
Junda menarik napas dalam-dalam ketika saudara sepupunya itu mempertanyakan sebab kematian Relina yang tidak biasa, bahkan membawa kecurigaannya.
“Tidak ada sebab apa pun, Relina memang sakit, mungkin dia lupa minum obat atau justru terlalu banyak minum obat, hingga dia jadi seperti itu.”
“Apa dia punya penyakit?” Tanya Dion lagi.
“Ya.”
“Bisa jadi kamu menggempurnya terlalu keras, hingga dia kelelahan.” Dion kembali menimpali.
Junda terdiam, dia memang melakukan hal itu sampai berulang kali, tapi tidak keras, dia melakukannya dengan hati-hati dan lemah lembut, dia tidak bisa disalahkan sepenuhnya, sebab Relina juga memintanya untuk melakukan hal itu lagi dan lagi.
Waktu itu, Junda tidak menyadari bila ada kemungkinan istrinya meminum semacam obat. Sebab, tidak biasanya wanita yang baru pertama kali melakukan hubungan suami istri, tidak merasakan sakit, walaupun jelas ******** wanita itu berdarah.
Cara Relina meminta waktu itu pun terkesan binal. Sama sekali bukan Relina yang dia kenal. Akan tetapi, keinginan serta geloranya yang juga tinggi, membuatnya tidak bisa berpikir secara jernih dan mengabaikan kejanggalan itu. Apakah dia menyesal? Sangat. Akan tetapi sebanyak apa pun penyesalannya, tidak akan pernah membuat nyawa istrinya kembali.
Dia sudah mendengar cerita beberapa teman termasuk Dion yang mengatakan pengalaman pertamanya. Namun, apa yang dia alami, sangat jauh perbedaannya.
Dion dan Anne tetap tunggal sampai peti jenazah datang, beberapa orang yang dipercaya, serta terbiasa menangani jenazah melakukan kewajibannya. Sampai semua prosesi selesai, sepasang pengantin baru itu pun pergi.
Tak lama dari kepergian Ane dan Dion, Atmaja beserta keluarga kecilnya muncul. Felia, ibu sambung Junda memeluknya hangat dan memintanya untuk bersabar serta mengucapkan beberapa kata positif yang memberinya semangat. Akan tetapi Junda menanggapinya dengan datar.
“Hah. Sepertinya takdir sudah mempermainkan kita,” kata Atmaja setelah berada di sisi anak lelakinya. Dia tahu betapa menyakitkan hal ini bagi Junda. Kehilangan wanita yang dia sayangi dalam waktu yang tidak begitu lama. Dia pernah mengalami sakit karena kehilangan istrinya dahulu, hingga dia tahu rasanya seperti apa.
__ADS_1
Perasaan sakit itu lama tidak hilang, padahal dia sudah mengetahui bahwa hidup istrinya saat itu tidak lama lagi. Nyatanya manusia tidak pernah siap untuk kehilangan sesuatu yang mereka sayangi. Apalagi Junda yang tidak pernah menyangka, istrinya akan tiada secepat ini. Relina meninggalkanya tepat di malam pertamanya. Diia begitu bersemangat untuk melamarnya karena yakin pernikahannya akan langgeng sampai tua. Namun yang terjadi sekarang, sungguh tidak bisa dipercaya!
Junda tidak merespon ucapan ayahnya, dia hanya mendesah, mengusap wajahnya kasar dan menarik napas dalam. Lalu memanggil Fuad yang masih berdiri di samping peti jenazah, untuk mendoakan Relina..
“Apa kamu akan membawanya ke kampungnya?” tanya Atmaja tanpa melihat ke arah Junda tapi lebih ke arah peti jenazah di hadapannya. Mereka berada di aula tengah rumah yang sudah dikosongkan dan semua kursi di tarik kebelakang untuk di susun mendekati dinding hingga ruangan itu terlihat luas.
“Ya,” jawab Junda tanpa ragu.
“Kenapa kamu memanggil Fuad, mau kamu ajak?”
“Tidak. Dia akan aku minta mengurus beberapa hal.” Saat Junda berkata seperti itu, Fuad sudah duduk di sebelahnya.
“Fuad, kamu bilang kalau Relina pernah berjasa padamu dan istrimu karena dialah kalian bisa bersama sekarang?” tanya Junda lugas dan penuh tekanan.
“Ya.” Fuad pun menjawab dengan tegas. Sementara Atmaja mengerutkan keningnya tak mengerti.
“Apa kamu yakin, kalau Syalu pelakunya dan tega melakukan hal itu pada Relina?” tanya Atmaja yang tidak bisa dia jelaskan secara gamblang.
“Aku gak yakin, Ayah. Cuma curiga aja sebab pernah beberapa kali Syalu begitu. Ayah pernah tahu sendiri kan waktu itu, ada buktinya jelas. Makanya dia aku pecat.”
“Wah, Jadi. Bu Sya tidak bekerja dengan Pak Junda lagi?” tanya Fuad setelah lama diam. Junda memintanya untuk menemui Syalu dan menceritakan kematian Relina, lalu, memancing dengan berbagai obrolan sehingga bisa membuktikan benar tidaknya gadis itu melakukan kejahatan.
“Ya, sudah lama lebih dari tiga bulan yang lalu.” Junda menjawab sambil menyandarkan kepala dan memejamkan matanya.
__ADS_1
“Pada dasarnya, saya bisa melakukan hal itu karena dia pasti tidak akan curiga dengan saya, tapi ... saya mungkin akan menggunakan nama atau kekurangan Anda untuk mengelabuhi dan memancing Bu Sya bicara,” Fuad lagi dia bermaksud berdiplomasi dengan Junda tentang segala kemungkinan. Sebab, dirinya bukanlah detektif atau polisi yang punya kemampuan seperti itu. Mereka yang ada di sana hanyalah orang biasa yang hanya punya kemampuan bisnis biasa saja. Tidak lebih.
“Ya, terserah.”
“Kapan, kamu akan membawa jenazah itu?” tanya Atmaja kemudian, mengalihkan pembicaraan.
Sekarang.”
Setelah berkata seperti itu, Junda menghubungi seseorang dan mengatakan beberapa hal berkaitan dengan mobil jenazah dan pengawalan. Dia tidak ingin perjalanan terganggu, sehingga kemudian menyepakati beberapa jalan alternatif yang akan dilalui sampai ke pelabuhan Merak Banten, untuk menghindari kemacetan dan, mobil jenazah bisa diangkut menggunakan jasa penyeberangan laut.
*****
Junda berdiri di tepi makam yang masih basah dan dipenuhi dengan taburan bunga. Semua orang yang ikut dalam pemakaman, sudah pergi dan hanya dirinya serta keluarga kecil Rosihan yang masih bertahan karena Renita tidak bergerak dari duduknya.
Wanita itu terus menangis saat kedatangan jenazah dan juga saat peti mati itu dimasukkan ke liang kubur. Tidak rela rasanya anak gadisnya yang baru saja menikah, bahkan belum sempat di buat resepsinya, kini harus di kubur sendirian dan dingin.
Tiba-tiba wanita itu mendongak melihat Junda yang berdiri kaku sambil menatap batu nisan yang bertuliskan nama istrinya.
Renita berdiri dan menghampiri Junda lalu memukul bahu dan dada pria di depannya dengan sekuat tenaga.
“Semua ini gara-gara kamu, Junda! Kamu memang selalu membuat sial anakku!” Renita berteriak, sambil berurai air mata.
“Ibu, sudah, Bu!” Rosihan dan Royan mencoba menenangkan Renita yang masih melotot ke arah Junda, dengan tatapan membara, seolah-olah pandangan mata itu akan membakarnya hidup-hidup.
__ADS_1
Junda tidak merespon, menerima semua pukulan ibu mertuanya itu dengan pasif. Dia mengakui kesalahannya memaksa kan diri. Ahk ... semua mungkin benar, dia membawa kesialan. Setelah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Renita, dia dengan yakin mengambil sebuah tekad bahwa, dia akan menjadikan pernikahannya dengan Relina adalah pernikahan pertama dan terakhirnya.
Bersambung