Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Berutang Nyawa


__ADS_3

Relina menangis bukan karena meratapi kematian Gunara, tetapi dia menyesali mengapa tidak berupaya lebih keras lagi agar bisa melihat dan menengoknya. Seandainya dia bisa menjenguk dan mengatakan sesuatu kepadanya, tentu dia tidak akan begitu menyesalinya.


Banyak sekali yang ingin dia katakan pada laki-laki itu, tentang kebahagiaan dan cita-citanya, ataupun membahas tentang kegemaran mereka berkemah di masa lalu. Bahkan mereka pernah punya cita-cita untuk membangun sebuah taman di bukit, yang indah dan mereka akan memberinya nama, dengan sebuah nama dari gabungan dari nama mereka.


Saat itu Relina hanya berpikir, mungkin dengan membicarakan tentang cita-cita yang indah dan juga kenangan, serta kata-kata yang manis, akan membangkitkan semangat Gunara untuk sembuh. Ya, sebuah kesembuhan bisa dimotivasi oleh rasa bahagia, bukan?


Tiba-tiba saja ketika Relina mengingat kenangannya bersama Gunara, seolah-olah dia sedang memeluk sesuatu yang sangat tajam, semakin diingat semakin menyakitkan. Rasa sakit itu timbul bukan dari ingatannya, tetapi dari penyesalan yang ia rasakan.


Terkadang Tuhan memberikan cobaan, dengan menghilangkan nyawa seseorang, agar orang lain merasa bahwa dirinya begitu berarti. Oleh karena itu, sebaiknya seseorang memanfaatkan waktu, untuk terus menerus berbuat baik, agar jika suatu saat nanti kehilangan itu terjadi, maka tidak akan terlalu menyesali, sebab sudah berbuat yang terbaik.


Tapi sudahlah, kehilangan memang menyakitkan apa pun bentuknya, sehingga tidak ada gunanya menangisi. Relina pun mendongak, mengusap air mata di pipinya dan kembali berdiri. Saat ia baru saja melangkah, tangannya ditarik oleh Junda dan laki-laki itu mendekap bahu Relina ke ke dadanya. Dia memeluk tubuhnya dengan erat membuat Relina terkejut. Lagi-lagi Junda bersikap semaunya.


“Lepaskan!” katanya sambil berusaha mendorong tubuh Junda menjauh darinya.


“Maafkan, aku.” kata Junda.


“Apa yang harus aku maafkan? Tidak ada gunanya, pergilah.”


Relina hanya ingin sendiri, namun yang dilakukan Junda bukanya menurutinya untuk pergi, tetapi justru mengulurkan satu tangannya yang ke bawah dan menggendong Relina, ala bridal style. Dia memasukkannya ke dalam mobil. Walaupun Relina berusaha memberontak dengan memukul dada dan menggoyang-goyangkan kakinya, Junda justru lebih erat memegang tubuhnya. Laki-laki itu kembali memaksanya!


Begitu Junda berhasil mendudukkan dan mengunci Relina di dalam, dia berjalan dengan cepat mengitari mobil dan duduk di belakang kemudi. Setelah mengunci pintunya dan menyalakan mesin, dia memasangkan Relina sabuk pengamannya, sementara gadis itu tidak henti-hentinya memukul bahu Junda, tapi laki-laki itu membiarkannya.


Setelah Reliina berhenti memukul, barulah Junda mulai melajukan mobilnya. Saat itu pula Relina berteriak sangat keras, sambil memegangi kepalanya. Junda tidak bergeming dia terus melajukan mobilnya seolah-olah teriakan Relina tidak ada artinya.


Setelah lelah berteriak, menangis dan juga memukul, gadis itu terlihat lelah, hingga dia pasrah n tidak melihat laki-laki Itu sama sekali. Relina memiringkan kepalanya dan melihat pemandangan di luar jendela yang seperti berlari meninggalkan dirinya, kenangan dan cita-citanya pergi.


‘Aku harus pergi besok .. aku harus pergi! Kalau aku tetap di sini maka laki-laki ini akan terus bersikap memaksa seperti ini!’


Tanpa menunggu waktu lama, karena lelah, rasa kantuk pun datang menyergap, sehingga Relina memejamkan matanya dan tertidur. Menyadari hal itu Junda tersenyum miring, dia berhasil mendiamkan perempuan itu. Walaupun diam bukan karena menurutinya, tapi dia sudah cukup puas.


Mobil Junda sudah sampai di seberang kedai kopi, yang terlihat ramai tetapi dia tidak segera pergi ke sana karena menunggu Relina terbangun. Sudah cukup lama dia berada di tempat itu, saat ponselnya berdering cukup keras, sehingga Relina pun terbangun.


Relina melihat ke sekelilingnya dan ia sadar bahwa dirinya sudah sampai di kedai kopi. Dia mencoba keluar, tapi tidak bisa turun, karena pintunya terkunci. Tentu saja dikunci oleh Junda dari ruang pengemudi, sedangkan laki-laki itu sedang menerima ponsel dan terlihat berbicara sangat serius.

__ADS_1


“Benarkah? Kau bisa melihat jelas dalam rekaman itu?” kata Junda dengan seseorang di ujung telepon.


Relina tidak bisa mendengar dengan siapa Junda bicara, sehingga yang terdengar di dalam mobil itu hanya suara Junda.


“Bisakah kau kirimkan beberapa filenya padaku?”


Diam sejenak.


“Sebaiknya kita pikir lagi kalau ingin menjerat dengan pasal apa yang pantas.”


Diam kali ini cukup lama.


“Aku akan berbicara dengannya, kalau seandainya dia tidak mau mengaku dan dia tidak berubah, aku akan membawanya kepadamu. Kita bisa buat BAP-nya langsung.”


Saat Junda berbicara, Relina diam dan terlihat menyimak serta mendengarkan. Selain karena ia tidak berdaya, dia tidak bisa keluar dan juga ingin mengetahui apa sebenarnya yang dibicarakan laki-laki di sampingnya.


“Apa ada orang lain yang terlibat?”


Junda tampak menarik napas panjang.


“Kau yakin tidak ada motif lain? Kapan kita akan menginterogasinya?”


“Iya. Aku sedang bersamanya.” Junda kali ini menengok dan melihat Relina lekat, dengan kening yang berkerut.


“Tidak, sebenarnya tidak perlu ... aku tidak ingin melibatkannya, sudah aku bilang ini urusanku. Bukan dia.”


“Baiklah.”


Setelah selesai bicara dan menutup ponselnya, Junda kembali menoleh kearah Relina yang tengah menyandarkan tubuh dan kepalanya di sandaran kursi sambil memejamkan matanya.


“Kamu sudah bangun, apa kamu lelah?”


Relina menoleh dan membalas tatapan dengan tatapan mata penuh amarah dia memelototi Junda lalu berkata, “Tidak, saya tidak lelah terima kasih atas bantuan Anda, sudah mengantarkan saya ke sini dan tolong buka pintunya!”

__ADS_1


“Baiklah, kamu nggak perlu bilang terima kasih karena akulah yang seharusnya berterima kasih, kamu sudah menyelamatkan kita. Kamu masih ingat semalam, kan?”


Relina tidak menjawab, tubuhnya kaku dan Ia memang enggan sekali berbicara dengan Junda saat itu.


“Aku sudah menyelidikinya, yang memberi obat perangsang pada minuman kita semalam, adalah Syalu. Kau tahu, obat itu dosis tinggi, bahkan bisa membunuh nyawa kita berdua. Kalau kita tidak menyalurkannya maka kita akan mati, tapi kalau menyalurkannya juga kita tetap akan mati. Jadi aku berterima kasih padamu, berkat kamu kita selamat dan tidak mati hari ini.”


‘Bu Sya? Tapi kenapa, aneh sekali?’


“Ya, ya ... karena kau sudah berhutang nyawa padaku, maka sekarang lepaskan aku dan jangan ganggu aku lagi, oke?”


Junda kembali memeluk dan berbisik, “terima kasih.”


Kali ini Relina membiarkan tapi juga tidak merespon, sambil berkata, “terserah!”


Junda tidak tidak menimpalinya, tapi dia membukakan sabuk pengaman untuk Relina bahkan membukakan pintu mobil untuknya, tanpa berbicara sepatah kata.


Relina keluar dan menyeberang jalan, sampai di kedai kopi, tanpa menoleh lagi pada Junda dan kembali bekerja melakukan tugasnya seperti biasa, seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya.


Di sela-sela kesibukannya ia mencoba menghubungi Ane, tapi tidak mendapatkan jawaban seperti yang sudah-sudah. Beberapa pesannya pun tidak terbalas, sehingga dia curiga, bila sudah terjadi sesuatu pada sahabatnya itu.


‘Apa dia sakit atau ponselnya hilang atau dia pergi dan ponselnya tertinggal di rumah?’ berbagai prasangka pun muncul di benak Relina.


Relina tidak tahu apa yang akan dia lakukan, ingin sekali berbagi beban dengan sahabatnya dan berharap masalahnya akan lebih ringan. Setidak-tidaknya ada orang lain yang ikut serta merasakan apa yang dirasakannya. Dia pun bingung bagaimana sikapnya pada Junda, membuat kebimbangan kembali mengusiknya, apakah dia akan bertahan atau pergi dari Jakarta.


Relina saat ini untuk pertama kalinya dalam hidup merasakan masalahnya cukup berat. Setelah mendapat musibah ditinggalkan oleh orang yang sangat dia harapkan, dia juga dikhianati oleh orang yang menyebalkan. Orang yang berjanji akan memberinya kebebasan, namun tetap mengganggunya sampai hari ini.


*****


Malam harinya ketika Relina tengah asyik merebahkan diri di atas tempat tidur. Tiba-tiba dia dikagetkan oleh bunyi dering telepon seluler menandakan ada panggilan masuk yang segera dia terima. Dia melihat nomor yang tidak dikenalnya, dengan alis yang bertaut.


“Halo!” sapa Relina terlebih dahulu. “Kamu?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2