Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Maafkan Aku


__ADS_3

Relina berdiri di samping mobil setelah menutup pintunya. Dia bisa melihat Junda dengan tatapan yang tidak terlukiskan. Dia memberi isyarat pada penjaga bahwa pria itu adalah teman dan tidak membahayakan. Begitu pula saat Erwin mendekat, dia menggelengkan kepala seolah mengatakan bahwa mereka akan baik-saja.


Erwin tahu itu Junda dan tentunya mereka saling kenal, karena antara perusahaan mereka pernah bekerja sama.


“Oh, jadi sekarang kamu asistenya? Kalian sering berdua, dong,” kata Junda ketus, ketika Erwin mengangguk hormat padanya.


“Maaf, Pak Jun. Ini sudah malam. Bu Relina butuh istirahat,” kata Erwin terlihat tidak suka dengan gaya Junda yang terkesan mengintimidasi. “Sebaiknya Anda pulang, sa—“ ucapannya terhenti oleh Relina.


Gadis itu berkata, “Erwin, tenanglah. Aku bisa mengatasinya. Kamu pulang saja. Besok jemput aku seperti biasanya.”


“Baik, Bu. Saya permisi.” Kata Erwin sambil menunduk pada Relina tapi tatapan matanya ke arah Junda, lalu berjalan, masuk ke mobil dan pergi.


Relina melirik mobil yang dikendarai Erwin menjauh, lalu pandangannya kembali terarah pada Junda yang tengah melihatnya juga. Tatapan mata mereka seperti menghisap satu sama lain, hingga tanpa mereka sadari kaki melangkah, dengan cepat. Begitu mereka saling berhadapan, Junda mengulurkan tangannya untuk memeluk Relina.


Pelukan itu sangat erat seolah Junda akan membensmkan Relina ke dalam dirinya. Gadis itu membiarkannya, hingga beberapa saat lamanya. Banyak sekali pertanyaan yang ingin ditanyakannya tentang keadaan Junda. Akan tetapi, yang keluar dari mulutnya adalah pertanyaan. “Kenapa kamu ke mari? Dari mana kamu bisa tahu aku di sini? Bagaimana keadaan Nenek?”


Junda melepaskan pelukannya dan menatap Relina hangat sambil menghela napas, lalu berkata, “Apa hanya itu yang kamu tanyakan?”


Junda mengharapkan Relina bertanya tentang dirinya, dia ingin tahu apakah gadis itu sama seperti dirinya yang memikirkannya. Pertahanannya meredam kerinduan itu hancur saat dia memikirkan ucapan Dion. Laki-laki itu mengingatkan tentang kesalahannya pada Relina.


Seandainya dia tidak memecat Relina dari pekerjaannya, mungkin saja mereka masih bisa bersama, mereka mungkin akan menjadi pasangan kekasih atau setidaknya Junda tetap bisa bertemu setiap hari dengannya.


“Memangnya apa yang harus aku tanyakan?”


“Ah, ya ... kamu sudah hebat sekarang. Jadi pasti tidak membutuhkan orang seperti aku, kan?” Junda berkata dengan senyum kecil di sudut bibirnya, menunjukkan emosinya yang buruk.


Relina memundurkan leher dan memiringkan kepalanya, dia berpikir tentang apa yang baru saja di dengarnya. Mana mungkin dia melupakan kebaikan Junda, karena dirinyalah sekarang bisa dia bisa bekerja lebih baik.


“Apa kamu pikir aku melupakanmu?” tanya Relina. Mendengar itu, seketika Junda ingat tentang tujuannya untuk menyatakan rasa bersalahnya.


“Tidak. Aku memang pantas dilupakan.” itulah kalimat yang keluar dari mulut Junda.


“Aku tidak meluapkanmu. Junda ... aku sangat sibuk belajar,” kata Relina menunjukkan kejujuran. Dia masih fokus mempelajari semuanya dengan baik, dia tidak ingin mengecewakan semua orang, termasuk mendiang Gunara.


Relina belum pernah berkecimpung dalam bidang kepemimpinan perusahaan. Menjadi sekertaris atau manager saja tidak. Jadi, pekerjaan itu memang sesuatu yang sangat baru baginya. Akan tetapi dia bersungut-sungut dalam mempelajari dan melakukan tugasnya.


“Belajar?”


“Ya,” jawaban singkat Relina ini, membuat Junda menertawakan dirinya sendiri. Lalu Relina berkata lagi. “Tapi aku nggak bohong, aku ingat sama kamu.”

__ADS_1


Selama Relina mulai tinggal sendiri di rumah yang cukup besar, dia sering merasa kesepian. Dia sudah berusaha mengusir rasa jenuh dan lelah dengan menelepon keluarga, mendengar petuah ayahnya tentang wayang, atau mencandai Royan hingga berjam-jam. Akan tetapi hatinya tetap saja sepi, hanya satu yang membuatnya hangat, adalah mengingat Junda.


Terkadang senyum terbit di bibirnya saat mengingat tingkahnya yang selalu memaksa, bagaimana laki-laki itu menciumnya dan semua kebaikan yang dilakukan di beberapa hari terakhir pertemuan mereka.


Relina ingin menghubungi Junda, setiap kali teringat kenangan mereka, tapi disaat yang sama dia ingat Shasi dan bagaimana reaksinya ketika melihat dirinya. Tak jarang dia menangis bila kerinduan itu benar-benar terasa seperti batu yang menindih hatinya.


Junda menatap Relina tajam, ingin mencari kebenaran dalam kecantikan wajah Relina. Pandangannya seolah menelan gadis itu bulat-bulat, menyimpan dan menguncinya dalam hati.


Kata-kata Relina membuat Junda mengangkat tangan untuk membelai pipinya dan gadis itu terpejam saat merasakan belaiannya.


“Maafkan, aku,” ucap Junda kemudian.


Relina membuka mata dan berkata, “Untuk apa kamu minta maaf, kamu nggak salah.”


Suara Relina terdengar lembut dan tangannya sudah menggenggam tangan Junda yang ada di pipinya.


Junda mengerutkan alisnya saat gadis itu bicara lagi. “Justru seharusnya aku berterima kasih ... sebab kalau kamu nggak pecat aku dulu, mungkin aku nggak akan pernah tahu perusahaan kak Gun, kalau kamu nggak mengajukan syarat menolakku ... mungkin aku gak kerja di kafe paman.”


Semua yang dikatakan Relina benar dari segi pemikiran yang berbeda, seandainya dia tidak bekerja di kafe Danu waktu itu, mungkin Gunara tidak akan datang menemuinya dan mendapatkan kecelakaan yang merenggut nyawanya, sehingga Relina tidak akan menjadi pimpinan perusahaan seperti sekarang.


Setelah beberapa saat, Junda tersenyum dan berkata, “Jadi, aku sebenarnya tidak bersalah padamu?”


Relina menggamit tangan Junda dan mengajaknya masuk ke rumah, mereka duduk di ruang tamu yang luas dengan sofa besar di tengahnya.


Junda memandang sekeliling, sambil berkata, “Kamu nggak takut sendirian di sini?”


Relina diam tidak menjawab pertanyaan Junda yang dianggap tidak penting. Dia mendekat dan berkata, “ Kamu masih mau mendengar jawabanku?”


Junda menoleh menyapu wajah Relina dengan tatapannya dan menyahut, “Soal apa?”


“Kamu menyukaiku?”


Beberapa hari terakhir saat Relina melihat beberapa daftar perusahaan, instansi baik pemerintah ataupun swasta yang pernah bekerja sama dengan perusahaannya, hal yang pertama kali terlintas di kepalanya adalah Junda. Kemudian dia baru mengetahui, bahwa sejak awal dia bertemu dengan pria itu, sebenarnya nama Junda sudah ada di hatinya, bahkan jauh sebelum mereka memiliki konflik bersama. Ya, dia menyukainya juga.


Junda terpaku. Dia tidak bisa berkata-kata, selama ini dia berusaha keras melupakannya demi neneknya, tapi yang ada justru kesadaran dan kesadaran bahwa wajah Relina tidak pernah pergi dari benaknya.


“Jadi, apa kamu menyukaiku?” tanya Junda. Relina mengangguk kuat sambil tersenyum namun tatapannya serius. Junda yang sudah menjadi jalan bagi dirinya hingga seperti ini.


“Aku mencintaimu.” Relina berinisiatif untuk memeluk Junda lebih dulu, melingkarkan tangannya ke leher Junda.

__ADS_1


Junda membalas pelukannya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Relina dan mengangkat hingga gadis itu duduk di atas pangkuannya.


Pelukan ini lebih lama dari pelukan pertama, hingga saat Relina mengendurkan belitan tangan di leher Junda, dia menunduk karena posisinya lebih tinggi dari Junda. Junda memegang dagunya dan mencium bibirnya lembut.


Ciuman mereka lepaskan, saat Junda bicara, “Berikan pekerjaanmu padaku, biar aku yang mengerjakannya untukmu.”


‘’Hei, dia sudah memaksa lagi’


Relina menautkan alisnya dan berkata, “Kenapa?” sementara dia masih duduk di pangkuan Junda.


“Aku kuatir kamu lupa minum obat, karena sibuk,” sahut Junda.


“Kenapa kamu gak telepon aku biar nggak lupa?”


“Jadi, kamu selama ini lupa karena aku nggak telepon?!” Raut kekesalan di wajah Junda, jelas terlihat.


‘Hei! Bukan itu maksudku!’ batin Relina kesal. Dia turun dari pangkuan Junda, tapi laki-laki itu mempertahankan posisinya.


Relina bertubuh kurus karena sering sakit-sakitan sejak kecil. Junda tahu riwayatnya sejak konsultasi dengan dokter dan membicarakannya. Setelah pria itu mengetahuinya, dia seperti ikut sakit karena memikirkannya.


“Aku gak lupa, kok.”


Sebuah kalimat yang menenangkan bagi Junda meskipun dia tetap khawatir karena Relina bekerja lebih keras, bahkan pulang selarut ini. Seandainya bisa dia yang akan menangani proyek dan mengatasi masalahnya. Maka Relina tidak harus melakukan semua pekerjaannya. Sudah cukup menurutnya melaksanakan sebuah wasiat, dia tidak perlu terjun langsung dan mengatasinya sendiri.


“Proyek itu, berat. Biar aku saja.”


“Aku bisa, kenapa memangnya?”


Junda lebih pengalaman dalam menangani sebuah proyek dan itu melelahkan, sehingga dia tidak tega melihat Relina menjalankannya. Ini murni tentang kasih sayang dan bukan mengharapkan kompensasi fiskal yang ada.


“Apa yang kamu, cari? Lima persen saham? Kompensasi fiskal? Aku bisa ngasih semua itu buat kamu.”


Relina menatap Junda tidak percaya, dia kembali berusaha melepaskan dirinya. Pikirannya tiba-tiba ingin membuktikan sesuatu, sehingga dia berkata dengan perlahan.


“Ayo! Kita menikah.”


“Apa? Menikah? Sekarang?”


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2