
“Sebaiknya semua anggota keluarga bersiap untuk menerima kehadirannya, apabila dia sudah pulang ke rumah, sebab apabila orang yang sudah menderita penyakit stroke, apabila pihak keluarganya tidak menerima ataupun membenci keadaannya maka penyakitnya akan lebih parah,” kata dokter itu menjelaskan tentang keadaan Shasi.
Dalam setiap keadaan manusia, dukungan dari orang-orang terdekat merupakan suplemen terbaik sepanjang manusia masih membutuhkan kasih sayang dari orang di sekitarnya.
Setelah dokter itu pergi, Junda pun masuk ke ruangan ICU, tubuhnya harus terlebih dahulu disterilisasi, untuk bisa melihat neneknya. Dia melihat tangan dan kaki wanita Shasi menjadi kaku serta mulutnya tidak bisa digerakkan, hanya matanya saja yang melihat ke arah Junda, dengan banyak emosi mengharukan pada sorot matanya. Wanita itu sudah siuman dari pingsan.
Junda begitu sedih melihat Shasi dalam keadaan seperti itu, tanpa dia sadari air matanya mengalir. Digenggamnya tangan wanita tua itu erat. Mengusir rasa khawatir yang tiba-tiba muncul. Bayangan ibunya yang sekarat menahan rasa sakit seorang diri, terbayang jelas dipelupuk matanya.
Dia belum siap bila harus kehilangan lagi, sebab perih rasanya dipisahkan oleh sebuah kematian. ibunya meninggal di ruang isolasi yang terpisah, dengan ruangan lainnya dan tidak seorang pun bisa menjenguknya. Orang dalam ruangan yang tertutup rapat, bahkan tanpa jendela itu hanya bisa dilihat dari balik kaca.
Junda melihat Shasi sekarang dalam kondisi yang hampir sama, banyak selang terpasang guna menopang hidup, membuat hatinya miris.
“Nenek, apa pun yang terjadi Jun akan tetap sayang sama Nenek,” kata Junda sambil mengusap tangan Shasi yang kaku, dengan lembut.
Junda berkata lagi beberapa saat kemudian, “Kenapa Nenek nggak bilang kalau mau ke Bandara, sebenarnya Nenek mau ke mana?” tiba-tiba raut wajah Shasi berubah. Wanita itu ingin mengatakan banyak hal tapi dia tidak bisa. Air mata pun menetes begitu saja. Junda menghapus air mata itu, sambil berkata kembali.
“Percayalah, sekarang Junda akan menuruti semua keinginan Nenek asal cepat sembuh dan Nenek bahagia.”
Junda tersenyum sangat manis, menutupi perasaannya yang mendung dan gerimis kemudian.
Sementara Relina yang berada di luar ruangan sangat gelisah, tubuhnya lelah dan perutnya lapar. Serta tidak tahu tempat yang bisa dia gunakan untuk menginap malam ini, mengingat rencana semula bahwa, mereka akan menuju apartemen yang sengaja di sewa oleh Junda untuk dirinya.
Relina mengirim pesan singkat pada Junda melalui ponsel, memberitahukan bila dia akan pergi mencari makan.
Junda membaca pesan itu, tapi tidak menjawab. Dia justru meminta Relina untuk masuk, tiba-tiba saja terbersit di hatinya untuk memperkenalkan Relina sebagai teman atau kekasih, pada Neneknya, dia ingin melihat reaksi Shasi seperti apa dan dia berharap Shasi akan menerima Relina dengan tangan terbuka.
“Masuklah,” kata Junda sambil membuka pintu ruangan itu. Relina masuk dengan ragu, walau dia sudah memakai pakaian rumah sakit dan mencuci tangan dengan desinfektan.
Relina tersenyum lembut begitu melihat Shasi yang juga menatapnya, sementara Junda memegang tangan Relina. Tiba-tiba raut wajah Shasi berubah lebih pucat hampir tanpa berwarna, tangan dan tubuhnya gemetar, mulut dan kepalanya bergerak seperti kegugupan kecil, sehingga seluruh tubuh gemetar tak menentu.
“Nenek!” kata Junda panik. Dia memegang tangan dan tubuh neneknya yang mengalami perubahan mengejutkan. “Nenek, kenapa, Nek?”
__ADS_1
“Hai ... Junda ....” Relina memanggil Junda dengan suara lirih dan tak kalah gugup. Dia berdiri dekat dengan Junda. Dia mengira Shasi menjadi seperti itu karena tidak menyukainya. Dia memang melihat perubahan di wajah wanita itu, saat dia masuk dan tersenyum ke arahnya.
Junda menoleh dan keningnya berkerut, dia lalu memikirkan hal yang sama, kemungkinan karena Shasi tidak menyukai Relina.
“Baiklah aku panggil dokter!” kata Junda kemudian sambil memencet alat yang ada di sisi tempat tidur.
“Nenek, tenanglah, kalau memang tidak menyukai Relina, aku akan menyuruhnya pergi. Tapi Nenek tenang, ya?” kata Junda kemudian dan dia memberi isyarat pada Relina untuk keluar.
“Baiklah aku pergi,” kata Relina dengan lesu dan melangkah keluar. Dia buru-buru menutup pintu, sementara air mata menetes di pipinya.
‘Memangnya apa yang aku harapkan dengan menyukainya? Bahkan Neneknya mungkin akan meninggal kalau melihat aku di samping Junda’ batin Relina sambil melangkah pergi mencari makanan untuk mengganjal perutnya.
Relina tengah menikmati makan malam, di kantin tak jauh dari ruang ICU berada. Dia menerima panggilan dari Junda melalui ponsel dan menanyakan keberadaannya. Dia menjadi kesal, ingin rasanya membuang perasaannya saat ini juga. Di sisi yang lain, dia sudah bertekad untuk menghadapi masalah, menerjang badai api bila memang Junda serius ingin menjalin hubungan dengan dirinya. Akan tetapi dia harus menyerah karena dia tidak akan mampu, menanggung resiko, dengan hilangnya sebuah nyawa.
“Kamu masih makan?” kata Junda dari ujung telepon.
“Nggak! Masih nyanyi!”
“Oh ... ada hotel dekat rumah sakit. Istirahat saja di sana. Tunggu aku kalau sudah selesai. Jangan ke mana-mana, oke?”
Cukup lama Relina menunggu Junda sambil memainkan ponselnya di kantin rumah sakit. Tempat dan makanan di sana cukup enak, hingga dia merasa nyaman walau harus duduk sendirian saat menunggu Junda.
“Maaf, lama, ya?” kata Junda begitu muncul dan duduk di hadapan Relina. Dia pergi setelah memastikan Shasi tertidur, serta meminum obatnya, dokter sudah berhasil menenangkannya.
Menurut dokter, kondisi Shasi yang seperti Tremor atau gugup itu dipicu oleh keadaan yang tidak dia sukai, atau melihat sesuatu yang menakutkan, termasuk bila mengalami hal yang mengerikan. Akan tetapi bisa juga karena sesuatu yang sangat penting atau dia pendam, tapi tidak mampu mengungkapkan.
Mendengar penjelasan dokter, akhirnya Junda menyimpulkan bila Shasi yang berubah tadi memang disebabkan oleh Relina karena Shasi tidak menyukainya.
“Nggak maslah. Kamu mau makan juga?” jawab Relina, sambil menyimpan ponsel di tasnya.
“Nggak. Nanti saja kalau lapar.” Junda menjawab dengan suara berat dan malas. Dia sudah menyiapkan untuk mengajak Relina makan malam, di restoran mewah, tapi rencana itu harus gagal.
__ADS_1
“Gimana, Nenek. Sudah baikan?”
Junda mengangguk pelan, rasa hatinya seperti dipalu Godam dengan sangat keras. Sakit sekali. Dia harus melepaskan Relina lagi, kali ini demi kesembuhan Shasi.
‘Apakah aku harus terus menerus membohongi Nenek karena wanita ini?’ batin Junda, kini dia berada dalam dilema.
“Kalau kamu sudah kenyang, ayo!” kata Junda sambil menggamit tangan Relina dan beranjak dari sana.
Mereka berdua menaiki mobil menuju hotel yang terletak hanya beberapa ratus meter saja dari rumah sakit. Suara pesawat yang menderu terdengar jelas karena lokasi itu tidak jauh dari bandara.
Junda melakukan cek in dan mendaftarkan kamar atas nama Relina. Setelah selesai, pria itu membawakan koper Relina sampai di depan pintu kamarnya.
“Aku sudah menghubungi Fuad,” kata Junda sambil menggesek kartu ID Akses. “Dia dalam perjalanan ke sini, besok dia yang akan menjemputmu. Tenang saja, dia sudah menyiapkan rumah Gunara yang diwariskannya padamu!”
Setelah itu dia memasukkan koper ke kamar, sementara dia masih berdiri di luar pintu.
“Aku?”
“Iya.” Junda menjawab sambil tersenyum miring di sudut bibirnya. “Kalau dia tidak meninggal, mungkin kamu sudah jadi nyonya, di rumah itu.”
Relina menatap Junda dengan tatapan mata penuh emosi di dalamnya, emosi yang lembut dan tidak terbaca.
‘Haruskah aku mengakui bahwa aku sudah jatuh cinta padanya? Apakah kami harus menipu semua keluarga demi cinta yang kami miliki bisa bersatu?’
“Ya, sudah. Maaf tadi sudah merepotkanmu. Soal urusan angsa.”
“Tidak masalah. Itu bukan apa-apa.”
“Baiklah, aku pergi. Istirahatlah, semoga tidurmu nyenyak.” Junda berkata sambil membalikkan badan, hendak meninggalkan Relina.
“Tunggu!” Relina berkata sambil memegang tangan Junda.
__ADS_1
Bersambung