Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Dua Cakrawala


__ADS_3

Pertanyaan Renita seperti kejutan yang mencengangkan dan membuat Relina bingung, apakah dia harus tertawa atau menangis, ibunya bisa dengan tepat menebak isi hatinya.


“Ibuk ini ngomong apa, sih? Apa bagusnya kalau aku suka atau tidak?” jawab Relina dengan malas.


“Coba kamu pikir sendiri, apa bagusnya ... apa kebaikannya untuk dirimu sendiri, jangan mempermainkan sebuah hubungan kalau kamu memang menyukainya. Kamu sudah dewasa, Relina!”


“Terus, Ibuk maunya gimana?”


“Ingat keluarganya punya kepercayaan seperti apa? Mereka akan menentangmu!”


Dari ungkapan Renita, jelas terlihat bila dia sangat mengkhawatirkan anaknya, sebagai seorang ibu tentu dia ingin anaknya bahagia.


“Aku lebih yakin dengan cinta dari pada dengan mitos seperti itu. Ya ... doakan saja Relina, Buk, biar semua baik-baik saja.”


“Sebaiknya kamu pikirkan dulu sebelum kamu menyesal, Ibuk nggak mau kamu sakit hati.”


Mendengar ungkapan hati ibunya, Relina terdiam untuk sesaat dan masih menempelkan telepon genggam di telinga. Gadis itu paham dengan maksud Renita yang begitu menyayanginya.


Percakapan itu berakhir dengan beberapa nasehat Renita pada anaknya dan Relina mendengarkan dengan baik, menyampaikan salam pada ayah juga adiknya.


Mungkin seperti itulah rasanya bila disamakan dengan ungkapan bahwa apa pun akan mereka lalui walaupun, harus menyeberangi badai api, demi cinta.


Relina semula sempat ragu akan perasaannya, tapi setelah Junda pergi, melihat mobil yang membawa laki-laki itu menjauh, membuat hatinya sakit, seolah separuhnya sudah terpotong oleh sebuah pisau tajam dan ikut dibawa pergi, sedangkan yang tertinggal dalam tubuhnya tinggal separuh.


Junda sudah meninggalkan kesan yang begitu mendalam dihati Relina, sehingga membuat gadis itu bisa mengatasi kegelisahan ibunya, yang memiliki harapan begitu besar padanya. Harapan adalah salah satu sebab manusia bisa bertahan dalam hidupnya.


Kekuatan terbesar di bumi ini dinamakan cinta, jalinan yang tidak bisa diputus oleh sebilah pedang begitu saja karena jalinan yang bersifat abstrak itu bahkan lebih kuat dari baja.


Seperti kisah cinta antara dua pasangan kekasih yang tetap melangkah walau tidak direstui orang tua, hingga mereka rela tidak lagi diakui sebagai keluarga. Atau legenda Gunung Tangkuban Perahu, yang menceritakan percintaan antara Sangkuriang dan Dayang Sumbi yang rela membuat sebuah perahu dalam satu malam hanya untuk mendapatkan cinta, walaupun akhirnya hancur keesokan harinya.

__ADS_1


Ada juga kisah Ratu Gandari yang rela menutup matanya demi ikut merasakan apa yang dirasakan suaminya—Raja Destrarata yang buta.


Kisah legenda antara Bandung Bondowoso, demi cintanya, dia menurut ketika Putri Roro Jonggrang memintanya untuk membuat sebuah candi dalam satu malam. Ada yang lebih mengharu biru yaitu kisah cinta antara Romeo and Juliet atau ada juga Ratu Cleopatra dengan salah satu Kaisar Romawi, yang terkenal sampai saat ini. Semua adalah kisah yang menunjukkan kekuatan cinta.


Kekuatan cinta yang Relina rasakan memang belum sedalam kisah-kisah yang ada tetapi setidaknya sekarang dia mengerti bahwa dia tidak takut dengan mitos yang keluarga Junda percayai.


*****


Suasana kafe berbeda pada saat itu karena kedatangan Danu, sebagai pemilik kafe yang sedang mengambil alih tugas Relina. Dia cukup terkesan dengan keadaan kedai kopi yang ternyata sangat memuaskan, semua peralatan yang ada tidak berubah, masih sama seperti waktu dulu dia meninggalkannya.


Laporan keuangan yang dibuat Relina sangat rapi dan sangat terperinci, membuat Danu berdecak kagum pada ponakannya yang menurutnya belum banyak pengalaman.


Relina berbuat demikian karena dia bekerja atas kemauannya sendiri dan mengemban kepercayaan karena kejadian dari pengurus kedai sebelumnya, yang telah berbuat curang dengan keuntungan dan bahan baku yang ada.


Gadis itu tidak ingin Pamannya menilainya salah dan akan berimbas pada nama baik dirinya sendiri juga kedua orang tuanya.


“Kamu sudah telepon Ibumu?” tanya Danu tanpa melihat Relina.


“Kamu serius, mau kerja di perusahaan teman kamu itu, em ... siapa namanya?” tanya Danu saat mereka berbincang sambil memeriksa buku keuangan yang di susun Relina.


“Gunara.”


“Padahal bukan dia orang yang sudah nolong kamu, tapi Junda, kan?”


“Ya,” jawaban singkat Relina, membuat Danu tertawa kecil. Dia secara tidak langsung menertawakan dirinya sendiri, sebab ada hal yang menyakitkan bagi laki-laki, yang sudah berbuat banyak untuk seseorang, tapi tidak mendapatkan balasan apa pun darinya. Apalagi kalau orang itu adalah wanita yang dicintainya. Kecuali bila cinta yang dimilikinya adalah cinta luar biasa yang tulus tanpa menginginkan balasannya.


“Kenapa kamu justru memilih Gunara, bukannya Junda?”


Relina tertegun mendengar pertanyaan Danu, yang membuatnya berpikir ulang tentang keputusannya. Dia sudah mengakui bila dirinya telah jatuh cinta pada Junda dan berniat menjalin hubungan dengannya saat sudah tiba di Bogor. Akan tetapi dia ingin memenuhi wasiat Gunara.

__ADS_1


Dua pilihan itu ibarat garis cakrawala yang terpisah. Bagaimana bisa dikatakan cinta jika mengabaikan, cinta bukanlah ketidak pedulian, melainkan mengasihi dan selalu ada saat dibutuhkan. Mungkin saja Junda akan sedih bila tahu bahwa Relina lebih memilih terjun ke perusahaan Gunara dari pada mendampingi dirinya.


“Tapi, Paman, Junda sendiri yang menawarkan peluang besar memimpin di perusahaan Gunara.”


“Oh, ya?” Danu mengangguk-angguk sambil mengetuk-ngetukkan jarinya di atas meja.


Setelah selesai membicarakan pengelolaan kedai, Relina bersiap untuk berangkat kembali ke Bogor. Gadis itu sudah merapikan koper dan semua perlengkapannya sejak kemarin, hingga ketika Danu tiba di kedai mereka, Relina tidak harus canggung merapikan kamar. Kelak, Danu yang akan menempati kamarnya yang berada di lantai dua kedai itu.


“Junda tidak menjemputmu?” tanya Danu ketika Relina berdiri di sisi jalan untuk menunggu taksi online yang sudah dia pesan untuk membawanya ke Bandara.


“Paman ini bercanda, ya ... aku sudah bersyukur dia memberiku tiket pesawat hari ini.”


“Tapi kamu masih akan bekerja di kantor Gunara dan bukan di kantornya?”


“Paman, sudahlah. Jangan buat aku bingung.” Relina berkata dengan ekspresi wajah merajuk, sedangkan Danu terkekeh melihatnya.


Relina berpamitan setelah mengucapkan terima kasih dan mencium punggung tangan pamannya, begitu mobil yang menjemputnya datang. Danu memberinya bekal yang cukup untuk biaya hidupnya selama sebulan atau belum mendapatkan gaji dari pekerjaannya.


Akhirnya gadis itu tiba di Bandara, ini adalah pengalaman pertamanya ke bandara. Selama berada di sana, dia selalu melakukan panggilan pada Junda, yang memberinya arahan untuk memudahkan Relina.


Junda sudah pernah ke Bandara Sultan Hasanuddin Palembang, sehingga dia bisa dengan mudah memberi petunjuk yang harus di lakukan Relina.


Setelah Relina menunjukkan tiket, seorang petugas menunjukkan tempat duduknya di salah satu kursi pesawat dan disapa dengan ramah oleh seorang pramugari. Gadis itu tercengang bahwa ruangan di mana dia berada adalah kelas VIP yang cukup nyaman.


Setelah Relina merasa nyaman, barulah telepon diakhiri dan ponsel Relina dimatikan kembali.


Relina terlihat tenang walau sebenarnya dia begitu gugup. Perasaan khawatir itu tidak hilang sampai pesawat mendarat dan dia sudah menginjakkan kakinya ke Bandara Soekarno Hatta.


“Hei ...! Tolong hentikan Kimiko!” Teriak seseorang dari arah belakang, tak jauh dari Relina, membuat gadis itu terkejut dan menoleh ke sekitarnya, memastikan siapa yang dimaksud.

__ADS_1


Tiba-tiba ... Koek! Koek! Sebuah suara keras terdengar dari bawah kaki Relina.


Bersambung


__ADS_2