Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Bukan Utang


__ADS_3

Relina menunggu di luar mobil, melihat Gunara yang berjalan mendekat, menyangka bila pria itu akan menuruti tawarannya untuk mampir.


"Masuklah, aku melihatmu dari sini," kata Gunara.


"Kak Gun, gak mau mampir? Ada kok ruang tamunya di luar."


Gunara bersandar di mobilnya sambil melipat tangan di depan dada, lalu berkata, "sebaiknya kamu cepat istirahat saja."


"Jadi, benar nih, gak mau mampir?"


Gunara menggelengkan kepalanya sambil tersenyum, menatap Relina dengan tatapan lembut.


"Begaimana kalau besok aku jemput? Kamu biasa berangkat jam berapa?"


'Kalau naik mobil Kak Gun, paling cuma sebentar, jadi kemungkinan lebih cepat'


"Jam tujuh. Memangnya Kak Gun nggak sibuk?"


Gunara menggeleng, lalu menyahut, "Oke. Besok aku jemput jam tujuh, ya?"


Relina mengangguk dan tersenyum, ia masih berdiri di pinggir jalan ketika Gunara memasuki mobilnya kembali. Laki-laki itu membuka jendela kaca saat sudah ada di dalam, melambai pada Relina dan mengerlingkan mata, sebelum akhirnya pergi.


Baru saja Relina membalikkan badan, sebuah mobil BMW hitam yang akhir-akhir ini akrab dengan Relina, berhenti sangat dekat di belakangnya. Terdengar suara klakson yang kuat memekakkan telinga. Gadis itu menoleh dan mengurungkan langkahnya. Seketika matanya membola sempurna melihat pria yang tengah membuka pintu mobil dan berjalan ke arahnya.


Pria itu adalah Junda, yang memakai kemeja putih dan celana jeans hitam dan sepatu snikers warna hitam pula. Pakaiannya sudah tidak rapi, kusut dan acak-acakan.


"Hei, siapa dia?" Tanya laki-laki itu saat sudah berdiri di hadapan Relina.


'Hei, hei dia siapa maksudnya?'


"Maksud Bapak?" Ujar Relina heran.


"Laki-laki tadi." Junda berkata sambil menggerakkan dagunya ke samping.


"Oh ... itu, bukan urusan, Bapak." Relina menjawab ketus sambil membuang muka.


"Hais, tidak sopan. Jawab yang benar." Junda terlihat tidak suka.


'Eh, ni orang nyebelin banget si, memangnya siapa kamu tanya soal itu?'


"Maaf, saya mau pulang, Pak. Sudah malam." Relina melangkah menjauhi Junda, namun laki-laki itu segera mengulurkan tangannya meraih pergelangan tangan Relina.


"Tunggu, aku belum selesai bicara. Ada hubungan apa kamu sama dia, ha?"


Relina melepaskan tangannya dari cekalan Junda, menepis tangan kekar pria itu kasar.


'Ya Tuhan ... kenapa aku harus bertemu dengan orang seperti ini'

__ADS_1


"Saya punya hubungan dengan siapa pun. Itu tidak ada urusannya dengan Bapak. Lagian nih, ya Pak. Buat apa Anda tanya soal itu pada saya, kita bukan suami istri, bukan siapa-siapa."


"Kamu masih punya utang," Junda menyeringai.


'Eh, nanti dulu. Utang apa ini? Perasaan aku gak punya utang sama orang ini'


"Bapak gak usah ngarang deh. Maaf kerjaan saya masih banyak, saya permisi."


Relina baru saja hendak melangkah ketika Junda kembali menarik tangannya lalu membawa tubuh Relina dalam pelukannya, lalu ia mencium Relina sekilas. Dua detik ciuman itu mungkin hanya selama itu saja. Gerakan itu terjadi sangat cepat, hingga Relina tidak punya waktu untuk menghindar.


'Hei, gila ya? Kenapa kau menciumku?'


Relina terkejut dan segera mendorong tubuh Junda sekuat tenaga. Ia mengusap bibirnya sangat punggung tangannya, dengan gerakan yang kasar.


"Hei, apa maksudny tadi?" Hilang sudah rasa hormat dari gadis itu pada Junda.


"Itu untuk bayar utangmu. Sekarang lunas."


'Sialan!'


"Saya gak punya hutang apa-apa sama kamu!"


"Kau sudah kuantar pulang kemarin, kau kita itu gratis, ha?"


"Dengar, saya gak pernah minta diantar, kamu yang maksa? Kenapa juga saya harus bayar hutang? saya punya uang kalau kamu minta bayar, kenapa cium-cium. Tidak sopan!" Relina berkacak pinggang.


'Kurang ajar!'


"Oh, iya. Besok kamu saya jemput ya, jam tujuh!"


"Saya gak mau!"


"Tenang aja. Aku jemput kamu besok, gratis!"


'Bodo amat! Emangnya aku perduli?'


"Saya gak mau, sudah ada yang mau jemput saya. Jadi gak usah repot-repot, ya?" Relina berjalan meninggalkan Junda. Ingin sekali menampar laki-laki itu tapi ia masih punya empati.


Sementara kakinya mulai melangkah.


"Siapa yang mau jemput kamu, laki-laki tadi, Gunara?" Junda mencibir.


'Eh, dia ini ... sialan! Apa yang harus aku jawab. Menyebalkan!'


Belum sempat Relina menjawab, Junda kembali berkata, "Saya tahu siapa laki-laki itu. Kalo kamu gak mau, saya bisa lebih nekat dari sekedar nyium kamu!"


'Apa. Apa dia gila?'

__ADS_1


Relina berbalik, mengambil langkah mendekati Junda kembali, lalu berkata, "Pak, itu pemaksaan namanya, itu sudah termasuk pelanggaran hak asasi manusia."


"Tahu apa kamu soal hak asasi manusia? Omong kosong!" Junda tersenyum samar sambil memalingkan wajahnya.


"Kamu itu yang omong kosong!" Relina menyela dengan suara yang keras.


"Hak asasi yang mana?" Junda tertawa kecil. "Pokoknya, kalau kamu gak mau, tunggu saja apa yang bisa aku lakukan padamu besok."


"Terserah!" Relina pun pergi.


Ia mendesah keras sambil menarik napas berulang kali, dalam hatinya penuh pertanyaan, ada apa dengan mantan bosnya? Pria itu muncul bagai hantu yang mengintai di manapun dia berada.


Ciuman dua detik itu masih terasa, hangat. Walaupun sudah dihapus berulang kali dengan tangannya. Debaran halus yang muncul setiap kali bertemu Junda, menjadi semakin tebal saat mereka berciuman. Bahkan seperti bunyi genderang yang membahana di keheningan malam.


Relina menolak untuk jatuh cinta dengan Junda, walaupun getaran halus dihatinya saat ini masih terasa Laki-laki itu sudah banyak memberikan kesusahan pada dirinya. Sekarang ada Gunara yang bisa menghibur hatinya dengan segala sikap lembut, yang dahulu selalu dia tunjukkan pada Relina. Masih ada debaran cinta itu untuk Gunara, mungkin akan selalu ada, dia tidak bisa melupakannya.


Gadis itu pernah mencintainya, namun ketika menyadari perasaannya, pria yang menjadi sahabatnya, sudah pergi entah kemana. Namun sekarang tanpa di duga, ia telah menemukannya. Jadi untuk apa ia memikirkan Junda. Ahk ....


Cinta bila ia sudah tumbuh maka ia tidak bisa dihentikan kecuali dihancurkan oleh sebuah penghianatan. Cinta akan selalu menjadi rasa terkuat dalam diri manusia sampai kapanpun kekuatan cinta tidak akan bisa dikalahkan kecuali oleh kematian.


*****


Keesokan harinya, Relina terbangun dengan ingatan yang tertuju pada Junda. Ia tidak ingin terjadi sesuatu yang memalukan atau membahayakan dirinya sendiri. Ia tidak punya siapa-siapa, tidak ada saudara atau orang tua yang akan membantu bila ia membutuhkan pertolongan.


Relina sibuk dengan pikirannya saat ia mandi dan menggosok gigi.


Setahu Relina, Junda memang tidak kasar atau galak pada semua karyawan. Setidaknya itulah yang ia rasakan selama bekerja menjadi salah satu stafnya. Akan tetapi mengingat apa yang dikatakan Junda kemarin, membuat Relina lebih waspada.


'Memangnya dia bisa melakukan apa. Hei. dia orang terhormat yang tidak akan melakukan sesuatu yang akan mencoreng nama baiknya di muka umum, kan. Jadi dia gak mungkin akan berbuat macam-macam padaku. Sebenarnya dia kenapa sih?'


Tiba-tiba telepon genggam Relina berdering, sementara ia masih belum selesai berpakaian. Ia melihat nomor yang tidak dikenal, tertera di layar ponselnya.


'Siapa si?'


Relina heran, mengingat ia tidak pernah mendapat telepon iseng selama dia bekerja dan merantau di sana.


"Halo," sapa Relina pada orang yang ada di balik telepon.


"Cepatlah, aku sudah di depan," kata suara dari telepon genggamnya dan itu adalah suara Junda. Lalu terdengar suara, tut. Tanda telepon sudah di tutup.


"Sialan! Dari mana dia tahu nomorku?" Relina bicara sendiri sambil menyelesaikan dandanannya.


Masih ada beberapa menit lagi saat Relina sudah selesai menyapu wajahnya dengan bedak dan lipstik tipis. Ia memakai stelan pakaian seperti biasa, hanya warnanya saja yang berubah setiap harinya.


Relina tampak tenang dan santai, walau suara klakson mobil sudah membuat gaduh dan menarik perhatian. Debaran halus kembali muncul ketika ia kembali melihat wajah tampan Junda.


'Ahk, hatiku ini kenapa, sih? Bagaimana dengan Kak Gun, kalau dia datang, apa yang bisa aku lakukan? Tidak ... aku akan menunggu Kak Gun saja'

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2