
Suara Relina terdengar lemah dan parau, Junda tidak menjawab dan hanya tersenyum dengan penuh kebahagiaan, gadis yang dia cintai sudah bisa membuka mata dan berkomunikasi.
‘Aku berterima kasih padamu untuk segalanya' batin Junda sambil membelai bibir Relina yang kering dan pucat.
Junda segera bangkit dan keluar ruangan, memberitahukan bahwa Relina sudah siuman. Seorang perawat dan dokter yang berjaga mengecek kondisi Relina dan melakukan tes pada fungsi beberapa organ vital seperti mata, suara, termasuk persendian di tubuhnya.
Setelah selesai, mereka keluar ruangan dan mengkonfirmasi keadaannya, pada Junda, bahwa semuanya baik-baik saja. Hanya menunggu pemulihan, serta masih harus berbaring dalam keadaan miring atau tengkurap.
“Aku bersyukur kamu baik-baik saja. Sekali lagi terima kasih,” kata Junda sambil duduk kembali di sisi tempat tidur.
Relina tidak tahu mengapa Junda berulang kali mengucapkan terima kasih, tetapi dia tetap tersenyum menanggapinya. Sesaat kemudian gadis itu tampak meringis menahan sesuatu yang sakit dan tidak nyaman.
Walaupun, beberapa selang serta alat yang semula menempel sudah dilepaskan dari tubuh Relina, tetapi dia tidak berani bergerak terlalu banyak karena masih banyak luka basah dan terasa menyakitkan.
“Apa kamu membutuhkan sesuatu? Bagian mana yang sakit?” tanya Junda, gusar. Dia melihat perubahan di wajah Relina, hingga merasa iba dan tidak tega, seolah-olah hatinya yang seperti di cabik.
“Aku haus. Aku ... maaf ....” belum selesai Relina bicara, dengan cepat Junda mengambil segelas air mineral dan menyimpannya di meja kecil lalu dengan hati-hati dia mendudukkan tubuh Relina, perlahan sekali dan menahannya dengan tubuhnya, kini punggung Relina berada di dada Junda. Lalu pria itu memberikannya minum, sampai air dalam gelas itu habis.
“Terima kasih,” kata Relina.
Sepertinya Junda senang menjadi tempat bersandar, padahal dia bisa menggunakan brankar otomatis untuk pasien, tanpa harus menjadi sandaran bagi Relina. Saat melihat keadaan wanita dalam pelukannya, hatinya semakin sakit, tidak rela rasanya tubuh yang kurus itu, penuh luka.
Masih jelas dalam ingatannya bagaimana ledakan keras itu terjadi. Mereka duduk cukup jauh dari lokasi dapur restoran, yang di duga menjadi pusatnya dan juga dinding pembatas, akan tetapi tetap menjadi korban dengan luka cukup parah.
Peristiwa ledakan kemarin, sempat menjadi berita besar di televisi karena restoran yang hancur adalah tempat makan terbaik dan masih baru di kawasan ini. Setelah penyelidikan dilakukan, tabung gas yang menjadi pemicu mengalami kebocoran, tiga orang dinyatakan tewas, satu orang tewas di tempat sedang yang lainnya meninggal saat berada di rumah sakit.
Nasib baik masih dialami Relina mengingat lukanya cukup parah, bahkan rambutnya harus di potong untuk memudahkan dokter dalam mengambil tindakan dan menjahit luka robek yang serius di belakang telinga.
“Maafkan aku, aku nggak bisa jagain kamu,” kata Junda masih memeluk Relina dari belakang, dengan penuh kelembutan. Sementara Relina menjadi sangat risih, tapi menikmatinya dan dia senang bersandar seperti sekarang ini pada Junda.
“Nggak perlu meminta maaf atau berterima kasih karena semua bukan salahmu.”
“Hmm ... baiklah, kalau begitu, cepat tidur lagi. Kamu masih butuh banyak istirahat.”
Mendengar ucapan Junda, Relina menoleh dan pipinya menyentuh hidung Junda.
__ADS_1
“Aku sudah tidur dua hari, apa itu masih kurang? Oh, iya, apa kamu nggak mau tahu aku mau bilang apa sama kamu, waktu itu?”
Junda diam, dia justru terpaku mendengar ucapan Relina dan berharap bahwa kata-katanya akan memperkuat tekadnya menghadapi Renita, calon ibu mertuanya untuk merestui hubungan mereka.
Relina dengan antusias mengatakan keinginannya, bersedia menjadi kekasih Junda dan dia memaafkan semua kesalahannya, asalkan pria itu, tidak lagi memaksakan kehendaknya, terutama saat menciumnya. Selama ini, Junda selalu melakukannya secara tiba-tiba dan Relina tidak menyukainya.
“Sebenarnya aku Cuma takut kamu menolakku.”
“Ya, aku tahu, tapi napasku sesak. Apa kamu nggak takut kalau nanti tertular?”
“Nggak. Itu penyakit yang bisa diobati. Maaf, lain kali aku tidak akan memaksamu.”
Sebagai lelaki tentu Junda tidak suka mendapatkan penolakan, setelah mengetahui penyakit Relina, dia tetap tidak perduli asalkan keinginannya terpenuhi.
Setelah berbincang, Junda menidurkan Relina kembali ketempat tidur, gadis itu teringat akan telepon genggam, pelembab bibirnya, dompet serta kartu identitas yang ada di dalam tas. Dia ingin menghubungi ibunya dan juga Fuad, serta beberapa orang lainnya yang dia pikir tidak mengetahui keadaannya.
Keinginan Relina membuat Junda tersadar apabila waktu itu dia tidak sempat menyelamatkan tasnya yang kemungkinan hancur bersama dengan beberapa barang lainnya.
“Kamu nggak usah khawatir, aku akan membelikan ponsel baru. Oh ya, aku sudah menghubungi ibumu, Fuad dan Erwin mereka semua sudah tahu, kok.” Junda berkata sambil menyelimuti Relina, dia kembali berbaring dengan posisi tangan kirinya di bawah, karena lebih banyak luka di punggung dan bahu kanan.
“Benarkah, apa kata ibu?”
Relina menatap Junda lekat-lekat, tidak percaya kalau ibunya ada di antara mereka. Junda pun menceritakan bagaimana kejadian ibu dan ayahnya, sehingga mereka sekarang berada di apartemen yang disewanya. Kedua orang tua itu tengah beristirahat karena sudah sehari semalam mereka berada di rumah sakit menunggunya sadar dari pingsan.
“Kamu tahu, Ibu menyalahkanku, dia tidak menginginkan aku menjadi pendampingmu bahkan ibumu mengusirku, melarangku dekat-dekat denganmu, karena aku membuatmu sial,” kata Junda sambil mengalihkan pandangan, wajahnya terlihat kesal dan cemberut, mirip.anak manja yang minta dibelikan es krim.
Baru saja Junda selesai mengatakan hal seperti itu, ponselnya berdering dan dia melihat layar ponsel dengan dahi berkerut ketika tahu Ibu Rina yang menghubunginya.
Junda menerima panggilan dengan mengeraskan suara pada telepon, sehingga Relina bisa mendengar apa yang ditanyakan Renita kepadanya
“Apa Relina sudah sadar?” Terdengar suara Renita dari balik telepon dengan sangat jelas, padahal saat itu sudah larut malam.
Akan tetapi Junda tidak heran karena kemungkinan orang tua itu tidak bisa tertidur dengan nyenyak. Wajar bila seorang ibu terus memikirkan keadaan anaknya yang masih berada di rumah sakit. Junda mengatakan secara jujur tentang keadaan Relina yang sudah sadar dari pingsannya dan baik-baik saja.
“Baiklah kalau begitu aku akan ke sana,” kata Renita ditelepon, setelah itu terdengar suara Renita berteriak membangunkan Rosihan.
__ADS_1
Mendengar suara itu, Realita meraih ponsel Junda mendekat ke bibirnya dia berbicara, agar Ibunya tidak perlu terbaru-buru pergi menjenguknya karena ini sudah tengah malam.
“Ibu ... lebih baik tidak kesini ... besok saja ya Bu. Aku baik-baik saja, ada Junda yang menjagaku. Jadi Ibu tidak perlu khawatir,” kata Relina dengan suara yang masih parau dan pelan.
Akhirnya Renita menurut, walaupun wanita itu tidak suka bila anaknya dekat dengan Junda, dia tidak bisa memarahinya untuk saat ini. Mengingat semua jasanya yang sudah mereka rasakan.
Renita dan Rosihan datang keesokan harinya, pagi-pagi sekali ketika jam besuk rumah sakit dibuka. Ketika dalam ruangan, begitu ibu dan anak saling melihat, mereka langsung memeluk dan menangis menumpahkan segala kerinduan dan kesedihan. Lama tidak bertemu, tetapi sekarang keadaan Relina sedang tidak baik-baik saja.
“Ibuk, sudahlah ... aku nggak apa-apa, kok,” kata Relina ketika ibunya masih saja menangis dalam waktu yang cukup lama.
Mendengar ucapan Relina, Renita melepaskan pelukan lembutnya dan melihat tubuh anaknya dari ujung rambut yang menjadi botak sebelah sisi kepala, hingga kaki yang ditutupi selimut.
“Keadaan seperti ini kamu bilang nggak apa-apa? Seharusnya dia, yang berada di posisimu sekarang!” Renita berkata penuh penekanan sambil menoleh pada Junda dan menatap sinis kepadanya.
Junda menghela napas panjang mengetahui dirinya yang menjadi bahan pembicaraan. Dia tidak bisa membela diri atau menyalahkan orang lain karena semua yang dikatakan oleh ibu Relina itu benar.
“Ibuk, Junda nggak salah. Dia sudah bertanggung jawab, lalu apa lagi yang ibu inginkan?” tanya Relina masih dengan suara yang pelan dan lemah.
“Jauhi, dia. Kamu akan selalu sial nanti kalau terus dekat sama dia!” kata Relina ketus.
“Ibuk ....” Relina berkata hendak memohon. Akan tetapi Renita tidak memahami, bahkan dia merasa begitu sesak melihat Junda berada di ruangan yang sama dengan mereka.
“Benar, kan, Nak Junda. Kalau kau sayang sama Relina, maka sebaiknya kamu jauhi dia. Semua untuk kebaikan Relina juga dirimu sendiri!” kata Renita, masih dengan tatapan mata yang tajam pada Junda yang berdiri di ujung tempat tidur.
Semua karena tanda sial itu, tidak dipungkiri lagi kebenarannya. Kalau bukan karena kepercayaan tanda itu, maka Renita—ibu Relina tidak akan bicara demikian. Dalam hati Junda bertanya-tanya dan menimbang baik buruknya.
‘Bukankah cinta tak harus memiliki, bukankah puncak dari mencintai adalah melepaskan demi sebuah kebahagiaan? Untuk apa memiliki kalau nyatanya tidak ada kedamaian? Ya, mungkin aku memang harus melepaskan demi keamanan dan kedamaian hidup Relina, haruskah? Tapi kenapa sesakit ini rasanya padahal aku belum juga melepaskan?’
Junda mendekat dan berkata, “Apa kamu senang kalau aku tidak mengganggumu? Baiklah kalau kamu memang aman bila tidak bersamaku.” Junda berkata sambil membungkuk, berbisik di telinga Relina, membuat Renita melotot melihatnya.
“Tapi aku akan tetap mencintaimu.”
Setelah selesai berbisik, dia menegakkan badannya kembali, menatap Renita dan berkata sambil tersenyum, “Saya sudah melunasi tagihan rumah sakit dan biaya operasi. Sisa biaya rawat inap akan saya lunasi nanti, tergantung berapa hari Relina bisa keluar dari sini.”
“Junda ....” Relina memanggil dan memegang tangan Junda, tapi suara dan pegangan tangannya terlalu lemah, hingga tidak kuat untuk menahannya.
__ADS_1
Laki-laki itu pergi begitu saja, tanpa menoleh.
Beraambung