
Kini Junda menoleh dan melihat Relina yang juga tengah menatapnya dengan serius. Gadis itu membawanya ke kamar dan menutup pintu dengan menyisakan sedikit celah yang terbuka.
Relina mendongak dan sedikit berjinjit, lalu mencium pipi Junda dengan mudah karena, tinggi badan mereka tidak terlalu jauh. Ciuman singkat itu menyisakan hangat yang membekas.
“Terima kasih ....” Katanya. “Maaf sudah merepotkanmu. Mungkin aku tidak bisa membalas semua kebaikanmu, anggap saja impas dengan keusilanmu.” Setelah berkata seperti itu, dia tersenyum kecil. Membuka pintu.
“Aku akan menelponmu lagi, nanti.” Kata Relina sambil menyeret kopernya ke dekat tempat tidur.
“Apa kamu ngusir aku? Kamu gak akan bisa kerja di kantor Gunara kalau bukan karena aku!”
Relina menoleh dan tersenyum miring, sambil melangkah meninggalkan kopernya, untuk mendekati Junda.
“Kan aku sudah bilang, terima kasih tadi,” kata Relina.
Sementara Junda masih diam ditempanya, sepertinya ada rasa tidak rela melepaskan ciuman Relina begitu saja. Dia sebenarnya sangat lelah dalam pejalan untuk bisa mencintai. Selama bertahun-tahun menahan perasaan setiap kali menyukai wanita, lalu hanya bisa bermain-main dengan mereka tanpa kejelasan hubungan selanjutnya.
Kelelaannya sudah sampai pada ujungnya, sehingga dia ingin menyandarkan hatinya pada sosok yang saat ini berhasil membuatnya patah hati, sekaligus membangkitkan kesenangan yang lebih besar lagi.
Pria itu melihat Relina yang mengabaikannya dengan mudah, sedangkan dia tidak. Junda melangkah dengan cepat, lalu menarik tubuh gadis itu kembali dalam pelukannya.
“Biarkan aku seperti ini, sebentar saja,” katanya sambil menyimpan kepala diatas pundak Relina. Suaranya yang seksi berubah serak, seperti menahan sesuatu dalam dirinya, namun terdengar seperti seruling di telinga Relina.
Relina menerima pelukan Junda dengan pasif. Diam terpaku merasakan napas yang berembus di lehernya. Dia menjadi bergidik, ada tarikan hangat yang menjalar dari lehernya menembus dada dan otaknya, tiba-tiba pikirannya berkelana ...
'Bagaimana jika, bagaimana jika ... akulah orang yang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi pasangannya?’ Batin Relina.
“Sudah cukup!” kata Relina, sambil berusaha melepaskan pelukan. Apabila Junda memeluknya lebih dalam lagi, dia khawatir tak mampu menahan diri. “Sudah malam, kembalilah ke rumah sakit. Kasihan Nenek, nggak ada yang jaga.”
Itu hanyalah penolakan Relina secara halus, dia tidak ingin terjerat dalam cinta Junda, sementara tanda cinta itu belum jelas kebenarannya. Dia pernah menatap Junda dengan intens hingga dirinya terperangkap dalam jaring yang sangat kuat dan tidak bisa melepaskan diri selain rela menjadi tangkapan. Ya, dia sudah rela jatuh cinta. Akan tetapi bila saat ini Junda terus memeluknya, Relina takut tidak mampu menolak bila pria itu menginginkan hal lainnya.
“Apa kamu pernah berpikir seandainya terjadi sesuatu di antara kita, apa yang akan kamu lakukan?” Junda bertanya dengan wajah yang berkerut.
Pria itu melepaskan pelukan dan menatap Relina lekat, bola mata hitamnya seperti kaca yang jernih, sehingga gadis itu bisa melihat bayangan dirinya di sana.
Junda adalah pria dewasa yang juga punya keinginan, minat dan gelora kegairahan antara pria dan wanita, tapi pengendalian diri yang bagus membuat dirinya tetap baik-baik saja.
Tangan Junda terulur dan memegang dagu Relina, lalu mendaratkan bibirnya pada bibir Relina, dengan lembut. Itu ciuman yang berbeda. Junda tetap mempertahankan ciuman hingga beberapa lama. Akan tetapi Relina mendorongnya.
“Cukup, Junda!” katanya, sambil mengusap bibirnya yang basah karena pertukaran ludah mereka. “Lupakan semua yang pernah terjadi di antara kita. Nenek tidak akan pernah merestui kita!”
__ADS_1
Junda tersenyum simpul dan mengangguk, dia pun mengusap bibirnya sendiri dengan ibu jari, “Ya, itu sepertinya benar. Kamu tahu, padahal aku sudah berniat untuk mengenalkanmu pada Nenek, sebagai calon istriku.” Katanya sambil tersenyum kecil seperti mengejek dirinya sendiri.
“Apa? Apa kamu gila mau menentang nenekmu, hanya karena aku? Aku bukan siapa-siapa, banyak wanita lain yang lebih baik dariku atau bahkan yang memiliki tanda yang sama!” tukas Relina.
“Apa kamu juga percaya hal seperti itu? Ahk ... aku kira kamu tidak ...”
“Aku? Aku tidak tahu soal tanda yang bagi keluargamu menakutkan itu, tapi aku menghargai apa yang dipercaya Nenekmu.”
Junda sudah berusaha keras memikirkan hal realistis dan mencari berbagai referensi tentang beberapa kepercayaan neneknya selama ini. Sedikit demi sedikit meyakinkan diri bahwa kekuatan takdir Tuhan, lebih besar dari pada kepercayaan tentang sebuah tanda lahir yang membawa kutukan. Dia tidak akan mengorbankan kesucian cinta mereka menjadi sia-sia.
Setelah mengenal dan terkesan dengan sikap Relina, Junda berharap gadis itu akan berjuang bersamanya, serta yakin dengan kebahagiaannya. Akan tetapi dia tidak menyangka bila Relina justru menyerah begitu saja dan terlihat enggan.
“Benarkah? Bagaimana kalau aku menyukaimu, Relina .....” Junda berkata sambil menggendong Relina, membuat gadis itu terkejut karena gerakannya yang tiba-tiba, seketika dia memberontak. Akan tetapi penolakannya tidak berhasil dan hanya bisa diam saat Junda membaringkannya di atas tempat tidur. Kini Junda berada di atas Relina dan kembali berkata. “Hmm ... aku sudah pernah mengatakannya, apa jawabanmu?”
Relina dengan cepat berusaha bangkit, tapi Junda menahan dengan menekan pundaknya. “Kamu mau ke mana?”
“Lepaskan! Aku belum mau mati konyol karena kamu memaksaku seperti ini.”
“Ayo, kita buktikan saja kebenarannya, apa salah satu di antara kita akan mati?”
“Kamu, gila Junda! Cuma aku yang akan mati, bukan kamu! Aku nggak punya tanda yang sama seperti milikmu!” Relina berkata sambil menitikkan air mata. Junda melihat air mata itu membuatnya tertekan dan hatinya seperti dilubangi.
Walau ada sedikit kecewa, Junda bangkit dari posisinya. Dia menduga bahwa Relina sudah mengetahui secara rinci, tentang tanda kutukan di tubuhnya, yang dia dengar dari Atmaja—ayahnya , saat Relina menginap di sana.
*****
Pagi itu di hotel tempat Relina menginap.
Fuad datang seperti yang dikatakan Junda, laki-laki itu datang menjemput Relina. Mereka sudah mengatur janji bertemu di lobi hotel setelah sarapan pagi.
Setelah Junda mengabarkan padanya tentang keberadaan Relina dan bercerita sedikit tentang keadaan gadis itu sebelumnya, Fuad langsung menuju hotel tempat Relina menginap. Akan tetapi, dia tidak berusaha mencarinya karena, dia sibuk chat dengan Icha.
Sepertinya Fuad akan memakai kesempatan ini untuk menemui Icha, kekasihnya.
Fuad sangat berterima kasih pada Junda karena sudah mau mengalah, menyerahkan Relina untuk perusahaan Gunara, sehingga dia bisa sedikit punya waktu luang untuk mendekat kembali dengan Icha. Dia berniat menikahinya.
Junda sebenarnya bukan hendak mengalah pada saingannya, tapi dia menyerah pada pilihan Relina. Gadis itu berhak menentukan apa yang akan dijalaninya dalam hidup. Dia sudah sangat bersyukur, gadis yang disukainya tidak berada jauh darinya dan bila kelak ingin bertemu, dia akan mudah mencarinya.
Relina masuk ke mobil bersama Fuad setelah menyimpan koper di bagasi. Wanita itu lebih leluasa dan tidak canggung dengan pria ini. Mereka telah menjadi akrab karena Icha. Saat menyadarinya, Relina merasa seolah-olah takdir mempermainkannya, membawa mereka berputar putar kemudian kembali ke titik semula.
__ADS_1
Saat sudah berada di dalam dan duduk di jok belakang mobil. Relina baru menyadari ada orang lain yang menjadi sopir dan duduk di belakang kemudi.
Fuad duduk di samping Erwin, pria yang menjadi pengemudi mereka hari ini.
“Kenalkan, dia Erwin,” kata Fuad memperkenalkan laki-laki yang menunduk hormat dan tersenyum manis pada Relina.
“Saya Relina,” kata Relina sambil mengulurkan tangan dan Erwin menyambut ramah.
Erwin pria yang lembut dan murah senyum. Dia asisten Gunara dan sudah bekerja cukup lama dengan perusahaannya. Selama Gunara sakit atau mengurus hal lainnya, maka Erwin yang akan mengurus perusahaan bersama dengan Fuad dan beberapa staf direktur kepercayaan Gunara lainnya.
“Nanti Erwin yang akan mengajarimu. Dia sudah hapal apa saja yang menjadi kebiasaan dan keputusan Gunara dalam semua kondisi perusahaan. Masalah lainnya nanti bisa kita diskusikan,” kata Fuad.
“Baiklah,” sahut Relina. Dia sebenarnya tidak ingin menjadi pimpinan secara langsung, akan tetapi Fuad serta Erwin berjanji akan membantunya sebaik mungkin.
Relina tidak akan kerepotan mengurus segalanya sebab, yang dibutuhkan perusahaan dari dirinya adalah, kewenangan untuk mengesahkan segala keputusan yang sudah disepakati.
Memikirkan beberapa langkah, untuk mempertahankan segala kondisi, adalah salah satu hal tersulit yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin. Akan tetapi mereka bisa membicarakannya dan Relina tinggal memutuskan mana yang terbaik bagi perusahaannya.
Selama dalam perjalanan, yang cukup lama antara Jakarta dan Bogor, Fuad terus menceritakan semua yang terjadi pada Gunara, sebelum kematiannya. Waktu pertemuan mereka terakhir kali, Fuad tidak sempat mengatakan apa pun karena dia harus mengurus pemakaman Gunara, dengan segera.
“Jadi, sebenarnya Gunara ingin membuat sebuah proyek yang dananya akan dia alokasikan seluruh dari saham dan tabungannya.
“Proyek apa?”
“Taman bermain untuk masyarakat umum. Proyek ini sudah berjalan sedikit dan sekarang terhenti, dia ingin kamu yang melanjutkan proyeknya.”
“Di mana itu?”
“Di kampung Talas, Bogor Timur.”
“Oh,” itu lokasi yang agak jauh dari perusahaan Junda, desa itu lebih ke arah timur melewati jalur belakang Terminal Baranangsiang.
“Kenapa harus aku?” tanya Relina.
“Aku tidak tahu,” sahut Fuad sambil mengedikkan bahu. Akan tetapi, secara perlahan Erwin menepikan mobil. Dia berhenti untuk mengambil sebuah buku dari saku jasnya. Itu catatan agenda yang dia temukan di laci meja kerja Gunara, saat dia membereskannya karena akan menjadi meja Relina.
“Ini, Anda bisa melihatnya, Bu. Mungkin ada jawabannya.” Erwin berkata sambil memberikan buku itu pada Relina.
Relina menerima buku yang diberikan padanya, melihat isi catatan bertiskan tangan Gunara. Dia hapal betul tulisan itu. Sementara mobil kembali melaju.
__ADS_1
“Ini ....” tiba-tiba Relina tidak bisa menahan air matanya.
Bersambung