
Relina merebahkan dirinya di tempat tidurnya yang hanya berukuran kecil dan cukup untuk satu orang. Dia menyempatkan diri untuk menghubungi Royan. Anak remaja itu ternyata belum tidur dan masih sibuk di depan komputer.
Ketika gadis itu bertanya apa yang sudah Junda lakukan di rumah, Royan pun bercerita bahwa tujuan Junda adalah mencarinya.
Pria itu rela meninggalkan perusahaan dan mengabaikan neneknya hanya demi menemui kakak perempuannya. Junda bersaing dengan Fuad untuk mendapatkannya karena kegigihannya, dia berharap Relina Sudi menerima tawarannya. Dia tidak ingin Fuad mendapatkan Relina lebih dahulu dan dia tidak bisa berdekatan dengan Relina. Sebab tawaran Fuad jauh lebih baik daripada tawarannya.
Semula ibu dan ayahnya menolak memberitahu keberadaan Relina, akan tetapi nasib baik Junda bertemu dengan Royan yang justru membeberkan dan menceritakan dengan lengkap apa yang dialami kakaknya. Anak remaja itu tidak tahu bila pria yang ada dalam cerita kakaknya adalah Junda.
Oleh karena itu, ibunya memarah iniinya habis-habisan, sedangkan Royan dengan enteng menjawab, “Aku kan nggak tahu.” Tanpa rasa bersalah. Tentu saja dia tidak tahu bila Relina ingin merahasiakan semuanya dari Junda karena dia merasa tidak ada gunanya membicarakan hal itu pada Royan.
Sekarang pun sama, Relina marah padanya karena kedatangan Junda yang tidak dia duga sebelumnya. Mereka saling membentak ditelepon.
“Wah, wah, hebat sekali Kak Jun. Dia naik pesawat pastinya ya, Kak. Makanya bisa sampai di sana secepat itu,” komentar Royan saat Relina menceritakan pertemuannya dengan Junda.
“Hebat kepalamu!”
“Pasti dia suka sama Kakak!” kata Royan lagi, dari ujung telepon. Ucapannya membuat hidung Relina tiba-tiba gatal dan ingin digaruk.
“Bukan, dia mau kakak kerja lagi sama dia!”
Royan berpikir berbeda, sebab dia tahu pria yang menyukai wanita akan seperti apa. Dia juga melihat binar suka cita Dimata Junda saat tanpa dipaksa, Royan memberikan alamat lengkap kedai kopi Danu yang dikelola Relina. Bahkan tanpa diduga, Junda memberi Royan, uang saku yang cukup banyak karena memberitahukannya tentang Relina. Tentu saja Royan tidak pada ibu, ayah juga Relina. Sebab kalau mereka tahu, pasti mereka memaksa Royan untuk mengembalikannya.
‘Sayang, kan. Jarang-jarang ada orang mengasih uang satu juta buat jajan!’ batin Royan sambil tersenyum simpul.
“Jangan bilang kamu kasih dia nomor teleponku!”
“Ya, aku kasihlah, Kak. Kan dia minta,” sahut Royan dengan tenang dari balik telepon.
“Apa?”
“Memangnya kenapa, sih? Nggak rugi juga kalau dia suka sama Kakak!”
__ADS_1
Kesal sekali rasanya mendengar celoteh Royan, hingga Relina menutup ponselnya secara sepihak.
Belum lama dia meninggalkan ponselnya di meja kecil dan dia sudah menutupi tubuhnya dengan selimut, bersiap untuk tidur, ketika ponselnya kembali berdering.
Relina tidak memperhatikan telepon ketika dia menekan tombol hijau padahal itu adalah panggilan Video, dia pikir itu adalah Royan, karena tidak tampak wajah seorang pun pada layar.
“Apa lagi, Royan! Aku ngantuk!” Teriak Re Elina pada ponselnya.
Tiba-tiba sebuah wajah muncul dan menjawab, “sudah ngantuk?”
Begitu menyadari ada yang salah, Relina hampir menjatuhkan ponselnya dan dia membiarkan layar menghadap ke atas sementara dia sibuk menutupi tubuhnya dengan selimut, sampai sebatas lehernya. Dia sudah memakai baju tidurnya yang minim, tentu saja dia malu kalau sampai Junda melihatnya.
Gadis itu membiarkan ponselnya begitu saja, tidak menutup atau bicara, pemandangan di ponsel Junda memperlihatkan langit-langit kamar Relina. Gadis itu mencoba mengintip layar ponselnya yang tetap menyala. Dia berharap pria itu akan mengakhiri panggilan bila dia mengabaikannya.
Akan tetapi dia melihat Junda tetap ada di sana, diam memandang layar ponsel yang sama sekali tidak indah. Dia sadar sudah mengganggu perempuan itu akan tetapi dia tetap menghubunginya hanya sekedar mendengar suaranya.
Cukup lama ponsel itu dalam posisi menghadap ke atas, sementara dia melihat aktivitas Junda dari layar ponselnya. Pra itu tampak menyalakan laptop dan duduk di atas tempat tidur, dengan hanya mengenakan celana pendek dan kaus tanpa lengan. Semua terlihat jelas oleh Relina.
Relina mengabaikannya, tapi sejenak kemudian dia penasaran dengan apa yang dilakukan Junda dan dia kembali mengintip layar ponselnya. Kini dia melihat pria itu sedang mencatat sesuatu di buku agendanya, membuka koper dan mengeluarkan beberapa pakaian, seperti memilah-milah.
Junda sengaja membawa banyak pakaian karena dia tidak tahu sampai kapan dia akan berada di sana dan berhasil membujuk Relina. Dia sengaja menyimpan ponsel di mana kamera bisa merekam semua aktivitasnya. Ini seperti mereka berada di satu tempat yang sama!
Tiba-tiba hati Relina terasa begitu sesak oleh debaran jantung yang begitu kuat, seolah debaran itu meronta ingin mengajaknya keluar dari serambi yang memompakan darah.
Semua karena pemandangan pria yang tampak begitu rupawan tengah sibuk sendiri dengan ketenangan hakiki. Sesekali dia mengusap rambut dengan jari, mengusap wajah atau menggerakkan pergelangan tangan karena pegal. Dia ibarat artis papan atas sedang memainkan sebuah peran. Namun hanya Relina yang menjadi penonton setia.
Relina tersenyum masam memikirkan dirinya sendiri, tidak bisa memahami mengapa dia melakukan itu, melihat aktivitas seorang pria yang tengah berada dalam dunianya, dengan antusias. Dia tidak akan berada dalam dunianya, demikian pula Junda tidak akan masuk ke dalam dunia Relina. Tidak mungkin! Kalaupun mungkin, maka seperti kepercayaan keluarganya, bahwa salah satu di antara mereka harus membayarnya dengan nyawa!
Akhirnya, Relina mengalah dsn menyambar ponsel dengan kasar, lalu menghadapkan wajah di layarnya.
“Apa kamu masih di sana? Ada apa meneleponku?” tanyanya.
__ADS_1
Sebenarnya masih banyak hal yang ingin Relina tanyakan, tentang penginapan, di mana dia menemukan, apakah jauh? Tentang kendaraan, apa dia membawa mobilnya sendiri atau dengan sopir, apa dia tidak lelah? Apakah dia sudah makan? Apakah dia pergi dengan pesawat atau kapal Fery? Namun satupun pertanyaan itu tidak ada yang keluar dari bibirnya.
“Apa kamu belum tidur? Aku kira sudah nyenyak tadi ... Maaf, mengganggumu.” Suara Junda terdengar begitu lembut. Itu kelembutan yang belum pernah Relina dengar selama ini.
“Ada apa meneleponku?!”
“Menjawab pertanyaanmu, kalau kamu masih mau mendengarkan.”
“Tidak perlu!”
‘Oh, ya Tuhan ... aku penasaran!’
“Baiklah, besok saja, aku ke kafemu. Oh iya, jangan marah sama Royan, adikmu itu anak yang energik.” Junda diam sejenak.
‘Terlambat, aku sudah memarahinya’ batin Relina.
Lalu Junda melanjutkan lagi. “Dia tidak salah, tapi hanya jujur. Yaa sudah, aku juga mau tidur. Kamu pasti lelah, kan? Jadi tidurlah ....”
Dua orang berlawanan jenis itu saling memandang melalui layar ponsel, saling menyelami hati melalui tatapan mata yang orang bilang ia adalah jendela. Melalui mata seseorang bisa menilai seperti apa perasaannya. Memang mata adalah jendela yang menjadi jembatan antara rasa hati dan ungkapannya, tapi jendela yang tampak di sana adalah jendela tanpa celah hingga seseorang tidak bisa menyelaminya lebih dalam.
“Tunggu!” kata Relina ketika Junda hendak mengakhiri panggilan.
“Apa kamu sengaja mencariku kemari?” Ini adalah pertanyaan paling mengganggu yang menggelitik sejak tadi. Jawaban Junda akan menentukan apa sikap Relina selanjutnya. Bila pria itu benar-benar meluangkan waktu seperti ini hanya untuk dirinya, maka Relina akan sangat menghargainya. Ya, tentu saja karena dengan begitu, dia merasa bahwa dirinya benar-benar istimewa di mata Junda.
‘Tapi, apakah aku pantas mencintainya?’ batin Relina.
Debaran jantungnya belum berhenti bergejolak bahkan sekarang lebih kuat lagi. Dia ingin segera mendengar jawaban Junda, yang akan berpengaruh pada keyakinan perasaannya.
“Hmm ... Itu—“ kata-kata Junda terhalang di tenggorokan.
Bersambung.
__ADS_1