Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Antara Dua Pilihan


__ADS_3

Relina berjalan ke luar rumah kost dan melihat mobil terparkir di halamanya, di sisi jalan dengan pintu yang sudah terbuka. Tiba-tiba rasa muak menekan ulu hatinya, manakala matanya disuguhi pemandangan wajah Junda yang tersenyum.


Pria itu sudah berdiri di samping mobil menunggunya. Sedangkan Relina berjalan dan berdiri di sisi jalan, memalingkan wajahnya, cuek. Menganggap Junda tidak ada.


Saat itu Junda yang memakai pakaian rapi, meski tanpa setelan jasnya. Ia hanya memakai pakaian resmi itu bila ada pertemuan penting saja. Pria itu tetap tersenyum walau jelas-jelas Relina mengabaikannya.


Sedangkan Relina tampil rapi dengan rambut yang ia ikat di belakang lehernya. Tanpa sengaja ia memakai pakaian yang senada dengan Junda.


Mereka sama-sama memakai kemeja lengan panjang warna biru muda. Relina memadupadankan dengan rok Maxi yang menutupi betisnya, sedangkan Junda memadunya dengan celana bahan dengan warna yang sama, warna navi.


'Hais, kenapa juga aku tadi pake baju ini, si? Jadi kompak begini. Ck!'


Relina tersenyum geli pada dirinya sendiri sambil memalingkan muka. Heran. Bagaimana bisa mereka seperti orang yang kompak.


Sebenarnya, Relina bukan membenci Junda, hanya saja tidak ada kesan baik yang membekas padanya. Wanita itu mengenalnya sebagai atasan yang memecatnya tanpa alasan yang masuk akal. Kemudian beberapa kali mereka bertemu dalam keadaan yang kacau, bahkan hampir membuat salah satu dari mereka mati.


Lalu sekarang, laki-laki itu, berbuat semaunya sendiri, seolah-olah mereka berdua sudah menjadi teman dekat dan akrab begitu lama. Bagi Relina, yang ada di antara mereka hanyalah satu hubungan seperti minyak dan air, tidak akan pernah bisa bersatu. Apalagi perbuatan Junda saat ini, adalah sikap yang justru membuat Relina lebih kesal lagi.


"Ayo masuk." katanya sambil memegangi pintu mobi yang sudah terbukal. "Sekarang sudah jam tujuh, kan?"


'Hei, gak usah sok akrab. Kita ini gak punya hubungan apa-apa. Menyebalkan!'


"Maaf, Pak. Sebelumnya saya sudah punya janji dengan orang lain." Relina mencoba sopan, walaupun hatinya kesal.


"Kamu janji sama Gunara bukan?"


'Eh, dari mana dia bisa tahu?'


"Iya, Bapak benar." Relina berkata jujur dan terus terang berharap agar Junda cepat pergi dan berhenti menawarkan jasa untuk mengantarkannya bekerja.


"Oh, ikut aku saja, mobilku lebih bagus dari mobilnya."


'Hais, bukan karena itu. Sombong'


"Maaf, Pak, tapi saya tidak bisa."

__ADS_1


Junda berjalan mendekati Relina dan sekarang dia menarik bahu gadis itu sehingga badannya setengah berputar menghadapnya. Pria itu menatapnya lekat-lekat. Wajah gadis itu selalu hadir di otaknya akhir-akhir ini dan membuatnya gelisah setengah mati.


Ia mendapat sebuah dilema, antara menjerat hingga Relina jatuh cinta, atau membiarkan gadis itu pergi seperti mereka tidak pernah kenal sama sekali. Namun, sepertinya pilihan yang diambilnya adalah membuat gadis itu menyukainya.


"Oh, jadi begitu, kamu berani menantangku?"


"Sebenarnya apa sih maksud Bapak? Saya enggak pernah nantangin Bapak, saya nggak pernah minta Bapak nganterin saya, saya cuman bilang kalau saya sudah punya janji sebelumnya!"


"Memangnya kenapa kalau aku nganterin, kamu nggak mau, kamu nolak aku?"


'Iya, memangnya kenapa? suka-suka akulah'


"Saya tidak mau dan saya minta maaf karena menolak Bapak." Relina kembali bersikap sopan.


"Tujuan kita sama, aku juga mau ke kantormu. Kau pikir aku tidak tahu kamu kerja di mana?"


Junda akan pergi ke perusahaan Gunara karena adanya satu hal yang harus dibahas, dalam kerjasama mereka.


'Terserah mau tahu atau tidak'


Disaat yang bersamaan sebuah mobil pun datang mendekat dan parkir tepat di belakang mobil Junda. Tak lama pintu mobil terbuka dan Gunara keluar dari dalamnya dengan tersenyum khas pada Relina. Senyum manis inilah yang selalu dirindukan Relina, dulu dan sampai hari ini.


Sambil mendekat, pria itu berkata dengan lembut.


"Ayo! Sudah lama menunggu, ya?" tanya Gunara sambil melihat jam dipergelangan tangannya.


Relina tersenyum dan menyahut, "belum lama," lalu ia melangkah mendekati mobil Gunara. Namun, saat itu juga tangannya ditarik oleh Junda, laki-laki itu melirik Gunara sambil berkata, "Dia sudah janji, mau pergi ke kantor denganku."


'Eh. Enak saja nih orang bilang begitu. Siapa yang janji sama kamu, si?


Mendengar hal itu Gunara mengerutkan alis. Laki-laki itu pun berkata, "benarkah kenapa kau tidak bilang kalau punya janji dengan Pak Junda?"


Relina menggelengkan kepalanya cepat, sambil


melambai-lambaikan tangannya.

__ADS_1


'Hei dia bohong, apa aku harus mengatakan, bagimana laki-laki di bersikap padaku selama ini? Enak saja bilang begitu!'


"Bukan ... maaf Kak. Ini hanya salah paham." Relina berkata sambil menepis tangan Junda dari pergelangan tangannya.


Mereka tidak sadar bila sudah berpegangan tangan selama beberapa saat lamanya.


"Salah faham apanya, kemarin kamu juga gak bilang kalau ada janji dengan Gunara, iya, kan?"


'Nanti dulu ... apa maksudnya ini, dia membuat aku seperti wanita pemain, hei apa kamu gila?'


"Kak, itu semua bohong, bisa kita pergi sekarang, nanti aku cerita di mobil." Relina berkata sambil melangkah dan mengabaikan Junda.


Kesal sekali rasanya dengan mantan bosnya ini.


"Ya, sudah. Kalau begitu, ayo!" Kata Gunara sambil membukakan pintu mobil untuk Relina. Gadis itu masuk dengan anggun dan dengan gaya kesederhanaannya, Relina tersenyum tipis pada laki-laki yang kini diam tidak bisa berbuat apa-apa padanya.


'Ancamanmu seperti pepesan kosong, Pak!'


Dia memang gadis yang berpenampilan biasa saja, semuanya, dari wajah rambut, tubuhnya, gaya bicara dan dia tidak terlihat sangat cerdas ... biasa saja.


Akan tetapi, justru dari hal sederhana itu yang membuat Junda selalu bertanya-tanya, lalu memikirkannya dan sekarang justru ingatan tentang kepribadian Relina itu, melekat di kepalanya.


Ketika tangan Junda terlepas dari tangan Relina ia merasakan hampa dan kemudian tangannya yang kosong, hanya bisa mengepal dengan kuat sampai terlihat buku jadinya yang memutih.


Pria itu melihat kepergian Relina menaiki mobil Gunara dengan raut wajah masam. Apakah ia kini cemburu, ia tidak tahu, yang ia tahu saat ini hatinya tidak rela gadis itu pergi.


'Entah perasaan apa ini?'


Junda sudah sering memiliki pacar wanita cantik dari berbagai kalangan, yang menyenangkan hatinya, tapi ia tidak merasakan hatinya diporak-porandakan seperti ini. Beberapa hari setelah ia memecat Relina, dari pekerjaannya, laki-laki itu selalu bermimpi aneh. Mimpinya menggambarkan Relina yang menangis, lalu berlari sambil memanggil namanya berulang kali.


Ia tidak tahu makna mimpi itu, ia juga tidak ingin membicarakannya dengan Nenek, sebab wanita tua yang sangat percaya tentang semua hal mitos di dunia itu, pasti akan mengatakan hal-hal aneh lagi.


Sebenarnya Junda bersikap antara percaya dan tidak percaya dengan semua hal yang dikatakan Shasi, tapi tentang Relina kali ini berbeda, ia tidak perduli dengan kebenaran mitos itu lagi. Ia ingin membuat Relina jatuh hati seperti para wanita yang sudah lebih dulu jatuh cinta padanya dan setelah puas ia akan memutuskan hubungan begitu saja.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2