
Junda terbangun dengan malas, dia membuka matanya secara perlahan dan ingatannya mengulang kembali kejadian yang dia lewati semalam. Antara sadar dan tidak dia mengingat juga mimpi yang baru saja dialami, terasa seperti nyata.
Dalam mimpi itu Junda melihat Relina berlari menjauh dengan membawa semua pakaiannya, sedangkan dirinya terluka parah hingga tidak mampu mengejar. Dia hanya bisa berteriak dan memanggil nama wanita yang baru saja digaulinya semalam.
Junda melihat wanita yang tergeletak dengan tenang di sampingnya, lebih dari separuh malam mereka menikmati indahnya cinta dan memadu kasih seolah tidak ada duka sebelum dan sesudahnya. Pria itu pun masih ingat bagaimana Relina mendesah menikmati semua cumbu rayu dan meninggalkannya banyak tanda di tubuhnya.
“Relina ..... Sayang .... bangun, sudah siang,” bisik Junda di telinga Relina.
Setelah itu, dia melihat keluar jendela yang masih tertutup rapat baik daun dan juga tirainya. Sudah ada semburat cahaya menembus kain yang menutupi kaca, dengan begitu terangnya.
Rasa curiga muncul saat tubuh yang dibelainya tidak bergerak sama sekali. Lapisan kulit wajah yang di sentuh Junda pun terasa dingin. Laki-laki itu mengerutkan alisnya, mengamati seluruh tubuh yang tanpa busana dan hanya tertutup selimut sebatas dada, sisa pertempuran mereka semalam pun masih ada.
Tanpa ragu, Junda menciumi seluruh wajah Relina, agar lebih cepat membangunkannya. Lagi-lagi wanita itu tidak juga merespon aktivitasnya.
“Sayang .... ayo bangun, jangan bercanda!” sambil berkata, Junda mengusap seluruh tubuh dari wajah, turun ke leher, dada, perut dan semua bagian itu terasa dingin.
“Hei, ayo bangun! Apa kamu nggak lapar?” tanyanya lagi, kini suaranya terdengar lebih tinggi, tapi gemetar.
Dia menyibakkan selimut, mengguncang-guncangkan tubuh indah itu berulang kali, sambil terus meneriakkan nama Relina. Sementara air mata mulai menetes. Dia curiga dan merasakan hal aneh, tapi sekuat hati menolaknya karena tidak percaya. Dia tidak akan sanggup bila harus kehilangan dan ditinggalkan lagi oleh orang yang dia disayangi.
Nyatanya setiap manusia tidak akan pernah siap menghadapi sebuah kematian.
“Tidak ... tidak .... kamu bercanda kan sayang?” kata Junda berulang kali, sambil menangis. Dia meraih tubuh yang sudah kaku itu dalam pelukannya. Ya! Tubuh Relina kaku dan nafasnya tidak terasa dari lubang hidungnya. Nadi dan kelenjar di lehernya pun tidak berdetak. Junda terus memastikan ini, menempelkan pipinya di hidung Relina dan menekan beberapa jari ke lehernya, semua hening tidak ada detakan apa pun di sana.
“Tidak!” Junda berteriak sangat keras, suaranya membahana memantul di setiap sudut dan dinding kamar bahkan terdengar sampai keluar ruangan.
Setelah itu kembali dia bersuara namun lebih lirih, “Tidak ... jangan tinggalkan aku seperti ini, kita akan keluar negeri seperti kemauanmu, kan? Kamu mau ke mana, ke Paris, Cambridge, atau ke Kazen, kamu pernah bilang mau melihat selat Bosphorus di Turki, kan? Ayo kita ke sana ... sekarang, sayang ... jadi, ayo bangun!” sambil menangis dan mengusap wajah Relina yang basah oleh air matanya.
Junda terus saja terus saja seperti itu, tanpa melepaskan pelukannya, bahkan pelukan itu semakin erat seolah ingin meleburkan diri.
__ADS_1
Dia tidak pernah menyangka bahwa takdir sudah sebercanda ini dengan kepercayaannya. Saat dia berani melangkah lebih jauh dalam sebuah hubungan, lebih menikmati rasa cinta ketimbang mempermainkan, begitu yakin bila kematian tidak akan merenggut salah satu di iantara mereka karena Relina memiliki tanda yang sama. Namun nyatanya, takdir tidak mengizinkannya.
Mungkin saja Tuhan tidak senang dirinya bahagia atau memang Dia yang Maha Kuasa tengah menunjukkan kekuasaannya atas segalanya. Bahwa manusia tidak bisa apa-apa bila sudah menyentuh takdir-Nya. Ya, Tuhan masih ingin mengujinya!
Setelah puas menangis dan lelah mencumbui tubuh kaku dalam pelukannya itu, Junda merebahkan tubuh Relina secara perlahan, lalu, memakai kimono handuknya, memakaikan Relina pakaian seadanya dan menghubungi seorang dokter yang tinggal di sekitar rumah.
Sementara menunggu dokter, dia meminta pelayan yang setia membantu keluarga Junda selama ini, untuk menghubungi ayahnya, sedangkan dia sendiri terus duduk di sisi tubuh Relina, hatinya menangis tanpa air mata. Dia terus bertanya-tanya, kesalahan apa yang sudah diperbuat, atau ada sesuatu yang terjadi sebelumnya, hingga mengakibatkan kematian istrinya.
Junda berlutut di sisi ranjang, menatap Relina yang terbujur kaku di atas tempat tidur.
Junda mengepalkan tangannya dengan kuat lalu, menggenggam tangan Relina dan menciuminya berulang kali. Seolah-olah wanita itu masih hidup. Hatinya hancur, rasanya sakit seperti sedang dilubangi dengan serpihan kaca. Perih .... Kehilangan ini begitu berat, Tuhan!
“Apa, semua ini, Tuhan? Tidak cukupkah rasa sakit yang Engkau timpakan padaku selama ini dan sekarang adalah yang paling sakit ....!” suara Junda terdengar memelas dan menyedihkan.
Keadaan laki-laki gagah dan tenang itu, kini terkesan rapuh, atau seperti benteng kokoh yang dihantam tsunami, hingga porak-poranda. Hatinya karam ditelan kegelapan karena kecewa dan rasa tak percayanya dengan kenyataan yang terjadi.
Para pelayan juga tidak percaya dengan kenyataan yang ada, bahwa majikan mereka harus bersedih di saat kebahagiaannya baru saja tiba. Beberapa bulan yang lalu, nyonya besar tiada karena usia lanjut, juga karena penyakitnya. Lalu, sekarang nona muda yang baru saja singgah, memberi kehangatan serta cahaya dalam rumah itu, pun pergi ke pangkuan Tuhan dengan waktu yang singkat. Wanita itu masih sangat muda!
‘’Benarkah, Tuan Junda di kutuk?”
“Ahk, mungkin memang dia belum jodohnya.”
“Tidak ada kutukan, melainkan Tuan orang yang sangat sial.”
“Bukan, ini semua takdir Tuhan.”
“Bisa jadi setelah ini, Tuan tidak akan mempunyai seorang kekasih lagi.”
“Heh! Jangan begitu, masih ada kebaikan lainnya, jangan mencemooh. Doakan saja Tuan tetap baik-baik saja.”
__ADS_1
“Sayang sekali, padahal Nona Muda cantik dan lembut.”
“Kau ini. Tuhan tidak pernah memilih seseorang yang akan diambil nyawanya!”
“Bukankah ini artinya Tuhan lebih sayang pada Nona?”
Suara-suara sumbang dari asisten yang bekerja di belakang, membicarakan majikan mereka. Tidak bisa disangkal lagi bahwa kekuasaan Tuhan dengan takdir dari-Nya tidak bisa dihindari.
Setelah dokter selesai memeriksa Relina dengan cermat, dia menjelaskan pada Junda tentang keadaan Relina, bahwa wanita itu kehilangan nyawanya sejak beberapa jam yang lalu, dan sepertinya dia mengalami keracunan atau semacam mengonsumsi sesuatu yang di luar kemampuan tubuhnya menerima sejumlah dosis obat tertentu.
“Apa Nona mengonsumsi obat-obatan sebelumnya?” tanya dokter itu.
Mendengar pertanyaan dokter itu, Junda menggertakkan gigi, dadanya naik turun menahan sesak yang tiba-tiba memenuhi ulu hati. Dia melangkah mengambil obat-obatan yang biasa di konsumsi Relina selama ini karena penyakitnya.
Dokter muda itu melihat dengan teliti obat penyakit paru-paru, sesak napas dan beberapa vitamin lainnya, dia menggelengkan kepalanya.
“Ini Obat-obatan biasa, kalau dikonsumsi berlebihan tidak akan menimbulkan efek seperti ini. Coba Anda ingat lagi, apa yang di makan atau di minum tadi sore atau malam.”
“Apa itu artinya dia sudah mengonsumsi racun, Dok?”
“Bisa jadi, atau juga makanan dan minuman yang terkontaminasi secara berlebihan.”
Dokter itu menjelaskan dari indikasi keracunan dilihat dari ruam kulit di beberapa tempat, pupil mata, bibir dan rongga mulut.
Mendengar ucapan dokter itu Junda teringat, jus pesanan mereka di restoran semalam, hanya Jus jambu itu satu-satunya minuman, yang hanya diminum oleh Relina, sedangkan yang lainnya tidak. Akan tetapi tidak ada yang bergerak atau pergi dari posisi duduk mereka saat minuman itu dipesan.
Tiba-tiba dia teringat Syalu, yang membuatnya semakin kuat mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih.
Bersambung
__ADS_1