
Tiba-tiba Junda menarik tangan Relina dan membawanya masuk ke mobil. Ia merasa risih karena banyak orang yang melihat dan mencuri dengar, tentang apa yang dibicarakannya dengan Relina.
"Lepas!" kata Relina berusaha melepaskan genggaman tangan Junda.
"Aku mau bicara!" Kata Junda tanpa melepas pegangan tangannya.
“Apa yang kau lakukan!” kata Relina saat ia dipaksa masuk dan Junda menutup pintu mobilnya. Mereka duduk berdampingan di kursi belakang.
“Menurutmu, apa yang bisa aku dan kamu lakukan di sini? Tidak ada seorang pun yang melihat kita.” Selesai berkata, Junda meraih dagu Relina dan dengan cepat mencium bibirnya.
Relina mengelak sekuat tenaga dan tangannya memukul bahu dan punggung Junda. Namun ciuman laki-laki itu semakin dalam.
Junda melepaskan ciuman. Lalu berkata, sambil meraih tangan Relina. “Diam, aku tidak akan melakukan lebih dari ini. Kau sedang datang bulan, kan?”
Mendengar itu, Relina berusaha melepaskan tangannya dan ingin menampar Junda. Itu ciuman kedua mereka dan lebih dari dua detik!
“Kau ...! Kurang ajar!” Relina berteriak, tapi percuma karena tidak ada yang mendengar. Junda tertawa lepas.
“Kurang ajar, katamu? Bukannya kamu sudah sering melakukannya dengan pria mana saja?”
“Aku bukan perempuan seperti itu!”
Junda kembali tertawa, sambil melepaskan tangan Relina dari cengkeramannya. Ia mengambil segepok uang yang masih tersegel dan memberikannya pada Relina.
“Nih, aku bayar untuk ciuman tadi. Apa masih kurang?” Junda berkata sambil menggerakkan alisnya naik turun sementara bibirnya menyeriangai genit, tapi ...
Plak!
Sebuah tamparan keras mengenai pipi Junda, yang membuat laki-laki itu mendelik dan berkata dengan suara rendah yang menekan.
“Kau berani menamparku?” katanya sambil mencengkeram bahu Relina keras.
“Sudah aku bilang, aku bukan perempuan rendah!” gadis itu berkata sambil mendorong Junda sekuat tenaga.
Relina berusaha membuka pintu mobil tapi tidak bisa, ia tahu itu kunci otomatis yang hanya bisa dikendalikan dari ruang kemudi saja.
‘Sialan!’
“Kau tidak bisa lari dariku, kupu-kupu malam ....” kata Junda kembali terkekeh. “Aku sudah membayarmu ...” Junda mengejek Relina yang tidak berdaya.
Gadis itu menoleh, menatap Junda lekat, air mata sudah menetes dipelupuknya yang berbulu lentik. Bulu matanya seperti kipas yang apabila ia berdandan tidak harus memakai maskara.
Junda terenyak, refleks dia memundurkan tubuhnya melihat Relina menangis, tiba-tiba hatinya menjadi trenyuh dan merasa bersalah.
“Saya pikir Pak Junda adalah pria terhormat yang menghargai wanita seperti menghargai ibu dan neneknya. Saya tidak pernah sedikit pun berbuat buruk pada Anda setiap kali bertemu.” Relina diam sejenak, begitu pula Junda yang tersihir oleh kalimatnya.
‘Ibu, Nenek. Sebenarnya iya ya. Dia tidak ...’
“Ternyata saya salah, Anda bahkan tidak menghormati privasi orang yang seharusnya Anda jauhi karena saya bagi Anda adalah pembawa sial.”
Relina mengatubkan kedua tangannya di depan dada, lalu kembali berkata, “saya mohon, maafkan saya atas semua nasib sial Anda, setiap kali bertemu saya dan ciuman tadi, saya anggap itu adalah balasan yang setimpal.”
__ADS_1
Relina berbalik ingin membuka pintu mobil, “tolong buka pintunya! Lepaskan saya!” katanya, tapi tidak ada jawaban. Dia kembali berkata, “saya bersama teman di hotel itu, dia orang Jakarta yang memang kaya, jadi bukan dengan lelaki seperti yang Anda kira.”
Junda membungkuk dan melangkah ke kursi kemudi, sambil berkata, “ambil uang itu, aku sengaja menyiapkannya buat kamu!”
Relina tidak menjawab, ia turun sambil membawa uang yang telah diberikan padanya, lalu membuka segel dan menghamburkannya di dalam mobil Junda hingga uang itu berserakan di dalamnya.
“Gak perlu. Anggap aja kita impas.” Relina berkata sambil tertawa kecil dan pergi. Junda mengepalkan tangannya.
‘Dasar perempuan tidak waras!’
Pria itu memacu mobilnya kembali, dengan bersungut-sungut. Berharap tidak pernah bertemu lagi dengan wanita yang ia anggap murahan. Relina sudah menjelaskanbuka, tapi tetap bermakna ambigu bagi Junda. Antara benar-benar dia seorang penghibur atau bukan.
Relina berjalan di Jembatan Mereh Bogor sambil berswa foto, membuat beberapa momen dan mengisi hari terakhirnya di Bogor dengan berjalan kaki.
Dulu kata orang jembatan itu indah juga angker, tapi sekarang yang terlihat di pagi hari seperti sekarang hanyalah kemacetan.
“Mau berapa, Neng?” kata penjual makanan yang dibeli oleh Relina, ia mencicipi makanan yang memang belum pernah ia makan sebelumnya. Ia pikir makanan itu merupakan ciri khas kampung tempat kostnya.
“Lima ribu saja, Mang,” katanya, sambil menyodorkan selembar uang lima ribuan. Saat itu mereka berada di sisi jalan, tak jauh dari jembatan.
Relina menikmati kuliner khas Jawa Barat, terutama di Bogor yang sangat beraneka ragam, bahkan sekarang beberapa makanan khas Jawa Barat, sudah bisa dinikmati di berbagai pulau lain di negeri ini.
Selain mencicipi, Relina juga membeli beberapa makanan lain sebagai oleh-oleh untuk dibawa ke Jakarta. Ia berencana pergi siang atau sore nanti. Sekarang, ia berniat membuat kenangan seindah mungkin sebelum ia meninggalkan kota yang pernah memberinya pengalaman berharga.
Ia melihat-lihat hasil jepretan kamera dan diunggah pada laman momen media sosialnya. Semua berlatar belakang Jembatan Merah, jembatan yang melintas di atas sungai Cipakancilan dan menghubungkan jalan Kapten Muslihat Merdeka dan Panaragan.
Salah satu orang yang pernah berekreasi di jembatan Merah Bogor adalah gubernur Hindia Belanda, Jenderal Gustaff Willem Baron Van Inhof yang berkedudukan di istana Bogor waktu itu.
“Dulu mah jembatan ini bagus, tidak macet, seperti sekarang.” kata pria penjaja makanan kecil yang tadi di beli Relina.
“Iya, Mang. Katanya begitu, ini cuma buat kenang-kenangan sebelum pergi.”
“Memangnya Neng mau ke mana, atuh?” kata penjaja makanan itu dengan logat bahasa daerahnya yang kental.
“Mau ke Jakarta, Mang.” Relina menjawab sambil menikmati cilok, salah satu makanan khas masyarakat Jawa Barat.
“Kenapa ke Jakarta? Di sana mah, macet, panas, padat lagi orangnya, sering banjir, mending di sini.”
“Kalau banjir mah di sini juga ada, Mang. Di tempat kost saya juga pernah kebanjiraa.”
“Ya, tapi tidak separah di Jakarta.”
Iya juga sih, batin Relina, tapi ia hanya tersenyum menanggapi ocehan si penjual makanan.
Setelah puas berswa foto Relina melanjutkan kembali langkahnya, untuk pulang dan membawa oleh-oleh yang akan Ia berikan untuk paman di Jakarta. Ia membeli kripik talas dan bolu talas serta talas Bogor. Semua ia kemas dalam sebuah tas besarnya.
Relina sekali lagi membidikkan kamera ke dirinya dengan latar belakang jembatan Merah, yang sungguh berbeda dengan jembatan Merah di Surabaya
Bedanya, jembatan Merah Bogor hanya merupakan tempat rekreasi dan berfungsi sebagai penghubung biasa. Berbeda dengan jembatan Merah Surabaya yang penuh dengan saksi sejarah.
__ADS_1
“Jembatan ini adalah saksi sejarah juga bagi hidupku” tulis Relina pada laman momennya.
Jembatan Merah Surabaya, yang berada di jalan Kembang dan menjadi jalan utama perdagangan di masa Belanda, dibangun atas kesepakatan antara Pakubuwana Mataram dan VOC pada 11 November 1743. Jembatan itu menghubungkan antara Kalimas dan gedung Resident, akses yang sangat penting yang menjadi penyerangan pada 10 November 1945. Jembatan merah di Surabaya adalah saksi melawan sekutu yang hendak kembali merebut Indonesia.
Ada banyak jembatan fenomenal lain, yang juga menjadikan warna merah sebagai ciri khas nya. Antara lain seperti jembatan yang melintas di Selat Bosphorus atau Golden Gate di San Francisco.
Relina kembali ke tempat kost untuk mengemasi barang-barang yang masih tersisa dan di masukkannya ke koper besar. Setelah selesai, Ia menelpon Ane sambil berjalan keluar, dengan menarik satu koper besar dan sebuah tas yang ia bawa secara bertumpuk.
“Aku berangkat hari ini. Kamu baik-baik ya di sini, jangan ganggu papa Alex lagi!” Relina berkelakar pada sahabatnya begitu ponsel tersambung.
“Gak bisa, sekarang saja Alex masih sama aku,” kata Ane di ujung telepon.
“Masa, terus gimana kerjaan kamu?”
“Kata Pak Junda, biarin saja. Aku lebih baik ngasuh ponakannya.”
“Wah, jadi baby sitter dong sekarang.” Relina berkata sambil tertawa.
Ane kemudian bercerita bahwa ia diminta untuk mengasuh Alex karena ada urusan mendadak yang harus diselesaikan oleh kedua laki-laki bersaudara itu. Ia tidak dapat menolak karena sama saja itu adalah perintah dari atasan.
“Semoga saja kalian berjodoh, Pak Dion ganteng, kok,” kata Relina masih sambil tertawa.
“Hus! Siapa tahu dia punya istri.”
“Kalau punya istri kenapa anaknya di bawa-bawa?” Relina tidak bisa melihat wajah Ane yang sekarang terlihat sangat merah karena malu.
Setelah saling mengucapkan do’a dan harapan, serta memberi pesan, mereka mengakhiri panggilan.
Relina menunggu Bus yang akan membawanya ke Jakarta, ia duduk di halte bus sambil melihat-lihat layar ponsel. Ia tidak harus pergi ke terminal karena banyak bus yang melintas di jalan raya yang tidak jauh dari rumah kostnya.
Setelah beberapa lama, sebuah mobil sedan putih berhenti di depannya. Seseorang memanggil namanya begitu jendela terbuka. Relina menoleh dan berteriak girang, sambil berdiri mendekati jendela mobil.
“Kak Gun!”
Tiba-tiba Relina menjadi kaku karena Gunara tidak sendiri. Ada seorang pria yang ia kenal beberapa hari yang lalu, sebagai manajernya.
“Eh, Pak Fuad. Apa kabar, Pak?” Relina berkata dengan gugup dan menundukkan kepalanya.
“Baik. Kamu mau ke mana?” Fuad bertanya sambil keluar mobil, begitu pula dengan Gunara. Laki-laki yang pernah di sukai Relina itu berdiri sejajar dengan Fuad.
‘’Kenapa mereka bisa barengan begini, apa mereka ada hubungan keluarga atau hanya, teman?’
“Saya mau ke Jakarta, Pak.”
“Kenapa ke Jakarta, ada kerjaan di sana? Padahal saya mau nawarin kamu, jadi asisten saya,” sahut Gunara sambil menyelipkan tangannya di saku celana panjangnya.
Sementara Fuad menatap Relina penuh selidik. Ia mendekatinya, lalu memegang gantungan kunci berbentuk gitar yang sengaja ia gantungkan di tas kecilnya. Ia mendapatkannya dari Icha.
"Dari mana kamu dapet gantungan ini?" Fuad bertanya dengan rasa penasaran penuh.
Bersambung
__ADS_1