Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Kamu Mau Tidak


__ADS_3

Relina dan Junda saling menatap meluapkan perasaan masing-masing dari tatapan itu, seolah menimbulkan percikan penuh warna diudara.


Hati yang sama-sama saling mencintai dengan sejuta alasan yang ada tanpa mempertanyakan kekurangan dan juga kelebihan yang ada pada diri mereka. Cinta di antara mereka benar-benar tulus.


Relina hanya ingin tahu reaksi Junda bila sebenarnya dirinya tahu tentang kepercayaan keluarganya selama ini dan membuat pria selalu ragu dalam mencintai, tetapi begitu yakin untuk mencintainya. Gadis itu merasa bahwa lelaki di depannya ini luar biasa karena telah begitu berani menikahinya.


“Jun, kamu kan percaya soal kesialan tanda lahirmu, tapi sepertinya sekarang kamu nggak ragu menikah denganku?” Kata Relina, tanpa melepaskan tatapan matanya.


“Apa yang kamu tahu tentang itu?” Junda balik bertanya, seharusnya dia yang bertanya seperti itu. Sinar matanya lembut menyelimuti wajah Relina. Dia tidak akan melepaskan gadis itu walaupun tidak memiliki tanda yang sama di tubuhnya, dia mencintai setulus hati, bahkan tanpa dia sadari bila rasa itu sudah bersemayam di hati.


Relina pun tidak mengatakan dengan jujur dari mana dia mengetahui perihal keluarga Junda. Awalnya hanya sekedar simpati, mendengar kisah itu, lalu perasaannya berkembang menjadi cinta dan tidak peduli dengan apa yang akan terjadi. Kepada ibu dan ayahnya pun dia hanya mengatakan bahwa alasannya adalah cinta, lalu bertekad mewujudkan keinginannya.


“Apa kamu nggak khawatir? Kalau aku pergi ninggalin kamu selamanya, atau kamu memang gak takut aku tiada?”


“Sebenarnya nenek yang percaya hal seperti itu. Aku hanya yakin kalau aku mencintai kamu dan kamu pasti mencintai aku itu saja ....”


“Benarkah? Apa nggak ada yang kamu sembunyikan?”


“Nggak, hanya saja ....”


Junda ragu untuk mengatakan dengan jujur, bahwa sejak dia mengetahui bila Relina memiliki tanda lahir yang sama dengan dirinya, barulah dia merasa yakin kalau gadis itu harus menjadi istrinya. Dia merasa bahwa Relina tidak akan tiada.


“Hanya apa?”


“Tidak ada. Hanya awalnya aku ragu kalau kamu mau menikah denganku.”


Tiba-tiba Junda kembali memeluk Relina lebih erat dari sebelumnya.


“Kamu sekarang sudah sah menjadi istriku,” kata Junda setelah melepaskan pelukannya. “Jadi, besok ikut aku pulang ke rumah kita. Sebulan lagi kita adakan resepsi pernikahan di gedungku. Oke?”

__ADS_1


“Masih saja suka maksa.”


“Ya, kamu mau tidak?”


“Ya, ya,” ucapan Relina membuat Junda tertawa kecil.


“Dah, pergi sana. Aku mau berkemas dulu.”


Setelah melihat Relina turun dari mobil dan masuk ke rumah, barulah Junda melajukan mobilnya kembali ke Hotel. Sambil mengendarai, dia melihat ponselnya yang sejak tadi bergetar di saku celananya menandakan ada panggilan masuk. Dia sengaja membuat benda pipih itu tidak bersuara.


Betapa terkejutnya dia ketika melihat siapa yang menghubunginya.


‘Syalu? Untuk apa dia meneleponku? Tumben’ batin Junda. Wanita yang sudah memberinya banyak masalah itu tidak pernah lagi bertemu dengannya. Akan tetapi, pria itu tetap menghubungi walaupun, rasa kesalnya masih ada.


“Ada apa kamu telepon?” tanya Junda sambil menepikan mobilnya.


“Untuk apa kamu telepon! Jangan membuatku marah kalau kamu Cuma mau tertawa!” Junda berteriak ditengah-tengah suara tawa itu belum juga mereda.


“Kamu menikah dengan gadis kampung itu?” tanya Syalu pada akhirnya, membuat Junda mengerutkan keningnya heran, bagaimana gadis itu bisa mengetahui pernikahannya.


“Bukan urusanmu!”


“Hah, apa kamu pikir dia akan selamat walau kalian punya tanda lahir yang sama?”


“Apa maksudmu?” Junda masih berpikir ketika akhirnya dia menemukan sebuah garis bahwa Syalu sebenarnya sudah lama mengetahui tentang Relina, hingga kemudian gadis itu dulu berbuat hal semacam itu kepadanya juga Relina.


Syalu tertawa lagi. Dia puas dengan Junda yang heran pada dirinya.


“Ya, kamu tahu kan aku mencintaimu Junda! Aku sudah melakukan banyak hal untuk perusahaan dan kehidupanmu. Kalau kamu memang tidak percaya mitos bodoh seperti itu, kenapa kita tidak menikah saja sejak dulu? Hah!”

__ADS_1


“Tapi aku yang nggak cinta sama kamu, Sya. Aku sudah sering bilang, kan?”


“Dasar kamu saja yang bodoh, nggak bisa lihat apa berlian atau batu kali, tapi ka—“ ucapan Syalu terhenti karena telepon sudah dimatikan dan Junda mempercepat laju kendaraan, dia ingin malam ini segera berakhir. Dia tidak mau repot memikirkan bagaimana Syalu mendapatkan informasi karena baginya itu semua tidak penting.


Syalu sudah dengan jelas mengatakan dirinya bodoh, sungguh tidak bisa dipercaya. Seorang sahabat yang seharusnya mendukung tapi justru menertawakan keputusannya. Pastilah wanita itu tahu banyak soal Relina, kalau tidak, mana mungkin dia bisa mengatakan hal seperti itu kepadanya.


‘Apa itu sebabnya Syalu begitu senang saat Relina aku pecat, dulu?’ batin Junda.


Harapan yang besar bahwa hari esok masih ada untuk dirinya, yang bisa dia habiskan berdua dengan Relina.


Keesokan hari.


Junda berangkat dari hotel tempat menginap bersama keluarga dan kerabatnya, secara bersamaan dengan mengendarai mobil Van yang mereka sewa.


Bukannya mereka tidak punya mobil seperti itu akan tetapi karena kemarin pergi ke kampung halaman calon pengantin dengan menumpang pesawat kecil, yang menyebabkan mereka tidak bisa membawa kendaraan masing-masing sehingga keluarga itu memutuskan untuk menyewa mobil, di tempat mereka berada sekarang.


Bagi sebagian orang memang akan mudah untuk mengendarai mobil pribadi tapi di lain waktu dan kesempatan, terkadang kenyataan yang ada membuat mereka lebih mudah dengan menyewa sebuah kendaraan yang besar sehingga bisa bawa semua keluarga.


Acara pernikahan yang mereka hadiri adalah akad nikah sederhana untuk mengesahkan hubungan antara Dion dan Anne.


Acara yang akan dilangsungkan kali ini hanya bertujuan untuk mendapatkan legalitas saja, sedangkan rencana resepsi, akan diadakan satu bulan lagi di kediaman Dion di Kota Bogor.


Kemungkinan, resepsi akan diadakan secara meriah oleh keluarga itu sebagai bentuk rasa syukur setelah pria itu melajang selama hampir tujuh tahun setelah kematian istrinya.


Rombongan keluarga itu disambut dengan hangat oleh keluarga mempelai wanita. Termasuk keluarga Relina pun ada di sana. Ketika melihat Junda, dia pun tersenyum lebar. Betapa bahagianya melihat pria yang dicintainya, tersenyum pula padanya dengan tatapan memuja. Sementara jantungnya berdebar sangat cepat seperti orang yang baru pertama kali jatuh cinta.


 


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2