Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Bagai Kekasih


__ADS_3

"Oh tidak tidak apa-apa Pak," kata Relina sambil membereskan berkas, yang diberikan oleh Fuad, ia masih duduk di sofa belum beranjak dari sejak ia masuk ke ruangan itu.


"Kamu kenal sama Junda? Atau jangan-jangan ...." ucapan Fuad terputus ia menghampiri mejanya, mengambil sebuah dokumen, membacanya sebentar, laku menoleh pada Relina dan berkata lagi. "Kamu pernah punya pengalaman kerja, tapi tidak ada keterangannya di sini. kamu pernah kerja di mana?"


"Ya, saya pernah bekerja sebelumnya di perusahaan Junda, Pak."


Fuad tidak percaya, hingga ia kembali bertanya, "di mana?'


"Di perusahaan Juanda Aswara. Saya sudah bekerja satu tahun di sana."


"Divisi apa?"


"Oh, saya cuma jadi asisten aja pak di bagian arsip."


"Oh, begitu. Ada masalah apa kamu keluar dari sana?"


"Saya, saya dipecat."


"Apa kamu punya masalah atau kesalahan?"


"Saya tidak berbuat kesalahan waktu bekerja, Pak. Pekerjaan saya baik-baik saja, hanya waktu itu Pak Juanda mengatakan kalau perusahaannya sedang mengalami devisit anggaran, atau efisiensi keuangan."


Fuad tertawa kecil, lalu berkata, "masa, sih?" sambil duduk di kursi kebesarannya, lalu melanjutkan bicara, "itu tempat dudukmu, disana, itu mejamu," katanya sambil menunjuk meja sebelahnya dengan dagu.


"Baik, Pak," kata Relina.


Ia mengambil semua berkas yang tadi sedang dibacanya, dia pindah duduk di tempat yang tadi ditunjukkan Fuad padanya. Ternyata benar seperti dugaannya, bila meja itu adalah miliknya. Setelah itu Relina mulai bekerja, diawali dengan membaca semua file dan dan meringkas nya di buku catatan sebagai bahan pengingat.


Mulai saat ini, tugasnya adalah membantu Fuad sebagai manager di perusahaan itu. Asisten pribadi Fuad, meninggal dua hari yang lalu dan dari sekian banyaknya pelamar kerja, hanya CV dari Relina yang dinilai layak, untuk menggantikan staf-nya itu.


Selama bekerja, Relina tidak membuka percakapan tentang apapun, mereka sama sekali tidak mengobrol soal pribadi atau hal lainnya, dengan manajernya karena ia tipe orang yang jarang bicara. Dia tidak akan membicarakan sesuatu sebelum lawan bicaranya memulai lebih dulu. Kecuali orang yang sudah lama ia kenal, seperti Anne, sahabatnya, maka ia akan sangat terbuka.


Relina sibuk bekerja sampai ia tidak menyadari sekarang sudah waktunya makan siang.


Fuad pun menegurnya.


"Sekarang sudah waktunya makan siang. Ayo! istirahat dulu. kamu nggak mau makan siang?"


"Tidak, Pak. Nanti sebentar lagi."


"Ya sudah kalau gitu aku duluan, di bawah ada kantin, di sebelah kanan kantor ada restoran, di sebrang jalan ada warteg. Kamu tinggal pilih saja."


"Oh, iya, terima kasih, Pak"


Fuad keluar dari ruangan meninggalkan Relina yang enggan makan di kantin atau di manapun. Dia sangat canggung, karena belum ada satupun seorang yang bisa ia jadikan teman. Dia malu dan juga tidak lapar, membuatnya malas.


Ia duduk di sofa sambil memanjangkan kakinya, sebab menerima panggilan telepon dari Ane. Ia pun menerima panggilan itu dengan senang hati kemudian memulai obrolan dengan gaya khas obrolan mereka selama ini.


"Ahk, beneran, kamu sudah diterima sekarang di perusahaan yang kamu mau? Kamu beruntung, Rel ...."


"Ya, iyalah, beneran, masa bohongan. Padahal aku sudah belanja buat jualan hari ini."


"Ya, udah kiriman aja ke aku nanti makanannya."


"Nantilah kapan-kapan, belum aku buat makanannya."


"Eh, benar yang mempunyai perusahaan itu Gunara kakak kelas kita?"


"Eh, kalau soal itu aku nggak tahu." Relina mengendikkan bahu.


"Kenapa kamu gak tanya, ngobrol atuh, sama siapa gitu?"


"Sama siapa? Aku belum punya kenalan di sini."


"Ya, kenalan atuh, kalau kamu cuma diam, gimana kamu bisa punya teman, kamu jadi apa di situ Di bagian apa


"Aku? aku jadi asisten manager."


"Wah, yang bener saja, kamu beruntung, Rel! selamat, kamu memang pantas dapet kerjaan itu."

__ADS_1


"Iya, besok aku udah dapat jadwal rapat lho?"


"Sama bos kamu?"


"Iya."


*****


Hari sudah menjelang sore, matahari sepertinya sudah lelah untuk memberikan cahayanya, hingga ia segera pergi ke tempat peraduan dan mebaringkan dirinya dengan selimut cakrawala.


Disaat yang sama, Relina sudah keluar dari kantor, sendirian. Ia belum punya seorang teman, tidak banyak yang ia kenal hari ini, kecuali beberapa orang saja, yang tadi menghadap Fuad.


Gadis itu berdiri di halte bis, menunggu angkutan umum yang akan membawanya pulang. Ia berjalan cukup jauh dari kantor untuk sampai di halte itu.


Tak berapa lama, ada sebuah mobil sedan putih berhenti tepat di depannya, lalu pintu mobil terbuka di hadapan Relina. Keluar dari dalamnya seorang laki-laki bertubuh tinggi dan kurus, kulitnya putih, rambut disisir rapi ke belakang memakai pakaian kemeja biasa dan celana Levi's.


"Hei, kamu Relina, kan?" Sapa laki-laki itu.


Seketika Relina yang semula cuek itu pun menoleh dan begitu terkejutnya ia saat melihat sosok pria berwajah manis di depannya.


'Kak Gun? Benarkah itu Kak Gun?'?


"Kak, Gunara?"


"Iya ini aku ... kamu, Relina, kan?"


"Iya, aku Reli. Kakak, apa kabar?" Relina bertanya dengan antusias, wajahnya bersemu merah dan mata yang bersinar lebih indah. Seolah melihat sebuah harapan besar yang belum pernah ada.


Ia mendekat dan mengulurkan tangan untuk berjabat tangan dengan Gunara, laki-laki itu adalah kakak kelasnya. Mereka sangat akrab dan dekat bahkan banyak orang menyangka mereka adalah sepasang kekasih waktu itu. Mereka berjabat tangan sangat erat, seperti mengalirkan sebuah rasa melalui jabatan tangan mereka, hingga beberapa saat kemudian jabatan tangan itu akhirnya terlepas.


"Sekarang, aku sedang baik-baik saja." Gunara menjawab pertanyaan Relina sambil tersenyum, entah mengapa Relina melihat senyuman itu masam.


'Apa maksudnya sekarang sedang baik-baik saja memangnya kalau tidak sekarang tidak baik, kah Kak?'


"Oh syukurlah. Kok Kakak bisa ada di sini?"


"Oh, aku baru kerja hari ini."


"Kamu, kerja di sini?" Tanya Gunara sambil menunjuk kantor PT, Gunara dengan dagunya.


"Iya, kenapa?"


"Akh, gak apa-apa."


'Kenapa aku nggak tahu kalau ada pegawai baru? Oh iya, apa dia yang jadi pengganti asisten Fuad?'


"Kak, namanya mirip nama Kakak ya? Aku pikir memang ini kantor Kak Gun."


"Oh jadi kau pikir aku pemilik kantor ini, makanannya kamu melamar kerja di sini?"


"Iya." Relina tertawa kecil setelah bicara.


'Hmm ... baiklah kalau begitu'


"Sekarang kamu mau pulang? Ayo! Aku anterin."


"Ah, iya ... aku mau pulang, tapi gak usah repot-repot nganterin saya, Kak!"


"Yah, kalo repot, aku gak akan nawarin buat nganterin kamu."


"Eh, beneran nih, nggak ngerepotin, nanti ganggu, atau kena marah sama pacar Kakak."


"Aku nggak punya pacar."


"Awas ya, kalau bohong. Memang gak punya pacar, tapi istri!"


"Jangankan istri, pacar juga gak punya." Gunara tertawa kecil.


Gunara menggamit tangan Relina mendekati mobil dan membuka pintu lalu memasukkqn Relina ke dalamnya. Setelah itu menutup pintunya kembali, ia kmemutari mobil dan duduk di belakang kemudi kemudian melajukan mobil dengan kecepatan sedang.

__ADS_1


Sementara di seberang jalan ada sepasang mata yang melihat semua kejadian itu, dengan raut wajah yang menyiratkan sesuatu dalam hatinya. Perasaan yang tiba-tiba saja mengganggunya namun entah apa.


Setelah mobil gunara dan Reina menjauh, Junda menjauh pula dari seberang jalan itu, mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, hingga suara mobil sport itu, menderu memekakkan telinga.


"Ayo cerita dong, gimana kamu bisa ada di sini?" Tanya Gunara saat mereka berada di dalam mobil.


"Aku juga mau tahu, kok Kak Gun bisa ada di sini?"


"Aku sudah lulus, terus wisuda, tapi aku di rumah aja, baru tiga tahun ini aku kerja, lanjutin usaha ayahku."


"Oh, memangnya kemana Om sama Tante.?"


"Itu ... ayah ibu meninggal waktu sebelum aku lulus."


"Oh, maafkan aku, Kak. Soalnya aku gak tahu kalau kedua orang tua sudah tidak ada." Relina menatap Gunara penuh rasa bersalah.


"Gak apa." Gunara menjawab tenang, seulas senyum terukir di bibirnya.


Gunara dan Relina, kuliah di UNILA, sebuah universitas swasta tempat belajar yang membuat keduanya sangat akrab, dari sejak awal semester Relina menjadi mahasiswi baru di sana.


Hubungan mereka hanya sebagai sahabat, tidak lebih dari itu, hingga di akhir semester gunara mulai jarang muncul, dan hubungan mereka menjadi tidak jelas. Banyak teman yang menyayangkannya, termasuk Ane. Namun Gunara seperti menghilang bahkan sebelum kuliahnya usai.


Kedua orang tuanya yang meninggal saat kecelakaan, menyebabkan Gunara harus mengurus semuanya seorang diri. Ia terpaksa menunda wisuda karena harus mengurus perusahaannya. Saat itu Gunara sudah mulai jarang datang ke kampusnya, kecuali hanya menyelesaikan ujian, skripsi dan sidang.saja. Setelah itu mereka tidak pernah bertemu lagi.


Mereka seperti sepasang kekasih yang sangat cocok dalam banyak hal, tapi mereka tetap menjaga hubungan baik sebagai seorang teman, bahkan sampai saat ini.


"Kalau kamu giman?" Gunara balik bertanya.


"Aku baru lulus setahun yang lalu diajak sama Ane ke sini, kami berdua kerja di perusahaan Junda, soalnya, ada saudara.Ane yang bekerja di sana juga."


"Oh jadi ane ada disini juga?"


"Iya, kak tapi kita gak tinggal bareng, dia serumah dengan saudaranya."


"Sekarang Ane masih bekerja di sana?"


Relina mengangguk, lalu bercerita bahwa ia merasa aneh atas pemecatan dirinya, ia bekerja dengan baik, bahkan hampir tidak ada masalah, namun ia dipecat hanya karena efisiensi keuangan, hingga akhirnya ia memberanikan diri untuk melamar pekerjaan di perusahaan Gunara.


"Sebenarnya ada bagusnya kamu dipecat," kata Gunara menyahuti cerita Relina.


"Ya bagus apanya, Kak?" Relina heran, alisnya tampak bertaut.


"Jadi, kamu bisa bekerja di tempat yang sesuai keinginan kamu."


"Ah, aku pikir itu perusahaan Kakak soalnya, namanya sama."


'Apa kamu merindukan aku, kamu masih ingat aku ... tapi mungkin kita akan tetap sama seperti dulu, tetap menjadi sahabat, selamanya'


"Oh itu hanya kebetulan."


Mendengar jawaban gunara Relina sempat heran, ia merasa bahwa laki-laki ini menutupi sesuatu, tapi ia tidak berani bertanya karena mereka sekarang, tidak sedekat dulu lagi bahkan mereka baru saja bertemu.


Gunara tersenyum melihat reaksi Relina yang sepertinya tidak percaya pada dirinya. Ia hanya ingin memberi kejutan saja pada gadis itu, lagipula Ia memang tidak perlu mengatakan siapa dirinya yang sebenarnya.


Hubungan pertemanan antar mereka berdua sangat baik, bahkan kedua orang tua Relina pun akrab, dengan teman laki-laki anaknya ini karena dengan ayah dan ibu Relinalah, Gunara mendapatkan sosok orang tua yang lengkap.


Gunara dari kecil hidup bersama neneknya, berpisah jauh dari orangtua karena ingin fokus belajar dan ayah ibunya pun sibuk berbisnis di luar pulau. Ia sekolah dan kuliah di tempat yang sama, di mana Relina tinggal.


Pada satu hari kemudian ia mendapat kabar bahwa kedua orang tuanya meninggal secara tiba-tiba dalam sebuah kecelakaan. Tentu saja ia langsung menerima tanggungjawab yang demikian berat, menjalankan usaha yang telah dirintis kedua orang tuanya.??


Dia tidak sendiri dalam mengurus tanggung jawab itu, ada asisten yang setia kepada ayahnya kini menjadi asisten pribadinya. Gunara belajar segala sesuatunya dari asisitennya ini, hingga selama tiga tahun ini, ia mulai piawai memimpin perusahaannya sendiri. Kemajuannya bahkan lebih pesat dari kemajuan saat orangtuanya memimpinnya.


Saat tiba di depan tempat kosnya, Relina turun dan mengucapkan terima kasih.


"Kakak, mau mampir dulu?"


"Memangnya boleh, ya?"


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2