Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Hampir Terpesona


__ADS_3

Pria itu perlahan bangkit sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Apa Anda baik-baik saja, Pak?" Tanya laki-laki muda di sebelah Relina. Junda menatapnya dengan alis yang berkerut.


"Hmm ...." Junda bergumam sambil mengibaskan tangannya seperti memberi isyarat kepada Relina dan pria muda untuk pergi.


"Anda tadi pingsan di lift, kakak ini yang menolong Anda," kata laki-laki itu lagi. Sementara Junda tidak merespon dan ia hanya memijiti pelipisnya.


"Sudahlah, sepertinya dia gak akan percaya sama kita. Makasih ya sudah bantuin aku tadi." Relina berdiri, sambil merapikan bajunya dan mematikan senter pada ponsel.


Laki-laki itu mengangguk dan berjalan ke kamarnya sendiri, setelah melirik pada Junda yang kini berusaha bangkit berdiri.


Junda masih memegangi kepalanya dan hampir jatuh kembali saat sudah hampir berhasil berdiri. Dengan cepat Relina menahan punggungnya dengan satu tangan karena satu tangan yang lain memegang ponsel. Alrega menepis tangan Relina, membuat gadis itu meringis.


'Ih, sakit tahu'?


"Bapak kuat berdiri?"


"Sana, tidak perlu menolongku. Kamu pikir aku lemah?"


'Bukan seperti itu maksudku, menyebalkan. Aku nyesel nolongin dia'


"Ya sebenarnya sih, saya juga nggak mau nolong. Siapa juga yang takut sama gelap sampai nangis, manggil ibu ... ibu ... Saya nggak nyangka ya, kamu takut sama gelap, phobia apa sih, namanya?" Hilang sudah rasa hormat Relina pada Junda. Dia bukan lagi bos nya, mereka kini benar-benar sederajat.


Mendengar cecaran Relina, Junda menoleh sambil mendengus. Hatinya semakin kesal karena ia terkena sial dua kali hari ini dengan pelaku yang sama.


"Memang aku begitu?" Junda tidak percaya dengan semua yang didengarnya.


'Ini memalukan sekali. Phobia sialan!'


'Iya, makanya jangan sok jagoan, padahal betinaan, apa jadinya kalau aku biarin saja di dalam sendirian?'


"Kalau Kamu mau tahu, seperti apa, waktu lift mati. Tanya saja sama anak tadi, dia saksinya. Tuh, kamarnya!" Kata Relina sambil menunjuk kamar yang dimasuki laki-laki tadi.


Junda melirik ke arah pintu yang di tunjuk Relina, lalu perlahan menegakkan tubuh, ia mengusap wajahnya sendiri sambil menghela napas. Sepertinya dia sudah normal kembali setelah ketakutannya tadi. Sedikit demi sedikit ingatannya pulih dan mulai menyadari bahwa yang dikatakan Relina tentang phobianya yang kambuh, itu benar adanya.


Saat dia masuk bersama Relina yang cuek, dia heran kenapa gadis itu berada di hotel, dimalam hari. Ia pikir mungkin memenuhi panggilan laki-laki hidung belang, hingga ia menatap Relina penuh kebencian dan jijik.


Di dalam lift hanya ada tiga orang, ketika berhenti dan lampu padam ia tidak bisa menahan rasa dingin yang tiba-tiba menjalar dari otak sampai ujung kakinya, gematar akibat perasaan khawatir yang berlebihan memenuhi seluruh indranya seolah-olah seluruh indranya mati. Ia butuh pelampiasan, memeluk atau mencengjram sesuatu sebagai bentuk perlindungan. Tidak ada yang lain, hanya ada tubuh Relina yang memungkinkan untuk dijadikan pelampiasan, menekan perasaan khawatirnya.

__ADS_1


Tanpa sadar ia membenamkan tubuh Relina yang langsing itu dalam pelukannya, dengan sangat kuat. Beberapa waktu berlalu hingga tubuhnya semakin lemas dan persendiannya kaku seakan tak berfungsi.


Junda menahan tangan Relina ketika Relina hendak melangkah pergi. Lalu berkata dengan menatap wajah Relina nanar.


"Kau ... entah berapa kali aku harus selalu sial setiap kali bertemu denganmu? Akan kubayar kau berapapun yang kamu mau asal kau pergi dari kota ini."


"Siapa kamu berhak mengatur hidup saya." Relina menarik tangannya lalu kembali melangkah, namun Junda berjalan lebih cepat dan menghadangnya.


Mereka berada di lorong hotel yang cukup luas di penuhi ornamen elegan klasik di sepanjang dinding koridor yang memisahkan antara kamar yang satu dengan yang lain.


"Tunggu, aku memberimu penawaran yang bagus dan tidak akan merugikan, jangan sombong."


"Siapa yang kamu bilang sombong, aku menolak bukan karena sombong tapi karena tawaran itu gak masuk akal."


"Kau bisa meminta berapa pun bahkan lebih banyak dari tarifmu semalam!"


Kini mereka berdiri saling berhadapan, saling menatap dengan melemparkan semua pikiran dan perasaan mereka ke udara.


'Apa maksudnya tarif semalam, apa dia kira aku wanita panggilan? Ahk. yang benar saja'


"Jaga bicaramu! Aku tidak pernah membuat tarif permalam dengan siapapun dan kapanpun!"


'Saya memang ingin pergi'


"Iya. Saya mau pergi atau tidak bukan karena kamu. Coba kamu berpikir sebaliknya tentang semua yang sudah kamu anggap sisi."


"Apa yang harus aku pikir, kau kira aku bodoh? Aku tidak akan ada di posisi yang sekarang kalau aku bodoh."


"Bukan Soal itu, mari mencoba berpikir positif, seperti caraIbrahim Elfiqy" Relina melipat kedua tangannya di depan dada.


"Siapa itu, aku tidak tahu."


"Kamu bilang selalu sial setiap kali kita bertemu, kan?" Relina menarik napas dalam, sakit rasanya dicap sebagai pembawa sial oleh orang yang tidak ada hubungan apa pun dengan dirinya. Setelah ia diam beberapa detik, ia pun kembali berkata dengan tenang.


"Waktu saya di taman, sebenarnya ada ular di atas kepala Anda ..."


Kewarasan Relina kembali normal, hingga ia kembali bicara sopan pada Junda. "Jadi saya minta untuk diam, tapi justru Anda bergerak, mana saya tahu ada lebah juga di dekat pohon. Menurut saya, lebih baik disengat lebah dari pada di gigit ular."


Mendengar perkataan Relina yang mengalir seperti suara desiran angin di pagi hari, tapi tetap saja terasa dingin di telinga Junda.

__ADS_1


"Waktu di jalan dan Anda bilang saya sembarangan, sebenarnya saya hanya menolong seorang anak. Bayangkan kalau Anda yang menabrak anak itu, justru rugindua kali."


Junda tetap diam, dia memutar slide demi slide kejadian di jalanan waktu itu, dia memang gagal mendapatkan kontrak dan membuatnya kecewa, mengingat tender itu sangat menguntungkan. Akan tapi siapa yang tahu beberapa pekan kemudian dia mendengar kabar, bila proyek itu batal karena kepala pelaksana proyek ternyata terlibat korupsi dan terpaksa mendekam di penjara. Seandainya perusahaan Junda yang mendapat kontak, maka ia justru akan rugi puluhan milyar.


Tanpa sadar Junda menarik sudut bibirnya dan hatinya mengucap syukur, kalau bukan karena gadis ini, ia akan jauh lebih rugi.


"Anda juga masih ingat, kejadian di pasar? Pak, saya hanya menolong orang tua, saya tidak berniat membuat Anda sial. Atau mungkin anda bisa jadi pembunuh karena menabrak orang?"


"Aku juga lihat itu, tapi kamu bodoh sudah berdiri di tengah jalan seperti itu."


"Iya, oke kalau itu saya ngaku salah. Tapi kalau soal saya yang menimpa Anda tidak sengaja, di bawah tangga, kenapa saya di pecat? Kalau saya tidak jatuh waktu itu maka kepala Anda yang benjol!"


Junda seketika melebarkan matanya, ia seperti tersengat listrik. Mendadak hangat hati dan tubuhnya.


"Yang terakhir, saat tadi di lift, bukan saya yang membuat listrik padam dan lift macet? Bukan!.Anda punya phobia? Saya justru rugi sudah Anda peluk tanpa permisi!"


Setelah berkata demikian, gadis itu pergi dengan mengitari tubuh Junda begitu saja.


Sampai di pintu kamarnya, Relina hampir mengulurkan tangannya untuk membuka pintu ketika pintu terbuka dari dalam dan Icha pun keluar. Ia memakai pakaian piyama warna hitam, di tambah potongan rambut dan tubuhnya yang tinggi, lengkap sudah kemiripannya dengan laki-laki.


"Kemana saja kau? Aku sudah mau mencarimu, aku khawatir kamu tersesat." Tanyanya masih berdiri di pintu.


'Hais, dia kira aku anak kecil, apa?'


Icha memegang tangan Relina, lalu menariknya masuk, di saat yang sama Junda menoleh ke arahnya membuat pria itu terkekeh kecil. Ia menertawakan dirinya sendiri, hampir saja ia terpesona dengan cara Relina menyampaikan argumen dan menyadarkan kesalahan atas penilaiannya selama ini.


Saat gadis itu bicara, Junda tak lepas mengamati gerak bibir Relina, yang pernah diciumnya selama dua detik.


'Iya, aku sudah pernah menciumnya'


Setelah melihat pemandangan yang tertangkap oleh matanya, ia semakin kesal saja. Kesal pada dirinya sendiri, hampir berharap pada orang yang salah.


'Memangnya apa yang aku harapkan dari wanita murahan seperti dia? Aku akan menyewanya suatu saat nanti, aku tidak akan perduli kalau dia mati. Ahk, iya ... kenapa tidak aku buktikan saja kebenaran mitos ini padanya?"


Junda melangkahkan kaki menuju kamarnya sendiri, yang tidak jauh dari kamar Relina. Lalu terlelap dengan segudang rencana di benaknya.


Bersambung ....


*Kenapa ya, soal mitos ini, haruskah dijelaskan secara detil?*

__ADS_1


__ADS_2