Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Sebuah Amanah


__ADS_3

Ketika Rosihan dan Royan datang, mereka begitu gembira melihat Relina ada di rumah. Keluarga itu berkumpul dalam suasana suka cita. Duduk melingkari Relina sambil menikmati camilan dan oleh-oleh yang dibawanya. Mendengar celoteh dan cerita Relina yang mengalami banyak pengalaman setelah di pecat dari pekerjaannya.


 


Tanpa dia sadari keluarlah semua keluh kesah dan kegundahan hatinya ketika berhadapan dengan Junda. Selama ini dia menahan perasaannya dan tidak mengatakan pengalaman buruk itu kepada ibu dan ayahnya, namun sekarang, dia bahkan tidak sadar bercerita sambil mengeluarkan air mata.


 


“Pengalaman pahit tidak akan selamanya pahit dalam hidup. Ia seperti obat yang pahit tapi menyembuhkan.” Komentar ayah Relina yang dengan sabar mendengar cerita anaknya.


 


“Tapi, Ayah ... Hampir ditabrak, dikatakan wanita malam, dan dituduh membawa sial itu keterlaluan. Apa mungkin dia orang baik kalau menuduh orang sembarangan?” tanya Renita dan Royan mengangguk.


 


“Itu namanya salah paham. Ibarat cerita wayang di negeri kita. Orang tidak akan bisa mengambil pelajarannya, kalau tidak ada keluarga Semar yang menjelaskannya.” Kata Rosihan, sambil melipat kedua tangannya di depan dada.


 


Pria bertubuh gemuk itu sangat suka dengan wayang, baginya, banyak kisah dari cerita itu yang bisa diambil pelajarannya. Seni budaya yang berasal dari negeri Hindustan itu sejak kemunculannya sudah mengambil kisah-kisah dari para dewa.


 


Kemudian para leluhur yang bijak memasukkan Punokawan sebagai penyeimbang, untuk menjelaskan makna dari kejadian Ramayana, perang Bharatayuda atau kisah Basudewa Krishna dan banyak lagi kisah lainnya.


 


Dengan hadirnya Punokawan yang memiliki karakter atau sifat jenaka, mendidik serta bijaksana, dalam berbagai kisah pewayangan, menambah khazanah seni budaya bangsa yang sampai sekarang tetap lestari bahkan diminati turis manca negara.


 


“Ayah, ini ... Nggak ada hubungannya sama wayang, apa-apa selalu dikaitkan sama wayang. Aku itu heran sama Krisna lho, Yah. Sudah punya istri Rukmini tapi yang selalu dibawa pergi kok Radha.”


 


“Radha kan sahabat yang bijak dan membantu Krishna menyelesaikan banyak masalah. Bukan berarti dia gak cinta sama Rukmini.” Rosihan menimpali. Pria itu tetap tenang walau istrinya meradang. Wanita itu selalu saja menyudutkan dirinya dengan kisah Rdha Krisna.


 


“Sudah, sudah ... Ibuk, Ayah gak usah bertengkar karena cerita Radha Krisna. Semua ada pelajarannya, Relina tahu.” Gadis itu berkata dengan semangat, mencoba menengahi ayah dan ibunya.


 


Renita melirik suaminya dan kembali menatap Relina setelah itu. Lalu berkata, “tadi kamu bilang apa soal laki-laki yang suka ganggu kamu itu, dia punya tanda kutukan seperti apa?” Renita tampak penasaran.


 


Relina tertawa geli dengan reaksi ibunya, akan tetapi dia tetap menceritakan bagaimana awalnya dia bisa mengetahui bahwa Junda tidak akan menikah dengan sembarang wanita karena kepercayaan keluarga terutama neneknya. Kecuali menikah dengan wanita yang memiliki tanda yang sama.


 


“Memangnya, seperti apa tandanya?” tanya Renita sambil menatap anak perempuannya lekat-lekat. Relina menggelengkan kepalanya karena dia memang tidak tahu tanda seperti apa.


 


“Jadi, bukan tanda kutukan, Buk. Cuma kepercayaan saja.” Relina menimpali.


 

__ADS_1


“Itu kan sama saja kalau kamu percaya kita nggak boleh nyapu malem-malem karena nanti rezekinya hilang.” Kata Rosihan.


 


“Wah, memang iya gitu, Yah. Kalau nyapu malem-malem rezeki kita hilang?” Royan ikut berbicara.


 


“Memang penyebab hilangnya rezeki karena membersihkan lantai di malam hari, gitu?” tanya Rosihan sambil menatap anak lelakinya.


 


“Ya, bukanlah ....” Royanu Zaki menimpali sambil mengedikkan bahunya.


 


“Hais, masa kayak begitu dipercaya.” Kata Relina sambil mencebik.


 


Rosihan melirik Relina dan berkata dengan tenang, sambil melepaskan lipatan tangannya. “Kalau menghadapi orang yang punya kepercayaan seperti ini, hargai mereka. Kita tidak boleh mengejek kepercayaan orang lain dan menganggapnya bodoh, bisa jadi orang itu menganggap kepercayaannya benar dan suci.” Nasehat pria bertubuh gemuk itu terdengar bijak.


 


“Jadi, kalau soal benar atau tidaknya sebuah mitos itu tergantung siapa yang mempercayai. Memang tidak sama semua mitos di dunia,” sahut Renita. “Tapi kita tetap harus menghormati mereka, jangan sampai kalian, menghina kepercayaan orang lain, ya?”


 


“Misalnya, kepercayaan dewa matahari di Jepang, tidak sama dengan kepercayaan tentang dewa api di Persia, kepercayaan dewa bumi di India, tidak sama dengan dewa bumi di Yunani kuno,” kata Rosihan.


 


 


“Kalau tentang sejarah kemerdekaan bangsa, ya tidak. Karena sejarah setiap kemerdekaan bangsa murni kejadian sesungguhnya," Kata Rosihan.


 


“Lalu?” tanya Royanu.


 


“Biasanya sejarah yang berkaitan dengan asal muasal nama kota, nama jembatan, sungai, atau gunung, atau julukan sebuah wilayah, nah itu terkadang ada beberapa yang berkaitan dengan mitos. Walau tidak semuanya,” Kata Rosihan menjelaskan.


 


“Nah, misalnya kisah batu Malin Kundang. Atau kisah nama Bizantion di Eropa?” Tanya Royanu lagi.


 


“Hais, kalo Bizantition itu bukan mitos, itu memang kisah nyata dari seorang jendral yang berhasil menaklukkan daerah pesisir Bosphorus di Turki, yang bernama Bizantition. Terus kota itu dikasih nama, sesuai sama namanya. Iya kan, Yah?” kata Relina.


 


“Apa iya, ya. Ayah lupa.” Kata Rosihan sambil beranjak dari tempat duduknya dan menuju kamar, dia terlihat lelah dan ingin istirahat.


 


Kalau ingin menjajaki sejarah maka banyak dari nama-nama kota, tempat, kawasan berasal dari nama-nama manusia yang berhasil menaklukkan dan menemukannya juga berkuasa di masa itu. Bahkan nama-nama bulan dalam satu tahun, dan nama pesawat Apollo, berasal dari nama para kaisar Romawi yang berkuasa dizamannya.

__ADS_1


 


Setelah obrolan itu, Relina kembali berpikir, tentang Junda, tiba-tiba saja dia mengingatnya. Relina merebahkan diri, sambil membuka ponsel yang sudah sejak pagi dia matikan. Alangkah terkejutnya dia melihat ada banyak sekali pesan chat dari Junda.


 


“Maaf ... aku nggak bisa mengikuti kamu lagi. Lebih baik mengakhiri sekarang sebelum kita memiliki perasaan dari pada nanti timbul rasa di antara kita, akan lebih sulit untuk mengakhirinya,” gumam Relina sambil mematikan kembali ponselnya. Dia mencoba menghindari kontak dengan semua masa lalunya di kota Bogor dan Jakarta.


 


Walaupun merasa aneh, tapi dia mengasihani dan sekaligus menghargai pria ini, menurutnya, justru Junda kasihan sekali, bila sampai seumur hidup tidak akan pernah menemukan istri yang dia cari.


 


Itulah keputusan Relina, yang mengakhiri hubungan dengan Junda bahkan sebelum mereka memulainya.


 


******


 


Danu duduk dengan kesal di hadapan dua lelaki yang tengah mencari Relina. Mereka adalah Fuad dan Junda. Bahkan mereka sempat bersitegang karena salah paham, saling menanyakan keperluan masing-masing dalam mencari Relina.


 


Baik ponsel maupun chat dari keduanya tidak mendapatkan balasan apa pun dari gadis yang mereka cari. Junda dan Fuad tidak menyangka bahwa Relina pergi dari kedai itu ke kampung halamannya. Itulah yang dikatakan Danu pada mereka.


 


Sudah tiga hari sejak kepegian Relina, Danu juga tidak mendapatkan kabar apa pun dari keponakannya. Sekarang Danu dibuat pusing oleh urusan laki-laki yang sama-sama mengaku teman dan memiliki kepentingan yang berbeda.


 


Sementara Relina meminta pamannya itu untuk merahasiakan keberadaan dirinya kepada siapa pun juga, terutama pria yang kini duduk dengan tegap di depan Danu dengan wajah keruh. Dialah Junda.


 


“Sekarang jelaskan pada saya, siapa sebenarnya kalian dan apa keperluan kalian mencari keponakan saya?”


 


“Saya Junda, saya pernah kemari beberapa hari yang lalu menemui Paman, saya harap Anda tidak lupa.”


 


Danu menoleh pada Fuad setelah Junda selesai bicara.


 


“Saya, Fuad. Saya teman baik Relina, dan saya akan mengajaknya bekerja sama di perusahaan saya. Ini amanah, Pak!” kata Fuad.


 


“Amanah? Amanah dari siapa maksud kamu?”


 


Bersambung

__ADS_1


 


__ADS_2