Jerat Tanda Cinta

Jerat Tanda Cinta
Ragu


__ADS_3

Junda meninggalkan Relina di ruangan rawat inap itu bukan karena ia putus asa, juga bukan karena tidak mencintainya. Akan tetapi karena ia memberi ruang untuk dirinya sendiri mendinginkan hati dari panasnya rasa bersalah yang seperti membakar jiwa. Apalagi mendengar ucapan Renita yang mengatakan bahwa kesialan atau nasib yang diderita oleh Relina saat ini adalah karena dirinya.


Laki-laki itu berulang kali mendesah pelan, menarik nafas panjang, untuk menenangkan debaran perasaannya yang terasa sakit. Di mobilnya dia terus bergumam, “Maafkan aku.”


Dia mengendarai mobil itu dengan kecepatan rendah, menuju ke suatu tempat di taman kota. Setelah sampai di sana, dia duduk seorang diri sambil merenung dan berpikir untuk mengambil keputusan, antara harus melepaskan atau mempertahankan.


Apabila mempertahankan, dia dan juga semua orang mana ada yang tahu apakah kelak mereka akan selalu mengalami hal buruk atau tidak, dalam hidup. Sebab masa depan adalah rahasia terbesar yang dibuat oleh Tuhan kepada seluruh umat manusia.


Cinta Junda begitu besar pada Relina, hingga bertekad menjadikan wanita itu sebagai pendamping hidupnya. Belum pernah dia merasakan cinta pada wanita sebesar ini dan tentu saja dia tidak ingin bila gadis itu menderita atau tiada hanya karena dirinya.


Dia percaya pada takdir bahwa semua yang terjadi adalah kehendak tuhan akan tetapi tidak enak juga apabila dia selalu disalahkan. Menurut pemahamannya, bahwa seorang manusia yang tidak beruntung, bukan disebabkan oleh sebuah tanda lahir, tetapi mungkin memang jalan hidup yang harus dijalaninya.


Baginya mempertahankan ataupun melepaskan sama-sama sakit, begitu juga dengan Relina. Dia tahu bagaimana rasanya menjalani hubungan yang tidak mendapatkan restu.


Seperti yang dialami oleh ayahnya menikahi wanita yang tidak disetujuinya, walaupun ibu tirinya orang yang baik, tapi dia menganggap ayahnya tidak setia. Cukup aneh memang, sedangkan Ibunya sudah tiada, tapi rasa tidak suka pada ibu tirinya itu, masih tetap ada sampai sekarang.


Setelah beberapa saat kepergian Junda, di kamar rawat inap itu, Erlina merenung dan dia kesal dengan Renita—ibunya, yang menuduh Junda sembarangan.


Dia pikir selama ini ibunya adalah orang yang sangat realistis terhadap segala sesuatu. Akan tetapi sekarang wanita itu mengait-ngaitkan kejadian pada dirinya dengan hal berbau mistis. Tidak ada hubungannya dengan sebuah tanda kesialan yang dimiliki Junda, orang yang dicintainya, mustahil sekali.


“Aku nggak percaya Ibu berkata seperti itu, sama Junda. Ibu ini nggak realistis,” kata Relina sambil melirik ibunya kesal.


“Ibu Cuma sayang sama kamu, nggak ingin kamu mengalami kecelakaan seperti ini, apa Ibu salah?”


Relina diam mendengar ucapan ibunya, kasih sayang seorang ibu memang tidak salah, tetapi pemahaman ibunya yang salah. Seseorang seringkali salah memahami sesuatu, hanya karena memandangnya dengan sebelah mata.


Relina menoleh pada Rosihan, yang sedari tadi hanya diam duduk disofa dekat pintu. Dia bertanya, “Kalau menurut ayah gimana, kan, nggak mungkin kejadian meledaknya gas kemarin karena tanda sial yang dimiliki Junda?”


Sambil melipat tangan, Rosihan berkata setelah menarik napas panjang, “Dulu, Kannha, juga punya tanda di dahinya sebagai anak titisan dewa matahari. Kamu tahu, kan, dia juga anak Pandu?”

__ADS_1


Relina mengangguk tapi acuh, sudah biasa dengan kebiasaan ayahnya.


Rosihan melanjutkan bicaranya, “Ya, awalnya dia memang mengalami sebuah kontradiksi, perang batin melawan kebenaran dan kejahatan. Mau membela Pandawa atau Duryodana dan Sangkuni.”


“Ayah, apa hubungannya Kana sama aku sekarang?” kata Relina, dia protes karena ayahnya kembali mengumpamakan kejadiannya dengan cerita pewayangan dan perang BharataYudha.


“Kanha bisa mendapatkan kebenaran setelah dia mengalami berbagai macam cobaan. Dia awalnya berpikir salah karena emosi dan memandang sebelah mata. Ada bisikan Sangkuni, orang paling licik di seantero kerajaan Kurusetra, hingga dia berpikir salah.” Rosihan diam sejenak.


“ Akhirnya setelah peperangan, dia mengerti bahwa apa yang dilakukan selama ini tidak benar, dari peperangan juga dia bisa memilih sebuah kebenaran dan menemukan keluarganya yang sesungguhnya.”


“Terus apa hubungannya sama aku?” tanya Relina lagi.


“Kamu bisa mengibaratkan apa yang kamu alami, sebagai peperangan, bisa memilih mana benar mana atau salah. Seharusnya kamu tanya, tanda seperti apa yang dimiliki Junda, hingga bisa membawa sial?”


“Nah, harusnya ibu yang tanya! Jadi bisa tahu mana yang benar atau salah, tidak terus menyimpulkan dengan pikiran ibu sendiri.” Relina berkata sambil melirik pada Renita yang sibuk dengan ponselnya, dia menjawab beberapa pesan dari rekan mengajar tentang masalah sekolah dan anak didiknya.


“Kenapa Ayah juga enggak ngomong dari tadi, sih. Kenapa bukan ayah saja yang tanya?” tanya Renita kemudian setelah menyimpan ponsel di meja kecil samping tempat tidur Relina.


Rosihan dan Renita tidak mengenalnya, hanya Relina yang tampak tersenyum lebar melihat kedatangan teman yang sudah memberinya kenangan manis, di Hotel Salak dan Istana kepresidenan Bogor.


“Icha!” Teriaknya, ingin rasanya duduk atau memeluk wanita berpenampilan seperti lelaki itu, tetapi jangankan untuk berdiri, untuk sekedar duduk saja dia kesusahan.


Relina tidak ingin menyusahkan ibunya, hingga dia menahan keinginannya untuk duduk dan melakukan beberapa hal.


“Maaf, aku baru bisa menengok mu?” kata Icha setelah berdiri di sisi tempat tidur Relina dan menyimpan bingkisan yang dibawanya. Sementara Rosihan dan Renita duduk di sofa, memberi ruang pada Icha dan Relina, untuk bicara.


“Tidak masalah, dari mana kamu tahu aku di sini?”


Fuad mendapatkan kabar tentang kejadian yang dialami Relina dari Junda, saat dia tengah berada di Jakarta, menemui Icha dan anaknya. Pria itu melakukan kunjungan rutin sepekan sekali pada keluarga kecilnya. Setelah mendengar bahwa Relina tidak bisa melakukan tugasnya, dia segera kembali ke perusahaan untuk mengurus semuanya. Oleh sebab itu, Icha ikut bersama dengan Fuad ke Bogor untuk melihat temannya.

__ADS_1


“Jadi, kamu menginap di rumah Pak Fuad? Kalian sudah menikah” tanya Relina, dalam hati dia bersyukur, Junda sangat pengertian padanya.


Icha mengangguk. “Tapi kami nikah siri.”


“Loh, kenapa?” tanya Relina, penasaran.


“Hmm ... Mamaku nggak setuju kalau aku ikut Fuad ke Bogor. Tidak ada yang mengurus toko peninggalan ayah, tapi Fuad nggak mau menjalani hubungan yang salah di mata agama, padahal kami sudah salah sebelumnya.”


Mendengar itu, Relina mengangguk.


“Anakmu, nggak di ajak?”


“Ada sama Fuad, tadi masih beli es krim.”


Tidak berapa lama muncul Fuad dan anak perempuan kecil yang segera menghampiri Icha. Dia membawa beberapa berkas yang harus ditandatangani Relina. Dokumen itu sudah menumpuk dan cukup banyak yang menunggu sentuhan Relina.


“Maaf, kamu harus melakukannya. Apa tidak masalah?” tanya Fuad penuh hormat. Biar bagaimanapun, sekarang Relina masih menjadi pimpinan perusahaan dan proyek yang dijalaninya.


Relina hanya menggelengkan kepalanya, menunjukkan bahwa dia bisa melakukan kewajiban, hanya saja dia menandatangani berkas itu, dengan perlahan dan hati-hati. Keadaan tangannya masih kaku dan beberapa perban masih membebat luka, membuat tangannya susah untuk digerakkan.


“Pak Fuad, bagaimana kabarnya Erwin? Hp saya jadi korban ledakan, jadi saya tidak bisa berkomunikasi dengannya,” tanya Relina.


“Dia baik-baik saja, semua pekerjaanmu sudah ditangani sama dia. Jadi, jangan kuatir. Kamu konsentrasi saja biar cepat sembuh,” jawab Fuad.


Relina mengangguk. Kemudian, setelah Relina selesai, Fuad memberikan sesuatu pada gadis itu, yang ternyata sebuah ponsel baru.


“Ini, titipan dari Pak Junda, tadi kami sempat bertemu. Sudah ada simcard nya, kamu tinggal mengaktifkan saja,” kata Fuad sambil membereskan berkas yang sudah dibubuhi tanda tangan Relina.


Relina tampak berbinar melihat ponsel baru itu, tiba-tiba dia merindukan Junda, padahal baru tadi pagi dia melihatnya. Akh ....

__ADS_1


Barsambung


__ADS_2