
Relina menarik napas dalam kemudian berkata, “seandainya aku tidak rindu, apa kamu tidak mau menemuiku?”
Hening.
“Baiklah, aku tidak merindukanmu.” Setelah berkata demikian, Relina menutup ponselnya. Seiring rasa perih di hatinya, dia mencoba melihat sejauh mana usaha Junda kali ini. Apakah akan sama seperti saat dia begitu menggebu ingin memilikinya, atau akan kembali melepaskannya.
Relina merasakan hidungnya yang tiba-tiba gatal dan matanya menghangat karena air yang keluar.. Seperti itu rasanya merindukan orang yang tidak merindukannya.
“Erwin,” panggil Relina sambil menarik kursi dan kembali meneruskan makan siangnya.
“Iya, Bu,” jawab Erwin sambil melihat Relina yang mengaduk-aduk makanannya.
“Kira-kira, di mana makam keluarga Jun ... maksudku Pak Junda?”
“Mungkin di pemakaman umum biasa, Bu. Setahu saya, dulu ibunya Pak Junda juga di makamkan di pemakaman umum.”
“Sisihkan waktu, kita ke sana secepatnya.”
“Baik, Bu.”
Relina tidak menunjukkan reaksi yang berarti walaupun sebenarnya tengah meredam gejolak rasa di dadanya. Dja tidak ingin menyesali telah bersusah payah memantapkan hati untuk mencintai Junda dan menerima dengan lapang dada, segala kekurangannya seperti karakter yang kaku dan pemaksa.
Meskipun, yang dia rasakan sekarang seperti meraup pasir dan membuangnya kembali, tapi kenangan indah yang pernah ada tidak bisa dilupakan begitu saja. Memang waktu bisa membantu menyamarkan ingatan tentang hubungan dengan seseorang, tapi tidak akan bisa menghapus jejaknya secara sempurna.
*****
Junda sedang berdiri di sisi makam neneknya yang masih basah, sambil meletakkan seikat bunga mawar putih kesukaan Shasi yang masih segar. Dia tahu, mendiang neneknya itu menyukai mawar putih dan melati, bunga yang dianggap mempunyai unsur mistis yang tinggi.
Pria itu menatap langit yang mulai terik secara bergantian dengan menatap batu nisan. Sepertinya dia tengah berdoa, wajahnya menunjukkan perasaan bahwa dia belum rela, meski hari ini adalah hari kedua Shasi di makamkan. Dia seperti berat untuk meninggalkan makam, hingga ia kembali lagi dan lagi. Bahkan dia sudah berdiri di sana sampai beberapa jam.
Semua kerabat, saudara dan ayahnya sudah kembali ke kediaman masing-masing, hingga dia merasa kesepian. Dia berharap dengan berada di makam ini, seolah masih bersama dengan Shasi.
Kemarin setelah Junda menghubungi Relina dan ponsel tiba-tiba berakhir, dia ingin kembali menghubunginya karena tidak puas dengan jawaban yang mengatakan bahwa gadis itu tidak merindukannya.
Jujur, dia ingin sekali marah, lalu mengatakan perasaan yang sebenarnya, tapi seseorang memanggilnya dan memberitahukan bahwa, jenazah sudah siap untuk di makamkan. Dia pun mengurungkan keinginannya untuk menghubungi Relina.
Pada malam harinya dia lupa di mana meletakkan ponsel, hingga sehari kemudian HP-nya ditemukan, dalam keadaan mati daya. Dia pun kembali gagal untuk menghubungi Relina.
Saat ini, hari sudah menjelang siang dan Junda masih bersiri, kadang juga duduk di antara makam nenek dan ibunya. Dua wanita yang sudah berjasa dalam hidupnya.
Junda tidak menyadari bila ada seseorang yang membawa buket bunga, dengan langkah perlahan mendekatinya, atau tepatnya Relina tengah berziarah ke makam Shasi dan tidak menyangka, akan melihat Junda di sana.
Relina menghela nafas beberapa kali mencoba menenangkan hati dan berhenti sejenak karena tiba-tiba saja langkahnya gemetar. Perasaannya begitu miris dan pilu, melihat laki-laki yang dulu begitu arogan dan pemaksa sekarang seperti daun yang layu dan tidak lagi cerah warnanya.
Bunga segar dia taburkan di atas makam dan seikat mawar dia letakkan di atas pusara setelah Relina berada di sisi makam, tepatnya di hadapan Junda.
Gadis itu memakai pakaian panjang seperti biasanya lengkap dengan selendang hitam yang melengkapi penampilannya menunjukkan bela sungkawa.
Dalam keadaan menunduk dia memanjakan beberapa doa, agar mendiang Shasi, tenang di alam sana.
Dia belum berani menatap Junda sejak kemunculannya. Sementara tatapan Junda terus menghunjam ke arahnya.
Dalam hati Relina berkata, 'Apakah dia baik-baik saja?’
Wajah Relina tetap saja tertunduk, hingga selesai berdoa dan setelah hatinya benar-benar tenang, dia perlahan-lahan berdiri.
“Kamu, di sini?” Itu suara Junda, yang dulu sering berkata keras kepadanya, kini dengar sedikit serak mengisyaratkan kesunyian dalam sebuah gua yang tidak berpenghuni.
__ADS_1
Relina mengangguk dengan muka masih tertunduk ke arah batu nisan. Kemudian kembali sepi.
Setelah beberapa menit berlalu, Relina memberanikan diri melihat ke arah Juanda, dia mengangkat wajahnya. Kemudian, kedua mata mereka beradu saling bertatapan mengisyaratkan gelombang, yang sangat besar dan mengubah udara di sekitarnya menjadi air pasang, dengan banyak emosi di dalamnya.
“Apakah kamu baik-baik saja?” tanya Relina dan Junda mengangguk.
“Kamu? Apa kabar?” tanya Junda kemudian.
“Aku baik,” jawab Relina sambil tersenyum.
Dia sengaja meluangkan waktu sebelum makan siang untuk datang ke makam itu. Kemarin, setelah Relina selesai meninjau proyek ternyata ada ada pekerjaan yang harus dia selesaikan di kantor, hingga dia membatalkan rencana untuk melayat ke rumah Junda. Dia hanya ingin memastikan bahwa Junda baik-baik saja.
Waktu itu mendadak Fuad pergi ke Jakarta untuk menengok anaknya sakit, sehingga urusan kantor dipercayakan pada Erwin dan Relina. Fuad baru mengetahui bila anaknya dan Icha itu sering sakit-sakitan karena memiliki kelainan jantung sejak lahir. Mengetahui hal ini, Relina sebagai sahabat Icha hanya bisa mendoakan agar anak itu kembali seperti sedia kala.
Di sela kesibukannya, Relina meminta Erwin menyempatkan diri berziarah, setelah tahu di mana nenek Junda di makamkan. Sekarang, dia bertemu dengan Junda, itu di luar dari rencananya.
Junda menatap Relina tanpa bicara. Dia mulai merasakan jatuh cinta kepada gadis itu ketika mengalami insiden di lift Hotel Salak. Hatinya tiba-tiba dipenuhi perasaan yang menyesakkan. Kemudian dia berusaha mendekati Relina, walaupun di dalam hatinya terjadi perang, antara melepas kepercayaan neneknya atau mengejar cintanya.
Dia pun bertekad untuk mengejar cintanya pada Relina dan mengabaikan kepercayaan neneknya, perempuan yang sudah merawatnya. Walaupun hatinya tidak tega, akhirnya dia jujur mengatakan pada Shasi bahwa dia mencintai seorang gadis dan berharap mitos itu tidak terjadi.
Setelah tekad Junda sempurna, dia pun menyatakan dengan tulus, tentang perasaannya, pada Relina, lalu menunggu menjawabnya.
Relina akhirnya menjawab dan akan membalas cintanya, akan tetapi Junda justru kecewa saat membaca sebuah tulisan di buku harian. Pria itu begitu tersinggung dengan kata-kata save Junda dan menganggap perempuan itu meremehkannya.
Ego Junda sebagai lelaki pun terluka, bila belum memiliki hubungan apa-apa saja Relina sudah berani meremehkan dirinya, apalagi saat mereka memiliki sebuah hubungan kelak, demikian pikirnya.
Kematian Shasi dan kedatangan Relina ke rumahnya, membuat hatinya kembali tersulut emosi. Dia tidak tahu bagaimana Relina bisa berada di rumah duka, padahal dia tidak memberitahukan kepadanya.
Junda tidak tahu apa yang harus dia perbuat, hatinya dalam dilema antara menumpahkan rindu yang selalu menyiksa atau mengusirnya.
Beberapa saat setelah Relina pergi dari rumahnya, Junda menghubunginya karena ternyata kerinduan lebih besar dari egonya. Dari pembicaraan singkat melalui telepon itu akhirnya dia tahu bahwa Relina hanya memiliki keinginan yang sederhana, bahkan lebih tulus dari yang dia kira. Wanita itu rela berkorban demi dirinya!
Sebenarnya hati Junda sangat sedih memahami kenyataan bahwa tidak bisa bekerja sama dengan Relina, padahal dia ingin terlibat dalam proyek itu untuk menanganinya bersama dan meringankan beban wanita yang dicintainya.
Relin, awalnya tidak memiliki perasaan apa-apa kepada Junda, sejak pertama kali mereka bertemu, saat mereka bekerja di gedung yang sama. Dia hanya memiliki perasaan kagum, namun perasaan itu tersimpan dengan baik di hatinya.
Perasaannya membuncah ketika ia menatap mata Junda secara langsung, di sebuah pasar, saat ada insiden dengan ibu tua. Tatapan mata itu seolah-olah menghisap perasaannya ke diri Junda, sehingga tidak bisa berpaling. Sejak saat itu dia memiliki sebuah rasa padanya.
Berbagai masalah pun muncul di antara mereka, hingga Relina melihat perjuangan Junda, yang berulang-ulang kali menggunakan trik paksaan untuk mendekatinya, bahkan banyak sekali alasan hanya karena ingin bersamanya.
Relina terkadang kesal namun, tetap tersenyum karena ada kebahagiaan bersamanya hingga kemudian dia memantapkan diri untuk mencintai Junda karena sudah banyak membantunya saat berada di Martapura.
Akan tetapi dia heran saat Junda justru menolaknya hanya karena kata-kata dalam buku harian, yang menyinggung perasaannya.
Kematian Shasi kali ini, membawa Relina kembali mendekatinya, dia ingin sekali memeluk dan menumpahkan kerinduan yang ada, tetapi sikap Junda masih saja memandangnya sebelah mata, bahkan terkesan tidak menghargainya.
Saat ini mereka bertemu berada di sebuah pemakaman umum yang terkesan sejuk, tenang dan damai. Ada beberapa macam bunga dan pohon yang rindang, namun tidak terkesan menyeramkan. Sepanjang mata memandang adalah hamparan rerumputan hijau diselingi batu-batu nisan yang tersusun rapi dan indah.
Mereka berdiri saling berhadapan dan makam Shasi di antara mereka. ibu Junda pun di makamkan di tempat yang sama, tepat di samping makam Shasi berada.
“Ini adalah makam ibuku.” Tiba-tiba Junda membuka mulutnya untuk bicara dan Relina diam mendengarkan. Wanita itu tidak menyangka bahwa Junda akan mengatakan hal itu kepadanya.
“Dulu aku tidak bisa melihat jasad ibuku.” Junda berkata tanpa beban seolah-olah mengatakan hal ringan biasa, padahal ucapannya mampu membuat Relina tercengang heran.
‘Kenapa?’ batin Relina.
Junda pun menceritakan secara singkat tentang kematian ibunya. Dia hanya ingin Relina mendengarnya, seperti dia berbicara dengan orang yang sangat dipercaya untuk menyimpan rahasia.
__ADS_1
“Lihat, mereka sekarang sudah di makamkan bersama di sini, kuharap mereka baik-baik saja,” kata Junda, yang menceritakan kehidupannya tanpa diminta, semua meluncurkan begitu saja dari mulutnya.
Sementara Relina mendengar sambil menatap Junda dengan takjub.
Junda membutuhkan tempat untuk bercerita, selain ayahnya. Saat melihat Relina datang dengan membawa bunga, walaupun tanpa melihat padanya, dia sudah merasakan gemuruh yang cukup kuat di benaknya. Dia terharu dan tangannya mengepal kuat, menahan diri agar tidak buru-buru menarik tubuh kurus itu dalam pelukannya.
“Maafkan aku baru bisa berziarah hari ini.” Relina berkata sambil membetulkan posisi selendangnya, setelah cukup lama terdiam.
“Nggak masalah ... aku tahu kamu sibuk, nggak ada yang maksa kamu datang atau nggak,” kata Junda.
Relina menilai ucapan Junda terkesan masa bodoh, tidak mengharapkan kehadirannya, masih tidak menghargainya. Terkadang orang tidak tahu bagaimana cara menghargai dirinya sendiri sehingga dia tidak bisa menghargai orang lain.
“Apa kamu baik-baik saja?” kata Relina, mengulang pertanyaan yang sama.
Penampilan Junda seperti orang yang tidak merawat dirinya dan terlihat tidak baik-baik saja. Junda sangat merindukan Relina, tapi perasaan gengsi yang menyebabkan dia bersikap seperti ini.
Juanda meliriknya dan menipiskan bibir, seperti garis lurus, terlihat acak-acakan dan lesu.
Kemudian dia berkata, “Apa aku terlihat baik-baik saja menurutmu? Kenapa kamu bertanya, apa kamu peduli padaku?”
“Ya. Tentu saja, aku perduli padamu.”
“Kamu masih berpikir aku orang yang pantas untuk di tolong?”
“Ditolong dalam hal apa?”
“Aku tidak tahu.” Junda berkata dengan ketus sambil memalingkan wajahnya.
Sementara Erwin datang mendekat sambil membawa sebuah payung, lalu berdiri di dekat Relina dan menaunginya.
“Terima kasih.” Relina menerima payung itu, dengan penuh syukur. Lalu kembali berkata, “Tinggalkan kami di sini.”
Erwin pun pergi, setelah melirik Junda yang juga meliriknya. Dia asisten yang perhatian, di saat panas seperti ini dia membawa sesuatu yang bisa melindungi.
Ini sudah jam makan siang dan mereka masih berada di antara makam. Sementara junda tidak merasakan apa-apa, walau panas matahari seolah membakar raga. Semua dikarenakan hatinya yang membeku, sehingga baginya suasana menjadi dingin.
Junda tersenyum pongah mengejek dirinya sendiri. Merasa tidak berarti karena ada pria lain yang kini selalu ada untuk Relina. Dia berpikir tentang kesalahannya yang dahulu selalu memaksa Relina. Seharusnya dia bersikap lebih manis.
“Apa semua ini masih ada hubungannya dengan buku harian itu? Kamu masih marah karena itu?”
Junda diam. Tatapan matanya tak perduli melihat kesana kemari. Sebenarnya bukan marah, hanya tidak terima bila Relina menilainya pria lemah, itu saja.
“Junda, bukankah aku pernah bilang kalau tulisan itu nggak ada hubungannya sama meremehkanmu! Tidak ada salahnya seseorang berniat menolong orang lain, dan boleh saja meminta pertolongan orang lain. Kamu tidak perlu tersinggung kalau memang kamu bukan orang yang lemah. Kecuali kamu sendiri mengakui bahwa kamu lemah?”
Relina berjalan memutari makam dan mendekati Junda, menunggikan payungnya agar bisa menaungi mereka.
“Aoa kamu masih ingin berada di sini? Ayo makan siang bersamaku!” kata Relina.
Junda diam tidak menjawab ajakan Relina, tapi tangannya terulur untuk membawa tubuhnya ke dalam pelukannya. Satu tangan Relina terangkat untuk mengusap punggungnya.
“Biarkan aku memlukmu, sebentar saja,” Kata Junda tapi ternyata bukan sebentar, melainkan pelukan yang sangat lama dan dalam.
“Kamu pernah bilang, kalau mau menikah denganku?” tanya Junda lagi masih memeluk Relina bahkan menaruh kepala dipundak dan hidungnya menempel di lekuk lehernya.
Relina mengangguk, “Hmm ...” gumamnya.
“Baiklah, ayo kita menikah ....”
__ADS_1
Bersambung