
Saat di dalam mobil Relina diam saja, sedang Gunara berulang kali meliriknya, ia senang bisa bersama sahabat yang dicintainya. Dulu ia pernah menyukainya, sekarang pun masih sama, tapi keadaan memaksa mereka berpisah, mereka tidak saling memberi kabar sampai wisuda usai.
Ia punya niat ingin mengutarakan perasaan saat Relina menyelesaikan kuliahnya, berharap gadis itu punya perasaan yang sama padanya. Namun, nyatanya ia tidak pernah bertemu lagi sejak semester terakhirnya.
Jalan takdir yang tidak pernah bisa ditebak, siapa yang menduga akan bertemu lagi dengan Relina di kota ini. Gunara pun berjanji pada dirinya sendiri, akan lebih banyak menghabiskan waktu bersamanya, seperti sekarang, mengatarkan Relina ke kantor adalah sebuah kebahagiaan baginya.
"Apa agendamu hari ini?" Tanya Gunara pada Relina tanpa melihat ke samping dan fokus mengemudi. Gadis itu terlihat sangat gugup. Ia merasa bersalah pada Gunara dan khawatir akan terjadi salah faham antara dirinya, Gunara dan Junda.
"Rapat dengan Pimpinan," Relina berkata dengan cepat.
"Siapa atasanmu, siapa tahu aku kenal," Tanya Gunara lagi.
"Pak Fuad, dia manager dikantor, aku asistennya."
"Oh ya? Kudengar asisitennya meninggal."
"Iya."
"Aku tahu dia baik, kau beruntung."
"Dari mana, Kak Gun, bisa tahu?" Relina heran, ia berkata sambil menghadap Gunara.
"Aku kebetulan kenal mereka." Pria itu berkata sambil tersenyum ramah padanya.
Melihat Gunara tersenyum ramah, bagi Relina seperti anugrah yang menyejukkan. Namun sikap Gunara yang seperti ini justru membuat Relina semakin merasa bersalah.
Ia bekerja di rantau orang, dengan pengalaman yang sulit, ia tidak ingin terlibat masalah pribadi dengan siapa pun. Apalagi soal cinta, ia sebisa mungkin menghindarinya, agar hidupnya tidak semakin rumit.
Ketika ia masih kuliah dan tidak lagi mendapatkan kabar tentang Gunara, ia benar-benar kecewa, tapi ia berusaha melupakannya, menyimpan harapannya pada jejak pelangi yang hilang.
Kemudian ia merantau, tidak menduga akan bertemu lagi dengan Gunara. Ia sudah melupakannya, tapi siapa yang menduga takdir menyeretnya hingga sejauh ini hanya untuk melihatnya, di saat ia sudah tidak berharap lagi.
Perjuangan untuk sampai di tempat ini tidak mudah hingga ia memiliki niat untuk menikah, bila ia sudah bisa membahagiakan ibunya.
Ibunya seorang guru sekolah dasar yang sudah lama mengajar di sekolah dekat rumah mereka di desa, sedang ayahnya hanyalah seorang satpam. Dia bersekolah di tempat ibunya mengajar. Perjuangan ibu dan ayahnya itulah yang membuat Relina bertekad menjadi orang yang sukses dalam bekerja.
__ADS_1
Ia tidak akan mengecewakan kedua orang tuanya, terutama ibunya, ia ingat betul nasehat ibunya saat ia berangkat merantau mengadu nasib di kota besar.
"Jangan pacaran, cari jodoh itu kalau sudah sukses," Kata ibunya waktu itu.
Ayahnya pun tidak mau kalah memberi petuah, "jaga nama baik orang tuamu, sama saja kamu menjaga nama baik dirimu sendiri. Kalau kamu sukses, laki-laki mana pun pasti mau sama kamu, tinggal pilih saja mana yang paling kamu senangi."
Tak terasa hampir setengah jam perjalanan, akhirnya sampailah mereka di halaman gedung tempat Relina bekerja.
"Sudah sampai, kita tepat waktu! Jadi gak terlambat," kata Gunara sambil menepikan mobilnya di bahu jalan.
"Kak Gun juga mau kerja. Pasti jadi bos ya?" Tanya Relina sambil membuka pintu mobil. Gunara belum membicarakan apa pun tentang pekerjaannya.
"Memang kenapa kalau jadi Bos?"
"Bisa datang semaunya. Eh, aku cuma nebak aja si, soalnya baju Kakak resmi banget!"
Gunara hanya tersenyum menanggapi ocehan Relina. Setelah gadis itu turun, laki-laki itu kembali mengendarai mobilnya kembali.
Sesampainya di kantor, Relina langsung menyiapkan segala sesuatu yang di minta oleh Fuad untuk di pelajari dan di bawa ke ruangan rapat. Gadis itu dengan teliti membaca satu demi satu materi yang akan di bicarakan dengan atasannya saat rapat nanti.
Gadis itu berinisiatif untuk mengatasi kegugupannya, dengan membuat secangkir kopi. Setelah itu menikmati sambil melanjutkan pekerjaannya, mengingat kandungan kafein yang terdapat pada kopi bisa bermanfaat untuk saat-saat seperti ini.
Manfaat kopi dengan kafein rendah, bisa mengurangi stress, kantuk dan memiliki efek menenangkan. Asal tidak bila diminum secara berlebihan karena akan berakibat tidak baik pada pencernaan.
Rapat akan segera di mulai, Fuad mengajak Relina keluar bersama, sambil berjalan pria itu terus membicarakan hal yang akan ia sampaikan pada atasan. Sebagai seorang menager perencanaan ia tentu memiliki segudang strategi dan rencana untuk perusahaan.
Kali ini mereka tengah membicarakan produk yang mengalami perubahan komposisi bahan. Tentu semua harus dibicarakan dengan matang oleh seluruh pihak terkait, termasuk perusahaan Junda sebagai pengguna produk terbesar mereka. Mereka hanya perlu diyakinkan bahwa kualitas produk tidak akan mengalami perubahan.
Perusahaan Gunara akan membicarakan semua itu dengan Junda karena sebagai mitra yang tidak pernah putus kontrak selama beberapa tahun.
Mereka sepakat untuk menghadiri pertemuan di ruang meeting salah satu hotel tak jauh dari perusahaan Gunara. Kebetulan mereka tiba dalam waktu yang hampir bersamaan, membuat mereka berjalan beriringan, sesudah saling berjabat tangan. Junda melirik Relina begitu juga dengan gadis itu hingga tatapan mata mereka secara tidak sengaja beradu.
Tiba-tiba jantung Relina berpacu lebih cepat dan membuat langkah kakinya canggung. Ia bukan wanita yang demam panggung, ia biasa kuat mental berdiri dan bicara di depan umum, tapi karena tatapan Junda atau detakan jantungnya, ia menjadi gugup.
Saat mereka melewati lobi dan hendak berbelok menuju ruang rapat, tiba-tiba terdengar suara perempuan menjerit keras dari atas tangga. Letak tangga itu tidak jauh dari tempat rombongan kecil itu berada. Semua orang mendongak bersamaan, begitu juga dengan Relina. Saat ia mendongak dalam keadaan gugup, ia kehilangan keseimbangan, sehingga ia terjatuh dan tubuhnya secara tidak sengaja menabrak Junda yang berada di sampingnya, hingga terdorong ke sisi sebelahnya.
__ADS_1
Tubuh mereka berhimpitan, menempel di dinding, posisi mereka nyaris seperti berpelukan. Disaat yang bersamaan, sebuah benda terjatuh tepat di sisi mereka. Itu adalah sebuah mug keramik yang kemudian peceh berkeping-keping di lantai.
Seorang pelayan yang ceroboh menjatuhkan benda berat itu saat ia menaiki tangga.
Seketika semua mata membeliak melihat kejadian yang berlangsung hanya beberapa detik itu, tanpa bisa di duga. Seandainya Junda masih berada di posisi yang sama seperti sebelumnya, mungkin kepalanya sudah benjol karena tertimpa benda yang terjtuh dari atas mereka.
"Kau?!" Junda berkata penuh tekanan dengan suara yang rendah. Sejenak tubuhnya menegang dan kaku, tidak menyangka akan sedekat ini dengan Relina.
Relina spontan menegakkan tubuhnya, sambil berkata, "Maaf, Pak. Maaf ... saya tidak sengaja," lalu membenahi pakaiannya kembali.
Laki-laki itu juga segera berdiri tegak kembali, dan merapikan bajunya yang masih rapi, tanpa mengalihkan tatapan matanya dari Relina, sinis.
"Maaf, Pak. Maaf ..." Sekali lagi gadis itu memohon agar dimaafkan, sambil mengatubkan kedua telapak tangan. Wajahnya memerah dan menghangat rasanya ia ingin mengulang hari dari awal lagi, agar semua hal yang memalukan ini tidak pernah terjadi.
Junda diam, tidak menjawab dan berjalan sambil memalingkan wajahnya, lalu duduk di salah satu kursi yang sudah di sediakan untuk dirinya. Anggota rapat lainnya pun memyusul, hanya Relina yang masuk paling akhir dan duduk di samping Fuad. Ia terus menundukkan kepalanya karena rasa malu masih bersarang di hatinya.
Ruangan rapat itu cukup luas dengan meja berbentuk oval di tengahnya, kursi-kursi yang empuk disusun melingkari meja dengan hiasan bunga kecil yang rendah di sisi kiri dan kanan. Masing masing kursi mempunyai mikrofonnya sendiri. Semua kursi sudah penuh sesuai jumlah peserta rapat. Junda dan Relina duduk agak berjauhan.
"Sudah, tenanglah," kata Fuad. Melihat gelagat Relina yang canggung. "Kamu tidak sengaja, kan? Jadi, gak perlu malu, kamu gak salah, kok." Ia memahami kalau asisitennya ini sangat malu atas kejadian yang baru saja ia alami.
Sementara itu seorang pria bertubuh gemuk dan berjas putih yang rapi memasuki ruangan, Fuad menjelaskan pada Relina bila orang yang baru saja datang itu adalah direktur mereka, yang bernama Galuh. Mendengar penjelasan Fuad, Relina mengangguk, tanda mengerti.
Rapat pun dimulai dan satu persatu menyampaikan gagasan yang akan disepakati bersama. Hingga sampai di akhir acara, saat semua sudah memaklumi keputusan yang ada, Galuh tersenyum dan menatap Junda. Dialah pimpinan rapat hari ini.
Lalu pria berkulit hitam itu berkata, "Bagaimana, Pak Junda? Kami harap kedepannya kita bisa melanjutkan kerja sama."
Junda pun membalas senyuman Galuh, sambil mengangguk, ia menyahut, "boleh saya mengajukan satu syarat, saja?"
"Tentu, kalau Kami bisa memenuhinya, pasti Kami akan melakukannya. Silahkan katakan apa syarat Anda." Galuh berkata penuh dengan keyakinan.
"Saya tidak meminta syafaat yang sulit ..." Junda berhenti sejenak lalu menoleh pada Relina. "Pecat dia!" katanya, sambil menunjuk Relina dengan pulpen yang di pegangnya, disertai senyuman yang sinis.
Semua mata pun tertuju pada Relina yang menyadari tidak ada yang akan mendukungnya, dalam keadaan seperti ini, membuat gadis itu ingin menangis saat itu juga.
'Haruskah aku pulang?'
__ADS_1
Berambung.