Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Pertengkaran Kecil


__ADS_3

Saat melihat Gunara, tiba-tiba Relina teringat dengan Junda yang tadi menolong dengan membawa sahabatnya itu ke rumah sakit. Sebenarnya dia heran, mengapa laki-laki kasar itu begitu perduli pada dirinya dan Gunara?


Seingatnya mereka pernah berseteru. Waktu Relina hendak pergi ke Jakarta, reaksi kedua orang itu seperti sedang bermusuhan. Akan tetapi, tingkah Junda kali ini membuatnya benar-benar bingung.


Mengapa dia tidak membiarkan begitu saja kalau memang membencinya, kenapa Junda ada disana bersama Syalu? Apa ada urusan perusahaan? Batinnya penuh pertanyaan.


Relina berbalik melihat ke arah Fuad dan Icha. Mereka terlihat berbincang-bincang sangat akrab seolah-olah hanya ada mereka berdua. Bahkan mereka mengabaikan Relina, seseorang yang telah berjasa mempertemukan mereka kembali.


“Lalu, benarkah dia, dia ... siapa dia?” kata Fuad sambil mengusap pipi anak kecil yang berada dalam gendongan Icha.


“Apa kamu percaya padaku, kalau aku mengatakan yang sejujurnya siapa dia?” Icha balik bertanya, sambil memegang tangan Fuad yang ada di kepala anak perempuannya.


“Ya tentu saja, mengapa tidak. Siapa namanya?”


“Dia anakmu, namanya Fina.”


Mendengar penuturan Icha, Fuad tertegun, menatap wajah Icha lurus dengan pandangan yang mengandung banyak emosi di dalamnya. Sebenarnya dia sudah mendengar semua tentang anak itu dari Relina yang mengatakan usianya anak perempuan Icha yang lahir pada bulan Juli.


Ketika sekarang dia melihat wajah anak perempuan itu, hatinya memiliki banyak rasa padanya. Ada gabungan antara dirinya dan Icha, hidung dan bibir anak itu benar-benar mirip dirinya hanya matanya yang mirip dengan Icha. Dia tidak bisa memungkiri lagi bawa anak itu adalah anaknya.


Setelah beberapa saat lamanya terdiam, Fuad pun tertawa kecil sambil memalingkan pandangan lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangan. Sebelum dia sempat mengatakan sesuatu, Icha kembali berkata dengan ketus dan mencebik.


“Sudah aku duga kau pasti tidak akan percaya. Semua laki-laki itu sama saja,”


Icha hanya berkata panjang lebar dalam hatinya, “kau tahu yang aku alami demi bisa melahirkan anak ini? Aku diasingkan dan dibuang, tapi aku mempertahankannya, hingga ayahku akhirnya membutuhkanku dan aku diterima kembali dikeluargaku.”


“Aku harus meneruskan perusahaan yang sudah dikelola ayahku selama bertahun-tahun. Keluargaku tidak mungkin membiarkan perusahaan itu terbengkalai begitu saja, hanya karena emosi dan sebuah kesalahan yang terjadi di antara keluarga.”


“Hanya aku satu-satunya yang bisa mereka andalkan, sedangkan ayahku sakit parah sampai sekarang beliau menderita stroke. Bagaimana mungkin kau akan percaya, aku airnya mengurus anak ini sendirian karena tidak rela jika Fina diurus oleh orang lain, kecuali aku benar-benar sibuk dan tidak bisa membawanya ke kantor, maka aku akan menitipka anakmu ini pada seseorang atau tempat pengasuhan anak.”


“Kau percaya kan, Fuad. Seperti sekarang, saat dia sakit, aku sendiri yang membawanya ke rumah sakit. Aku tidak pernah meminta orang lain untuk mengerjakan sesuatu, yang seharusnya menjadi tanggung jawabku.”

__ADS_1


“Bukan ... bukan seperti itu, aku ... aku percaya, anak itu anakku. Aku hanya mendengar kabar tentang kelahiran anak ini dari Relina, kemudian aku mengurutkan semua waktu saat kejadian itu, hingga aku pun yakin bahwa anak itu adalah anakku,” jawab Fuad setelah terdiam cukup lama.


“Oh jadi seperti itu, apa kau ingin menggendongnya?”


Lagi lagi setelah setelah mendengar kata-kata Icha, Fuad kembali tertegun, namun refleks dia melangkah lebih dekat dan mengambil anak itu dari gendongan Icha. Namun ketika anak itu berpindah tangan, justru dia terbangun dan menangis.


“Sepertinya dia tidak mau, lebih baik kau saja yang menggendongnya,” kata Fuad sambil menyerahkan anak itu kembali pada Icha.


“Sebenarnya yang tidak mau itu kamu apa anak ini?”


“Hai, lihat dia menangis dia tidak mau kugendong. Apa aku harus memaksanya? Justru kamu harusnya kasihan karena dia menangis.”


“Ya, sebaiknya kamu jelaskan siapa dirimu, pasti dia ngerti kok. Pasti dia nggak akan menangis lagi.”


‘dasar alasan, kamu tidak mau menggendongnya, kan?’


“Siapa yang tidak mau? Jangan berprasangka buruk begitu padaku, aku sudah berusaha menggendongnya, dia nangis itu bukan karena nggak kenal siapa aku, tapi karena dia nggak biasa.”


“Kasihan ... kasihan sekali kau Nak, kau besar dengan ibumu sendiri tanpa diketahui oleh ayahmu, bahkan kau tidak mengenal siapa dia ...”


“Ah, benar kah?”


“Tentu. Aku bukan laki-laki pengecut yang tidak mau mempertanggungjawabkan perbuatannya!”


Setelah Fuad berkata demikian, Icha termenung sambil menenangkan Putri semata wayangnya. Dia berpikir bahwa benar kata-kata yang diucapkan oleh Fuad, benar adanya. Apabila dia tidak mau bertanggung jawab, tentu dia tidak akan perduli pada gantungan kunci yang ada di tangan Relina dan tidak susah payah mencarinya seperti yang diceritakan Relina. Namun, sekarang dia terlihat begitu senang bertemu dengannya dan ia juga peduli dengan Fina.


“Iya, iya, aku percaya ... Lalu bagaimana sekarang. Apa kamu mau ikut denganku dan bertanggung jawab merawat anak ini, atau pergi meninggalkanku seperti waktu itu?” tanya Icha kemudian.


Itu pertanyaan yang sulit bagi Fuad, hingga dia menjawab, “sekarang aku mempunyai tanggung jawab, aku tidak bisa meninggalkan perusahaan, mengingat sekarang Gunara ada di sana.” Sambil memberi isyarat pada Icha, dengan dagunya ke arah ruang perawatan dimana Gunara berada.


“Jadi orang yang diurus oleh Relina itu, ada hubungannya dengan kamu?”

__ADS_1


“Iya, dia saudaraku.”


Setelah berkata demikian, Fuad pun menceritakan keadaan yang terjadi sebelumnya, dimana dia dan Gunara berpisah karena memiliki tujuan yang berbeda. Dia pergi ke perusahaan mencari Ica, sedangkan Gunara pergi menemui Relina.


Setelah itu Relina mendekat, sambil berkata, “apa kalian sudah selesai bertengkar?”


“Tidak tidak ada yang bertengkar di sini,” kata Fuad dan Icha secara bersamaan.


“Tapi Aku lihat tadi kalian seperti bertengkar?” Jawa Relina.


“Iya, iya tadi, hanya sedikit,” jawab Icha. “Kenapa kamu nggak mau mengaku kalau memang kita bertengkar tadi?”


“Kalau menurutku itu bukan bertengkar,” kata Fuad.


Dasar laki-laki kalau seperti itu bukan bertengkar, lalu seperti apa yang bertengkar sampai beradu tinju begitu?” tukas Relina.


“Iya,” sahut Fuad tegas. Sebagai lelaki, dia merasa tidak ada gunanya memperpanjang soal makna sepele seperti pertengkaran. “Sudah-sudah sekarang ceritakan bagaimana kejadiannya?”


Relina pun menceritakan bagaimana kejadian kecelakaan yang menimpa Gunara. Mereka baru saja selesai berbicara melalui telepon, untuk kembali bertemu di kedai kopi. Namun ternyata bukan Gunara yang datang, melainkan kejadian kecelakaannya.


“Apa lukanya sangat parah?” jawab Fuad. “Lalu, bagaimana dengan kepalanya?”


“Apa Pak Fuad masih bertanya? Lihat saja kondisi Kak Gun!” Sahut Relina “Ada pendarahan dikepalanya, terkena serpihan kaca atau benturan keras, kata dokter begitu.”


“Apa?” Fuad terlihat panik dan segera mendekat ke ruang ICU, tidak bisa sembarangan orang bisa masuk kecuali mendapatkan ijin, untuk melihat. Itu pun dibatasi hanya satu atau dua orang saja, setelah melalui sterilisasi.


“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?” Fuad berbicara dengan dirinya sendiri. “Apa mungkin dokter belum melakukan Rontgen di kepalanya? Seandainya sudah, mungkin dokter akan mengatakan kepada Relina bahwa terdapat tumor di kepala Gunara yang bisa merenggut nyawanya kapan saja.”


Saat Fuad m melihatnya, secara tidak sengaja melihat jari tangan Gunara bergerak.


‘Apakah dia sudah sadar atau hanya tangan yang bisa bergerak?’ batin Fuad.

__ADS_1


Dalam keadaan seperti ini dan menurut keterangan dokter, kemungkinan besar Gunara dalam keadaan koma, tapi kalau tangannya bisa digerakkan kemungkinan keajaiban terjadi.


Bersambung


__ADS_2