Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Umbu


__ADS_3

Sementara kesibukan di dalam rumah tidak jauh berbeda. Ada beberapa saudara dari pihak ayah dan ibu Relina yang tampak menyusun beberapa makanan di piring-piring. Semua serba mendadak, memperlihatkan kesederhanaan mereka.


Sementara itu, Relina sudah bersiap dengan baju kebaya warna putih pemberian ibunya, dipadukan dengan rok batik panjang sebatas mata kaki. Pakaian itu melekat ditubuhnya yang langsing, walau bekas, tapi pakaian itu terlihat cukup bagus dan membuatnya tampak berbeda.


Renita—ibunya membeli pakaian itu beberapa bulan lalu dalam rangka memperingati Hari Kartini. Namun sekarang, pakaian itu menjadi saksi ketika anak gadisnya dilamar oleh seorang pria yang dicintainya.


Anak gadis itu dengan senang hati menerima pemberian ibunya karena acara lamaran terbilang mendadak, membuatnya tidak sempat membeli kebaya baru.


Junda memberitahu niatnya melamar pada malam hari menjelang keberangkatannya. Sebuah keinginan yang tidak bisa dicegah karena melibatkan keluarganya. Kesempatan untuk datang ke rumah Relina itu datang setelah Atmaja menyelesaikan beberapa pekerjaan dan menunda pekerjaan lainnya.


Sementara mereka akan menghadiri pesta pernikahan Dion di tempat yang sama. Oleh karena itu, kedua ayah dan anak itu sepakat untuk melamar Relina, sebelum pesta pernikahan sepupunya itu, dilangsungkan.


Kini Relina berada di kamarnya, sambil duduk di depan cermin, menatap pantulan dirinya setelah selesai merias wajahnya dengan riasan tipis. Dia membiarkan rambut sebahunya tetap terurai dan hanya dihiasi satu jepit rambut pemberian Ane, yang sekarang tengah duduk di sampingnya.


“Bilang sana Junda, kita nikahnya bareng saja.” Kata Ane sambil menggenggam tangan Relina, menatap sahabatnya dengan sorot mata berbinar.


“Haissh, aku nggak mau acara besar seperti itu tapi mendadak.”


“Kenapa?”


“Ya, kan harus ada persiapanlah.”


Anne tersenyum mendengar alasan Relina, memang benar acara penting tidak bisa dilakukan dengan asal-asalan apalagi mendadak tanpa persiapan. Dia pun tidak menyangka bila beberapa bulan yang lalu Dion mendatangi kedua orang tuanya untuk melamar dirinya. Saat itu ibunya sempat marah karena dia sama sekali tidak tahu akan kedatangan tamu untuk melamar anaknya.


“Ya, kamu benar.” Anne membenarkan ucapan Relina karena hal yang sama terjadi pada dirinya. Dia tidak menduga bila sekarang Relina mengalami hal yang sama dengan dirinya, dilamar secara tak terduga.


Bahagia menyelimuti hati mereka telah mendapatkan orang yang merasa sayang dan akan segera meresmikan hubungan dalam sebuah ikatan yang sah.


Kedua gadis itu saling berpelukan, dengan hati yang dipenuhi rasa syukur. Relina tidak menyangka akan segera di lamar Junda, sedangkan Ane tidak menyangka akan segera menikah dengan Dion, seorang duda beranak satu yang jatuh cinta padanya.


Ane dan Relina sudah sama-sama tahu jika Alex, anak kandung Dion yang akan segera menjadi anak sambung Anne, kini sangat menyayanginya karena Anne juga sudah menganggap anak itu sebagai anaknya sendiri.


Berbulan-bulan sudah Anne menjalani hubungan seperti sebuah keluarga, dengan Dion dan Alex membuat rasa cinta tumbuh semakin besar dan akhirnya mereka akan menikah, menjadikan hubungan semakin baik dan bermakna.


Bahkan ketika Ane akan cuti untuk melangsungkan pernikahan mereka, anak itu enggan melepaskan kepergiannya.


“Apa mereka akan datang hari ini?” tanya Relina setelah Anne selesai menceritakan kisahnya.


“Kejutan!” Anne berteriak girang, mengisyaratkan bila keluarga Dion pun hadir secara bersamaan. Kedua keluarga itu menghadiri dua acara sekaligus.


“Apa kamu bercanda? Ibuk nggak buat persiapan apa-apa. Yang datang juga Cuma Minan, Kamaman sama Bude!”


Relina menyebutkan beberapa saudara yang tinggal berdekatan saja, serta tetangga dekat juga. Lamaran yang akan dilangsungkan sungguh terkesan sederhana

__ADS_1


Mendengar kecemasan Relina, Anne tersenyum penuh arti. “Jangan kuatir ....” katanya, “Mamaku juga sudah tahu, kalau soal makanan semua sudah siap.”


Benar saja, begitu Anne selesai bicara, tampak kesibukan terjadi secara mendadak di halaman dan ruang tamu. Beberapa orang menyiapkan meja dan hidangan. Keadaan rumah tidak berubah hanya suasananya yang berbeda sedikit meriah.


Hampir satu jam lebih mereka menunggu kedatangan tamu, sementara kursi-kursi dan beberapa hidangan khas Lampung sudah tersedia.


Makanan khas suatu daerah, biasanya akan sulit ditemukan di daerah lain. Oleh karena itu mama Anne, membantu membuat beberapa macam makanan khas yang akan jarang di temukan di daerah Bogor.


“Mamaku bikin Umbu, lho,” kata Anne membuat Relina yang mencoba mengintip keluar kamar melalui pintu, tercengang.


Tanpa Relina ketahui, mama dari sahabatnya itu membantunya. Niat Junda yang akan memberi kejutan pada Relina, tidak disetujui oleh Dion, hingga pria itu mengatakan semuanya pada Anne dan gadis itu menyampaikan pada mamanya. Akan tetapi mamanya mendukung. Akhirnya wanita itu berinisiatif memasakkan beberapa hidangan.


“Wah, benarkah? Mamamu memang baik sekali.


“Kejutan!” sekali lagi Anne berteriak girang, ikut merasakan kebahagiaan Relina.


Makanan khas yang disebut oleh Anne termasuk makanan yang sulit di dapat, Umbu adalah makanan yang terbuat dari rotan muda, dan ditumis bersama beberapa sayuran lainnya.


Selain itu mereka menyediakan makanan khas lain, seperti gulai taboh (makanan kuah santan dengan ikan dan beberapa sayuran), sruit ikan lais (makanan dari berbagai ikan darat yang digoreng dan dibumbui sambal terasi, lalu dicampur dengan tempoyak atau sambal mangga), bahkan makanan kecil seperti geguduh (camilan dari pisang kepok yang dihaluskan) pun ada.


Relina dan Anne melihat keluar jendela ketika rombongan tamu dari Bogor akhirnya datang. Beberapa mobil mewah memenuhi halaman rumah Relina yang tidak begitu luas. Bahkan ada dua mobil yang terpaksa parkir dipinggir jalan.


Kedua keluarga saling bertemu, berjabat tangan dan saling menyapa, mereka satu persatu diperkenalkan oleh salah satu dari wakil keluarga masing-masing. Ketika giliran Relina diperkenalkan pada seluruh keluarga Junda, dan Dion, wajah wanita itu bersemu merah sedangkan tatapan matanya tidak lepas dari Junda, begitu pun sebaliknya.


Gadis berbisik lirih pada sahabatnya. “Apa kamu bilang pada Junda kalau punya tanda lahir yang sama?”


Relina menggelengkan kepalanya sambil mengedikkan bahunya dan menjawab, “Itu tidak perlu, aku mau menikah bukan karena tanda itu, tapi karena aku memang mencintainya.” Suara Relina tidak kalah lirihnya.


Akan tetapi kedua keluarga tidak ada satu pun yang membicarakannya. Mereka saling menghargai perbedaan pendapat tentang mitos yang selama ini keluarga Junda percayai. Pendapat tentang mitos itu, apabila dikuak ke permukaan justru akan menjadi sebuah masalah berbeda di kemudian hari. Biar bagaimanapun juga, kedua belah pihak sudah saling menerima kekurangan dan kelebihan yang ada.


Setelah itu waktunya Junda memberikan cincin tanda pengikat bagi mereka yang akan tetap bertahan sampai hari pernikahan tiba.


“Aku mencintaimu,” bisik Junda saat menyematkannya dijari manis Relina.


“Aku, juga,” sahut Relina, sambil tersenyum dan menerima cincin emas itu dengan senang hati.


Penyematan cincin adalah puncak acara dari lamaran Relina, hingga akhirnya mereka menikmati makanan yang tersedia. Betapa Renita sangat terharu dengan semua yang terjadi pada anaknya hari ini. Banyak orang yang sudah membantu hingga acara yang mendadak ini bisa berjalan dengan lancar.


Saat ini Junda dan Relina duduk berdua, tak jauh dari Dion dan Anne serta Alex—anak mereka. Sementara anggota keluarga yang lain sedang menikmati makan siang yang terhidang dengan sederhana. Tidak ada hiasan apa pun di sekitar mereka selain beberapa rangkaian bunga.


“Kalian akan menginap di mana? Pernikahan masih dua hari lagi, kan?” tanya Relina pada Junda dan Dion, memulai obrolan.


“Di kamar kalian!” jawab Dion dan Junda secara bersamaan sambil tertawa lebar.

__ADS_1


“Ahk, lebih baik kalian pergi saja sekarang!” sahut Anne.


“Mami ikut ya besok Papa mau ke Way Kambas!” Alex, anak kecil yang ada dalam gendongan Anne itu ikut bersuara.


Relina dan Anne saling pandang, mereka baru menyadari ternyata keluarga Junda dan Dion, memang tidak hanya memiliki satu acara saja untuk di datangi. Selain mendatangi lamaran dan pernikahan, mereka memang mempunyai keinginan untuk jelajahi tempat yang menjadi ikon bagi provinsi Lampung, sekaligus memanfaatkan kesempatan yang ada. Mereka akan pergi ke Way Kambas, daerah observasi penangkaran gajah yang terbesar dan terkenal itu.


Sejenak Relina dan Anne tertegun dengan senyum masam karena walaupun mereka tinggal di Lampung, mereka hanya sekali saja pergi ke tempat itu. Tidak ada asyiknya bagi mereka.


“Besok, ikut , ya! Aku akan menjemputmu, jalan-jalan sama Alex!” tanya Dion, tapi Anne menolak.


“Relina saja, pasti dia bisa,” sahut Anne.


“Aku memang mau mengajak dia.” Junda menukas ucapan Anne sambil memandang Relina dan menggenggam tangannya.


“Aku juga tidak bisa, aku mau bareng calon pengantin saja,” jawab Relina.


Relina enggan pergi ke tempat yang baginya membosankan, tapi dia berpikir bila suatu saat dia punya anak, pasti dia akan membawa anak-anak pergi ke tempat itu sebagai perkenalan dan menambah wawasan mereka.


*****


Malam itu Relina mendapatkan panggilan telepon dari Junda. Dia pun keluar rumah tanpa keraguan karena pria itu memintanya untuk bertemu di halaman rumah. Junda membawa mobil sewa yang sengaja dia kendarai sendiri saja.


Sudah lama mereka tidak bisa bermesraan, membuat Junda sangat merindukan Relina. Kemarin dia tidak bisa menemuinya karena sudah lelah seharian berkeliling bersama semua keluarga yang di motivasi oleh Dion, Alex serta Felia dan anak-anaknya yang masih kecil. Ya, mereka mengunjungi Way Kambas yang ternyata letaknya sangat jauh dari lokasi rumah Relina.


Jarak selama itu tidak bisa dilalui dengan pesawat dan mobil mahal yang mereka bawa pun sepertinya tidak berguna karena jalanan yang harus mereka lewati ternyata cukup buruk dan menantang, hingga begitu melelahkan.


Junda berdiri di samping mobil saat Relina datang menghampirinya, dia langsung meraih tangan kekasihnya dan memeluk. Tubuh kurus itu erat-erat.


“Aku merindukanmu, sayang ....” kata Junda sambil membenamkan wajahnya di lekukkan leher Relina.


“Aku juga,” sahut Relina, singkat dan padat, sejak awal pertemuan mereka, memang gadis itu tidak begitu banyak bicara kecuali saat membela diri ketika Junda menyalahkannya.


“Ayo! Kita jalan-jalan sebentar. Apa ada taman kota di sini?” tanya Junda sambil melepaskan pelukannya.


“Tidak ada, yang ada hanya kebun kopi!” sahut Relina sambil tersenyum lebar. Junda menjadi gemas dengan tingkahnya, hingga pria itu ingin memeluknya lagi. Akan tetapi Relina mencoba mengelak, masih dmasih tertawa kecil, dia menggeser beberapa langkah ke belakang. Kemudian ....


“Akh ....!” Junda tersandung sesuatu, hingga dia terjengkang ke samping, posisi tangan yang sudah berhasil meraih Relina itu ikut membawa tubuh gadis itu jatuh ... dan ...


“Aww! Ssss ....” Relina memekik keras sambil menahan tubuhnya dengan kedua tangannya.


Kedua manusia dewasa itu jatuh bersama dengan kedua tubuh yang saling berpelukan di tanah.


“Apa yang kalian lakukan?”

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2