
Sementara itu, di tempat lain.
Junda tampak mendorong kursi roda yang diduduki Shasi—neneknya, memasuki rumah dengan perlahan. Dia melakukannya dengan penuh kesabaran dan tanpa henti terus berceloteh, membuat suasana rumah sedikit ramai. Hal ini terasa menyenangkan, sehingga Shasi tidak kesepian.
Junda mendekati Shasi yang masih menonton televisi di ruang tengah, dia memberikan angsa yang diberi nama Kimiko di atas pangkuannya, walaupun Shasi tidak bisa memegang bintang peliharaan kesayangannya itu, dengan baik, dia tetap terlihat senang. Sudah beberapa hari sejak berada di rumah sakit, tidak bisa melihat angsanya.
Junda menceritakan pada wanita itu bagaimana Relina bersikeras untuk mencari angsanya dan kembali ke bandara sementara Junda membawa Shasi pergi ke rumah sakit terdekat.
Relina berhasil membawa angsa itu dan menitipkannya di pos penjaga dan ketika Shasi berhasil di pindahkan ke rumah sakit daerah Bogor, Junda membawa kimiko untuk dipelihara di rumah.
Begitu mendengar nama Relina di sebut, wajah dan gerakan tubuh Shasi berubah, dia menatap wajah Junda dengan emosi berbeda. Junda melihat perubahan itu dan menarik napas dalam, dia menghentikan cerita tentang wanita yang dicintainya. Dia tahu bila Shasi mungkin tidak menyukainya.
“Baiklah, baik, Nek. Aku nggak akan cerita lagi soal dia. Aku nggak akan menikahinya demi Nenek. Sekarang tenanglah,” kata Junda sambil melangkah pergi ke kamarnya sendiri setelah menemani Shasi, yang ingin melihat-lihat kebun belakang.
Semula dia berharap bahwa dengan menceritakan kebaikan Relina, akan membuat Shasi berubah pikiran. Akan tetapi, saat melihat reaksi neneknya yang tampak seperti marah dan tubuhnya bergetar, membuat Junda berpikir berbeda.
Selama beberapa hari ini, setelah pulang dari Jakarta, Junda bekerja lebih keras. Dia membereskan keadaan perusahaan setelah sekian lama di tinggalkan karena harus menemani dan merawat Shasi selama di rumah sakit.
Junda meminta bantuan Atmaja—ayahnya, untuk membantu menjalankan perusahaan selama dirinya merawat Shasi. Akan tetapi, Atmaja bersikap masa bodoh serta menganggap semua bukanlah urusannya. Sejak dia menyerahkan perusahaan yang sudah dia bangun selama puluhan tahun itu kepada Junda, dia tidak lagi mengambil keuntungan dan memilih berikan seluruhnya pada anaknya. Oleh karena itu, mungkin yang membuat pria itu tidak lagi peduli, walaupun demi perusahaannya sendiri.
Sejak Junda menjemput Relina hari itu, dia mengurus semuanya sendiri, antara rumah sakit dan perusahaan, seperti itu kegiatannya selama berhari-hari, hingga dokter mengatakan bila Shasi boleh dibawa pulang.
Kini mereka sudah kembali berkumpul di rumah, keadaan Shasi sudah pulih walaupun tetap tidak bisa menggerakkan tangan, kaki dan mulutnya. Wanita itu seperti mayat hidup dan hanya kepala serta bola matanya saja yang bisa digerakkan. Tubuhnya hanya bisa duduk dan berbaring, makan harus disuapi. Oleh karena itu, Junda menyewa seorang perawat dan suster untuk menjaga dan mengurusnya.
Sementara Junda sama sekali tidak berniat mencari seorang pengganti asisten untuk dirinya sendiri di kantor. Sampai akhirnya Dion datang, dengan membawa seorang lelaki yang usianya mungkin sepuluh tahun lebih tua darinya, antara empat puluh tahun lebih, untuk menjadi asisten pribadinya.
Saat Dion, datang tadi pagi, dia memperkenalkan Banu, sebagai orang yang bisa membantu, dia berkata sambil tertawa kecil. “Percayakan saja semuanya pada Pak Banu, dia sudah pengalaman kerja lama denganku.”
“Apa kamu sudah tidak membutuhkan laki-laki itu?” tanya Junda, heran.
__ADS_1
Dion berpikir bila Banu adalah seorang pekerja keras, dan pantas menjadi asisten Junda, dia sangat kompeten selama ini. Dia bukannya tidak membutuhkan atau berniat menyingkirkan pria matang itu, tapi sekarang dia sudah mendapatkan asisten yang disukainya, yaitu Ane.
Ya, beberapa hari yang lalu Ane mengatakan bahwa, dia siap menjadi asisten Dion, bahkan sudah membuat surat pengunduran dirinya. Ane mengajukan surat itu secara langsung kepada Junda, yang dengan cepat menyetujui, serta memberikan pesangon yang cukup besar padanya.
Baik Junda maupun Ane, saat itu merasa bahagia, Ane bisa naik jabatan dan dekat dengan Dion juga Alex. Anak kecil yang sudah membuat kerinduan kecil dihatinya. Sementara Junda merasa senang bisa membantu saudara sepupunya. Dion ingin melakukan pendekatan dengan Ane, gadis yang sudah membuatnya kembali merasakan cinta, setelah tujuh tahun lamanya.
Itulah sebabnya Dion datang dan meminta agar asistennya, Banu, bisa bekerja pada Junda. Ini seperti pertukaran antar pekerjaan yang sangat menguntungkan.
“Bukannya tidak butuh, dia sangat pengalaman. Kamu tahu, kan, aku nggak mau dekat-dekat sama perempuan sejak istriku pergi, tapi sekarang aku punya Ane. Haha,” sahut Dion setelah diam beberapa saat lamanya.
“Hais, kamu ini seharusnya bilang terima kasih padaku ... kalau bukan aku yang memberinya petunjuk dan peluang untuk bisa naik jabatan, punya penghasilan yang lebih baik, dia tidak mungkin mau bekerja sama denganmu!”
“Baiklah, terima kasih, ya, sudah membantuku ... Oh iya, Ane bilang, kamu memberinya pesangon yang banyak. Apa perlu aku ganti uangmu?”
“Eh! Tidak perlu ... itu sudah jadi kewajibanku.”
“Kewajibanmu? Tapi Ane bilang kamu nggak begitu, waktu memecat Relina? Kamu masih ingat?”
“Ya, itu kesalahanku, aku akan menebusnya.”
“Dengan apa? Dia sekarang sudah pergi, kan?”
Junda kembali terdiam, pikirannya masih membayangkan Relina, bahkan dia tidak sadar saat Dion berpamitan.
*****
__ADS_1
Hari sudah larut malam saat Junda tersadar bila dia sudah melamun di kamar terlalu lama. Kerinduan seperti riak-riak kecil dihatinya, telah berubah menjadi gelombang besar yang siap menerjang keras ke pantai, hingga menimbulkan suara gemuruh saling bersahutan.
“Relina ....” gumamnya lirih. Sudah beberapa pekan berlalu, sejak terakhir kalinya mereka bertemu waktu itu. Dia tahu di mana Relina tingal dan gadis itu bekerja untuk mempertanggungjawabkan sebuah proyek.
Junda mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, “Cari cara biar kita bisa bekerjasama dengan perusahaan Gunara!” hanya itu perintah yang keluar dari bibirnya ketika ponsel sudah terhubung.
Setelah itu dia menyambar jaket, memakai helm dan melewati ruang makan begitu saja. Saat itu, Shasi sedang makan disuapi oleh seorang suster, melihat cucunya pergi tanpa berpamitan seperti itu, air matanya meleleh. Dia tidak dapat bicara, sehingga tidak bisa mencegah kepergiannya.
Kekecewaan mendera lubuk hatinya menyadari bila Junda sudah salah dalam menilai dan menganggapnya tidak setuju dengan hubungan cintanya pada Relina. Seandainya dia bisa menulis, atau memberinya isyarat untuk melanjutkannya, maka akan dia lakukan saat itu juga.
Sementara Junda sedang berada di atas motor besar yang membelah jalanan dengan kecepatan tinggi. Menyalip beberapa kendaraan lain dan tidak banyak mengurangi kecepatan saat berbelok, seperti sudah dia kuasai. Pria itu memburu waktu untuk segera sampai di rumah Relina saat ini. Dia mengendarai kuda besi yang hanya dia gunakan saat terdesak saja, agar tidak terlalu malam sampai di sana.
Junda mempertimbangkan nama baiknya karena mengunjungi wanita yang hanya tinggal seorang diri di rumahnya.
Butuh waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai ke rumah yang kini ditinggali Relina. Secara kebetulan mobil yang dinaiki Relina dan Erwin, baru saja tiba, hingga gerbang terbuka dan Junda bisa masuk dengan leluasa. Pria itu mendahului mobil Relina sampai di halaman, seorang penjagamenghampiri dan menegurnya. Meminta identitas dan menanyakan keperluannya.
Junda tidak menanggapi, dengan santai dia membuka helmnya lalu duduk di motor sambil melipat kedua tangannya di depan dada.
Mobil Relina berhenti tepat di depan Junda dan tampak Relina turun sambil menatapnya dengan wajah berkerut.
“Kamu?” Tanyanya.
“Ya, aku. Kenapa?”
Bersambung
__ADS_1