
Junda berdiri di samping mobil BMW seri X5 warna hitam miliknya, dengan berkacak pinggang. Ia memakai kemeja biru muda polos dan celana hitam, rambutnya baru saja di pangkas membuat Junda terlihat lebih muda dan memancarkan ketampanannya.
Ia memalingkan muka, tersenyum kecut demi mencoba menutupi rasa kesal dalam dirinya. Rasa kesal itu seperti asap hitam dan udara lembab yang memenuhi dadanya, lalu naik ke tenggorokan dan memenuhi isi kepala.
Bagaimana ia tidak kesal bila ia harus menghadapi kesialan dengan gadis yang sama berulang kali? Gadis itu memakai topi hitam, rambut sebahunya di biarkan terurai. Ia memakai kaos polos warna hitam dan celana jeans belel warna biru. Berdiri di tengah jalan sambil merentangkan kedua tangannya dengan mata tertutup, seolah-olah ia siap menerima kematian.
"Hei!" teriak Junda ke arah Relina yang kini mulai membuka mata secara perlahan.
Ia melihat mobil yang berhenti di depannya hanya dengan jarak beberapa senti saja dari badannya. Lalu melihat Junda sekilas, heran, tapi cuek saja.
"Hei! Apa kamu cari mati, hah?!" Bentak Junda tapi Relina seolah tak mendengarnya.
Ia menoleh ke kanan dan ke kiri lalu mengusap dada, bernapas lega menggumamkan rasa syukur. Setelah itu ia kembali berjongkok untuk membantu ibu tua itu memunguti tomat-tomat yang berceceran. Ia mengabaikan Junda di sana. Baginya yang penting ibu itu selamat dan barang dagangannya bisa di jual kembali.
Tidak banyak kendaraan di tempat itu karena saat ini Junda tengah berada di jalan khusus pejalan kaki yang hendak ke pasar. Tentu saja banyak orang yang melihat, kejadiannya, namanya saja pasar, sudah pasti sangat ramai.
Beberapa orang mulai membantu kesibukan Relina memunguti buah tomat yang berceceran. Mereka mengomeli sikap kasar Junda yang salah tapi masih marah.
"Terima kasih ya anak manis," kata ibu tua itu dalam bahasa daerah yang kental. Relina hanya mengangguk sambil membantu memasukkan buah+buah yang sudah terkumpul ke dalam kantung plastik yang lain.
"Sama-sama, Bu. Ibu gak apa-apa, kan?"
"Gak apa, Neng, untung ada Neng, kalau tidak pasti Enak sudah ketabrak tadi."
Beberapa orang juga membenarkan dan mengomentari semua yang mereka lihat.
Sementara Junda masih berdiri di samping mobilnya, rasa kesalnya bertambah berkali-kali lipat karena sekarang diabaikan. Ia bersiap menumpahkan amarah. Ia masih menunggu waktu yang tepat,
'Bagaiman kalau dia kutabrak, bagaimana kalau ia mati, bagaimana kalau ... ahk! Sial!'
Segala macam rasa berkecamuk di benaknya. Ia melihat punggung Relina yang tengah membungkuk, ada tulisan di kaos belakang yang dikenakannya, membuat Junda hampir saja tersenyum, 'Aku bukan apa-apa, tapi aku adalah harapan' demikian tulisan itu.
Junda melihat sekitar, suasana ramai hilir mudik orang yang keluar masuk area pasar, ia menyadari satu kesalahan, sudah masuk di jalan khusus pejalan kaki. Wajar saja semua itu terjadi, apalagi ia mengendarai mobil itu dengan kecepatan tinggi.
__ADS_1
Ia masih berada di barbershop saat mendapat telepon dari Sashi, neneknya ingin di antar ke mall hari itu. Setelah menyelesaikan keperluan merapikan rambut, ia segera bergegas menuju tempat di mana Shasi ingin dijemput.
Di saat yang bersamaan ia mendapat telepon yang lain dari ibu tirinya yang mengabarkan bahwa ayahnya sakit dan ingin Junda datang menjenguknya sekarang juga.
Junda pun tidak berpikir panjang, ia nekat melewati jalan yang memang sepi kendaraan, ketika ia ingat beberapa ruas jalan mengalami penutupan. Itu adalah jalan pintas yang paling dekat menuju restoran tempat Sashi menunggunya.
Semua orang melihat ke arah Junda yang diam saja tanpa punya rasa kasihan melihat orang tua yang kesusahan. Ia tidak perduli. Ia hanya ingin menumpahkan amarah yang tertunda.
Setelah selesai membantu dan ibu tua sudah pergi, Relina menepuk-nepuk pelan telapak tangannya sendiri secara bersilang, guna membersihkan kotoran yang menempel. Ia menoleh pada Junda sekilas, lalu beranjak pergi meninggalkannya begitu saja.
Secepat angin, Junda meraih tangan Relina agar gadis itu tidak mengabaikannya.
"Tunggu!" Pekik Junda. Kalau saja tidak ramai orang ia pasti sudah marah pada gadis ini. Ia tidak ingin kejadian sepekan yang lalu, saat ia dihujat oleh beberapa orang ibu, terjadi lagi. Apalagi sekarang, ia memang salah sudah melewati jalan yang hanya bisa di lalui oleh pejalan kaki.
"Lepas!" Ujar Relina sambil menepis kasar tangan Junda, dari pergelangan tangannya.
"Apa kamu bodoh, hah?" kata Junda sambil menekan kening Relina dengan jari telunjuknya. Pria itu tidak sadar melakukan hal itu karena otaknya masih terbungkus kemarahan.
Relina mendesah keras sambil menepis tangan Junda dari kening dan ia melakukan hal yang sama pada Junda, mengacungkan jari telunjuknya ke depan hidung mantan bosnya.
"Apa maksud bapak, hah?!" Katanya dengan suara yang keras tak kalah kerasnya dengan suara Junda. "Bapak gka perlu marah sama saya, jelas-jelas Bapak yang salah di sini!"
"Kamu?!"
"Apa, saya apa?!"
Benar saja, beberapa orang mendekat dan seorang lelaki tua yang sejak tadi duduk di depan toko manisan khas daerah Cianjur itu, berdiri dan berkata dengan suara keras juga.
"Yang salah itu, kamu. Jadi gak usah marah begitu, sama perempuan kok kasar."
Mendengar ucapan orang tua itu, seketika wajah Junda yang bersih itu terlihat pias, lalu berubah menjadi merah padam, gelap seperti kabut saat hujan hendak turun. Ia ingin memarahinya habis-habisan di sini tapi tidak bisa, ia harus menjemput Shasi dan pergi ke Jakarta menengok ayahnya.
Junda menatap wajah Relina dengan nanar, seperti melempar nyala api tepat di bola mata Relina. Gadis itu membalas dengan tatapan yang tak kalah tajamnya. Pandangan mereka bertemu, seperti memiliki kekuatan magis yang menyedot segala sumber nurani dan menautkan tali pada ranting pohon yang paling tinggi, sehingga susah dilepaskan.
__ADS_1
Pria itu diam begitu juga Relina, hanya tatapan mata mereka yang saling bicara.
'Hei, hei, kenapa aku tidak bisa berhenti menatapnya?'
Tanpa sadar, tangan Junda terulur, ingin menyentuhnya, tapi saat itu juga Relina refleks menepisnya, membuat Junda tersadar dan mengerjabkan matanya beberapa kali.
"Apa yang mau Anda lakukan?"
Junda mengernyit mendengar pertanyaan itu sebab ia sendiri tidak tahu kenapa ia melakukan itu. Akhirnya ia hanya menggeleng dan menjawab dengan kaku.
"Aku hanya ingin bersalaman."
"Untuk apa?"
"Minta maaf," kata Junda sambil mengulurkan tangannya kembali.
"Maaf?" Relina berkata sambil tersenyum miring, memalingkan pandangan. Ia kesal pada pria ini, entah kenapa sejak dirinya dipecat waktu itu, rasa kesal dan heran dengan alasan pemecatan masih bersarang di benaknya.
"Iya, maaf. Memangnya salah?"
"Anda tidak perlu minta maaf pada saya, tapi pada hukum, peraturan yang sudah Anda langgar, Pak, pada ibu tua yang dagangannya tumpah, bukan pada saya!"
Sejenak pembicaraan mereka berdua menjadi perhatian orang-orang.
Junda tersenyum miring mendengar sanggahan Relina yang terasa sedikit berlebihan dengan kata-kata minta maaf pada hukum.
'Hukum yang mana yang dia maksud? Tidak ada hubungannya dengan permintaan maaf ku!'
"Ya sudah kalau tidak mau."
Setelah berkata demikian, Junda pun berbalik memasuki mobilnya dan pergi melanjutkan perjalanannya kembali.
Saat di perjalanan, Junda terus memikirkan Relina di kepalanya, wajah yang terkesan biasa, tapi membekas di hatinya. Ia menggeleng dan berusaha menepis bayang-bayang gadis itu dari otaknya namun gagal, bahkan seperti mengikutinya kemampuan dia pergi.
__ADS_1
Bersambung