiga hari karena semakin sibuk dan obatnya habis. Maka dia perlu mengulang pengobatan dari awal.
Melihat Relina yang tidak kuat memegang botol minum ke mulutnya, Junda membantu dan meminumkan untuknya. Setelah minum, Relina menyandarkan kepala dan tubuhnya di dinding, sambil mengusap air matanya. Dia melirik Junda dengan tatapan yang penuh emosi di dalamnya.
Ada rasa kesemutan di hatinya, entah dia harus tertawa saat ini melihat Junda berulang kali membantunya. Relina tersenyum masam setelah itu dan berkata dengan suara perlahan.
“Kenapa kamu membantuku. Kenapa kamu baik, bukankah kamu benci padaku, aku wanita pembawa sial dan juga wanita malam?”
Junda hanya diam, matanya masih menatap Relina seolah enggan mengalihkan pandangannya.
Relina kembali mengusap matanya yang basah dan kembali berkata.
“Sudah aku bilang ini tidak akan berhasil. Kita bukan teman, apalagi pasangan kekasih, jadi untuk apa seperti ini?”
“Banyak orang di dunia ini yang tidak memiliki hubungan apa pun tapi saling membantu. Apa aku salah.” Junda akhirnya menyahut sambil memalingkan pandangannya.
Apakah karena benci kemudian orang tidak mau saling membantu dan mengabaikan orang lain yang membutuhkan bantuannya? Tentu saja tidak!
“Aku sudah mengirimi pesan. Apa kamu tidak membacanya? Aku sudah minta maaf. Dan mari kita mulai segalanya dari awal.”
“Baik, aku memaafkanmu, tapi sepertinya tidak untuk memulai dari awal.”
Junda merasa hatinya seperti dipukul keras sekali hingga dadanya terasa sesak. Dia tidak ingin melepaskan Relina untuk saat ini, dia sudah berbuat kesalahan dengan membiarkan wanita itu pergi. Kalau perlu sekarang dia ingin sekali memenjarakannya di rumah dan mengunci pintunya dari luar.
Junda ingat ucapannya pada Renita saat di kampung halamannya, mereka sepakat untuk menjadi saudara.
“Bahkan, kalau aku jadi saudara, kamu tetap tidak mau memulai hubungan baru dari awal.?”
“Apa maksudmu?”
“Kamu bisa tanya sama ibumu!”
Relina mengernyitkan dahi dan dia menatap Junda lebih dalam. Dia tidak pernah mengharapkan sesuatu yang lebih dalam dari hubungan mereka. Hanya saja setiap kali dia menolak Junda, justru hatinya yang merasa sakit.
Junda pun menceritakan saat dia berkunjung ke Rumah Relina dan Renita berniat mengembalikan hadiahnya, tapi Junda menolak dan mengatakan bahwa semua pemberiannya adalah karena mereka bersaudara.
__ADS_1
Relina mencebik, memalingkan pandangan dan merasa geli bahwa hubungan persaudaraan seperti yang Junda dimaksudkan hanya terdengar seperti lelucon karena ada maksud lainnya.
Junda membuka kotak nasi dan memberikannya pada Relina, mereka menikmati makan dalam diam.
“Maaf, kamu tamu di sini, tapi aku tidak bisa melayanimu dengan baik.”
‘’Apa dia ke sini khusus untuk diriku, atau aku saja yang merasa tersanjung? Padahal dia sama sekali tidak mengharapkan aku, dia hanya kebetulan lewat’
“Sebaiknya kamu di rawat, kamu kelihatan pucat.”
“Cuma pucat, tidak perlu di rawat, besok aku sudah sembuh.”
Mereka sudah selesai makan, Relina tiba-tiba ingin ke kamar kecil, dia mencoba bangkit. Akan tetapi tubuhnya terhuyung dan hampir terjatuh, lalu tanpa disadari, dia sudah berada dalam pelukan Junda. Aroma pria itu segera memenuhi rongga hidungnya dan untuk beberapa saat mereka bertatapan bahkan debaran jantung mereka jelas terdengar seperti bersahutan.
Junda membantunya berdiri, sekarang punggung Relina berada di dada Junda. Pria itu mendekapnya dari belakang. Lalu berkata.
“Mau ke mana? Kamu lemas banget. Mau ke kamar kecil bukan?”
Relina mengangguk, wajahnya yang semula pucat pasi tak berwarna sekarang terlihat kemerahan. Junda dengan cepat membopong tubuh Relina dan menuruni tangga dengan perlahan.
“Apa aku berat? Maaf merepotkan.”
“Tidak. Kamu seperti kurang makan. Setelah sembuh kamu harus banyak makan, biar nggak kurus!”
Sesampainya di kamar kecil, Junda menurunkan Relina secara perlahan di atas kloset.
“Apa kau yakin bisa sendiri?”
Relina mengangguk, dia malu, sangat malu. Sehingga dia memberi isyarat agar Junda segera keluar.
“Panggil saja aku kalau sudah selesai,” kata Junda sambil menutup pintu kamar mandi.
Bersambung
__ADS_1