Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan


__ADS_3

Betapa terkejutnya Relina dan Junda mendengar ucapan Sarini dan membuat mata kedua manusia itu terbelalak dengan sempurna.


‘Bagaimana bisa menjalani hidup seperti itu, dengan dua pernikahan dalam sekali waktu? Ini tidak mungkin’ batin Relina sambil membalas genggaman tangan Junda. Banyak emosi terkumpul dihatinya dan tidak perduli dengan Syalu yang menatap dirinya dengan tatapan tajam.


Relina ingat bila Syalu pernah berniat meracuni dirinya dan Junda dengan cara yang keji, untung saja dia menggagalkan rencana itu walau tanpa sengaja. Tidak bisa dibayangkan bila hal itu terjadi padanya dan bagaimana mungkin wanita semanis itu bisa memiliki obat yang sangat berbahaya.


Obat yang pernah Syalu gunakan adalah sejenis bahan kimia yang berfungsi menstimulasi syaraf otak untuk mempunyai rangsangan lebih tinggi terhadap perilaku hubungan badan yang berlebihan.


Namun, lebih parahnya lagi, obat itu bercampur bahan kimia lainnya yang bisa mengakibatkan beban mental dan halusinasi tinggi. Bila disalurkan atau tidak disalurkan pun tetap akan membawa kematian pada orang yang mengkonsumsinya. Dia benar-benar ingin membunuhnya!


Sementara Junda dalam dilema, dia tidak mungkin jujur untuk saat ini bila dia bertekad penuh membawa Relina ke pelaminan setelah dia tahu bila gadis itu memiliki tanda yang sama dengan dirinya. Alasan cinta akan terdengar begitu naif bila dia mengatakannya. Dia tidak ingin Relina kecewa.


Relina benar-benar tulus mencintai, bahkan pernah mengajak Junda menikah beberapa waktu lalu, sebelum dia tahu tentang tanda lahir di tubuh yang dimiliki suaminya. Kepercayaannya tentang takdir Tuhan jauh lebih besar dari kepercayaan tentang tanda mitos yang membawa kesialan.


Seandainya semua hal yang berkaitan dengan mitos benar-benar terjadi di dunia ini, maka keadilan Tuhan seakan tidak berarti dan manusia mungkin sudah lama punah di muka bumi. Bayangkan saja berapa banyaknya mhyte yang ada, dan di percaya oleh seluruh manusia di bumi? Semua mhyte berbeda di setiap wilayah dan daerah, tidak jarang beberapa mitos menyebutkan tentang kematian.


“Apa? Menikahi Syalu. Apa kalian bercanda? Tentu saja aku tidak bisa,” kata Junda tegas. Di hatinya hanya ada Relina saat ini, mana mungkin dia menikah lagi, sebab pernikahan bukanlah sesuatu yang bisa dipermainkan.


Dalam keheningan yang tiba-tiba saja datang setelah Junda berhenti bicara, Syalu kembali berlari ke tepi pembatas gedung dan berteriak sambil menangis.


“Baiklah, aku sekarang tahu kalau aku nggak ada artinya di hatimu, Junda!”


“Sya! Jangan bodoh! Aku tidak akan rela kamu tiada dengan sia-sia!” sahut Sarini dengan berteriak pula. Wanita itu memegangi tangan Syalu sementara anaknya itu mengibas-ngibaskan tangannya dengan kuat.


Junda mengerutkan keningnya melihat kemungkaran buruk bisa saja terjadi dalam kondisi itu. Dia sudah tahu maksud dari aksi Syalu, tapi kalau seperti itu antara ibu dan anak salqng menarik, satu orang bisa terlepas dan seorang lagi akan jatuh ke dasar gedung.


“Lepaskan aku, Bu!” kata Syalu sambil mengibaskan tangan ibunya, saat itu juga Junda melangkah dengan cepat dan meraih pinggang Syalu dan menurunkannya ke lantai hingga gadis itu tergeletak di sana.


Syalu segera bangkit, lalu menatap wajah Junda dengan tatapan penuh harapan lalu, bergelayut di pangkal lengannya.

__ADS_1


“Junda! Kamu masih peduli padaku? Aku tahu, kamu sayang sama aku, kan? Pasti kamu nggak mau lihat aku mati!” Syalu mencecar Junda secara beruntun.


Junda diam tak merespon cecaran gadis itu. Dia memang tidak ingin Syalu tiada, tetapi hanya sebatas manusia biasa yang mempunyai tenggang rasa. Tentu tidak orang yang memiliki hati, akan membiarkan hal semacam itu terjadi di depan matanya. Akan tetapi, Syalu dan keluarganya menanggapinya berbeda.


Kedua orang tua Syalu, melihat pemandangan di hadapannya dengan mata bersinar penuh harapan, bahwa anaknya akan mendapatkan apa yang dia inginkan, agar cintanya tidak bertepuk sebelah tangan lagi.


Sementara Relina masih merasakan tangannya yang kosong, terlepas dari genggaman Junda. Dia melihat semua yang dilakukan suaminya adalah hal yang luar biasa. Tiba-tiba hatinya sakit seperti ada ribuan pisau menyayat-nyayat. Dahulu, saat dia melihat keakraban dan kemesraan Syalu pada Junda di kantor, tidak ada rasa apa pun yang keluar dari hatinya, namun sekarang adalah sebuah pengecualian.


Semua yang dilihat Relina membuatnya sesak, bahkan lebih sesak saat penyakitnya kambuh. Dia kini adalah istrinya yang paling berhak akan tubuh dan segala sesuatu yang dimiliki Junda, mana boleh ada wanita lain berbuat di luar kewajaran.


Sebenarnya hal yang dilakukan Syalu dengan memeluk mesra Junda seperti itu, sudah melanggar hak privasi pasangannya dan juga melanggar norma kesopanan seorang wanita kepada seorang laki-laki beristri. Itulah sebabnya bila ada seorang yang sudah memiliki pasangan berselingkuh, akan membuat marah pasangannya.


“Kalau begitu, selamatkan saja dia, kasihan sekali ternyata selama bertahun-tahun, cintanya hanya bertepuk sebelah tangan!” kata Relina setelah terdiam selama dia berada di sana. Dia masih mencerna dengan semua yang terjadi, hingga dia menarik sebuah kesimpulan bahwa Syalu tidak pernah rela Junda menikah dengan siapa pun kecuali dirinya.


Relina tidak tahu apakah Syalu juga mempercayai tentang mitos tanda lahir seperti keluarga Junda atau tidak. Namun, dia tahu bahwa mantan sekretaris itu tidak percaya, tapi memahami, hingga berusaha menarik Junda dalam pusaran perasanya. Siapa yang menyangka justru pria itu lebih memilih Relina.


Ucapan Relina mengandung sarkasme yang cukup jelas karena tertuang dari hatinya yang sakit. Di antara mengizinkan dan tidak bila Junda berusaha menghibur taman masa kecilnya.


Junda melangkah mendekati Relina dan kembali meraih pergelangan tangan Relina, menatapnya dengan tatapan mata penuh penyesalan dan juga kasih sayang.


“Tenanglah, aku Cuma menyelamatkannya,” kata Junda. Kedua pasang matanya menatap Relina lekat.


“Ya, aku tahu. Sebagai manusia kita harus saling tolong menolong, kan? Apalagi seorang teman! Jadi seharusnya saling membantu dan bukannya saling mencelakai!” sahut Relina. “Kita bukan makhluk berkaki empat, yang mencelakai seperti binatang pemangsa,” kata Relina sambil menatap Syalu ketus, tidak ada ketakutan sedikit pun dalam hatinya pada mantan atasannya itu.


“Memangnya, siapa yang saling mencelakai, aku tidak pernah mencelakaimu!” Syalu berkata seperti itu karena dia mengira bahwa Relina tidak mengetahui perbuatannya. Tanpa sepengetahuan Syalu, Junda sudah menceritakan semuanya pada kekasihnya.


“Ya, tidak pernah mencelakai, tapi hampir membunuh. Untung saja nasib baik masih berpihak padaku.”


Ucapan Relina membuat Syalu terdiam, alisnya tampak berkerut lalu, bibirnya bergerak untuk berkata, “Jangan memfitnahku!”

__ADS_1


“Cukup!” Junda membentak membuat suasana di sekitar menjadi semakin dingin.


“Ayo, pergi dari sini!” kata Junda sambil menarik tangan Relina, tapi tidak melepaskan Syalu yang masih bergelayut mesra di lengannya.


‘Maunya apa, sih? Mau menikahi perempuan itu juga? Cih! Ayo kita lihat saja maunya seperti apa’


Kelima orang itu kini berjalan secara beriringan menuju restoran yang ada di gedung itu.


Adipura menyelesaikan urusan dengan polisi dan mengatakan bahwa semua baik-baik saja.


Rombongan kecil itu masuk dengan mencolok karena ada seorang pria yang digelayuti secara manja oleh dua wanita di kedua sisi lengannya.


“Kenapa kita di sini? Kita kan sudah makan?” tanya Relina.


“Kita pesan minuman saja!” kata Junda.


Adipura, Sarini, Syalu dan Relina pun mengangguk. Mereka memesan minumannya masing-masing, dengan sedikit cemilan.


“Om Adi, Tante Sari, saya serahkan Syalu pada kalian berdua. Saya sudah berhasil menggagalkan niat jeleknya,” kata janda setelah pesanan semuanya tersedia di atas meja. Mereka duduk secara melingkar, Junda diapit oleh Relina dan Syalu, sedangkan Adipura dan Syahrini duduk di hadapan mereka bertiga.


Mereka duduk di meja bundar dengan enam buah kursi, hanya satu yang tersisa sehingga, mereka bisa saling melihat satu sama lain dan berbincang dengan leluasa.


Mereka saling menatap dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Junda selanjutnya.


“Saya berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini. Syalu, kamu sadar aku tidak mencintaimu sejak dulu, kamu cantik dan pintar, seharusnya kamu bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku dan pantas menjadi pendamping hidupmu.” Junda berkata sambil menepuk bahu Syalu lembut.


“Kenapa, Junda? Kalau Kamu pikir aku perempuan yang cantik dan pintar kenapa kamu tidak bisa jatuh cinta kepadaku selama ini?” Syalu berkata sambil berdiri.


Gadis itu kembali melanjutkan kata-katanya sambil memalingkan pandangan, “Oh, ya ... kamu benar-benar percaya tentang mitos itu, lalu kenapa kamu menikahi perempuan ini kalau memang kamu tidak tahu dia punya tanda yang sama atau tidak atau jangan-jangan Kamu memang tahu dia punya tanda itu?”

__ADS_1


“Ah, masa. Benarkah itu, Junda?”


Bersambung


__ADS_2