Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Maaf


__ADS_3

Relina melihat semuanya dari ujung matanya, tapi ia tidak bereaksi dan hanya mengedikkan bahunya sedikit. Dia mengusir hawa dingin yang tiba-tiba menyentuhnya dengan memeluk dirinya sendiri.


Dia melemparkan pandangan di halaman parkir yang luas dan dipenuhi oleh berbagai merk mobil, jalanan yang ramai tampak di kejauhan dengan lampu-lampu kendaraan yang terus bergerak, serta kesibukan beberapa orang yang lalu-lalang.


Dia menganggap semua yang dia lihat saat ini adalah orang pacaran yang kebetulan lewat. Tidak ada hubungannya sama sekali, dengan dirinya dan memang seperti itulah kenyataannya.


‘Anggap saja kita tidak pernah saling kenal dan nasibku harus melihat kalian, kenapa juga dia membawaku ke sini, apa untuk hal ini? Biar aku sakit hati atau cemburu melihat kalian? Jangan mimpi!’


Relina baru saja hendak beranjak ketika Junda memegang pergelangan tangannya mencegahnya untuk pergi. Relina melihat tangannya yang digenggam oleh Junda, lalu melihat pada Syalu. Dis ingin segera melepaskan tangannya karena dia tidak ingin mendapatkan masalah dengan mantan bosnya.


Syalu merasakan terjadi gerakan di tangan Junda, hingga dia yang semula mengabaikan Relina, kini dia menoleh padanya. “Kamu, di sini?” tanya Ketus.


“Jadi, kamu tadi ninggalin aku, terus nyuruh aku berangkat duluan, Cuma buat jemput dia?” Kembali Syalu berkata pada Junda dengan suara yang agak keras, menampakkan bahwa dia marah.


“Iya.” Junda menjawab dengan ringan.


Ketika malam sebelumnya Syalu sebenarnya agak heran karena ia tidak menemukan bunda di kamar hotel dan juga tidak bisa dihubungi melalui ponsel. Entah pergi kemana dia, Syalu tidak bisa menemukannya.


Sementara siang harinya, sebelum acara penganugerahan diterima, Junda pun sempat menghilang, hingga dia hampir terlambat. Ketika Syalu bertanya, Junda hanya menjawab singkat, “bukan urusanmu.”


Ketika akan berangkat tadi, Juanda dengan tegas menyuruh Syalu agar berangkat terlebih dahulu dan Junda menolak untuk bersamanya. Dia pun pergi dengan menggunakan taksi online dan bertemu di tempat gala dinner.


Wanita itu tidak menyangka jika dia tidak menemukan Junda di mana pun di sana. Bahkan kursi yang sudah diperuntukkan untuk mereka pun berubah letaknya.


Saat ini, ketika Syalu mengetahui bahwa Junda bersama Relina orang yang sangat tidak diharapkan kehadirannya. Apalagi dia melihat Junda yang menggenggam tangani Relina di hadapannya. Dia sangat cemburu, KASAL dan marah, tidak menyangka bahwa Junda tega melakukan ini kepadanya padahal pria itu tahu bahwa dirinya mencintainya.


Selama ini Syaalu juga menahan perasaannya karena ia tahu Junda tidak akan mau menikah dengannya, hanya karena kepercayaan yang tidak bisa dibantahnha, lalu ... gadis ini benar-benar sudah membuatnya frustasi.


Dia sebenarnya tidak ingin menjadi wanita bodoh yang menyia-nyiakan kehidupan dan perasaannya hanya untuk laki-laki, yang tidak bisa dimilikinya, tetapi sekuat apapun dia berusaha, untuk berpaling dan mencoba untuk mencintai laki-laki lain tetap saja selalu kembali kepadanya...


Sementara Relina tersenyum dan mengangguk pada Syalu, ada perasaan bersalah mengerubuti hatinya. Tiba-tiba hidungnya terasa sangat gatal, yang membuatnya ingin menggaruknya, dia menjadi salah tingkah. Dia merasa menjadi seorang penggoda pasangan kekasih.


Dia juga tidak menyangka jika Junda bersikap seperti ini di depan Syalu. Sebelumnya Relina berfikir bahwa Junda ingin memberikan sakit hati kepadanya, tapi sepertinya yang terjadi justru sebaliknya Junda ingin membuat Syalu sakit hati karena dirinya.


‘Apa ini? CK!’

__ADS_1


“Selamat malam, Bu Sya ...?”


Syalu tidak menjawab Relina hanya melirik gadis Itu sekilas lalu ia menatap Junda, meraih lengan pria itu dan melepaskannya dari tangan Relina. Dis lalu berkata dengan sedikit menghibah.


“Jekaskan apa maksud semua ini, Jun!”


“Tidak ada maksud apa-apa dan tidak ada yang perlu dijelaskan.”


“Bu Sya ... jangan salah paham, saya dengan Pak Junda tidak ada hubungan apa-apa. Saya kemari hanya karena –“ kata Relina terputus oleh ucapan Junda.


“Aku memang sengaja ngajak dia, apa salahnya? Di antara kita, nggak ada hubungan apa-apa, kan? Kenapa kamu harus marah?”


Mendengar pertanyaan Junda, Syalu tertegun dan berpikir, memang benar di antara mereka tidak memiliki hubungan apa-apa, tapi dia mencintainya. Selama ini, Syalu pernah beberapa kali mengganggu pasangan-pasangan Junda, agar tidak terlalu lama bersamanya.


Bahkan dia pernah memberikan obat kepada pacar Junda, sehingga mereka ingin melakukan hubungan terlarang. Dia hanya penasaran melihat apa yang akan terjadi setelahnya. Benarkah kematian akan datang menghampiri para wanita yang tidak memiliki tanda itu?


Akan tetapi, walaupun Junda dan wanita itu sudah meminum obat yang diberikan oleh Syalu, pria itu tetap bertahan. Dia lebih memilih menyiksa dirinya sendiri, daripada menyalurkan kebutuhan dari sesuatu di bawah perut, kepada wanita yang jelas-jelas sudah di penuhi gelora dan minat pada kepuasan tubuh yang bergejolak.


“Tapi kamu, nggak harus bohong juga sama aku, Jun! Kamu bisa ngomong terus terang jadi aku nggak nyariin kamu.”


“Buat apa aku ngomong sama kamu, Kamu, kan bukan ibuku? Terus terserah akulah mau ngapain aja mau ngajak siapa saja.”


“Egois kamu, Jun!”


“Memang selama ini kamu nilai aku egois, begitu?”


“Ya seharusnya kamu ngerti dong ... kan, kita berangkat bareng, ngurusin semuanya juga bareng-bareng, tapi kenapa pas makan malam kita harus pisah seperti ini?”


“Oh, jadi hanya itu permasalahannya?”


“Terus gimana tiba-tiba dia bisa dapat kursi?”


“Dia gantiin Fuad.”


“Apa?!” kata Relina dan selalu secara bersamaan

__ADS_1


“Apa seharusnya Pak Fuad juga datang ke acara ini?” tanya Relina.


“Iya, seharusnya Gunara juga datang, tapi saya nggak tahu kenapa mereka membatalkan pertemuan, kalau Gunara wajar, saya maklum, tapi Fuad?” Junda menjawab Relina dengan pertanyaan pula.


Acara seperti itu memang tidak sembarangan orang bisa hadir, karena semua kursi yang tersedia sudah dipesan sesuai jumlah dan nama tamu. Ketika Junda tengah berniat membeli gaun untuk Relina, secara kebetulan bertemu dengan Fuad yang tampak tengah berbelanja juga, saat itulah Fuad memberikan no kursi dan undangannya.


Mereka berdua sempat berseteru, tapi karena kejadian Gunara yang kecelakaan dan Junda menolongnya, sepertinya mereka sudah baik-baik saja. Pertolongan dari Junda itulah yang membuat keluarga Gunara bersyukur karena Gunara bisa diselamatkan tepat waktu.


Relinna membawa otaknya berkelana memikirkan Gunara, sontak dia berniat untuk menghubungi Fuad dengan mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya


Relina berusaha menghubungi Fuad, sampai berulang kali tetapi ponselnya tidak menerima panggilannya. Relina pun heran, dengan apa yang terjadi. Dia menduga, mungkin Fuad ada di tempat Icha dan mereka sedang sibuk berduaana, sehingga tidak menerima panggilan telepon dari Relina.


Gadis itu penasaran, untuk lebih memastikan lagi Relina pun menghubungi Icha dan ternyata dia mendapatkan pengabaian yang sama, Ica tidak menerima panggilannya.


Junda menunduk untuk memperhatikan wajah Relina, lalu bertanya, “Kenapa ... kamu jadi mikirin Gunara?”


“Iya, sedikit. Maaf ....”


“Sudah, jangan berprasangka buruk, dia baik-baik aja. Itu rumah sakit bagus di Jakarta, jadi jangan kuatir ... “


‘Ya, ya ... Sebaiknya aku tidak terlalu khawatir' batin Relina.


Demi melihat wajah Syalu yang cemberut dan menatapnya penuh kebencian, Relina mendekat setelah memasukkan kembali telepon genggam ke dalam tasnya.


“Maaf Bu, sekali lagi saya minta maaf kalau memang kehadiran saya mengganggu ... tetapi saya tidak punya maksud seperti itu," katanya penuh rasa bersalah.


Maksud ucapan Relina adalah, dia tidak bermaksud untuk menyakiti Syalu dan dia juga tidak mengerti kenapa dirinya dibawa ke tempat itu oleh Junda. Walaupun Relina sangat ingin mengatakan tentang kelakuan Junda yang menyebalkan, tapi dia tidak mengatakannya secara jujur.


Dia khawatir bila mengatakan soal keterpaksaannya yang dianggap utang, justru Junda akan menguak prasangka buruknya bahwa Relina adalah seorang wanita malam. Ini akan sangat memalukan, biar bagaimanapun dia berusaha menyangkal, tapi kemungkinan Syalu akan lebih mempercayai Junda dari pada dirinya.


Syalu kesal, akhirnya dia tidak menjawab ucapan Relina, Dia hanya meliriknya sekilas, kemudian melihat pada Relina dengan tatapan membara...


Wanita itu menuju ke sebuah ruangan, sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2