
Relina melihat ke layar ponsel karena Royan menghubunginya. Ada perasaan gembira saat adik laki-lakinya itu berkenan menghubungi, sebab biasanya anak remaja itu tidak pernah peduli dengan hal seperti ini.
“Halo, Kak Reli! Lagi ngapain?” Tanya Royan begitu ponsel tersambung dan wajah Relina terlihat jelas di layar.
“Aku lagi sibuk ... Mau ngapain, tumben kamu telepon.” Relina berkata dengan suara keras, karena sedang menggiling kopi di gudang penggilingan bersama dengan seorang rekan prianya. Dia tidak menyangka bila setelah wajah Royan muncul, ada satu wajah lagi yang menyapa dan tersenyum lembut ke arahnya.
“Halo! Apa kabar?” Kata Junda dari balik telepon, wajahnya jelas tersorot oleh kamera ponsel Royan, membuat Relina benar-benar syok, dia hampir menjatuhkan ponselnya karena terkejut.
Ragu-ragu Relina mencoba memperjelas pandangan matanya agar tidak salah lihat. Dia mengumbar tanya dalam hati, tentang apa dan bagaimana Junda bisa berada di rumahnya bersama Royan. Itu artinya, pria itu mencarinya!
‘Ya Tuhan ....’
‘’Siapa yang sudah membocorkan rahasiaku?” geramnya lirih, tapi tidak terdengar oleh Royan, karena bising suara penggilingan kopi. Tangannya terkepal dan dia sedikit mengeluh dengan menarik napas panjang.
“Royan! Nanti lagi, yah. Telepon lagi. Sekarang berisik, aku lagi giling kopi!” kata Relina dengan cepat mematikan ponsel dan menyimpannya dalam saku celana, menyembunyikan gelanyar aneh di hatinya dengan menyibukkan diri di gudang kopi.
Relina meneruskan pekerjaannya, sambil menikang-nimang bayangkan wajah Junda yang tiba-tiba muncul dilayar tadi, dalam hatinya. Dia berusaha menenangkan diri, namun bayangan Junda yang tersenyum lembut ke arahnya, dengan kacamata hitam yang bertengger di hidungnya membuat ia tidak kontrak konsentrasi.
Beberapa kali dia berbuat kesalahan dan Ali, rekan kerjanya mengingatkan bahwa apa yang dilakukannya berulang kali salah. Relina hanya tersenyum masam menanggapinya dan ia sendirilah yang menanggung resiko harus mengukang pekerjaannya yang salah, dari awal. Dia kesal pada dirinya sendiri juga merutuki kemunculan Junda.
Bayangkan wajahnya mengganggu, hingga dia salah memisahkan antara kopi yang sudah halus dan dicampur dengan kopi yang belum diayak, itu adalah sebuah kesalahan yang fatal.
Ketika hampir malam menjelang kedai kopi terlihat agak ramai Relina terlihat sibuk, dia sudah bisa menguasai perasaannya, dengan melupakan wajah Junda yang mengganggu pikirannya. Bibir yang tersenyum manis, dengan kacamata hitam itu membuatnya terlihat begitu tampan. Wajah yang seolah merayu dan menghisap perasaannya untuk masuk ke dalamnya.
‘Apakah ini ...? Apakah aku salah kalau aku menyukainya?’
Relina duduk di meja kasir sambil memainkan ponselnya, tidak ada lagi pesan ataupun panggilan dari orang lain. Dia hanya berharap bila Junda tidak akan menyusulnya.
Kalau pun laki-laki itu datang menemuinya, dia tidak tahu bagaimana harus bersikap dan bagaimana harus menjawab bila dia memberi tawaran yang sama lagi.
Sebenarnya tawaran yang Junda berikan sangat menggiurkan. Menjadi seorang sekretaris, di sebuah kantor bergengsi. Itu adalah karir yang bagus dan bisa membawa nama baik keluarganya. Pasti ayah dan ibunya akan bangga.
‘Kenapa juga aku ngurusin dia. Nggak mungkin dia mau ke sini’
__ADS_1
Walaupun Relina berusaha menepis dugaannya tentang Junda yang kemungkinan menyukainya karena menurutnya, tidak mungkin dia akan nekat datang ke rumahnya. Pikiran semacam itu terus saja muncul.
Relina merasa bukan orang yang spesial, dia bukan wanita cantik yang banyak mengelilingi Junda, tapi kenapa dia seperti dibuat tersanjung oleh laki-laki yang awalnya sangat membencinya.
“Bu ... kita tutup saja ya, kafenya?” tanya Suti, rekan kerja yang membantu Relina di kedai bersama Ali. Dua orang ini yang dipilih oleh bibinya untuk menjadi pegawainya. “Para pelanggan sudah sepi,” katanya lagi. Relina mengangguk, dia banyak melamun tadi, sehingga tidak menyadari bila keadaan kedai sudah tidak ada pembeli.
Mereka pun menutup bersama kedai kopi dengan tersenyum puas. Pendapatan hari ini cukup lumayan sebagai langkah awal.
Relina menutup pintu setelah kedua rekannya pergi, dia menempati ruangan kecil di bagian atas kedai yang bersebelahan dengan tempat istirahat dan ibadah para karyawan kedai. Tempatnya tidak luas, tapi cukup leluasa bagi dirinya yang hanya tinggal seorang diri.
Relina hendak membersihkan diri, ketika ingat bahwa dia datang bulan dan belum menyediakan pembalut yang bisa dipakainya malam ini. Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia nekat keluar kedai padahal hari sudah larut malam.
Suasana malam cukup hening walau agak ramai di beberapa tempat, toko swalayan yang dia tuju tidak terlalu jauh dari kedai tempatnya tinggal dan mengistirahatkan diri. Dia bersyukur karena keadaan malam itu tidak terlalu menakutkan. Kawasan kedai adalah kawasan pertokoan yang strategis dan menyenangkan.
Jaket sederhana dan tas kecil yang biasa Relina bawa, disambar begitu saja melengkapi penampilannya. Dia bukan ingin bergaya atau tampil sempurna, tapi dalam tas itu, terdapat beberapa benda yang bisa digunakan untuk melindungi dirinya, seperti botol bubuk merica, pulpen berujung lancip dan payung kecil yang cukup kuat untuk dijadikan pemukul.
Relina keluar dari kedai dengan langkah cepat dan waspada, biar bagaimanapun juga daerah ini adalah kawasan yang baru baginya. Dia jarang keluar kedai, apalagi saat malam seperti ini, kecuali ke pasar dan pusat grosir, untuk membeli beberapa keperluan kedai. Selebihnya dia menghabiskan waktu dengan nyaman seorang di tempat itu.
Saat Relina hendak menyeberang, tanpa dia sadari ada seorang pria mendekat kearahnya dengan langkah cepat. Relina baru saja menurunkan kakinya dari trotoar menuju jalan, saat tiba-tiba tangannya di tarik secara paksa.
Dekapannya begitu erat, seolah hendak menyatukan tubuh Relina ke dalam dirinya. Kepalanya bersandar di bahu Relina dengan manja dan menghirup napas dalam-dalam, seolah ingin mengambil udara yang keluar dari tubuh Relina untuk mengisi rongga di paru-parunya.
“Kamu ...!” hardik Relina sambil melakukan gerakan mendorong tubuh Junda.
“Diam ... biarkan seperti ini, sebentar saja. Kumohon ....”
Itu suara kekanak-kanakan yang Relina dengar, meluncurkan dari mulut seorang pria yang memohon padanya. Ahk dia yang ... selalu dia pikirkan akhir-akhir ini. Dia mengganggu, bukan hanya dalam pikirannya tapi juga sekarang, di pinggir jalan dan ada beberapa orang yang lalu lalang memperhatikan tingkah laku mereka, serta menarik perhatian orang tentunya.
Relina malu sekali menyadari bila beberapa orang yang lewat di sekitarnya, menatap mereka dengan tatapan aneh, melihat laki-laki yang terlihat sangat merindukan wanita yang ada dalam pelukannya.
Junda tengah duduk dalam mobil sewaan yang cukup mewah kali ini. Berbeda dengan kendaraan yang dia sewa saat mencari rumah orang tua Relina. Dia hendak mencari hotel yang akan dia gunakan untuk menginap, sebelum keesokan harinya dia akan memulai usaha untuk kembali mencari kedai di mana Relina bekerja.
Pria itu masih bersandar dengan pandangan mata tertuju keluar jendela, saat dia bertanya pada sopir yang mengantarkannya, “Benar, kedai itu berada di sekitar sini?”
__ADS_1
“Benar, Tuan,” Jawab sopir yang sekaligus merangkap sebagai asisten pribadi, selama Junda ada di Martapura. Ya, itu salah satu kota yang belum pernah didatanginya. Sehingga dia membutuhkan seseorang yang bisa membantunya.
“Kalau begitu, cari dulu hotel atau penginapan di sekitar sini saja.”
“Baik, Tuan.”
“Tunggu! Berhenti!” kata Junda, ketika dia melihat sekelebat bayangan seorang wanita yang dicarinya, tertangkap matanya. Bayangan manusia itu hanya tampak di kejauhan. Yaitu Relina, dia tengah keluar dari salah satu bangunan di sepanjang jalan yang dia lewati.
Siluet tubuh Relina seolah bisa dia temukan walaupun yang tampak hanya sebelah kakinya atau separuh bagian kepalanya saja. Dia mengingat semuanya, dan selalu membayangkan gadis itu, bahkan memamerkannya di hadapan Shasi. Neneknya itu menentang keinginan Junda karena khawatir gadis itu tidak cocok dengan dirinya, tapi dia tidak perduli.
Entah kekuatan dari mana datangnya yang membuatnya begitu gigih mencari dan ingin agar Relina tetap berada di sisinya. Dia kehilangan jati dirinya yang mematuhi Shasi, nenek yang telah memberikan separuh hidupnya hanya untuk merawat dan melindungi Junda.
Akan tetapi, yang terjadi kemudian adalah, Junda menjadi anak pembangkang demi seorang wanita. Padahal dia tahu, tidak semudah membalikkan sebuah buku agar gadis itu mau bersamanya setiap waktu.
“Lepaskan! Malu di lihat orang, di sini bukan Jakarta atau di negara Amerika!” pekik Relina, namun suaranya tertahan. Dia tahu pria itu Junda dan seperti biasanya pria itu memaksakan kehendaknya pada Relina tanpa membicarakannya terlebih dahulu.
Mereka pernah berpelukan seperti ini juga di mobil waktu Junda memaksanya, untuk melayani ketika dia mengatakan bahwa dirinya seorang wanita malam.
“Biar saja, anggap di sini kota atau Amerika juga boleh.”
‘Sialan!’
“Apa yang kamu lakukan?” Relina berkata sambil meronta, namun semakin dia mencoba melepaskan diri dari pelukan Junda, semakin kuat Junda memeluk dirinya. “Lepas! Kalau tidak aku akan berteriak sekarang juga.”
“Coba saja!”
Bersambung
__ADS_1