
Relina bekerja dengan semangat di warung kopi milik pamannya, Danu. Sudah dua hari ini dia bekerja menjadi pelayan dan terkadang menggantikan pamannya duduk di meja kasir.
Kedai kopi tempat pamannya menjalankan usaha, berada di tempat yang sangat strategis dan nyaman. Ruko milik Danu itu, cukup luas, terdiri dari dua tingkat dan di gunakan sebagai tempat para pelanggan, menikmati hidangan yang dipesan. Semua ruangan di penuhi dengan kursi-kursi dan meja yang berbentuk bundar.
Semua pegawai memakai seragam, termasuk Relina. Saat kedatangannya dua hari yang lalu, Relina di sambut baik oleh Danu dan keluarga yang menempati satu ruko di sebelahnya. Gadis itu langsung diberi seragam pegawai tanda dia diterima.
Kemarin, begitu dia keluar dari rumah Atmaja, dia menemukan kedai kopi Danu melalui sebuah aplikasi yang menunjukkan lokasi kedai. ternyata tempat itu sangat mudah ditemukan, sopir taxi pun tidak kesulitan.
“Jangan bilang-bilang sama ibu, ya Paman,” kata Relina pada pamannya setelah ia menceritakan semuanya dan mengutarakan keinginannya untuk bekerja di sana.
“Padahal kalau kamu mau jujur, ibumu nggak akan marah, dia pasti maklum kok kamu sudah berhenti bekerja,” sahut Danu saat itu sambil menyeruput kopinya. Mereka berada di lantai dua, sebuah ruangan yang dijadikan tempat untuk beristirahat.
“Tapi saya belum siap, saya takut ibu kecewa,” kata Relina lagi menunjukkan wajah sedihnya.
“Setiap manusia itu pasti pernah kecewa. Memang ibumu kecewa, tapi ya pasti ngerti. Asal kamu baik-baik saja.”
“Nanti ya Paman, saya pasti bilang jujur sama ibuk.”
“Terus, aku harus bilang apa kalau ibumu telpon, Rel?” sahut Neni, istri pamannya.
“Ya, bibi ... jangan ngobrolin aku, dong.”
“Kamu ini.” Neni berkata sambil menepuk lembut bahu Relina. Setelah mengobrol dan berbincang cukup lama, mereka makan bersama di sana, terpisah dari pegawai lainnya.
Selain berfungsi sebagai rumah, tempat itu juga berfungsi sebagai dapur. Di sanalah, segala resep kopi diracik sendiri oleh sang paman, yang memang berpengalaman cukup lama dalam meracik aneka jenis kopi, dengan berbagai variant aroma dan rasa.
Relina cukup bahagia bekerja di tempat pamannya karena di sini dia bebas berkreasi dan tidak akan di pecat. Tidak ada istilah bos, yang ada adalah pamannya, adik ibunya. Meskipun begitu, dia tetap hormat dan menghargai. Dia hanya perlu bekerja dengan rajin dan ramah dalam melayani pelanggan.
Hari ini, di sela-sela pekerjaannya, Gunara menghubungi dan mengatakan akan berkunjung ke tempat kerja baru Relina. Pria itu sebenarnya ingin Relina bekerja bersamanya, berada di dekatnya, walaupun tidak bisa menjadi miliknya.
__ADS_1
Dia bertekad tidak akan menikah, seumur hidupnya karena tidak ingin menyakiti wanitanya, dia tidak ingin melukai istrinya, bila hanya memiliki dirinya hanya untuk sekejap saja. Rasa cintanya pada Relina hanya membuatnya ingin selalu melindungi dan memberikan yang terbaik.
*****
“Apa kita akan masuk nominasi lagi kali ini?” tanya Junda pada Syalu saat mereka dalam perjalanan ke Jakarta. Berada di mobil yang sama.
“Mungkin saja tahun ini kita menang. Semua syarat sudah kita penuhi,” jawab Syalu dengan tenang, sesekali dia melirik Junda yang sibuk mengemudi.
“Ah, iya. Ini perolehan top brand paling sulit.”
“Ya, saingannya banyak untuk produk cat tembok. Kita cuma kalah merek. Kalau kualitas bahan, hasil akhir dan kemasan, kita sama.”
Mereka membicarakan persiapan mendapatkan label top bran bagi merk produk perusahaannya. Junda sangat antusias saat mengurus label ini dari tahun ke tahun. Hanya kali ini saja dia terlihat tidak berselera.
Syalu bisa menilai perubahan Junda, sejak kepulangannya dari Jakarta, dua hari yang lalu. Dia terlihat tidak bersemangat. Tidak biasanya dia cuek dan tidak mempermasalahkan, bila produk mereka belum mendapatkan lencana top bran tahun ini.
Penganugerahan lencana top brand bagi produk unggulan, selalu dinantikan Junda, setiap tahunnya karena akan menjadi kebanggaan tersendiri bagi diri, keluarga dan perusahaannya.
Saat tiba di perempatan lampu lalulintas, mobil berhenti karena lampu yang berwarna merah. Disaat yang bersamaan, terdengar suara benturan yang sangat keras, seolah akan menghancurkan gendang telinga.
Suara itu berasal dari jalan di sebelah kanan, tidak terlalu jauh dari posisi mobil Junda. Itu adalah jalan dari bagian lampu merah yang lain. Itu kecelakaan antara mobil dan motor yang pastinya menimbulkan kehebohan dan kemacetan.
Ini adalah Jakarta, satu kejadian saja, akan mengundang perhatian dan kerumunan orang. Kemacetan akan lebih parah hanya karena satu kejadian saja. Tanpa dikomando beberapa orang tu langsung memvideokan kejadian, kemudian mengunggahnya di laman media sosial mereka, ini sebuah kebiasaan.
Tiba-tiba Junda tersenyum, mana kala teringat dia pernah mengalami sesuatu yang buruk di jalanan, sebanyak dua kali bersama Relina.
Dia membayangkan saat ia hampir saja menabrak seorang anak dan saat dia berada di pasar, dicegat oleh Relina bahkan hampir saja menabrak gadis itu.
Junda menyunggingkan sedikit senyum di ujung bibirnya, membuat Syalu mengalihkan perhatiannya.
__ADS_1
Gadis itu bertanya dengan heran “Kenapa kau tersenyum? Apa yang kau pikir lucu, bukankah itu sebuah kecelakaan? itu sama sekali tidak lucu!”
“Bukan soal itu ... aku menertawakan hal lain, ada sesuatu yang lucu menurutku, aku pernah, hampir mengalami kecelakaan seperti itu kalau bukan karena seseorang.”
“Benarkah, kapan?”
“Sudah lama.”
Setelah lampu lalulintas sudah kembali menyala hijau, tiba-tiba Juanda menangkap sebuah bayangan, itu seorang wanita yang duduk di sisi jalan raya. Dia berada tak jauh dari tempat kecelakaan itu terjadi.
‘Bukan itu, dia, benarkan itu dia?’ batin Junda, sambil menoleh ke samping kanan keluar jendela mobilnya. Dia melihat Ralina berlutut di sisi jalan raya, entah apa yang ia lakukan di sana.
Tak menunggu aba-aba, Junda melajukan mobilnya, mencari dan mendapatkan tempat parkir yang cocok. Setelah itu dia pun turun dari sana. Segera menghampiri Relina. Tanpa memedulikan Syalu.
“Kamu mau ke mana, Jun? bagaimana kalau kita nanti terlambat? Apa kau mau melihat kecelakaan itu?” Syalu mengoceh pada Junda yang terus berjalan dan dia menguntit di belakangnya
Bagi sebagian orang, melihat kecelakaan seperti itu di jalan, adalah hal yang biasa atau bahkan tidak mengherankan lagi. Ada kebanyakan orang yang memilih untuk tidak peduli, mengabaikan kecelakaan dan hanya melihat seperlunya saja.
Tapi ada sebagian orang yang begitu peka, sehingga ketika dia melihat kejadian seperti itu dia akan partisipasi untuk menolongnya melakukan apa yang dia bisa. Setelah menolong, kemudian kembali kepada tujuannya semula.
Biasanya orang seperti ini adalah mereka yang sangat peduli, tidak hanya merekam sebuah video, tetapi dia benar-benar meluangkan waktu dan tenaganya. Dia melakukan apapun untuk menolong orang lain semampunya.
Junda mendekat ke arah Relina yang sedang berlutut di sisi jalan raya. Begitu terkejutnya Junda ketika ia melihat orang yang ada dihadapan Relina, dia adalah Gunara!
Relina tengah menangis, melihat tubuh Gunara yang bersimbah darah. Pria itu sudah berhasil dikeluarkan dari mobilnya yang ringsek, oleh orang. Mereka mengira mobil akan terbakar dan apabila mobil itu terbakar maka ia benar-benar tidak bisa diselamatkan.
“Kak, Gun! Apa yang harus aku lakukan?”
‘Benar, dia adalah Gunara, apakah ini kebetulan? ini bukan kebulatan, tapi ini adalah takdir Tuhan!’
__ADS_1
Setelah puas menangis dan semua orang hanya menatapnya, Relina meraih badan Gunara yang terlihat lemah tidak berdaya. Gadis itu mengguncangkan tubuh lemah dalam pelukannya, sambil terus memanggil nama Gunara, tapi sepertinya laki-laki itu tidak mendengarkannya.
Bersambung.