Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Pulang Kampung


__ADS_3

Relina menangis di telepon sambil menceritakan kejadian kematian Gunara, pada sahabatnya. Dia mengeluhkan betapa menyesalnya dirinya yang tidak menyegerakan untuk menengok laki-laki itu, padahal dia sangat mengharapkannya. Ada satu hal yang lebih disesalinya, yaitu dia justru meladeni Junda, orang yang seharusnya tidak perlu dia datangi.


Tentang kematian Gunara, Ane turut prihatin mendengarnya, gadis itu tidak menyangka, sebab dia juga kenal baik dengan sahabat Relina itu.


Mendengar cerita dari Relina, Ane pun heran dan tidak bisa menahan rasa penasaran, bahwa bos tempat dia bekerja berada di Jakarta dan bertemu Relina.


Lalu dia pun bertanya.


“Kenapa harus Pak Junda? Kenapa dia bisa ada di sana, kok bisa dia seenaknya memerintah kamu, Rel? CK! Padahal kamu nggak ada hubungan apa-apa lagi sama dia, kan?”


Relina mengangguk dan kali ini tangisannya sudah mulai berkurang. Dia sudah merasa sedikit lega dengan membagi beban perasaan, yang terasa berat bila dia harus memikulnya sendirian.


Relina sendiri tidak habis pikir mengapa dia begitu takut dengan ancaman yang dilakukan Junda, padahal kemungkinan apabila dirinya tidak menuruti pun tidak masalah, sehingga dia bisa menengok Gunara dan bisa berbicara dengannya sebelum kematiannya.


Relina juga menceritakan bagaimana kejadian, ketika dia akan melihat jenazah Gunara dan apa yang dibicarakan oleh Fuad dan ibunya. Relina berpikir bahwa ibu Fuad seolah membencinya, padahal mereka belum pernah bertemu sebelumnya. Akan tetapi, gelagat perempuan itu seolah memiliki masalah yang besar dengan Relina.


Ane terus mendengarkan keluh kesah Relina dengan sabar yang membuat Relina sedikit lega hatinya. Relina masih saja menceritakan tentang perasaan dan mengungkapkan kekecewaannya, serta semua yang terjadi padanya selama beberapa hari terakhir ini.


Setelah Relina terdiam, dan puas bercerita, kini Ane yang bercerita tentang dirinya. Dia pun mengeluhkan tidak bisa menghubungi Relina setelah dua hari ini karena ponselnya tertinggal di kamar kosnya. Dia tengah berada di rumah sakit, untuk menjaga dan mengasuh Alex anak dari Dion.


Ketika Relina bercerita, Ane terheran-heran dengan apa yang dialaminya, sekarang, Relina yang terheran-heran dengan apa yang dialami oleh Ane sahabatnya.


Relina tidak bisa menahan rasa penasarannya hingga mencecar Ane dengan banyak pertanyaan yang membingungkan sahabatnya.


“Ane, apa Dion memaksamu? Dia itu saudara Junda, kan? Kenapa kamu harus terlibat dengan semua ini?”


Tentu saja Ane tidak bisa menjawab pertanyaan Relina secara langsung karena semua yang dia lakukan itu atas dasar suka rela.


Saat Ane bercerita, dia masih berada di antara Dion dan Alex yang saat itu juga mendengarkannya berbicara. Ane merasa tidak enak dengan dua laki-laki itu, sehingga gadis itu meneruskan berbicara di luar ruangan.


Saat berada di luar kamar, Ane kemudian menceritakan bagaimana perasaannya, pada Relina. Mengapa dia tidak bisa melepaskan anaknya itu? Dia juga heran mengapa dia seperti terikat padanya, padahal anak itu, mungkin akan baik-baik saja walaupun ditinggal pergi oleh dirinya.


“Jangan bilang kamu menyukainya? Hah! Kamu menyukai Dion, An?” kata Relina.

__ADS_1


“Tentu saja tidak, kami baru saja mengenal belum lama. Bagaimana orang bisa langsung jatuh cinta seperti itu dengan cara yang tidak disengaja?”


“Bisa saja kamu jatuh cinta pada pandangan pertama.”


Mendengar ucapan Relina, Ane menggelengkan kepala. Dia tidak tahu bagaimana perasaannya pada Dion. Ketika pertama kali bertemu dengan Dion, dia biasa-biasa saja.


“Hais, aku justru menyukai Alex, Kamu tahu kan aku menyukai anak-anak dari dulu dan entah kenapa aku begitu menyukai anak itu dan anak itu juga menyukaiku,” kata Ane dengan tenang.


Dia pernah suatu kali mencoba melepaskan Alex agar kembali pada ayahnya, tapi dia justru Alex memilih mengikuti Ane dan tidak memedulikan Dion yang mengajaknya pulang.


Mendengar ucapan Ane, Relina tertawa keras dan untuk sejenak dia seolah melupakan kesedihannya, kemudian dia berkata, “kemungkinan dia mengharapkan kamu jadi ibunya!”


“Apa? Yang benar saja kamu Relina, jangan bercanda apa kamu menyumpahi aku seperti itu? Aku belum siap menikah sekarang, apalagi dengan dengan laki-laki yang mempunyai seorang anak!”


“Siapa tahu kamu menjadi ibu kedua buat Alex!” Relina berkata sambil terus tertawa.


“Entahlah, aku tinggal selama ini bersamanya, Dion nggak punya wanita lain di rumahnya.”


“Kenapa kamu nggak tanya sama dia?” Kata Relina masih penasaran.


Mendengarkan kata-kata dari Ane, Relina diam seperti merenung, dia mengkhawatirkan sahabatnya itu apabila jadi menikah dengan seorang yang sudah memiliki anak. Dia menduga akan lebih banyak masalah, yang harus dihadapi oleh seorang wanita, bila menikah dengan orang yang sudah berumah tangga.


Relina ingat, dia pernah membaca sebuah artikel di majalah keluarga yang terkenal dan majalah itu tetap bertahan sampai sekarang, walaupun sudah banyak media online yang bersaing sangat kejam di era digital seperti sekarang ini.


Dalam artikel tentang perkawinan itu dijelaskan bahwa apabila seorang laki-laki sudah menikahi kekasihnya, maka cintanya akan hilang lebih dari separuhnya. Lalu bagaimana dengan sahabatnya, apa bila akan menikah dengan orang yang sudah memiliki anak seperti Dion?


Relina menggelengkan kepalanya untuk mengusir pikiran buruknya.


Biasanya dalam kehidupan berumah tangga akan terjadi banyak masalah ketika sudah hadir seorang anak. Relina membayangkan apabila kelak Ane menjadi pengantin baru sedangkan dia sudah memiliki anak dari suaminya, dia tidak akan mendapatkan kesenangan seperti wanita lainnya karena dia harus mengurusi anaknya. Butuh kekuatan jiwa dan mental yang lebih kuat untuk berhubungan ataupun membina rumah tangga dengan orang yang sudah memiliki anak seperti Dion.


“Ane, berhati-hatilah dalam bersikap.” Akhirnya itulah yang dikatakan Relina kepada sahabatnya, selain itu, dia menasihati sahabatnya agar lebih waspada dan tidak serta merta mengumbar perasaannya, menyukai laki-laki yang sudah mempunyai anak.


Dia masih punya banyak kesempatan untuk membina kehidupan rumah tangga yang lebih baik dengan laki-laki yang belum mempunyai anak ataupun sama-sama lajang.

__ADS_1


*****


Pagi hari itu, ketika Relina memulai aktivitas seperti biasanya, dia melihat Danu yang tampak tidak tenang. Laki-laki itu berjalan mondar-mandir sambil memegangi dagunya. Sebenarnya Relina memperhatikan perubahan dan perbedaan Pamannya sejak dari kemarin, hanya saja ia tidak berani bertanya karena saat itu dia berpikir kemungkinan ada urusan dengan istri pamannya. Bibinya sejak dari kemarin pulang ke kampung halamannya.


Demi Relina melihat pamannya yang terlihat lebih gelisah dari kemarin bahkan Danu mengusap wajahnya berulangkali dengan tangannya, gadis itu mendekat sambil bebertanya. “Paman apa ada masalah? Kenapa Paman terlihat tidak tenang?”


Mendengar Relina bertanya, Danu justru balik bertanya, “kamu nggak pengen pulang kampung, Rel?”


“Kamana, Paman?”


“Ya, pulang, ke kampung tempat ibu sama ayahmu?”


“Oh itu nanti Paman, aku mau mengumpulkan uang yang cukup, biar aku bisa beliin jajan buat Royan.”


“Oh, aku kira kamu mau pulang, udah kangen sama ibuk sama ayah di kampung.”


“Memangnya kenapa, Paman?”


Relina dan Danu kini duduk berhadapan di meja kasir. Paman dan ponakan itu akhirnya terlibat diskusi panjang yang membahas masalah dari berita yang di kirim sang bibi di kampung. Bahwa orang yang dipercaya oleh Danu, yang tak lain masih punya hubungan keluarga, ternyata menghianatinya. Toko dan kedai kopi di Martapura tutup. Padahal selama ini orang itu selalu mengirim kabar yang baik-baik saja.


“Kalau bibimu nggak pulang, kemungkinan kita nggak akan tahu kabar sebenarnya. Jadi Paman punya inisiatif memulai usaha lagi di sana mulai dari awal, tapi gimana kedai ini juga sudah banyak pelanggan dan sudah lumayan terkenal.” Keluh Danu pada Relina.


“Apa semua barang dan peralatan di kedai kopi lama, masih lengkap, Paman?”


“Kata bibimu masih ada, tapi bahan baku yang sudah Paman stok sampai dua bulan ke depan hilang entah ke mana?”


“Bagaimana kalau Reli saja yang memulai usaha itu sekarang, Paman?”


“Serius kamu mau jalanin usahanya, Rel?”


“Kenapa tidak, Paman. Semua bahan baku akan Paman kirim. Lalu semua ilmu racik kopi sudah jenis yang Reli hapal.”


Kedua manusia berbeda jenis itu kembali terlibat obrolan serius dan Relina mulai mempelajari beberapa hal dari sang paman. Dia sudah bertekad mencari pekerjaan baru untuk menghindari Junda namun sekarang seolah-olah pintu keluar terbuka lebar untuk dirinya.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2