
Setelah memikirkan beberapa kemungkinan, Fuad berbalik dan kembali menemui Relina serta Icha yang sedang bercanda dengan Fina. Anak perempuan itu tidak menangis lagi dan terlihat ceria.
“Relina, Icha ...” Kata Fuad setelah berdiri di antara keduanya. “Kalian sebaiknya pulanglah, saat ini tidak ada yang perlu kalian tunggu di sini karena Gunara tidak memiliki hubungan apapun dengan kalian berdua kecuali aku.”
“Apa kau mengusir kami? Ah ... yang benar saja,” kata Relina, kesal.
“Bukan mengusir ... aku tidak bermaksud begitu, hanya saja aku memberi pilihan, seandainya kalian memang memiliki hal lain yang harus kalian kerjakan. Itu saja,” sahut Fuad.
“Tapi Kak Gun itu sahabatku, boleh aku menunggunya di sini, kan?” kata Relina lagi.
“Ya, silakan. Aku tidak akan memaksamu,” berhenti sejenak dan berkata setelah mengambil napas panjang. “Tapi, tidak ada juga yang bisa kamu lakukan di sini karena tidak mungkin kamu menunggunya, padahal dia belum sadar, nanti kalau memang dia sudah siuman, aku akan menceritakan semuanya apa yang sudah kau lakukan untuk dia, dan aku akan menghubungimu.” Fuad berkata pada Relina.
“Baiklah, ayo aku antar kau pulang, Rel,” kata Icha terlihat muram. Dia dan Relina hendak melangkah ketika Fuad memegang tangannya dan tiba-tiba memeluknya sekaligus memeluk Vina yang ada dalam gendongan Icha. Saat memeluk wanita itu, Fuad berkata dengan suara lirih di dekat telinganya.
“Jaga anak kita baik-baik, aku akan menghubungimu kalau urusanku dengan Gunara sudah selesai, aku pasti akan datang mengunjungimu. Berikan saja alamat rumahmu. Jangan kuatir ... Aku tidak akan melupakanmu dan tidak akan meninggalkanmu kali ini, percayalah.”
Icha melepaskan pelukannya dia menatap Fuad sambil berkata, “apa kamu pikir aku tidak merawatnya selama ini? Kamu tidak perlu berpesan seperti itu, kalau memang mau datang datang saja.”
Fuad mengerti arti kemarahan dari Ica karena memang sudah tiga tahun dia merawat anak itu seorang diri. Dia memaklumi bila Ica mengatakan hal itu karena selama ini memang seolah-olah dia tidak peduli pada anaknya.
“Maafkan aku. Aku tidak tahu kalau perbuatanku dulu bisa membuatmu mengalami kesulitan dan membuatmu merawat anak ini seorang diri. Sekali lagi maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk untuk menyinggungmu, seharusnya kata-kata itu aku ucapkan ... mungkin tiga tahun yang lalu, atau juga tidak perlu, seandainya aku tahu.” Fuad berkata penuh penyesalan.
Setelah itu Fuad mencium Vina sambil berkata, "cepat sembuh ya, Sayang?"
Icha pun terharu lalu berkata, “Syukurlah kalau kau mengerti.” Kata Icha sambil memberikan kartu namanya kepada Fuad.
Setelah mengucapkan terima kasih kepada Fuad, Relina pun pergi bersama Icha yang mengemudikan mobilnya sendiri, menuju kedai kopi Danu.
Icha mendudukkan anak perempuannya di jok penumpang bagian belakang, menggunakan baby car seat yang biasa dia gunakan bila bepergian hanya berdua saja, sehingga Relina dan Icha leluasa mengobrol secara berdampingan.
“Gumana sekarang Apa kau senang sudah bertemu dengan orang yang kamu cari selama ini, Cha?” tanya Relina, dia tahu wanita itu mencari Fuad hampir putus asa.
“Ya, aku bersyukur karena bertemu denganmu?”
__ADS_1
“Kenapa denganku?" tanya relina heran.
“Kalau tidak ketemu sama kamu, gimana aku bisa bertemu sama Fuad?”
“Oh, hehe.” Relina tertawa karena merasa tersenyum karena secara tidak langsung memang dirinya berjasa, mempertemukan kedua orang yang sama-sama saling mencari.
“Oh, iya. Kamu tadi bilang, kalau aku nggak salah dengar, yang bawa Gunara ke rumah sakit itu, Junda. Siapa dia, pacarmu?”
“Junda, pacarku?” Relina kembali tertawa lalu dia menggeleng. “Bukan, dia orang yang menyebalkan. Aku juga nggak tahu, bisa-bisanya dia ada di sana.”
“Tapi kalian saling kenal?” tanya Ica lagi.
“Iya. Dia mantan bos, yang aku ceritain, pernah ngusir aku keluar kerja tanpa alasan.” Relina diam sejenak. “Tahu enggak, kalau dia pernah nuduh aku jadi wanita panggilan gara-gara dia lihat aku menginap di hotel bareng kamu waktu itu?"
“Apa? Serius? Terus kamu bilang apa?” Icha melirik Relina tak percaya.
“Aku nggak bilang apa-apa, biarin aja dia punya pikiran seperti itu karena nggak ada gunanya jelasin sama dia ... aku udah bilang aku bukan wanita seperti itu tapi aku nggak punya kesempatan buat jelasin yang sebenarnya. Jadi percuma.”
“Jangan-jangan dia suka sama kamu.” Icha berkata sambil melirik Relina dan tersenyum menggodanya.
Memang kamu sering ketemu sama dia, kok bisa-bisanya dia kasar sama kamu?”
“Iya sering juga nggak sih, tapi setiap ketemu dia kasar.”
“Sudah aku bilang ... siapa tahu dia suka. Tapi karena sebelumnya pernah terjadi hal yang nggak enak, sama kamu, makanya dia begitu.”
Kemungkinan yang dikatakan Icha benar adanya, sebab beberapa orang ada yang malu untuk mengungkapkan perasaan yang sebenarnya dan menutupinya dengan sebuah kesalahan yang sebenarnya tidak perlu ia lakukan.
Ada juga beberapa orang yang menutupi kesalahnnya dengan kemarahan, hal ini yang biasanya terjadi di dalam sebuah hubungan yang sudah cukup lama terjalin. Seseorang terkadang menutupi kekurangan dan kelemahannya dengan banyak cara, yang justru menyakitkan orang lain.
“Nggak mungkin lah.”
“Jangan terlalu percaya diri, Rel ... gimana kalau beneran dia suka sama kamu?”
__ADS_1
Relina terdiam, sementara mobil sudah sampai ditujuannya.
***
Relina baru saja selesai melayani beberapa pelanggan yang masuk ke kedai, ketika ponselnya berdering. Dia mendapatkan panggilan dari Fuad, yang menjelaskan bahwa Gunara sudah melewati masa kritisnya dan sudah dipindahkan ke ruang rawat inap, sehingga dia bisa melihatnya. Akan tetapi Gunara tidak bisa diajak berbicara karena kondisi otaknya belum pulih, sehingga pendengaran penglihatan juga respon motorik lainnya juga masih lemah.
“Aku hanya memberitahu, terserah kamu mau menengoknya sekarang atau tidak. Kalau melihat kondisinya, percuma saja kamu melihatnya karena tidak akan bisa diajak bicara,” kata Fuad dari ujung telepon.
“Tapi setahu saya, Pak. Kalau orang yang koma itu bisa mendengar dan merasakan kalau dirinya disentuh dan diajak bicara oleh orang-orang disekitarnya, hanya saja dia tidak merespon.”
“Ya, baiklah ... terserah kamu saja.”
“Apa ada orang lain, yang menunggunya selain Bapak?”
“Ada, saudara sepupu paman dan bibinya ada.”
“Apa tidak ada ibu, ayah, ataupun saudara kandungnya?”
“Apa apa kamu selama ini belum tahu, kalau dia yatim piatu dan tidak mempunyai saudara kandung?” Suara Fuad terdengar seperti orang, yang tidak percaya dan heran dengan pertanyaan Relina.
Tiba-tiba kata-kata Relina tercekat di tenggorokan, dia ingin sekali mengatakan sesuatu, tetapi kata-katanya tertelan begitu saja sampai akhirnya telepon ditutup karena dia tidak juga bersuara.
Disaat Relina masih tertegun dan berdiri diam di depan meja kasir. Danu mengahampiri sambil menepuk bahunya. Pamannya itu memberi isyarat dengan dagunya, lalu berkata setelah duduk di kursi kebesarannya, di belakang meja kasir.
“Rel. Ada yang nyariin kamu, pacarmu, ya? Ganteng juga.” Danu berkata sambil terkekeh. Sementara Relina menatap pamannya heran.
“Siapa, paman? Saya nggak punya pacar!"
“Mana aku tahu,” kata Danu sambil mengangkat bahu lalu melirik ke arah luar, di mana ada seorang pria berdiri membelakangi kedai sambil melipat tangan di depan dada.
Relina menghampirinya sehingga orang itu pun berbalik menghadap Relina, yang langsung melihatnya dengan rasa terkejut di hatinya.
‘Kenapa dia ada di sini? Mau cari masalah lagi?’
__ADS_1
“Pak Junda. Ada apa Anda ke sini?”
Bersambung