
Ane menatap Relina dengan nanar, terlihat dari layar ponsel, mereka berdua sama-sama diam untuk beberapa jenak kemudian.
Relina berkata, “Ane Kamu tahu kan prinsipku?” Mendengar ucapan itu, Ane mengangguk. Dia tahu bila Relina adalah orang yang hanya akan mengatakan sesuatu yang benar saja, sedangkan sesuatu yang bersifat rahasia atau aib orang lain maka dia tidak akan mengatakan kepada orang yang tidak berhak mengetahuinya.
“Iya, iya ... aku tahu. Terus?” tanya Ane lagi.
“Aku nggak bilang apa-apa soal tanda itu.” Relina menganggap mitos yang dipercaya keluarga Junda sangat erat kaitannya dengan takdir Tuhan.
Sejak mencintai Relina, Junda memang berusaha untuk tidak terlalu takut akan kemungkinan yang terjadi di kemudian hari. Dia yakin bila berjodoh dengan Relina, maka semua akan baik-baik saja. Tergantung nasib atau takdir yang mereka miliki, apakah mereka akan berumur panjang atau sebaliknya.
Relina kembali melanjutkan bicaranya setelah melihat Ane hanya diam.
“Coba kamu pikir lagi, kita nggak pernah dengar kisah seperti itu, kan? Itu buktinya bahwa pendapat tentang mitos itu berbeda di setiap tempat.”
Ane kini mengangguk-angguk.
Memang mereka selama ini tidak mengetahui adanya sebuah cerita, jika ada seorang wanita atau pria yang menikah dan orang yang menjadi pasangannya meninggal, adalah orang yang memiliki tanda kutukan, bahu lawean.
“Kamu pernah dengar hal kayak gitu di kampung kita, enggak ada, kan? Nah, itu artinya Kalau apa yang dipercaya keluarganya itu belum tentu bener.” Relina berkata dengan tegas.
“Iya ... memang yang kamu omongin itu betul, sih ... tapi, kalau menurut aku, ya lebih baik diomongin saja.”
“Kenapa?”
“Ya biar Junda tenang.” Ini adalah pendapat yang tulus dari Ane. Dia berpikir bahwa kejujuran itu penting dalam membina sebuah hubungan. Apalagi bila sudah memasuki area berumah tangga, maka tanpa kejujuran kepercayaan akan sulit dibangun, sedangkan percaya adalah kunci dari ketenangan sebuah keluarga.
Bagaimana mungkin sebuah kepercayaan dibangun di atas kebohongan? Akan tetapi jelas bahwa, setiap orang punya alasannya sendiri untuk berbohong.
Namun, Relina tidak berniat untuk membohongi Junda. Dia hanya belum mengatakannya saja, lagi pula cinta mereka tulus bukan karena memiliki tanda yang sama. Jadi, tidak akan ada masalah bila dia mengatakannya atau tidak.
Lagi pula sejak neneknya meninggal, Junda menjadi lebih percaya diri dalam mencintai Relina, tidak merasa perlu untuk menyembunyikan hubungan mereka dari siapa pun.
“Apa, kamu bilang Nenek Junda meninggal? Tapi, kenapa Dion nggak cerita apa-apa sih sama aku?” tiba-tiba Ane menyela pembicaraan Relina.
__ADS_1
Seketika gadis itu diam dan berpikir, kemudian berkata. “Nenek yang merawat Junda tidak ada hubungannya dengan Dion. Mereka bersaudara dari garis ayah.”
“Oh .... jadi, begitu.” Ane akhirnya mengerti.
“Udah ... nggak perlu dipermasalahkan Dion mau bilang atau enggak, itu bukan urusanmu. Kalau sesuatu yang ada hubungannya, Dion pasti bilang sama kamu, iya, kan?”
“Hehehe iya.”
Relina tahu apabila tekad Junda sudah bulat untuk menikah, terlepas dari kepercayaan keluarganya tentang tanda sial yang dimilikinya.
Gadis itu pernah mencari informasi tentang cerita-cerita rakyat, yang banyak terjadi mengenai seseorang yang mempunyai tanda bahu lawean di tubuhnya. Mereka setiap kali menikah maka pasangannya itu akan tiada, dan beberapa mitos atau kepercayaan lainnya adalah mereka akan memiliki banyak kesialan dalam hidupnya.
Ada yang lebih mengerikan lagi, dari kepercayaan sebagian masyarakat ini, bahwa pasangan yang mereka nikahi, tidak akan berhenti meninggal sebelum mereka menikah sebanyak tujuh kali dalam hidupnya.
Akan tetapi, kebanyakan yang terjadi di masyarakat adalah apabila seorang wanita atau pria yang menikah sebanyak tiga kali dan semua pasangannya meninggal, maka tidak ada orang yang akan berani menikah dengannya lagi.
Setelah Shasi meninggal, kini mereka, Junda dan Relina, semakin percaya bahwa, apa pun yang akan dialami dalam pernikahannya kelak, apabila kemudian salah satu di antara mereka meninggal, itu hanyalah sebuah takdir Tuhan, tidak ada hubungannya dengan mitos apalagi kebetulan. Semua memang sudah jalan yang digariskan oleh Tuhan kepada mereka.
“Jadi, kepercayaan seperti itu sudah nggak ada lagi, dia tetap mau nikahin aku walaupun nanti bakal ada ujian yang harus kami hadapi. Bukan hanya kami, kalian juga pasti mengalami cobaan hidup.”
Relina melebarkan matanya, sambil melihat ke arah sikunya, lalu menjawab pertanyaan sahabatnya itu dengan tenang.
“Ya, memang ada dua, misalnya di bahu kanan kiri, ataupun di punggung kanan kiri, juga di bagian paha kanan kiri, aku juga memiliki dua tanda di siku kanan dan kiriku.”
Relina diam setelah berkata, begitu pula Ane, mereka tampak tenggelam dalam pikiran masing-masing. Relina tiba-tiba merasakan tanda yang di siku tangan kirinya sedikit hangat, tanda itu lebih besar dan bersisik, lebih besar dari tanda di siku tangan kanannya.
Relina masih diam dengan menatap langit-langit kamar, sedangkan panggilan sudah lama berakhir dan layar ponsel pun menggelap. Dia menikmati kesendiriannya dan bercumbu dengan kerinduannya pada Junda, hingga akhirnya matanya terpejam.
Tidak lagi perduli dengan gelapnya malam dan hiruk pikuk yang masih tersisa di seantero kota, yang dia pedulikan hanya lelahnya yang membutuhkan sandaran, rindunya yang ingin dilampiaskan. Hanya dengan tertidur maka semua itu akan terasa tenang.
*****
Beberapa hari berlalu setelah kejadian itu, Relina menjalani hari-hari dengan sedikit berbeda. Saat ini dipagi hari, selalu saja diawali dengan menyapa dan mengirimkan pesan pada Junda, hanya sekedar menanyakan, kabarmu, apakah kamu baik-baik saja, atau bertanya apa kamu sudah sarapan hari ini?
__ADS_1
Saat jam makan siang ada saatnya mereka saling menghubungi, hanya sekedar bertanya, kamu makan siang dengan apa atau bertanya bagaimana pekerjaanmu?
Semua itu menjadi kebiasaan tersendiri. Akan tetapi, untuk sekedar datang dan makan siang bersama atau mengantar jemput Relina, tidak dapat Junda lakukan. Mereka masih terpisah dengan jarak yang cukup jauh dan waktu yang sempit. Meskipun demikian, mereka bisa saling memahami kesibukan masing-masing, sehingga Relina tidak terlalu menuntut.
Walau ada kalanya sebagai seorang wanita, dia juga ingin bermanja-manja setiap hari dengan lelaki yang mencintainya, namun dia menepiskannya dengan sekuat hatinya.
Perhatian dan kasih sayang Junda sangat jelas dia rasakan setiap hari, saat Relina menghubungi, dia tidak perlu menunggu hingga nada sambung kedua, Junda sudah mengangkat ponselnya. Atau saat dia mengirim pesan melalui aplikasi WeChat, tidak menunggu waktu lama Junda sudah membalasnya.
Bila malam tiba, Relina pun tidak perlu meneleponnya, karena tanpa diminta, Junda sudah pasti melakukan panggilan video, kecuali bila ada rapat penting, Junda hanya menelpon Relina sebentar saja.
Hari itu, sudah waktunya makan siang seperti biasa, ketika Junda menghubungi Relina. Dia, mengernyit karena tidak biasanya, Junda menelpon lebih dulu saat makan siang.
“Hai, apa kamu tidak sibuk makan siang? Ada apa telepon?” Relina mencecar Junda karena menangkap keanehan, sedangkan sekarang belum saatnya janji bertemu mereka tunaikan.
“Apa menemui calon istriku membutuhkan alasan? Apa aku harus tidak sibuk baru boleh meneleponmu? Ahk ... yang benar saja!”
Tidak ... tidak membutuhkan alasan apa pun untuk menemui orang yang kita cintai, sebab alasan yang selalu ada hanyalah cinta.
Relina tertawa, mendengar Junda berkata demikian. Kata-kata calon istri, membuat hatinya melambung, wajahnya menghangat dan pipinya merona merah. Dia masih dalam perjalanan menuju warung makan terdekat, saat telepon genggamnya berdering dan sekarang dia tengah bicara sambil bersandar pada salah satu dinding bangunan yang belum selesai.
“Tidak, tidak perlu alasan apa pun. Ayo bicaralah. Aku ingin mendengar suaramu,” jawab Relina setelah selesai tertawa.
“Ayo makan siang bersama!”
“Kapan, sekarang? Apa kamu bercanda?”
“Tidak!”
Tiba-tiba suara yang menjawabnya terdengar sangat jelas dan begitu dekat, seolah-olah ada di sekitarnya. Relina masih memegang ponselnya ketika dia menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan pendengarannya tidak salah.
Pandangannya pun bertemu dengan sosok pria yang dicintainya, tengah berjalan dengan tenang datang mendekat, dia masih memakai stelan jas dan merentangkan kedua tangan, sambil tersenyum.
“Junda!”
__ADS_1
Bersambung