
Relina membeku dan punggungnya terasa kaku serta sulit digerakkan, entah apa yang membuatnya pasrah dalam pelukan hangat Junda. Hidungnya yang menempel di pundak pria yang memeluknya, secara langsung menghirup aroma dari tubuh yang membuatnya ingin terus bernapas di sana.
Perlahan-lahan Junda melepaskan pelukannya walaupun terasa enggan. Kedua tangannya berada di pundak Relina, ketika dia menatap gadis itu lekat.
“Kamu mau ke mana malam-malam begini?” Junda bertanya setelah itu dan mengeratkan pegangannya.
Mendengar pertanyaan itu, Relina mengalihkan pandangannya. “Bukan urusanmu!” katanya kemudian dan berusaha menepis tangan Junda dari pangkal lengannya.
“Untuk apa kamu kemari? Nggak pantas menemui perempuan malam-malam begini. Pulang sana!” Kata Relina sambil menelisik penampilan Junda yang terkesan formal dan itu terlihat aneh baginya.
Junda sempat melakukan rapat secara online, dengan beberapa staf yang dia percaya, untuk mengelola perusahaan. Sementara dirinya pergi mencari Relina, hingga dia memakai pakaian formal bentuk konsekuensinya sebagai pimpinan. Dia memimpin rapat terbatas melalui laptopnya di sebuah restoran yang cukup mewah di kota Palembang, ibu kota Sumatera Selatan.
Rencana Junda untuk mengganti pakaiannya, setelah tiba di hotel yang berada di sekitar kedai kopi. Akan tetapi, belum sempat dia menemukan hotel di daerah itu, dia justru menemukan gadis yang dicarinya. Dia berniat melakukan pencarian pada keesokan harinya setelah dia beristirahat.
Melakukan perjalanan secara maraton, ternyata membuatnya sangat lelah. Bagaimana tidak, dia memulai perjalanan di pagi hari, dari Bogor ke Lampung dan dilanjutkan ke Palembang dan malam saat ini dia sudah berada di Martapura, kota kecil yang menjadi tujuan akhirnya.
Junda memang menggunakan pesawat udara yang bisa mempersingkat perjalanannya. Apalagi jarak antara kota-kota itu tidak terlalu jauh, yang bisa ditempuh hanya kurang dari satu jam, sudah bisa menyeberangi kawasan dari bandara ke bandara. Akan tetapi tubuhnya tetap saja lelah, ditambah dengan rapat mendadak dan juga kesibukannya menerima panggilan telepon dari Shasi. Wanita tua itu terlalu mengkhawatirkan cucunya!
Junda sudah mencoba jujur pada neneknya kali ini tentang perasaannya pada Relina. Dia mengatakan bila dia tiba-tiba saja memiliki rasa sayang pada karyawan yang sudah di pecatnya.
Dia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Tekadnya yang bersikeras untuk mendekati Relina, jelas ditentang oleh Shasi karena tidak ingin cucunya mengambil risiko tinggi.
Dalam hatinya, wanita itu mengharapkan agar Relina menolak dan tidak mencintai Junda. Dia tidak setuju. Di lain sisi dia juga tidak tega untuk menghancurkan keinginan Junda. Sayangnya, Junda tidak menceritakan bagaimana pertemuan awalnya dengan Relina. Kalau saja Shasi tahu bahwa Relina adalah gadis yang sesuai dikatakan dalam ramalan, dia akan mendukung Junda sepenuhnya.
Saat memeluk Relina tadi, ada perasaan kuat ingin memiliki, rindu, bahagia bertemu dengannya, juga perasaan takut. Jikalau dia tidak bisa mengendalikan diri, melakukan sesuatu di luar kesopanan, hingga bisa menghilangkan nyawa Relina.
Sekuat hatinya dia mencoba tidak memikirkan mitos. Sebaliknya, dalam hati dia terus berkata selama memeluk Relina, “itu hanya mito, itu hanya mitos, itu hanya mitos”
Mitos adalah Maite, sebuah kepercayaan segala sesuatu yang berkaitan dengan kejadian alam ataupun riwayat tertentu pada sebuah komunitas atau kelompok, di mana tidak pernah sama antar komunitas yang satu dengan yang lain pada hal-hal yang dipercayai.
Sekarang dia hanya ingin membahagiakan Relina, saat ditelepon bersama Royan kemarin, dia melihat Relina sibuk dengan penggilingan kopi bersama seorang pria, hatinya miris. Antara tidak tega atau tidak rela bila gadis itu terus bekerja keras selamanya. Itu pekerjaan yang hanya pantas di lakukan seorang pria.
‘Dia akan lebih baik seratus kali lipat bila bersamaku, di sisiku, menjadi sekretarisku. Aku akan menjaganya senantiasa agar dia baik-baik saja!’
Melihat Junda tidak merespon pertanyaan Relina, gadis itu berniat melangkah walaupun Junda masih memegangi bahunya. Dia harus segera ke swalayan membeli keperluannya.
__ADS_1
“Tunggu, kau mau kemana?” Junda masih berusaha menahannya.
“Bukan urusanmu!” Relina berkata sambil menepis genggaman tangan Junda dan terus berjalan.
“Aku bisa mengurus urusanmu, apapun itu!”
“Benarkah?”
‘termasuk membeli pembalut? Akh yang benar saja!’
“Ini urusan wanita. Pergilah. Aku bisa membelinya sendiri!” Relina berkata sambil melangkah, hingga mendekati swalayan. Tapi Junda menahan dan memintanya untuk duduk di kursi melingkar di depan swalayan. Kursi itu biasa disediakan untuk orang yang akan beristirahat sambil menikmati makanan yang dijual.
“Katakan, kamu mau beli apa, biar aku yang membelikannya untukmu.”
Relina mengernyitkan keningnya mendengar penuturan Junda, ada senyum licik di sudut bibirnya. Dahulu saat remaja, Relina pernah berpikir alangkah senangnya bila ada seorang kekasih yang tidak malu membelikan pasangan wanitanya pembalut. Itu hal paling romantis yang pernah dia lihat di film-film di mana seorang lelaki membelikan pasangannya sesuatu yang tidak akan pernah dipakai oleh seorang pria!
“Pembalut!”
Mendengar ucapan Relina, pria itu sedikit tidak menyangka bila keperluan seperti itu yang akan dibeli oleh Relina. Akan tetapi dia sudah berkata sesuatu yang berlebihan tadi, hingga dia tersenyum mengejek dirinya sendiri. Kenapa harus menyesal?
“Baiklah. Merk apa yang biasa kau pakai?”
“Tunggu di sini?” Junda berkata sambil melangkah masuk. Sementara Relina tercengang. Bagaimana mungkin Junda tanpa ragu sedikit pun pergi membelikannya pembalut. Hei, antara dirinya tidak sedekat itu, kenapa Junda mau? Ini mengherankan sekali bagi Relina.
Junda memakai stelan jas coklat gelap yang rapi, sangat pas, hingga menampakkan bentuk tubuhnya yang menampilkan kharisma sempurna dan terkesan tangguh, Rambutnya di sisir rapi ke belakang menampakkan keningnya yang halus dan padat, alis dan tonjolan wajah yang menawan, wajah yang mudah membuat perempuan jatuh cinta. Lalu pria seperti itu masuk ke dalam swalayan hanya untuk membeli pembalut!
Tidak ada seorang pun karyawan yang tahu apa yang dilakukan pimpinan perusahaan mereka, untuk mantan pegawai yang pernah dipecat.
Sementara di dalam, Junda tampak bingung memilih merek yang ternyata cukup banyak jenisnya. Dia memilih salah satu yang dia pikir sesuai dengan keinginan Relina, yang bersayap. Padahal sayap itu sama sekali tidak bisa membuat wanita itu terbang, pikirnya, lalu mengambil dua bungkus ukuran besar.
“Apa dua box ini cukup?” gumamnya lirih. Hingga sampai di tempat kasir, ada dua orang lelaki dan wanita yang tengah berdiri memperhatikan apa yang Junda beli, lalu mereka saling melempar pandangan setelah melihat penampilan Junda dengan takjub.
“Kenapa? Apa ada yang salah kalau membelikan istriku pembalut?” tanya Junda membuat dua orang di kasir itu menggeleng dan memberikan bukti, setelah Junda melakukan pembayaran.
Setelah keluar, dia membawa satu kantung plastik yang cukup besar membuat Relina melotot melihat apa yang ada di tangan Junda.
“Apa ini, apa yang kamu beli?” katanya, sambil menerima kantung plastik yang diulurkan Junda.
__ADS_1
“Pembalut.”
Relina melihat isinya dan hampir tertawa dibuatnya. Namun dengan sekuat tenaga dia menahannya, hanya saja wajahnya menjadi merah. Rasa hangat mengalir dari wajah ke dalam hatinya.
“Kenapa? Apa itu salah? Aku Cuma membeli dua bungkus, apa itu cukup?”
“Ini lebih dari cukup! Terima kasih.”
‘Mungkin dia kira darah yang mengalir saat haid itu akan sebanyak air yang keluar dari shower kamar mandi, hingga dia beli sebanyak ini. Ini cukup untuk beberapa bulan!’
“Berapa kamu membayarnya aku akan menggantinya.” Relina berkata sambil mengeluarkan dompet dari dalam tasnya.
“Tidak perlu. Pakai saja! Aku senang bisa membelikan sesuatu yang kamu butuhkan!”
“Oh iya, bagaimana kamu bisa ke sini, apa ada urusan perusahaan di sekitar sini?” tanya Relina.
Mereka kini duduk saling berhadapan di meja kecil di depan swalayan. Junda tidak melepaskan tatapan matanya dari wajah Relina.
“Ngomong-ngomong kamu mau terus duduk dan ngobrol di sini. Kamu tidak mau membawaku ke rumahmu, atau menawari aku kopi?”
“Oh, maaf. Seharusnya aku tidak bertanya. Aku mau pulang saja.” Relina berkata sambil berdiri dan sikapnya kembali seperti semula, mengabaikan Junda.
“Apa kamu tinggal sendiri?” Junda berkata sambil mengikuti langkah kaki Relina.
“Iya,” kata Relina sambil menoleh pada Junda yang berjalan di sampingnya.
“Apa aku bisa menginap di tempatmu?”
“Ah, tidak. Apa kata orang nanti kalau kita bermalam di kedai kopi. Tidak ada tempat buat orang lain di sana.” Relina mengatakan yang sejujurnya. Tempat yang bisa dipakai untuk tidur sangat sempit dan tidak akan cocok bagi Junda.
Mereka sudah tiba di depan kedai, dan Relina pun berhenti.
“Kamu bisa menginap di tempat lain. Ada penginapan nggak jauh dari sini.”
“Kamu tadi tanya apa, ayo kita ngobrol di dalam. Aku akan menjelaskannya!”
‘Dasar, modus!’
__ADS_1
“Oh, nggak jadi tanya. Anggap aja aku nggak pernah tanya apa-apa!” Relina berkata sambil membuka pintu kedai dan langsung menutupnya, tepat di saat Junda hendak mengikutinya.
Bersambung