
Dion ragu untuk mengucapkan jawaban yang sebenarnya pada Ane. Akan tetapi dia kemudian berpikir bahwa apa yang menjadi kepercayaan Junda dan nenek dari ibunya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan dirinya. Jadi, seandainya Ane tahu dan menyampaikan kepada Relina, tidak akan menjadi masalah karena yang terpenting baginya adalah mereka berdua baik-baik saja.
“Itu hanya mitos, bagi sebagian orang sangat memercayainya adalah benar, tapi bagi orang lain belum tentu, kan?” Kata Dion pada akhirnya sambil terus mengemudi. Ane mengangguk.
“Iya,” jawab Ane sambil menoleh pada Dion.
Setelah itu Dion pun menceritakan tentang ihwal dari tanda lahir yang Junda miliki. Dia menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi tentang neneknya yang begitu mempercayainya, sehingga takut apabila Junda berbuat sebuah kesalahan. Sampai saat ini wanita tua itu melarang Junda dekat ataupun melakukan hubungan bebas dengan wanita, yang tidak memiliki tanda yang sama dengan dirinya. Dia kuatir Junda bisa menyebabkan kematian.
Ane tercengang dengan apa yang dikatakan oleh Dion, hingga mulutnya terbuka. Ane menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia benar-benar tidak percaya. Kebetulan macam apa ini? Batinnya.
Ane kemudian berpikir bahwa Relina memiliki tanda yang sama, bahkan begitu mencolok, tanda putih mirip bulan sabit, tapi ada juga yang mengatakan mirip ular yang melingkar, sangat besar dekat siku tangan kirinya. Selama ini Relina selalu menutupinya karena ketika anak-anak dahulu, dia selalu diejek oleh teman-temannya karena tanda itu. Sekarang pun gadis itu masih memiliki kebiasaan yang sama, selalu memakai pakaian panjang yang bisa menutupi tangannya.
Ane awalnya hanya ingin mengatakan bahwa secara kebetulan Relina memiliki tanda yang sama, namun diurungkannya. Saat itu dia berpikir percuma saja Junda atau keluarganya tahu tentang Relina, karena gadis itu tidak menyukai Junda, apalagi dia akan pergi dan mereka tidak mungkin bertemu lagi.
Disaat itu juga mobil yang dinaiki Ane berhenti dan Dion berkata, “nah, dah sampai, aku tidak bisa mengantarmu sampai ke kamar ya?” Dion masih ingat kejadian dirinya yang dicecar berbagai pertanyaan oleh beberapa orang ibu di kamar kost Ane.
Ane mengangguk dan turun dari mobil untuk mengambil koper yang berisi pakaiannya di bagasi. Dia tidak mempunyai kesempatan untuk mengatakan apa-apa lagi, tetapi dia mengerti satu hal, bahwa mitos, tidak pernah sama di setiap tempat dan komunitas yang mempercayainya.
Buktinya di daerah kelahirannya, Ane tidak pernah mendengar hal seperti yang Dion katakan. Entah karena memang tidak ada ihwal yang mengabarkan padanya, atau memang dia tidak tahu. Baginya mitos yang dia dengar itu sangat mengerikan.
Dion melihat Ane yang membawa kopernya berjalan mengitari mobil, tiba-tiba perasaan tidak tega melukai hatinya. Dion pun turun dan mengambil koper itu dari tangan Ane. Mereka berjalan beriringan memasuki rumah kost. Ane biarkan Dion melakukan apa yang dia inginkan, membawa kopernya sampai di sampai di depan kamar. Dia tidak ingin mendebat, hingga sampai di pintu, Ane membuka kuncinya. Di saat itulah mereka kembali bertatapan dengan posisi yang sangat dekat.
“Kamu yakin tidak mau mengikuti tawaranku?” Tanya Dion.
Ane mengangguk, menandakan dia yakin, menolak kebaikan dan kesempatan yang diberikan Dion untuk kairnya.
“Jadi, kamu tetap mau bekerja di perusahaan Junda?”
__ADS_1
Ane kembali mengangguk, sambil membuka pintunya lebar-lebar, mengambil kopernya dari tangan Dion. Akan tetapi Dion tetap menahannya. Laki-laki itu menoleh ke kanan dan ke kiri, menarik Ane masuk dan berdiri di balik pintu. Saat itu dia mengulurkan satu tangannya ke belakang kepala Ane dan mendekatkan kepalanya sendiri, lalu menunduk dan mencium bibir merah muda milik Ane. Itu ciuman yang posesif, seolah Dion ingin menghisap habis bibirnya.
Ane tidak bisa melawan, atau justru akan mengundang kecurigaan. Akhirnya dia hanya menerima dengan pasif. Dia menghirup aroma laki-laki itu dan tiba-tiba dia merasa nyaman.
‘’Gila, ini gila!” pekik Ane dalam hatinya. Setelah beberapa saat napasnya hampir habis, Ane mendorong tubuh Dion keluar kamar dan mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.
“Terima kasih, Pak. Sudah mengantarkan saya.” Ane berkata tanpa menatap wajah Dion, karena dia sangat malu dan menutup pintunya dengan segera.
‘Apa yang baru saja aku lakukan, bodoh! Dia pasti marah dan akan membenciku!’ batin Dion.
*****
Relina berdiri di pelabuhan Merak Banten menunggu antrean tiket masuk ke kapal Ferry yang akan membawanya menyeberangi Selat Sunda, menuju pelabuhan Bakauheni Lampung Selatan. Itu adalah selat kecil yang memisahkan antara dua pulau fenomenal di Nusantara, pulau Jawa dan Sumatera.
Dia hendak pulang, menemui kedua orang tuanya sebentar, setelah itu dia akan pergi lagi ke Martapura. Semua perjalanan dia tempuh menggunakan bus antar kota.
Keadaan nyaman, kehidupan yang menyenangkan, tidak serta merta di dapat begitu saja dengan mudah, melainkan ada harga yang harus dibayar.
Tiba-tiba ponselnya berdering, membuatnya sukses membuka matanya kembali dan refleks ia mengambil benda pipih itu dari dalam tasnya. Matanya terbuka lebar ketika ia melihat ID ponsel yang ada di layar teleponnya. Itu adalah Junda, saat itu juga Relina mematikan telepon genggamnya. Akan tetapi, suasana hatinya menjadi aneh, begitu ia selesai mematikan telepon, hatinya menjadi sakit.
“Untuk apa lagi dia menghubungiku, aku tidak mau kembali bekerja padanya!” Relina berbicara dengan dirinya sendiri.
Dia berniat memutuskan hubungannya dengan Junda, untuk menghukumnya, tapi anehnya hatinya sendirilah yang terasa sakit karenanya.
‘Oh, Tuhan ... kenapa aku ini?’
Hampir dua jam waktu yang digunakan untuk berlayar menyeberangi Selat Sunda. Akhirnya Relina, menjejakkan kaki di pulau Sumatera atau tepatnya di ujung pulau yaitu Lampung Selatan di mana pelabuhan Bakauheni berada.
__ADS_1
Dari sana, dia menggunakan bus antar kota lagi menuju ke terminal terbesar di Provinsi Lampung, Rajabasa. Dari terminal ini, Relina hanya membutuhkan waktu dua jam saja untuk sampai ke kampung halamannya.
Setelah dua jam berlalu Rina pun berhasil menemukan bus yang akan membawanya ke kampung halamannya yaitu di Tanggamus. Kampungnya terletak di lereng gunung yang cantik itu.
Dahulu saat masih sekolah, dia sering sekali pergi mendaki gunung itu bersama teman-temannya. Seiring perkembangan zaman, kini lereng-lereng gunung, sudah dipenuhi oleh perkebunan. Tanggamus terlihat gersang hutannha sudah dijarah oleh manusia dan para petani yang membuka lahan untuk perkebunan.
Lebih dari dua jam juga Akhirnya sampai di kampung halamannya. Kedua orang tuanya pun menyambutnya dengan sukacita tetapi selain sambutan tentu saja pertanyaan yang datang bertubi-tubi. Relina memaklumi dirinya sendiri karena dia pulang disaat yang tidak biasanya. Setahun yang lalu, Relina dan Ane akan pulang di saat hari raya tapi sekarang ini adalah waktu yang tidak biasa.
“Jadi kamu sudah menengok Pamanmu?” seperti itu kata Reni saat mengomentari perjalanan hidup Relina setelah di pecat dari pekerjaannya.
Dua wanita beda generasi itu duduk berdua di ruang tamu. Ayahnya belum kembali dari berdagang, sedangkan Royani, adik lelakinya pergi dengan teman-temannya, tidak tahu kedatangan kakaknya.
“Kenapa kamu gak bilang sama Ibu?”
“Saya gak mau Ibuk kepikiran sama Reli.”
“Kamu ini. Terus kamu anggap apa Ibumu kalau gak mau terus terang dengan masalahmu.”
Relina memiliki Ane, dialah tempatnya berkeluh kesah selama ini. Walaupun ibun dan keluarganya adalah orang-orang yang hangat, dia tetap saja tidak mau menyusahkan mereka.
Relina akhirnya berpikir positif bahwa keputusannya untuk tidak berterus terang dengan ibunya atas apa yang dialaminya, menjadikan dia memiliki pengalaman yang bagus. Dia mengambil keputusan sendiri untuk bekerja di tempat Danu dan ternyata bisa menjadi jalan terbaik karena dengan begitu, Relina bisa banyak belajar tentang kopi dan sekarang bisa membantu paman yang itu untuk memulai usahanya kembali.
“Maafkan, Saya, Buk. Bukanya saya nggak mau jujur sama Ibuk, tapi selama Relina masih mampu mengatasinya sendiri, rasanya nggak tega nambahin beban pikiran Ibuk.”
“Kamu ini ngomong apa?” Renita memeluk anaknya lembut penuh kerinduan.
Bersambung
__ADS_1