
Junda mempercepat laju mobilnya, hingga mereka bisa segera tiba di rumah. Setelah mobil terparkir sempurna di garasi, Relina turun dari mobil tanpa menunggu Junda, dia melangkah dengan cepat ke dalam rumah. Tingkahnya ini sontak saja membuat Junda semakin curiga.
Saat Relina masuk, dia tidak memedulikan asisten rumah tangga yang menyambutnya dengan ramah sambil menyapa.
“Selamat malam Nyonya, apa anda baik-baik saja?”
Sepertinya pelayan itu melihat kegelisahan pada setiap langkah kaki Relina, yang tampak sangat kepanasan. Sementara cara jalan dan bahasa tubuhnya pun aneh.
‘Nyonya? Ya ... aku nyonya rumah ini sekarang. Ah, terserah!’ batin Relina sambil terus melangkah. Meninggalkan Junda di belakangnya.
Relina langsung memasuki kamarnya dan dia pun melepaskan seluruh pakaiannya, lalu mandi, mengguyur badannya dengan air dingin langsung dari shower. Dia memejamkan mata saat air itu mengalir dari ujung kepalanya.
Dia masih mencoba mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sendiri. Sejak meminum beberapa teguk jus jambu pesanannya di restoran itu, dia merasakan hal aneh yang terjadi pada tubuhnya.
Ada rasa hangat di tubuhnya, seolah kulit kepalanya kesemutan, lalu, dia merasa sesak di ulu hati dan naik ke dadanya, hingga puncaknya saat di mobil, dia sudah tidak bisa lagi menahan rasa panas yang menjalarinya. Gerah, sangat gerah seperti dia selesai berlari mengelilingi lapangan bola. Bahkan entah mengapa dia merasa ingin sentuhan sampai bulu kuduknya berdiri.
“Relina, Sayang! Apa kamu mandi?” tanya Junda sambil mengetuk pintu kamar mandi.
“Ya!” sahut Relina sambil mengusap air yang membasahi wajahnya.
“Kenapa lama sekali?” tanya Junda setelah beberapa lama dia berdiri di depan pintu kamar mandi.
“Tunggu sebentar lagi.” Relina berharap rasa panas gerah segera berhenti, akan tetapi semakin lama dia mengguyur tubuhnya dalam air dingin, justru terasa semakin panas.
‘Ada apa dengan tubuhku? Kenapa aku jadi sangat menginginkan Junda? Ini memalukan sekali. Tapi aku tidak tahan, keinginan apa ini, rasanya aku ingin disetubuhi, ahk .... tidak! Atau jangan-jangan ....’ batin Relina dengan kegelisahan yang akut.
__ADS_1
Ada berbagai pertanyaan muncul, saat Relina mengingat kembali kejadian di mana dirinya hampir terjebak dengan Junda melalui obat beracun yang bisa membunuh mereka.
‘Apa mungkin Syalu melakukan lagi padaku? Tapi kapan dia melakukannya, dia selalu bersama kami tadi’
Saat di restoran, memang Syalu tidak melakukan apa-apa selain duduk bersama dan membicarakan tentang hubungan serta perasaannya, lalu, berakhir pada keputusan Junda yang mengabaikannya dan tetap memilih Relina.
Menyadari hal bahwa tidak mungkin bila Syalu kembali mencoba mencelakainya, Relina segera mengusir prasangka buruk itu, dari pikirannya. Biara bagaimanapun juga Syalu adalah orang yang mencintai Junda dengan tulus tidak peduli dia memiliki tanda lahir atau tidak. Bukankah, biasanya orang yang mencintai setulus hati maka dia juga akan menyayangi serta menyukai segala sesuatu yang berhubungan dengan orang yang dicintainya itu pula.
Junda tidak mungkin membuat masalah dengan memaksakan diri, agar Relina menjadi miliknya seutuhnya., sebab sekarang adalah hari yang istimewa, ini malam pengantinnya. Dia akan bersama Relina menghabiskan waktu istimewa itu berdua.
Akhirnya relina keluar dari kamar mandi setelah memakai handuk kimononya. Rambutnya masih basah dan ia duduk di depan meja rias dengan wajah pucat menunjukkan tingkat kegalauannya yang tinggi lalu, mengeringkan rambutnya.
Junda tersenyum dan membantu Relina yang sibuk dengan rambunya.
Setelah rambut Relina setengah kering, Junda menundukkan kepalanya untuk menciumi rambut istrinya berulang kali, membuat wajah Gadis itu berubah memerah.
Gejolak perasaan yang ada di hati mengalir sangat kuat, meresap di pembuluh darah Relina, dan ia meningkat tajam. Dia baru saja selesai mandi, tapi panas yang dia rasakan justru semakin meningkat. Membawa dirinya yang berbeda, dan kilauan matanya menyiratkan sebuah gairah berlebihan, yang ingin segera disalurkan.
‘Gila! Ini benar-benar gila! Memalukan sekali, apakah aku harus menyerangnya lebih dahulu?’
“Junda ... uh ...” Relina bergumam sambil berdiri, Junda menyambut dengan merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Relina. Pelukan Junda semakin kuat seolah ingin memasukkan tubuh gadis itu ke dalam tulangnya.
Seketika gadis itu melingkarkan lengannya ke leher Junda, lebih dahulu berinisiatif untuk mencium bibir prianya.
“Sayang, aku mencintaimu.” Junda berkata sambil menciumi seluruh wajah Relina secara bertubi-tubi, membalas ciuman bibir wanita dalam pelukannya.
__ADS_1
“Aku juga, Sayang ....” kata Relina pasrah dan menikmati semua perlakuan Junda pada tubuhnya.
Tentu saja Junda tidak menyangka bila gadis yang dia kenal tegas dan tidak genit serta tidak manja itu bisa kealahan begitu agresif. Bahkan setelah beberapa lama mereka bercumbu dalam posisi berdiri, dia kealahan mengimbangi keagresifan Relina. Walaupun demikian, dia sangat senang.
Relina sudah berhasil membuka semua pakaian Junda, juga dirinya sendiri lalu, dia tersenyum malu-malu saat Junda menggendongnya ke tempat tidur yang luas dan, membaringkannya dengan lembut. Setelah itu, melanjutkan pergumulan penyatuan tubuh mereka di sana.
Junda sangat puas ketika sudah berhasil melakukan pelepasan dengan nikmat dari dalam tubuhnya. Terbayar sudah semua minat dan keinginan terdalam, yang selama ini hanya mampu dipendam, walau usianya sudah lebih dari tiga puluh tahun.
Dia berikan semua kasih sayang dan kelembutan, dia ungkapkan cinta kasihnya malam itu hanya untuk Relina. akan tetapi ia heran ketika wanita itu lah yang justru memintanya lagi dan lagi, hingga lewat tengah malam, seolah tidak terpuaskan. Bahkan Gadis itu tidak merasakan sakit saat Junda mengambil sesuatu yang paling berharga dari dirinya.
Setelah tidak ada lagi tenaga yang bisa digunakan untuk memuaskan gejolak minat dalam diri Relina, kedua manusia yang baru pertama memadu kasih itu pun tumbang.
Keinginan kuat itu masih ada memenuhi benaknya bahkan mengalir deras di setiap denyut nadi Relina. Akan tetapi, tenaganya sudah habis’ tak bersisa. Dia merebahkan diri di samping Junda dengan napasnya yang masih memburu, terlihat dari dadanya yang naik turun.
Mereka sama-sama tertidur dengan keadaan yang polos dan hanya di tutup dengan selembar selimut, dalam keadaan saling berpelukan. Akhirnya sampailah mereka di tepian sungai terbawa kearus mimpi.
Malam semakin dingin, suara jangkrik yang meningkahi angin malam terdengar semakin ramai, tapi suara kebisingan kota semakin berkurang. Malam memang begitu, ia menyembunyikan lelah manusia dalam kegelapan, lalu menguap bersama sentuhan matahari yang membawa sinar hangat di pagi hari.
“Relina ...! Relina ...! Relina ...!” Terdengar suara memanggil-manggil nama Relina dengan suara keras disertai tangis yang menyayat hati.
“Tidak ...! Jangan ....! Tolong jangan pergi ....” sekali lagi suara itu terdengar begitu menyayat hati, bahkan ketika wajah subuh mulai menyembul dari cakrawala ufuk timur yang tidak lagi terbelah menjadi dua, suara itu masih saja terdengar dari dalam mimpi seseorang.
Bersambung
__ADS_1