Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Berhutang Budi


__ADS_3

Relina menjauhkan kepala, sambil menahan napas, ia bersikap sama seperti saat Junda memasangkan sabuk pengamannya.


'Hei, sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri, bikin orang jantungan saja. Ahk. menyebalkan!'


Setelah Junda selesai dan menjauh darinya, Relina membungkuk untuk mengambil kantung plastik yang berisi barang miliknya. Ia melirik Junda yang tengah menatap wajahnya, pandangan matanya pun bertemu, hingga hati Relina kembali berdebar halus.


Kata hati Relina ingin menanyakan tentang pemecatan dirinya, membuat gadis itu berdehem keras dan memutus tali pandangan matanya.


Dia berkata dengan tenang setenang tubuhnya tapi tidak dengan pikirannya. "Pak, terima kasih atas kebaikan bapak nganter saya, walau gak sesuai juga, gak apa."


"Gak sesuai apanya? Coba lihat," kata Junda sambil melihat ke arah sampingnya. "Kamu tinggal nyebrang, apa susahnya?"


Junda sebenarnya masih kesal dengan semua yang terjadi padanya tadi, tapi kemudian ia berpikir bahwa dia akan lebih celaka lagi kalau tidak ada Relina, yang membuatnya terpaksa menghentikan mobilnya secara tiba-tiba. Dia benar-benar tidak melihat ada wanita tua, yang sedang berjongkok di jalanan, tengah memunguti barang yang berserakan. Sebuah kenyataan yang ia lihat sungguh memilukan, seandainya ia menabraknya.


Namun ada satu dorongan lembut di hatinya untuk mendekati gadis itu atau sekedar mengantarnya pulang. Tiba-tiba saja ia penasaran, di mana dia tinggal. Kebetulan dari kesialan yang ia lalui dengan gadis biasa itu sudah terjadi beberapa kali. Aneh, pikirnya waktu itu.


Setelah Relina memberi tahu tempat kosnya. pria itu menjadi sedikit bersemangat. Hatinya dipenuhi dilema, apakah Relina akan ia jadikan pacar seperti wanita-wanita lain sebelumnya? Tapi tidak ... Relina terlihat membencinya.


'Tentu saja, dia membenciku karena dia sudah aku pecat'


Relina melihat ke luar jendela dan ia baru menyadari bila tempat kosnya sudah sangat dekat, ia hanya harus menyeberang dan memutar sedikit. Junda sengaja melewati jalan itu untuk mempermudah dirinya, sekaligus menghindari area bebas kendaraan hari itu.


Wajah Relina seketika menjadi pucat, ia malu tapi tidak tahu malu karena langsung keluar tanpa permisi. Setelah menutup pintu mobil, ia mengusap keringat yang membasahi wajah dengan pangkal lengannya.


Junda belum menjalankan mobilnya kembali, sehingga ia melihat tingkah Relina yang menurutnya menggelikan. Penampilan gadis itu tidak berubah baik saat dulu masih bekerja di kantornya ataupun saat ini, hanya roknya saja yang berubah menjadi celana panjang.


'Apa penampilan selalu begitu, kampungan'

__ADS_1


Lengan baju yang dipakai Relina juga selalu panjang, untuk menutupi tanda putih mirip bulan sabit yang cukup besar, di dekat sikunya. Ia malu kalau tanda itu dilihat orang.


Saat ia masih sekolah ia selalu diejek teman-temannya karena tanda di tangannya. Mereka selalu mengatakan Relina punya penyakit panu, sejenis penyakit kulit yang disebabkan oleh jamur, sangat gatal dan meninggalkan warna putih pada kulit.


Ada seorang teman yang begitu gigih menghina tanda aneh di tangannya dan mengatakan Relina tidak pernah mandi, makanya punya panu. Kalau sudah di hina seperti itu maka Relina hanya bisa menangis, sampai di rumah. Besoknya anak gadis itu tidak mau memakai baju pendek lagi.


Ibunya yang selalu membesarkan hatinya dengan mengatakan, bahwa tanda itu mengisyaratkan bahwa dia adalah wanita yang istimewa, tidak banyak orang yang memiliki tanda seperti itu, kecuali dirinya dan entah siapa lagi yang ada di dunia, mungkin hanya Relinalah satu-satunya.


"Kamu anak ibu yang paling cantik, ada atau tidak tanda ini ..." kata Reni waktu itu, sambil menunjuk sikunya yang terdapat tanda unik di sana. "Ibu tetap sayang sama kamu. Itu pemberian Tuhan, semua temanmu tidak ada yang diberi oleh Tuhan, tanda seperti itu."


"Apa tidak bisa dihilangkan, Bu?" Tanya Relina saat itu.


"Tidak, karena itu buatan Tuhan, tidak yang bisa merubahnya."


"Tapi, Reli malu, Bu."


Sebagai anak kecil, tentu ucapan itu sangat menyenangkan, ibunya menerima diri apa adanya, itu sudah lebih dari cukup. Kepercayaan dirinya pun tumbuh semakin besar, hingga ia tidak malu lagi, dengan tanda yang dimiliki. Meskipun demikian, ia sudahl terbiasa dengan pakaian berlengan panjang.


Bukan hanya itu saja, ia sering di ejek oleh teman-temannya di sekolah, juga di rumah karena namanya. Orang tua Relina, terutama ibunya memberi nama yang menurut ibunya, cukup bagus, Relina ... Hingga Semua anggota keluarga, namanya berawalan huruf R.


Ayahnya, Rosihan, ibunya, Reni, adik laki-lakinya, Reyano, dan dirinya adalah Relina.


Akan tetapi, ketika Relina bersekolah, keindahan namanya itu tidak seindah pemikiran sang ibu. Karena teman-teman akan mengatakan Relina sebagai rel kereta api yang sedang berjalan.


"Eh, ada gak rel kereta apa, yang bisanya makan nasi?" Kata salah satu temannya yang senang menghina.


"Nggak tahu?" Sahut temannya yang lain.

__ADS_1


"Memangnya ada?" tanya beberapa temannya yang lain, sambil mengumbar tawa. Mereka berjalan bersama akan pulang dari sekolah.


"Ada. Rel! Reli! Relina!" Kata temen laki-laki yang ikut bersama mereka.


Setelah itu suara tawa yang tergelak terdengar di sekitar anak-anak sekolah itu.


'Aku adalah Relina, cukup itu saja, tidak ada tambahan lainnya'


Sekarang, Relina ada di rantau orang, tempat yang ia pilih untuk menyambung dan menimba pengalaman hidup. Di sini, ia hanya memiliki seorang sahabat dan juga teman-teman yang tidak mengetahui kekurangan yang ada dalam dirinya.


Biarkanlah semua itu hanya Tuhan saja yang tahu. Ia akan hidup hemat selama ia belum menerapkan gaji dan ia sudah mulai bekerja di perusahaan yang ia inginkan. Tak henti-hentinya ia mengungkapkan rasa syukur.


Di daerah ini, tidak ada orang yang tahu siapa dirinya. Mereka semua hanya bisa bertegur sapa sekedarnya, bila bertemu karena mereka semua sudah sibuk dengan aktivitas di dunia keeja masing-masing.


Oleh karena itu, tidak akan ada yang repot-repot bertanya soal kenapa ia memakai pakaian yang berlengan panjang? Tidak ada yang tahu, kecuali orang yang memang tahu, seperti Ane, sahabatnya. Setidaknya, pakaian yang bisa menutupi tanda di sikunya. Kebiasaannya itu terbawa sampai ia dewasa.


*****


Sementara Junda sudah pergi dengan mobilnya, Relina masih mematung di pinggir jalan. Masih mencerna semua yang terjadi pada dirinya dan Junda, ia tidak percaya, setelah ia tidak lagi bekerja dengan Junda, justru ia merasakan kehangatan bersamanya dalam sebuah ketidak sengajaan.


'Eh, aku lupa gak bilang terima kasih atas kebaikan pak Junda. Ya, aku berterima kasih udah dapet tumpangan. Kenapa tadi aku mau-mau saja, ahk ... aku berhutang budi padamu, Pak!'


Relina berjalan, memasuki tempat kosnya, sambil bersenandung kecil. Mengingat bahwa ia sudah bersikap seperti anak kecil, saat bersama Junda. Malu rasanya bila suatu saat nanti, takdir memaksanya harus kembali bertatap muka dengan Junda.


Ia hanya berharap, tidak akan pernah dipertemukan kembali dengan pria itu, kecuali sekedar mengucapkan terima kasih ....


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2