Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Turut Berduka Cita


__ADS_3

Relina masih berada di dalam mobilnya, yang melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalan raya, ketika melihat mobil jenazah yang lewat mendahului kendaraannya.


Seperti biasa apabila ada ambulans, mobil jenazah, atau para pejabat tinggi negara yang lewat, maka mobil yang lain akan menepi. Begitu juga mobil Relina. Erwin yang menjadi sopirnya pun menepi dan melaju dengan kecepatan rendah.


Setelah mobil jenazah itu lewat, ada sebuah mobil lain yang mengikutinya, seketika Relina mengerutkan kening, saat melihatnya.


‘Bukannya itu mobil Junda?’ batin Relina. Dia hapal betul siapa pemilik dari mobil dengan plat nomor itu.


“Erwin, coba kamu ikuti mobil itu!” suruh  Relina kepada asistennya.


Meskipun Heran, Erwin tetap menurut dan mengangguk sambil berkata, “Baik, Bu.”


Erwin menekan gas mobil lebih dalam, sehingga melaju lebih kencang dan bisa mengikuti mobil Jenazah yang melewati mereka tadi.


Mobil Relina terus saja mengikuti, hingga akhirnya kendaraan itu melambat. Iring-iringan itu berbelok, melewati sebuah Jalan berbeda dari jalan utama, menuju rumah yang cukup besar dengan gerbang yang tinggi, Relina meminta agar Erwin berhenti.


Dia turun dari kendaraannya dan merapikan pakaiannya. Seperti biasa Relina selalu memakai baju stelan jas panjang yang menutupi sebagian betis dan tangannya.


Dia berdiri di samping mobil, mengamati keadaan sekitar di mana ada beberapa mobil lain di jalan itu. Ada sesuatu seperti magnet di hatinya yang menarijk keinginannya untuk masuk kedalam rumah itu. Banyak orang yang tidak saling mengenal berada di tempat yang sama, membuat Relina leluasa walaupun, dia sebenarnya sangat gugup. Bahkan jantungnya berdegup kencang.


Kini Relina memasuki bagian dalam rumah besar yang tampak sudah dibereskan sehingga bisa menampung banyak tamu yang ingin berbela sungkawa. Dia melihat beberapa foto keluarga memenuhi salah satu bagian dinding. Ada Junda dalam salah satu foto yang di pajang.


Sementara itu, suasana terlihat semakin ramai karena beberapa orang mulai berdatangan, di luar rumah, banyak mobil yang memasuki halaman, serta karangan bunga ucapan turut berdukacita dan belasungkawa tampak memenuhi  area sekitar.


Ada juga tenda besar yang sudah di dirikan, beberapa jam sebelum kedatangan jenazah, untuk menampung para tamu yang melayat.


Relina berjalan mendekat secara perlahan mengikuti beberapa orang yang berdiri dan berdoa di sisi peti jenazah. Dia melihat wajah yang ada di dalamnya, membuat hatinya tiba-tiba berdebar lebih kuat, bahkan telapak tangan menjadi basah oleh keringat.


‘Ini, Bu Shasi? Ya Tuhan ... Junda, apa kamu baik-baik saja?’ batin Relina sambil mengusap wajahnya sendiri.


Relina tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya, dia tahu bahwa Junda akan hidup sebatang kara, serta sadar bahwa yang dia datangi adalah kediaman keluarga Junda.


Tak jauh dari peti mati itu diletakkan, tampak Junda duduk dengan didampingi beberapa kerabat dan saudaranya, tarmasuk di.antara mereka ada Atmaja dan Dion, yang menunjukkan ekspresi wajah kehilangan.


Relina tidak tergerak untuk mendekat, tapi tatapan matanya tak lepas dari Junda, yang menampakkan kesedihan dengan jelas di wajahnya.


Gadis itu tidak tega melihat keadaannya, namun dia tidak dapat berbuat apa-apa. Ada banyak hal yang ingin dia katakan tapi rasanya tidak mungkin, untuk saat ini, sehingga dia memutuskan untuk pergi dan akan kembali lagi nanti.


Namun, baru saja Relina berjalan beberapa langkah, seseorang mengikutinya dan tiba-tiba saja menggamit tangannya. Relina menoleh kepada orang yang ikut berjalan bersama di sampingnya.

__ADS_1


“Kamu?” Relina tercengang, dia heran melihat Junda dan bergumam sambil berusaha menepis tangannya.


“Iya, ini aku,” Kata Junda. Mereka berdiri berhadap-hadapan, ketika sudah berada di samping rumah karena Junda membawanya ke sana


“Mau ke mana? Kenapa terburu-buru? Seharusnya kamu menemuiku dulu, kan?” kata Junda lagi.


Junda adalah orang yang sedang ditimpa musibah dan sedang berduka, maka sewajarnya bila setiap pelayat menyalami untuk menyampaikan belasungkawa. Relina bukannya tidak mau melakukannya, tetapi dia menundanya dan akan kembali menemui Junda bila waktunya tiba. Dia pikir Junda masih membencinya.


“Maafkan aku, aku turut berduka untukmu. Sebenarnya aku akan kembali nanti. Aku harus bekerja dan kamu harus menemui orang-orang itu, mereka lebih penting dariku.”


Mendengar ucapan Relina, Junda tersenyum miring sambil memalingkan wajahnya, Seperti menertawakan dengan dirinya sendiri.


Laki-laki itu pun berkata, “Lebih baik kau tidak ke sini sekalian.”


“Aku baru tahu, ini rumahmu ... Apa kamu masih marah, hanya gara-gara tulisan di buku harian itu?”


Relina berpikir, seharusnya Junda mendengar penjelasannya, kenapa ada tulisan seperti itu dalam buku hariannya. Kalau memang dia mencintainya, tidak seharusnya dia langsung marah dan tersinggung.


Tanpa berkata apa-apa lagi Rina pun melepaskan tangannya dan melangkah dengan cepat meninggalkan tempat itu. Dia memasuki mobil dan meminta Erwin membawanya kembali ke proyek.


Ketika mobil tengah berjalan, terdengar suara notifikasi dari ponsel Relina, yang ternyata pesan dari Junda.


 “Jadi apa maksud tulisan itu?” demikian isi pesan itu.


Relina tidak mungkin menjelaskannya lewat sekarang, sebab dia pikir bukan waktu yang tepat. Tidak bermaksud sedikitpun mengabaikan Junda. Akan tetapi Junda berpikir sebaliknya, hingga dia kembali mengirimkan pesan.


“Apa kau menganggapku orang yang lemah dan butuhkan pertolongan?”


Relina dengan cepat menjawab.


“Memangnya salah, kalau aku menganggap kamu membutuhkan pertolonganku? Aku tidak menganggap kamu lemah.”


“Oh, iya?” balas Junda.


“Seharusnya kamu tahu. Bukan berarti orang yang membutuhkan pertolongan itu lemah dan orang yang memberi pertolongan itu kuat. Bukan!”


Sebelum Juanda sempat menjawab, Relina pun menulis kembaki pesan yang cukup panjang.


“Coba pikirkan seperti sekarang, apa kamu masih merasa bahwa kamu kuat dan tidak membutuhkan pertolongan, dan orang lain tidak perlu membantumu mengurus atau mengangkat jenazah nenekmu sendiri ke makamnya?”

__ADS_1


Benarlah ucapan Relina bahwa tidak ada salahnya seseorang saling membantu.


“Laku apa maksudmu dengan tulisan itu?”


Relina waktu itu menulis karena merasa bahwa Junda adalah orang yang memang membutuhkan pertolongan. Dia siap berkorban dan siap menikah dengannya, menjadi istri Junda, walaupun, harus tiada. Ya, itulah alasannya.



Terlepas dari semua itu, Relina yakin bahwa kehidupan dan kematian bukan karena di sebabkan oleh kesialan sebuah tanda lahir, melainkan bahwa memang semua sudah diatur oleh Sangmaha Pencipta segalanya.


Setelah itu, tidak ada lagi jawaban apa pun dalam ponselnya, hingga mereka tiba di proyek dan Relina mengerjakan tugasnya seperti biasa didampingi oleh Erwin asistennya.


Sejak Relina menjadi kepala pelaksana proyek, semua tahap demi tahap pembangunan semakin lancar karena setiap hari dia mengawasi dan menangani dengan baik.


 Saat makan siang, tiba-tiba ponsel Relina kembali berdering dan itu adalah panggilan dari Junda.


“Kenapa kau ingin melakukan itu, apa kau benar-benar mencintaiku?”


Mendengar suara itu, sejenak Relina mengernyit, mencerna maksud dari ucapan Junda yang langsung berkata pada intinya, begitu ponselnya tersambung. Relina tersenyum miring menanggapi  pertanyaan yang aneh menurutnya.


Relina meninggalkan meja makan, berjalan keluar restoran hanya untuk berbicara dengan ponselnya. Erwin yang menemaninya makan siang seperti biasa, hanya melirik bos barunya itu dengan ekspresi wajah datar.


“Relina, apa kamu mendengarku?” tanya Junda lagi masih di telepon.


Lebih dari sepekan yang lalu, Relina menyatakan bahwa dia mencintainya dan bahkan mengajaknya menikah apa pun risikonya. Akan tapi sekarang laki-laki itu mempertanyakannya kembali.


Junda hanya tidak yakin dan perlu meyakinkan diri. Setelah beberapa saat,  Relina tidak mengatakan apa-apa, namun akhirnya dia menjawab. “Ya, aku mencintaimu.”


Relina tidak bohong, sejak mereka berpisah dan tidak bertemu malam itu, dia selalu mengukir jejak kenangan dalam ingatannya, tentang Junda. Dia tidak bisa tidur dan setiap malam diselimuti kerinduan yang terasa berat bertindih-tindih dalam hatinya, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.


 Gadis itu berusaha untuk melupakannya, dengan tidak menghubungi ponselnya, tidak melihat-lihat sosial medianya karena menjaga hatinya agar tidak semakin sakit.


Pada akhirnya setiap orang hanya bisa  mengandalkan dirinya sendiri, bahkan untuk menjaga hati, tidak mungkin mengandalkan orang lain. Dia ingin agar semua tetap baik-baik saja, walaupun pada kenyataannya untuk terlihat baik-baik saja itu sangat sulit.


“Bisa kita bertemu?” tanya Relina.


“Kenapa? Apa kau rindu?” tanya Junda.


Beraambung

__ADS_1


 


 


__ADS_2