
“Pergilah! Aku tidak ingin melihatmu lagi! Jangan datang ke makam anakku! Doamu tidak akan diterima karena kamu membunuhnya!”
Sekali lagi Renita berteriak dengan napas yang tersengal. Sementara bahunya dipegang erat oleh suami dan anak lelakinya.
“Tenang, Bu. Masih ada aku! Kalau aku menikah, Ibu akan punya anak perempuan, kan?” Royan kembali berusaha membujuk ibunya agar tenang. Memangnya dia bukan anaknya? Dalam hati Royan cemburu, tapi kepergian kakak perempuannya cukup menyakitkan juga.
“Maafkan, saya. Tidak menjaga Relina dengan baik, apa yang bisa saya lakukan untuk menebus semua kesalahan saya?” kata Junda sambil nunduk pandangan, penuh dengan rasa bersalah, meskipun sama sekali bukan kesalahannya.
Mendengar itu, Renita melemaskan badannya menunjukkan dia tidak akan berbuat anaskis lagi.
Dengan sekali tarikan napas, dia berkata. “Tidak ada yang perlu kamu lakukan, menyadari kesalahanmu dan jangan pernah datangi makam anakkku lagi!”
Permintaan yang sangat berat bagi Junda untuk memenuhinya. Akan tetapi, akhirnya dia hanya bisa berkata, “Baiklah, kalau itu keinginan Ibu, dan bisa membuat semuanya senang.”
Setelah puas menangis, Renita berjalan dengan perlahan, meninggalkan area makam, tidak ada gunanya dia marah pada siapa pun. Tidak akan membuat anaknya kembali. Haruskah dia menyalahkan takdir, termasuk menyalahkan dirinya sendiri? Tidak, kan?
Rosihan, berjalan sambil merangkul bahu istinya dan Royan berjalan di samping Junda.
“Datanglah, sering-sering kemari, Kak, kalau kesedihan ibu sudah hilang.” Royanu berkata tanpa melihat ke arah Junda yang mengerutkan alisnya.
‘Bagaimana kesedihan seperti itu akan hilang?’
Sedang pengalaman Junda membuktikan bahwa, setiap kali melihat benda, atau tempat yang berhubungan dengan orang yang meninggal dunia akan terus teringat pada mereka dan otomatis rasa sedih itu akan muncul begitu saja.
‘Ah, yang benar saja, jadi sampai kapan aku bisa datang ke sini lagi kalau aku merindukan Relina?’
“Ibu, tidak serius. Nanti juga mau menerima Kakak lagi, itu juga kalau Kakak masih menganggap kami saudara, kecuali Kakak menikah lagi!” kata Royan samb cemberut kali ini menatap Junda, sebelum akhirnya memasuki rumah.
“Ya, kita akan selalu bersaudara!” kata Junda sebelum bayangan Royan hilang di balik pintu.
Beberapa kerabat masih ada di rumah, menemani keluarga yang mengalami kehilangan sebagai bentuk tenggang rasa. Sementara Junda masih di sana menunggu Rosihan muncul untuk berpamitan dan sekali lagi meminta maaf, walaupun dia tidak bersalah sama sekali.
Keesokan harinya, Junda sudah berada di rumah, dia masih menyimpan beberapa barang yang pernah digunakan Relina dan di simpannya dalam sebuah kotak. Tidak semua barang-barang Relina dia kembalikan pada pihak keluarga. Ini untuk pertama kalinya dia memiliki perasaan Senti mentil imenyentuh. Perasaan sakit dan hancur mengakibatkan hatinya seolah diremas dengan kuat saat dia mengingat gadisnya.
Kenapa keadaan harus selalu begitu, terasa indah dan mudah saat jatuh cinta, tapi begitu sulit dan menyakitkan untuk melupakan?
Junda tidak akan bisa melupakan Relina sekaligus pengalaman yang luar biasa membuatnya sakit. Tidak. Ini akan jadi pelajaran seumur hidup, bukan untuk dirinya sendiri, tapi juga pada orang lain.
Segala sesuatu bagi manusia yang beriman pada Tuhan dan memiliki agama, bukanlah miliknya, karena semua itu hanya sementara dan tidak akan di bawa ketika tiada. Maka bersandarlah sepenuhnya akan prinsip yang ada dalam kaidah agama. Terlepas dari apa pun suku dan perbedaan yang ada di masyarakat pada umumnya.
Adapun tentang kepercayaan di luar konteks itu, maka menjadi hak tiap manusia untuk mempercayai atau tidak. Biar bagaimanapun, di dunia ini ada yang namanya takdir dan karma.
*****
Beberapa hari kemudian, Junda sudah kembali bekerja dan menanggalkan pakaian berkabungnya. Tidak ada seorang pun di kantornya, yang tahu tentang pernikahan dan kejadian buruk yang dialaminya. Ya, kecuali Banu, asisten paruh baya yang dipercaya untuk mengurus perusahaannya. Pria itu tahu setelah Atmaja bertemu dengannya dan menceritakannya secara gamblang.
__ADS_1
Junda menghubungi Atmaja begitu dia tiba di kantor, pria itu sudah tidak sabar menunggu hasil dari investigasi yang dilakukan orang yang dia percaya.
Atmaja sudah mendapatkan informasi yang diinginkan Junda, dari sahabatnya, yaitu orang tua Syalu. Kedua orang itu tidak tahu menahu tentang kegiatan anaknya selain bekerja di perusahaan milik keluarga. Mereka tidak menemukan kejanggalan apa pun setelah kejadian di atas atap gedung. Mereka hanya bersyukur bahwa Syalu justru lebih bahagia setelah kejadian percobaan bunuh dirinya.
Bahkan kedua orang tua Syalu itu merasa kecewa karena Junda tidak mau menikahi anak mereka. Mendengar pernyataan seperti itu, Atmaja tidak senang, tapi dia tidak berbuat apa-apa selain menasihati sahabatnya, agar mengawasi anak gadisnya lebih baik lagi.
‘’Bagaimana mungkin, keturunannya melakukan poligami? Keluargaku bukan pelaku seperti itu’ Cih! Atmaja meludah ke tanah, setiap kali ingat permintaan sahabatnya.
Junda memegang pelipis dengan tangan kirinya sementara tangan kanannya memegang ponsel.
“Apa Ayah mengatakan kalau istriku sudah tiada pada mereka?”
“Tidak, tentu saja tidak. Mereka akan menertawakan kamu kalau Ayah mengatakan hal itu.”
“Bagus. Terima kasih, Ayah.”
Junda menutup ponsel setelah Atmaja mengatakan beberapa kata. Dia kecewa karena Junda tidak mampir ke rumahnya saat melewati Jakarta. Namun Junda hanya meminta maaf karena saat itu dia hanya fokus pada kesedihannya. Akhirnya Atmaja pun mengerti.
Setelah selesai menghubungi ayahnya, Junda menghubungi Fuad dan pria itu ingin bertemu langsung dengannya, hingga mereka menyepakati untuk bertemu di ruang privat sebuah restoran.
Setelah mereka bertemu, Fuad tidak memberi penjelasan apa pun pada orang yang menjadi rekan bisnisnya di masa lalu itu.
“Saya tidak bisa menyimpulkan sendiri apa yang dia ceritakan, tapi silakan Pak Junda mendengar pernyataannya. Saya rasa bahan ini cukup.”
Fuad mentransfer sebuah data percakapan dari ponselnya ke ponsel Junda. Dia sudah berusaha cukup baik sebagai upaya membalas kebaikan budi Relina dan Junda.
Oleh sebab itu, Fuad mengajak Syalu, makan siang di sebuah restoran. Kebetulan sekali, kan? Ya, inj sebuah kebetulan. Mereka mengobrol dan membicarakan beberapa topik perusahaan termasuk perusahaan Junda.
Fuad memulai dengan mengabarkan bahwa Junda sekarang sudah memiliki sekertaris baru dan dia seorang pria. Dari sini lah semua pembicaraan mulai menjurus pada mantan karyawan yang bernama Relina. Untuk meyakinkan, bahkan Fuad menceritakan tentang pertemuan dirinya dengan Icha karena dirinya.
“Aku tidak tahu, apa yang menarik dari wanita itu, menurutku, perempuan itu pantas mati!” kata Syalu, tersebut dari dalam rekaman.
“Kenapa, dia baik. Sudah aku bilang kalau dia berjasa dengan hubunganku dan istriku saat ini?”
“Ya, itu bagimu, tapi bagiku, tidak! Dia mengganggu ketenangan ku di kantor, merampas kursiku saat acaraku di Jakarta, sampai-sampai aku di pecat karena dia! Lalu, seenaknya saja Junda melamarnya, padahal dia tidak sepadan denganku.”
“Jadi, artinya Pak Junda mau menikah sekarang?”
“Hah. Dia sudah menikah, Pak Fuad!”
Apabila Junda memang tidak mempercayai hal mitos seperti itu, mengapa tidak menikahinya saja dan justru menikah dengan wanita yang justru dibencinya. Syalu sangat kecewa. Ini sangat membingungkan baginya hingga dia ingin membuktikan bahwa, meskipun Junda berusaha keras untuk menikahi gadis itu karena percaya dengan tanda lahir yang dimilikinya, toh pada akhirnya gadis itu akan tiada juga.
“Apa tanggapan Bu Sya, kalau wanita itu benar-benar meninggal?”
“Pak, Fuad. Saya sudah tahu wanita itu benar-benar sudah meninggal. Saya harap Anda bisa dipercaya untuk tidak mengatakan hal ini pada siapa pun, kalau saya selalu mengirim mata-mata untuk mengintai mereka berdua.”
__ADS_1
“Bu Sya melakukan itu, sejak kapan?”
“Sejak aku tidak bekerja lagi dengan Junda.” Sambil berkata, wanita itu tertawa cukup keras hingga menarik perhatian orang lain di sana.
Junda tidak kuat mendengar semua ucapan dan perbuatan Syalu selama ini, padanya juga Relina, dia sudah berusaha bersikap sebaik mungkin. Bahkan ketika dia benar-benar terbukti bersalah pun Junda tidak mengadukannya ke pihak berwajib. Akan tetapi sekarang, penyesalan pria itu pun muncul, mengapa tidak menjebloskan Syalu saat itu juga ke dalam penjara?
Benar-benar keterlaluan dia.
Setelah mengambil kesimpulan, Junda pun beranjak meninggalkan restoran, begitu pula Fuad. Kedua pria itu bersepakat akan membawa Syalu ke meja hijau dan berurusan dengan hukum, bila anda berhasil menemukan beberapa bukti lagi. Fuad siap menjadi saksi.
Junda berniat mendatangi restoran dan hotel tempat kejadian di mana Syalu pernah mencoba bunuh diri. Mereka hanya memesan jus dan minum lain di sana, bersma keluarga Syalu. Junda ingin mendapatkan rekaman CCTV dari restoran itu pada saat kejadian. Tanpa bersusah payah, karena koneksi yang dimiliki, membuat Junda mudah mendapatkan apa yang dia inginkan.
Betapa geramnya dia ketika mengetahui kejadian sebelum dan sesudahnya. Dalam rekaman itu memperlihatkan sebuah adegan di mana Syalu memberikan sesuatu kepada seorang pelayan beserta sejumlah uang untuk beberapa lama tidak ada rekaman lain selain pengunjung restoran biasa.
Junda saat itu menduga bahwa rekaman yang kosong itu adalah ketika Syaalu mencoba bunuh diri di atas gedung. Tidak lama kemudian muncullah adegan di mana mereka bersama keluarga Syalu memasuki restoran, lalu, memesan jusn dan minuman lainnya.
Ada di tempat yang berbeda, terlihat rekaman pelayan itu membubuhkan sesuatu pada jus yang dipesan oleh Relina. Lalu, dengan tanpa curiga, Relina menenggak minuman itu sampai habis. Akh, pantas saja.
“Baiklah, saya minta rekaman ini sebagai bukti di pengadilan nanti.” Junda berkata sambil memasukkan benda kecil dalam sakunya.
“Baiklah, Pak. Senang bisa membantu. Soal pelayan itu, dia sudah mengundurkan diri sehari setelah kejadian itu,” kata pemilik restoran.
“Tidak apa. Saya berterima kasih karena sudah mau bekerja sama.”
Setelah berbasa basi sebentar, Junda melangkah dengan cepat ingin menemui pengacaranya. Dia berjalan ke tempat parkir sambil melakukan panggilan melalui ponselnya. Akan tetapi,belum selesai bicara, dia melihat sekelebat bayangan Syalu berjalan bersama beberapa temannya seperti hendak menuju sebuah butik terkenal yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
Saat itu, kondisi jalanan cukup ramai, sedang beberapa wanita itu tampak berjalan melenggak lenggok sambil bercanda ria. Tiba-tiba datang dari arah kanan jalan di mana sebuah mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi, tapi tidak terkendali, mirip seperti kondisi mobil yang kehilangan rem atau dikendarai oleh orang yang mabuk alkohol!
Lalu, tak lama setelah itu ....
Brak! Terdengar suara benturan keras yang terjadi di sisi jalan, di mana dia melihat Syalu berjalan melenggang. Bahkan sebelum Junda sempat mencapai kerumunan para gadis, dia sudah melihat pemandangan yang mengerikan.
Ingin sekali dia menyeret Syalu dan menampar wajahnya berulang kali. Akan tetapi yang dia lihat sekarang ini ....
Sebagian gadis itu berteriak histeris, dua teman mereka terkapar di trotoar jalan dengan keadaan yang mengerikan. Saat Junda melihat, salah satu diantara perempuan yang tertabrak dan kondisi luka yang sangat parah di sekujur tubuhnya, adalah Syalu.
Seseorang mendekat, menempelkan jarinya di leher Syalu dan seorang lagi, lalu orang itu pun menggeleng, tanda kedua wanita itu sudah tidak bernyawa lagi. Junda menatap dua korban kecelakaan itu dengan perasaan yang campur aduk serta mual.
Ya Tuhan ... seperti ini akhirnya.
Lalu, untuk apa dia mengadukan pada kepolisian bila tangan Tuhan sudah mendahuluinya untuk diminta pertanggungjawaban?
Karmakah?
*Terima kasih buat semua pembaca yang sudah setia dengan ceritaku. Mohon maaf atas segala kekurangan dan ketidak bagusan cerita, atau tidak memuaskan ... baca kisah di novelku selanjutnya ya ... Love buat kalian semua, semoga bisa menghibur*
__ADS_1
TAMAT