
*Selamat membaca, jangan lupa tinggalkan jejak. Terima kasih*
“Fuad!” Tiba-tiba Junda menyela. “Asal kamu tahu, ya. Aku sudah lebih dulu bilang pada Relina, untuk bekerja sama denganku. Jadi kalau kamu mau minta dia kerja sama di perusahaan Gunara, itu namanya kamu nyerobot hakku!”
Danu dan Fuad menoleh pada Junda secara bersamaan.
“Nak Junda, lebih baik biarkan Nak Fuad bicara. Nanti kalian akan mendapatkan kesempatan yang sama dari Relina. Semua keputusan ada di tangan anak itu. Saya nanti hanya menyampaikan saja,” kata Danu tenang. Dia mengerutkan alis menatap Junda yang tampak berbeda dengan beberapa hari sebelumnya, saat dia meminta izin padanya untuk membawa Relina pergi malam itu.
Mendengar Danu bicara, kedua pria yang masih sama-sama menyimpan emosi, terdiam. Lalu Fuad kembali menatap Danu dan mengatakan semuanya dengan jujur. Dia harus menjelaskannya pada Danu, sebab tidak bisa bicara langsung dengan Relina.
Ketika di rumah sakit, sebelum Gunara pergi untuk selamanya, sebenarnya dia sempat siuman dan terlihat seperti orang yang memberikan banyak harapan bahwa dia akan sembuh serta baik-baik saja.
Akan tetapi, tumor di kepalanya dan benturan yang sangat keras itu membuatnya tidak bisa bertahan lebih lama.
Gunara adalah pewaris tunggal dari perusahaan yang di rintis oleh ayahnya, dia tidak mempunyai saudara begitu pula ibu dan ayahnya, sehingga secara tidak langsung perusahaan itu menjadi miliknya seutuhnya. Masalah saat ini muncul sekarang, Gunara tidak memiliki keluarga yang bisa mewarisi kekayaannya.
Saat dia sudah sadarkan diri, laki-laki sempat menanyakan keberadaan Relina, kepada Fuad. Saudara sepupunya itu pun menceritakan semuanya dari awal, semua cerita tentang kecelakaannya, yang dia dengar langsung dari Relina. Akan tetapi, gadis itu tidak muncul lagi sampai hari ini, di mana Gunara siuman dan bisa berkomunikasi dengan baik.
Menurut Fuad, Gunara hanya tersenyum manis dan kemudian dia mengatakan bahwa sebenarnya Relina peduli padanya, dia sempat mengingat sebelum dia benar-benar pingsan saat kecelakaan itu terjadi ia mendengar Relina berteriak dan menangis.
“Aku ingin menyerahkan kekayaankj padanya,” kata Gunara waktu itu kepada Fuad yang membuatnya terheran-heran. Fuad sedikit tidak setuju dengan keputusan Gunara.
“Lalu? Kau akan menikahinya?”
“Tidak, aku hanya ingin dia memimpin perusahaanku. Bekerjasama lah denganya.”
“Aku bukannya tidak menghargai keputusanmu, hanya saja kenapa harus dia?” Fuad diam sejenak. “Dia tidak memiliki hubungan apapun dengan kita dan dia juga belum tentu mau mempunyai kapasitas untuk memimpin perusahaan itu.”
“Kalau begitu, berikan padanya lima persen dari ssahamku, sisanya urus semua perusahaan itu sesuai dengan keinginan kalian, aku serahkan semua perusahaan dan kekayaan itu kepadamu juga keluargamu nanti, kalau kamu menikah.”
“Jangan pikrkan aku. Pikirkan kesehatanmu. Kau harus sembuh demi Relina!”
__ADS_1
Sebagai laki-laki Fuad merasa terharu dia tidak bisa menahan air matanya saat bicara. “Apa kau benar-benar akan menikahi Relina dan mewariskan semua kekayaanmu padanya?”
“Benar,” Gunara berkata sambil tersenyum. “Aku ingin dan sangat ingin tapi percuma, kalau aku mengatakan keinginanku untuk menikahinya, aku tidak akan hidup lama, aku tidak ingin meninggalkannya kesepian dan menyesali cintanya.”
“Kenapa kau putus asa? tidak katakan saja sekarang siapa tahu kamu masih punya kesempatan untuk membahagiakannya, dan dia resmi menjadi pewaris perupewarimu secara sah!”
“Kau pikir aku bisa bertahan sampai kapan? lebih baik dia tidak mengetahuinya sama sekali!”
“Apa kau yakin, percayalah, Tuhan masih memberimu kesempatan, Gun!”
“Aku ... aku yakin ... tidak punya kesempatan lagi.”
Tidak lama setelah itu Gunara pun kembali tidak sadarkan diri. Dia sudah menyimpan penyakit ini sejak lama dan sudah pernah melakukan operasi, tapi tumornya kembali berkembang setelah setahun kemudian.
Setelah kepergian Gunara, Fuad tidak bisa duduk terlalu lama dalam suasana duka dan berkabung untuk saudaranya. Dia segera mengurus semua keperluan peralihan saham dan juga semua surat pemindahtanganan perusahaan secara resmi kepada Relina.
Bahkan dia sudah membuat kelengkapan perubahan struktural, di mana Relina sebagai pimpinan di sana. Ketika nanti gadis itu setuju dan menyanggupinya, maka mereka hanya perlu membicarakannya pada dewan direksi saja.
Memang terdengar kecil, hanya lima persen ... tapi jumlah itu bila dilihat dari keuntungan perusahaan, akan sangat besar, apalagi untuk anak seusia Relina yang sama sekali tidak memiliki hubungan kekeluargaan juga tidak berjasa pada perusahaan. Dia hanyalah seorang wanita yang dicintai oleh Gunara.
Setelah semua urusan selesai, Fuad berinisiatif untuk segera menemui Relina, saat itu juga, sehingga dia bisa memikirkan urusan pribadinya yang lain.
Dia tidak menyangka bila Relina tidak ada, bahkan Danu tidak mengetahui di mana keberadaannya sekarang, walaupun dia tahu pria tambun itu menyembunyikan sesuatu, tapi sepertinya Danu tidak akan mengatakan yang sebenarnya, pada Junda juga dirinya.
Fuad sempat menghubungi Icha, sebelum menemui Relina. Dia sudah mengatakan semuanya pada perempuan itu dan akan segera mengurus hubungannya setelah urusan dengan Relina selesai.
Icha sangat senang mendengar kabar yang menurutnya bagus untuk Relina. Akan tetapi, soal hubungan mereka, baik Fuad maupun Icha, belum menemukan titik terang yang bagus. Icha tidak bisa meninggalkan toko elektronik ayahnya dan Fuad tidak bisa meninggalkan perusahaan yang sekarang menjadi tanggung jawab Fuad sepenuhnya.
“Oh, jadi begitu ... tapi saya hanya bisa mendengarkan saja,” kata Danu.
Danu mengangguk berulang kali mendengar penjelasan Fuad, menurutnya, Relina sangat beruntung mendapatkan rezeki sebesar itu hanya karena perasaan cinta yang dimilikinya. Walaupun sebenarnya dia juga mengorbankan sesuatu yang sangat besar pula, yaitu perasaannya.
__ADS_1
Bukankah mengorbankan perasaan juga bisa disebut pengorbanan? Dia harus rela ditinggalkan pria yang dicintainya, sebelum sempat melakukan apa pun bersama, bahkan itu lebih menyakitkan dari pada memiliki hubungan kemudian putus!
Junda yang turut mendengar penuturan Fuad pun ikut tercengang, bahkan penawaran yang dibawa oleh Fuad lebih menggiurkan. Lima persen saham? Ahk ... dia sendiri belum bisa memberikannya. Dia hanya menawarkan untuk menjadi asisten dengan gaji dua kali lipat dari gaji Syalu sebelumnya.
‘Apakah aku egois? Aku ingin dia tetap di sisiku tapi masih pelit soal pemberian? Tapi, apa itu sepadan dengan apa yang akan aku dapatkan?’ Junda bermonolog dengan dirinya sendiri.
“Pak, Danu. Kalau memang Anda tidak tahu, di mana Relina sekarang, tolong sampaikan apa yang saya katakan tadi ... kami hanya membutuhkan persetujuannya untuk menjadi pemimpin perusahaan. Seandainya tidak mau, Relina akan tetap mendapatkan lima persen, dari saham yang sudah kami alokasikan, sesuai dengan wasiat mendiang Gunar, saudara saya.”
“Baik, akan saya sampaikan. Maaf, Relina memang tidak ingin keberadaannya diketahui oleh siapa pun,” kata Danu, perlahan dan terdengar hati-hati.
“Siapa pun? Ahk ... yang benar saja!” Junda menyela ucapan Danu. Dia terlihat kesal dan kecewa dengan keadaan yang harus dia hadapi sekarang.
Sejak Junda menghabiskan waktu bersama Relina dimalam perhelatan itu, dia tidak bisa melupakan gadis itu walaupun sekejap. Perasaan aneh yang menarik keinginannya untuk terus bersama seperti menguasainya. Dia tidak perduli bila salah satu di antara mereka akan meninggal. Bahkan sepertinya dia tidak mempercayai mitos neneknya lagi. Tidak! Semua karena Relina.
‘Tidakkah kamu tahu, aku sangat merindukanmu? Sialan ...! aku benar-benar sial!’
Junda mulai memikirkan Relina sejak mereka berbicara cukup banyak di lift hotel dan fobianya kambuh. Dia menyesal mengapa dia mengatakan hal buruk padanya. Dia tidak menyangka akan memiliki perasaan seperti ini pada Relina. Gadis yang semula dianggap membawa sial baginya.
Dua pria yang mencari Relina itu akhirnya pergi, setelah menghabiskan kopi yang disuguhkan Danu, secara gratis. Bukannya putus asa, tapi mereka merasa percuma bila memaksakan kehendaknya saat ini.
Junda memilih untuk mencari Ane dan mengorek keterangan dari sahabat Relina. Ponsel gadis itu juga tidak bisa dihubungi, memaksanya untuk menemuinya di kantor atau di tempat kosnya.
Sementara Fuad menunggu waktu yang tepat untuk kembali menemui Danu dan memintanya untuk jujur tentang keberadaan Relina. Dia akan melibatkan Icha.
Bersambung
__ADS_1