Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Di Ujung Jalan


__ADS_3

Relina menatap kepergian Junda dengan tatapan hampa, masih ada debar halus di hatinya yang muncul setiap kali mereka bertatap mata. Setelah mobilnya tidak tampak lagi dari pandangannya, ia pun mulai berjalan memasuki pasar.


Pertama kali ia mengenal Junda ketika bekerja di perusahaannya. Relina menilai bahwa bosnya itu adalah orang yang tampan dan baik. Meskipun dia bukan laki-laki atau bos yang ramah dan murah senyum, tapi tidak pernah terdengar cerita bosnya itu galak ataupun semena-mena terhadap karyawan.


Pernah suatu kali ia bertatap muka dan berbicara langsung dengan atasannya itu ketika mengantarkan beberapa berkas yang di ditugaskan oleh Syalu.


Mereka jarang sekali bertemu, selama satu tahun bekerja di sana. Kalaupun ada, pertemuan mereka bisa di hitung dengan jari.


Saat pertemuan pertama kali inilah, timbul kesan bahwa Junda adalah pria yang tampan dan menarik, senyumnya juga manis. Saat menerima berkas itulah Juanda tersenyum padanya, membuat hati Relina sempat berdebar. Ia tidak membalas senyuman bosnya, tapi hanya menunduk saja lalu pergi dari ruangannya.


Iya tidak pernah berpikir untuk mendekati ataupun beramah-tamah, dengan bosnya itu lebih jauh lagi, walaupun kesempatan ini ada. Ia bukan tipe perempuan seperti itu, enggan berurusan dengan hal yang merepotkan. Seandainya ia mau menjalin hubungan dengan bosnya, artinya ia harus bersaing dengan sekretarisnya yang lebih cantik dan seksi dibandingkan dirinya. Ia bukan perempuan penggoda.


Di dalam pasar, setelah selesai membeli beberapa barang kebutuhannya, ia menerima sebuah panggilan telepon dari nomor yang tidak dikenal. Relina menerimanya sambil berjalan, ia menempelkan benda pipih itu ke telinganya, lalu mengucapkan salam.


"Halo ... halo siapa ini?" kata Relina pada ponselnya.


"Benar ini dengan saudari Relina yang mengirimkan CV tanggal sembilan belas kemarin?" Terdengar suara dari balik ponsel.


Relina pun menjawab dengan girang, "iya, benar sekali."


Setelah itu percakapan pun dimulai, terdengar suara dari balik telepon yang menjelaskan bahwa, ia bisa memulai bekerja pekan ini, tepatnya hari Senin jam delapan pagi.


Betapa senangnya perasaan Relina karena keinginannya terkabul, ia ingin bekerja di perusahaan itu dan ternyata sekarang Ia diterima. Bahkan besok ia harus menghadap langsung ke kantor manajer.


'Apakah itu artinya aku akan bekerja di kantor manager?'


Bibirnya tak henti-hentinya mengucap syukur, sambil berjalan dengan cepat untuk kembali ke kosannya dan menyiapkan segalanya. Ia melihat kearah kantong plastik yang dibawanya, entah akan ia gunakan untuk apa bahan-bahan makanan sebanyak ini? Setidaknya bahan-bahan itu tidak akan busuk dalam waktu beberapa bulan, sehingga ia bisa menggunakannya untuk cemilannya sendiri.


Ia ingin cepat-cepat sampai ke kosannya dan mengobrol santai dengan Ane melalui ponselnya.


Saat di ujung jalan tempat dimana ia bisa mencari angkutan umum, ia tertegun melihat sebuah mobil terparkir di ujung jalan yang akan ia lewati.



'Siapa si, parkir sembarangan? Tunggu ... bukankah itu mobil Pak Juanda? Kenapa itu dia masih di sini?'


Ketika Relina berada di sisi mobil itu dan ia menengok ke kanan untuk melihat angkutan umum, pintu mobil itu terbuka dari dalam. Kemudian terdengar suara dari sana yang membuat reylina menoleh, heran.


"Hei, masuk!" kata suara itu.


Relina yang mendengar suara itu pun mengerutkan alisnya dan mengerjapkan matanya berulang-ulang.


'Eh, beneran itu Pak Juanda, beneran dia nyuruh aku masuk, buat apa apa? Aku nggak mau!'


"Hei, masuk!" kembali Junda bicara, kali ini lebih keras.


"Bapak manggil saya?" Tanya Relina sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, siapa lagi, memang ada orang lain di sini?" Suara Junda terdengar tegas dan kesal.


"Saya nggak mau."


"Hei, kamu mau pulang, kan? Masuk!"

__ADS_1


'Ck! Orang ngajak apa marah? Oh, nggak mau ah, nanti digigit lagi'


"Oh, gak perlu Pak ... saya naik angkot saja."


"Kenapa? Saya nggak bakal gigit kamu kok!"


'Dih, tau aja aku takut digigit sama dia'


"Iya, makasih ... tapi enggak usah." Relina berkata sambil memalingkan muka, melepas topinya dan mengibas-ngibaskan ke wajahnya.


"Hah ... gerah."


'Apa, apa dia nolak Aku, beneran dia nggak mau?'


Junda keluar, lalu berjalan memutari mobilnya dan berdiri di samping Relina. Pandangan matanya menyelusuri dari ujung kepala sampai ujung kakinya, dengan tatapan yang menyepelekan.


'Cih, dia pikir dia siap, perempuan seperti ini enolakku? Ah yang benar saja'


Tapi memang kadang, banyak perempuan seperti inilah yang justru menolak karena merasa harga dirinya sangat tinggi.


Relina melirik Junda sekilas. Balas menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan hati berdebar halus. Wajahnya yang merah karena panas dan gerah, berubah pucat.


'Kenapa, liat-liat?'


Disaat yang bersamaan, ada angkot yang mendekat Relina pun mengulurkan tangannya, memberi isyarat pada sopir bahwa ia akan menumpang. Namun, secara tiba-tiba, sebuah tangan yang kekar, menarik tangannya dan membawanya masuk ke dalam mobil.


'Eeh, dia ini kenapa, si? Aduh, sakit tahu!'


Gadis itu berusaha keluar dan membuka pintunya kembali, namun Junda menutup dan menguncinya.


"Heh, diam! Siapa bilang saya mau nyulik kamu, saya mau nganterin kamu, tahu?"


Di dalam hati Rena kesal, 'dih, mana ada orang mau nyulik ngomong dulu, dasar!'


Akhirnya dia pun diam dan melihat ke arah Juanda, yang memutari mobilnya lalu masuk sambil menutup pintu. Pandangan matanya menatap kearah Relina lekat-lekat.


"Pake sabuk pengamannya!"


"Memang kalo gak pake, kenapa?"


Junda memalingkan wajahnya ke depan, mengendarai mobil dengan tenang, membiarkan lampu peringatan yang menyala karena reliyna belum memakai sabuk pengamannya.


"Eh, kenapa itu bunyi terus?" Kata Relina ketika ia mendengar suara peringatan yang terdengar berisik.


"Itu peringatan, pakai sabuk pengaman kamu dulu, baru dia diem."


Relina melihat ke samping ke arah tempat sabuk pengaman dan dia menariknya, sementara Juanda terus meliriknya membuat dirinya grogi dan tidak berhasil memasukkan pengaitnya.


Junda pun membantunya. Ia menghentikan mobil sejenak, lalu memiringkan badan, sambil berkata, "pakai kayak gini aja nggak bisa."


'Eh, maklum kenapa, Pak. Saya mah nggak pernah pakai mobil beginian, tahu?'


Saat memasang sabuk pengaman itu sampai selesai, posisi kepala dan tubuh mereka sangat dekat, membuat Relina memundurkan kepalanya.

__ADS_1


"Kenapa kamu takut beneran kalau saya gigit?" Junda berkata sambil tertawa kecil.


Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang.


"Di mana rumahmu?" Junda memulai obrolan.


"Oh, enggak jauh, kalau naik angkot paling cuman sepuluh menitan, dekat taman kota."


"Di mana, yang jelas kalau ngomong ... jalan ke taman kota macet."


"Siapa yang suruh bapak nganterin saya?" Relina berkata dengan suara keras. Sedangkan Junda hanya diam, meliriknya sekilas lalu fokus mengemudi. Ia sendiri tidak tahu kenapa ia seperti orang linglung yang menunggu gadis itu keluar dari pasar dan berniat mengantarkan pulang.


'Gila, apa aku sudah gila?'


Relina pun melanjutkan ocehannya, "dengar ya, Pak. Di mana-mana macet itu biasa, kebanyakan orang ngeluh macet, macet, tapi nggak bisa ngasih solusinya, ngomong harusnya begini, harusnya begitu, tapi cuman ngomong saja, mendingan dijalani, sabar ... di mana-mana juga macet. Jangankan di sini, di negara maju kayak di Amerika saja macet."


"Hei, kamu nih banyak omong juga ya, diam!"


"Ya, kalau enggak mau dengerin saya ngomong, turunin saya sekarang di sini, saya nggak minta dianterin, kok? Bapak yang maksa saya, yang nyuruh saya masuk."


Sementara mobil melewati sebuah jalan yang berbeda. Relina menatap jalanan dengan heran, ini bukan arah ke tempat kosnya.


"Eh, Pak, kenapa lewat sini? Jangan bilang mau nyulik saya, ya?"


Mendengar ucapan Relina, Junda tersenyum lebar, gadis ini lucu.


"Hais, mana ada orang milik ngomong. Kamu beneran mau aku culik?"


"Kalau Bapak mau culik saya, saya telepon polisi, sekarang juga!" Kata Relina sambil mengeluarkan ponselnya.


"Eeh, apaan mau lapor polisi, masa saya mau nyulik orang segede kamu, emangnya saya apaan?"


"Iya, Bapak apaan, manusia bukan? Pak ... kalau gak ikhlas, nggak usah repot-repot nganterin saya, turunin saya sekarang!" Relina berkata sambil memukul-mukul jendela.


Begitu Relina selesai bicara, mobil pun berhenti mendadak, Junda mengerem mobilnya secara tiba-tiba, sampai tubuh Relina condong kedepan, hanya sabuk pengaman yang menahannya.


"Duh ... Bapak ini bisa nyetir enggak sih? Yang Bener dong, untung pakai sabuk pengaman, kalau gak, saya pasti nyium dasbor tuh, Bapak mau harus bayar biaya rumah sakit buat saya?"


'baru tahu rasa'


'Ya Tuhan, untungnya dia kupecat, untungnya dia bukan bawahanku lagi, kalau dia masih kerja sama aku bisa pecah kupingku tiap hari dengar dia ngomong kayak gini'


"Kamu kan tadi yang nyuruh berhenti, ya sudah ... saya berhenti." Junda menjawab sambil mengedikkan bahunya.


"Kalau berhenti nggak usah mendadak juga kali, emang nggak bisa apa, jalan pelan-pelan ke pinggir? Coba kalau di belakangnya ada mobil lain, kan bisa tabrakan, bapak sendiri yang rugi?"


Junda tersenyum miring sambil memalingkan mukanya ke arah lain, ia hanya bicara sedikit, tetapi perempuan ini menjawabnya panjang lebar.


'Apa dia selalu saja seperti itu? Cerewet sekali!'


"Ya sudah, turun sana!" Junda berkata sambil membukakan sabuk pengaman dari tubuh Relina.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2