Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Saya Temannya


__ADS_3

Cinta seperti sebuah perjalanan, dia memiliki titik awal, titik jenuh dan akhir. Cinta bisa berakhir kapan saja bahkan oleh maut, itulah akhir dari perjalanan. Bila seseorang mengaitkan perasaannya pada orang lainnya dengan cinta, dia seperti seorang musafir yang berjalan demi mencapai muara yang menjadi tujuannya. Biasanya, muara cinta adalah pernikahan.


Relina masih memikirkan tentang perasaannya, sekeras apa pun dia mencoba melupakan Junda, sekuat itu pula semua ingatan saat bersamanya terpampang jelas dimatanya. Termasuk saat pria itu menciumnya dengan paksa. Ciuman sekejab dan tak ada artinya. Semua terjadi karena Junda menunjukkan kekuasaannya dan betapa arogannya dia bisa melakukan itu pada Relina semaunya.


Akan tetapi saat terakhir kali bibir mereka saling bersentuhan dan Relina membiarkannya, dia merasakan kelembutan dan kehangatannya. Saat di mobil itu, dia sudah mencoba melawan Junda tapi sia-sia, akhirnya dia hanya diam dan menerima dengan pasif.


Sementara Relina kembali menegakkan badannya setelah berada dalam posisi bersandar cukup lama. Dia meletakkan ponsel dan seseorang datang memesan kopi. Ada beberapa pelanggan lagi yang membuat suasana bosan sedikit mencair.


Relina membiarkan rekan kerjanya yang menyediakan dan melayani pelanggan, sedangkan dia sendiri menerima panggilan video dari Ane. Ada beberapa nomor ponsel yang dia simpan, semua nomor orang yang dia anggap penting, tentunya, termasuk Ane.


“Dari mana kamu dapat nomor baruku?” tanya Relina pada Ane begitu panggilan tersambung. Dia baru saja hendak menelepon sahabatnya dan ingin menanyakan keadaannya, namun ternyata Ane sudah lebih dahulu menghubunginya.


“Dari Mamahku dia minta nomormu waktu ke rumah Ibumu..” Jawab Ane sambil terkekeh. “Kamu pikir aku gak bisa apa, cari nomor kamu. Hais kamu ini, bikin orang kesal saja!”


“Yah, kan Cuma usaha menghapus masa lalu.”


“Jadi, aku juga masa lalu, gitu?”


“Hehe. Ya bukanlah. Terus kamu gimana ... masih jadi pengasuh Alex, atau ganti profesi?”


“Profesi apa?”


“Istri Pak Dion, ibunya Alex!”


“Hais, mana ada!” Ane menceritakan pengalamannya selama merawat Alex. Itu pengalaman baru dan mendebarkan baginya. Dia juga bercerita tentang keraguannya dengan tawaran Dion untuk pindah bekerja di perusahaannya. Setelah itu dia juga mengatakan bahwa Junda yang mencari Relina dan ingin agar gadis itu kembali bekerja sebagai pengganti Syalu, sekretarisnya yang dulu.


“Jadi, Bu Sya sudah keluar, ya?” tanya Relina memastikan pendengarannya tidak salah. Padahal dia tahu secara detail penyebab Syalu berhenti dari pekerjaannya karena Junda waktu menjelaskan semuanya kepadanya.


Junda memutuskan semua hubungan dengan Syalu di depan orang tua Syalu sendiri, beserta beberapa bukti, yang membuatnya tidak bisa membantah perbuatannya hingga dia menerima pemecatan itu, dengan terpaksa.


Bagaimana tidak? Perbuatannya sudah memasuki ranah kriminal, hingga bisa dipidanakan. Hanya saja Junda masih menghargai hubungan persahabatan mereka, hingga dia tidak mengadukannya ke pihak yang berwajib.

__ADS_1


“Jadi, gimana, kamu mau kerja lagi sama Pak Junda?” Ane bertanya, sambil menatap Relina lekat dari ponselnya.


Relina mendengar perkataan Ane dan menggelengkan kepalanya, dia pun menceritakan bahwa saat ini dirinya sudah jadi pengusaha kopi baru di Martapura, sehingga dia memiliki kesibukan yang dia harapkan dan bisa membuatnya melupakan segala kesepian.


“Jadi, kamu saja yang terima tawaran Pak Dion, ingat ... kesempatan tidak datang dua kali. Walaupun ada kesempatan yang lain, tapi tidak akan pernah sama lagi. Aku sudah jadi bos sekarang, di Martapura! Jadi, gak mungkin mau rangkap kerja," kata Relina yang juga tertawa.


“Apa? Jauh banget, Rel? Padahal aku sudah bilang sama Pak Junda, kalau kamu pulang ke Talang Padang, eh ... sekarang kamu di Martapura?”


“Apa kamu bilang, Ne? Kamu bilang aku pulang kampung, begitu?”


‘Ya Tuhan ... aku keceplosan’ batin Ane.


“Iya, maaf. Soalnya dia cari kamu terus.”


‘Bodo amat!’


“Hais. Kamu ini Ane ....” Relina tampak sangat kecewa, terdengar dari kalimat dan nada bicaranya.


Relina mengangguk, membenarkan ucapan Ane, bahwa Junda bukan orang yang kurang kerjaan mencarinya sampai menyeberangi Selat Sunda menuju pulau Sumatera.


Panggilan video pun berakhir dan Relina menyimpan ponselnya ke saku celana. Bersamaan dengan itu, hatinya tiba-tiba gelisah dan semakin tak karuan. Dia ragu tentang apa yang dikatakan Ane bahwa Junda tidak mungkin akan senekat itu menyusul dirinya sampai ke kampung halamannya.


Dia ingat kegigihan usahanya saat dia mencoba membujuk agar Relina mau hadir sebagai pendamping di pestanya. Dia pikir bahwa pria itu mampu melakukan hal-hal itu semalam saja.


‘Ah, siapa juga aku ini, memangnya aku super staf apa? Dia bisa cari perempuan yang lain yang lebih baik dari aku!’


*****


Renita baru saja pulang dari mengajar, dia pulang saat hari sudah hampir sore. Dia harus mengajar bimbel anak-anak kelas akhir yang akan menghadapi ujian. Selain itu dia juga mengajar prifat di dua rumah sekaligus. Ada anak yang bermasalah di sekolah, sehingga kedua orang tuanya memintanya untuk memberikan pelajaran tambahan di rumah mereka.


Wanita paruh baya yang masih memakai seragam batik sekolah itu tertegun, di depan rumahnya sambil menyeka keringat yang tiba-tiba saja memenuhi dahinya.

__ADS_1


Dia melihat sebuah mobil Toyota Auris hitam mengilat yang terparkir cantik di depan halamannya. Rumahnya berada di sisi jalan desa yang halamannya tidak terlalu luas, ada sebuah mobil mewah yang berada di sana, sungguh menyita perhatian beberapa orang yang lewat.


Apalagi saat dia melihat seorang pemuda tampan berpenampilan rapi dan bersih tengah berdiri dengan bersandar di badan mobil. Dia memakai kaca mata hitam untuk melindungi matanya dari panas matahari yang cukup panas hari ini.


“Benar, ini rumahnya?” tanya Junda kepada asisten dan sopir yang sengaja dia sewa selama dia berada di sana. Dia tidak membawa kendaraan pribadinya karena dia menyeberang selat Sunda dengan menggunakan pesawat dari Jakarta menuju Bandara Raden Intan, Natar.


“Iya, Tuan. Ini rumah yang sesuai nama dan alamat yang diberikan Tuan, tadi.” Jawab asistennya yang bernama Fadil. Dia pria yang tidak terpaut jauh usianya dengan Junda, bahkan sepertinya mereka cocok walau baru pertama bertemu hari ini di Bandara.


“Hmm ....” Gumam Junda sambil memandang sekeliling, rumah itu sepi dan terlihat kosong. Pandangannya berhenti ketika secara tidak sengaja, tatapannya berserobok dengan Renita yang berdiri tak jauh dari mobilnya.


Sebenarnya ukuran mobil itu terlalu besar bagi Junda yang terbiasa mengendari mobil sport bila bepergian seorang diri. Namun, mendapat mobil sewaan berupa kendaraan keluarga, sudah cukup bagus untuk kawasan pedesaan seperti itu.


“Maaf, cari siapa, ya?” tanya Renita sopan sambil berjalan menuju teras rumahnya yang tampak asri dan sejuk. Walau sederhana dan tidak terlalu besar rumah itu terkesan hangat. Banyak tanaman hias tersusun rapi di sisi kiri dan kanan rumah, menambah keindahan teras, hingga orang akan betah bila bercengkrama dan berkunjung ke sana.


Renita berhenti tepat di hadapan Junda yang tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya. Sementara si asisten masuk ke dalam mobil dan menunggu Junda di dalam, sambil mendengarkan musik. Urusan pria itu bukanlah urusannya. Jadi dia tidak akan ikut campur.


“Halo, saya Junda.”


Renita tidak menyambut uluran tangan pria itu demi menjaga dirinya karena Junda tidak menjawab pertanyaannya. Menerima perlakuan seperti itu, Junda menarik tangannya kembali dan buru-buru meminta maaf, kalau dia sudah lancang pada wanita setengah baya itu.


“Oh, maaf ... Saya mencari Relina. Saya temannya di Bogor. Kami pernah satu kantor.”


"Oh," jawab Renita sambil mengulurkan tangannya dan menjabat tangan Junda. "Saya Ibunya."


Renita menelisik penampilan Junda dari ujung rambut sampai ujung kakinya, seolah mencari kebenaran bila pria yang berdiri di depannya ini adalah teman anak perempuannya. Junda kembali tersenyum mengejek dirinya sendiri, lalu dia melepas kacamata hitamnya.


“Apa kabar, Bu ...? Apa Relina ada?”


“Tidak!” jawab Renita tegas. Seingatnya, Relina tidak pernah cerita bila dia dekat dengan teman laki-laki di kantor. Kecuali orang yang dianggap bermasalah dan Renita berusaha mengingat sesuatu tentang seseorang, yang suka memaksa anaknya dan jangan-jangan ... dialah orang, yang ... telah memberi Relina perhiasan!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2