Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Obati Lukamu


__ADS_3

Relina melihat Junda yang menatapnya sekilas, rasa khawatir terlihat jelas dari wajahnya yang memperlihatkan rahang yang mengeras.


“Iya,” Relina menjawab gugup, sambil menegakkan tubuhnya kembali lalu diam menyaksikan bagaimana Junda setelah mematahkan pergelangan tangan lelaki botak, lalu melangkah ke belakang dan membuat tangan lelaki itu dalam keadaan terpelintir ke belakang punggungnya sendiri.


“Cepat, obati lukamu!” Kata Junda dari balik tubuh pria botak sambil memegang erat kedua tangannya, mendorong ke luar kedai.


“Bereskan dia!” kata Junda pada Raka,  asisten dan sopir yang menemaninya. Pria itu sudah memiliki ketrampilan khusus sebagai pegawai yang siap guna dalam keadaan apa pun juga.


Biasanya orang-orang seperti ini mempunyai komunitas sendiri dan akan bekerja sesuai kontrak dengan orang yang akan menggunakan jasanya. Paling kecil tugas-tugas mereka hanya sebagai debtcolector, selain itu mereka mampu mengerjakan tugas lain seperti Raka, yang kali ini menjadi pengawal Junda.


Setelah melumpuhkan pria mabuk itu, Raka mengikatnya dan melaporkan pada pihak berwajib atas kekacauan yang telah dibuatnya.


Sementara Junda menunggu Relina dengan gelisah di luar kamar mandi. Dia segera pergi ke kamar, mengambil pakaian ganti, begitu Junda berhasil mencegah pria itu menyakiti dirinya. Kini dia di dalam kamar mandi, tengah membersihkan diri dari tumpahan kopi sebelum mengobati lukanya.


“Kamu harus mengguyur lukamu dengan air mengalir sampai terasa dingin, oke?!” teriaknya. Dia terkesan seperti seorang ibu yang cerewet dan memperhatikan anaknya.


Tidak terdengar jawaban dari dalam, hanya suara gemercik air dari luar kamar mandi. Sementara Junda sudah membawa kotak pertolongan pertama yang diambil dari mobilnya. Ada beberapa obat yang bisa digunakan untuk mengobati luka bakar, seperti salep dan kain kasa.


Ali dan Lia terus melakukan aktivitas seperti biasanya dan melayani beberapa pelanggan yang berdatangan setelah suasana kembali tenang. Sesekali saja mereka melirik Junda yang masih gelisah mondar-mandir di dekat kamar mandi. Dalam hati mereka bertanya-tanya, siapa pria yang sudah membantu Relina dan mengatasi masalah mereka.


Junda tidak memakai pakaian formal, dia memakai kaus premium dan celana jeans hitam yang melekat dengan sangat pas di badannya. Dia terkesan santai namun tetap memancarkan kewibawaannya.


Relina membuka pintu kamar mandi setelah cukup lama dan sudah mengganti pakaiannya. Setelah itu dia berhadapan dengan Junda yang menatapnya penuh dengan pertanyaan di matanya.


“Kamu baik-baik saja?” tanyanya. Relina pun mengangguk.


“Apa lukamu sudah diobati?”


“Belum ... Lia, ayo bantu aku dulu!” kata Relina, sambil melirik Lia yang sebenarnya masih sibuk mencuci gelas.


Junda memberikan kotak obat ke tangan Relina dan berkata, “Pakai salep yang ada di sini, itu obat luar untuk luka serba guna.” Mendengar ucapan Junda, Relina mengangguk dan menerima kotak itu dengan hati-hati.

__ADS_1


“Baik, Bu,” kata Lia sambil mencuci tangannya di wastafel. Kemudian dua wanita itu naik ke lantai atas.


Dalam otak Relina terus berpikir, tentang Junda, bagaimana dia bisa tiba tepat waktu dan membantunya? Entah bagaimana nasibnya bila tidak ada Junda saat itu, mungkin dia hanya akan menjadi bulan-bulanan pria mabuk dan pria tidak waras yang menertawakan dirinya. Setelah Junda datang, pria yang hanya menonton tanpa membantu itu pergi begitu saja tanpa banyak bicara.


Junda berinisiatif untuk membantu Relina, dia menggantikan pekerjaan Lia dengan malanjutkan mencuci piring dan gelas, sampai selesai. Akan tetapi sepertinya tidak akan selesai begitu saja, sebab gelas yang kotor terus berdatangan setelah beberapa pengunjung kafe kopi itu pergi satu persatu.


Di kamarnya, Relina sudah hampir selesai mengolesi tubuhnya yang terkena tumpahan kopi panas, dibantu oleh Lia.


“Bu, sepertinya harus ke dokter deh, banyak yang memar juga di punggung sama pundak. Bukan Cuma karena air panas,” kata Lia. Sambil menutup kembali baju Relina dari arah punggung.


“Hanya memar, mungkin dua atau tiga hari sembuh, kok,” sahut Relina dengan percaya diri bahwa semua akan baik-baik saja.


“Tapi, Bu ... tadi ibu jatuh kena tembok juga.”


“Sudah, sudah ... aku nggak apa-apa. Ayo lanjutin kerjanya sana. Aku istirahat dulu ya, biar cepat sembuh.”


“Iya. Bu. Biar saya sama Ali saja yang kerja,” sahut Lia sambil tersenyum dan turun kembali melanjutkan pekerjaannya.


Sesampainya di bawah, Lia heran karena semua gelas kotor sudah tidak ada lagi. Dia pun bertanya dan ketika Ali menjelaskannya, bahwa Junda yang sudah mencucinya, wanita itu hanya bisa mengedikkan bahunya, sambil melirik Junda yang kini duduk manis menikmati secangkir kopi dengan laptop yang menyala, di atas meja.


Tak terasa sudah waktunya makan siang tiba, Junda berniat mengajak Relina makan siang di sebuah restoran di Palembang. Agak jauh memang, tapi semua ia rencanakan sebelum ada insiden pemukulan. Dia ingin membicarakan kepentingannya dengan Relina. Akan tetapi sekarang tidak mungkin lagi, karena Relina masih istirahat dan dia pasti menolaknya lagi.


Akhirnya Junda mengakhiri pertemuan onlinenya, lalu pergi mencari makanan dan melakukan take away untuk semua termasuk pegawai kafe.


Begitu gembiranya Lia dan Ali menerima kebaikan Junda. Biasanya mereka harus pergi mencari makan siang dan istirahat secara bergantian, mengingat kafe sederhana itu tidak bisa mereka tinggal kan begitu saja.


“Apa Relina tidur?” Junda bertanya dengan suara perlahan pada Lia, gadis itu mengangguk sambil melirik ke kamar atas di mana Relina berada.


“Seberapa parah lukanya tadi?” Junda bertanya lagi.


“Menurut saya cukup parah, Pak.”

__ADS_1


 Lalu Lia menceritakan secara detail bagaimana luka-luka di tubuh Relina, membuat pria itu mengernyit. Tentang bagaimana kejadian awalnya, dia sudah mendengar secara lengkap dari Ali, yang juga menceritakan secara detail sebelum kedatangan Junda.


Sebenarnya Junda berniat melakukan rapat terlebih dahulu sebelum menemui Relina, untuk menyelesaikan urusannya. Akan tetapi entah mengapa dia tiba-tiba membatalkan rapat di pagi hari dan meminta Raka, yang sudah menunggunya di luar hotel segera pergi ke kedai kopi.


Saat Junda datang dan turun dari mobilnya, dia mendengar keributan dari dalam kafe. Dia segera masuk dan pemandangan yang dia lihat sangat mengenaskan, di mana baju Relina basah penuh dengan noda kopi.


Sementara seorang pria bertubuh tinggi besar berada di atasnya bersiap memukul Relina. Dia tidak tahu kalau Relina sebelum itu dibanting dengan sangat kuat oleh pria itu, seandainya dia tahu apa yang sudah dilakukan pria botak sebelum dibawa polisi, mungkin Junda akan menghabisinya saat itu juga.


“Aku akan membawakan makan siangnya,” kata Junda sambil membawa kotak makanan bagian Relina. Lia mengangguk cepat dengan senyum manis di bibirnya. Dia tidak tahu apa hubungannya antara Junda dengan Ibu Bosnya, tetapi melihat reaksi Relina saat melihat Junda dan tidak bertanya apa pun pada pria itu, Lia pun menyimpulkan kemungkinan mereka berdua sudah saling mengenal.


“Baik, Pak. Silakan.”


Junda menaiki tangga besi yang melingkar dengan perlahan. Bangunan itu merupakan bangunan modern yang didesain praktis, terkesan luas namun sama antara satu ruko dengan ruko lainnya.


Bangunan itu milik Danu yang dia beli saat memulai usaha pertamanya. Martapura adalah kampung halaman istrinya dan dua pegawai yang membantu Relina merupakan tetangga di dekat rumah Bibinya.


Sampai di kamar Relina, Junda tertegun, dia melihat gadis itu meringkuk di atas kasur busa, yang hanya cukup untuk satu orang saja. Kamar itu bersih dan rapi, tidak banyak perabotan yang melengkapi melainkan hanya sebuah lemari, dua buah meja kecil dan sebuah laci.


Junda duduk dengan perlahan di sampingnya, meletakkan makanan di lantai dan mengulurkan tangan untuk menyentuh kepalanya. Hanya untuk melihat apakah tubuhnya demam atau tidak. Namun belum sampai di dahinya, Relina membuka mata dan menoleh.


“Apa yang kamu lakukan?”


“Tidak ada,” Junda menjawab sambil menarik tangannya kembali dan menyodorkan makanan. “Ini, makanlah dulu. Baru lanjutkan istirahatmu.”


“Iya, terima kasih. Tidak perlu perhatian padaku. Apa kamu nggak punya pekerjaan lain? Kenapa masih di sini?”


Junda memalingkan wajahnya sambil tersenyum miris menertawakan dirinya sendiri. Perhatian seperti itu mungkin tidak akan berarti bagi orang yang membenci.


Bersambung


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2