
Junda menyeruput kopinya dengan tatapan mata tak lepas dari wajah Relina, yang terlihat enggan serta bosan. Dia sengaja mengabaikan pertanyaan Relina karena memang seperti itulah kenyataannya, bahwa dia datang hanya untuk memaksanya.
“Bagaimana kalau saya tidak mau? Saya tidak perduli Anda akan menganggap saya berhutang seumur hidup juga terserah, yang penting Tuhan tahu, saya tidak pernah berhutang apa pun pada Anda.” Relina melanjutkan pertanyaannya yang belum mendapatkan jawaban.
“Ya, anggap saja kita bekerja sama saling menguntungkan.” Junda menjawab sambil menyimpan kembali cangkir kopi dan menjilat bibirnya sendiri seolah sangat menikmati kopi yang telah diminumnya.
‘’Siapa yang bisa menjamin, Anda tidak berbuat macam-macam dengan saya di pesta itu?”
“Kamu mau saya berbuat macam-macam dengan cara apa, tinggal pilih.”
“Jadi, untuk apa saya datang ke sana kalau begitu? CK! Nggak ada untungnya.”
“Ada,” tukas Junda antusias.
“Apa? Yang untung itu Anda, kan?” Relina berkata sambil melebarkan matanya.
“Jadi pacarku. Itu menguntungkan!”
‘Menguntungkan kepalamu!’
“Maaf, itu bukan keuntungan bagi saya.”
“Hanya malam ini dan aku tidak akan mengganggumu lagi, utangmu kuanggap lunas.” Junda berkata sambil menyeringai.
“Saya memang tidak pernah berhutang, tapi kenapa saya, kan ada Bu Sya?” Relina berkata demikian karena saat Junda menolong Gunara, dia melihat Syalu yang ikut bersama mereka bahkan turut serta ke rumah sakit. Relina jelas-jelas melihat wanita itu duduk di kursi depan berdampingan dengan Junda.
“Oh ... dia bukan tipe saya.”
Mendengar penuturan Junda, Relina tidak tahu entah dia harus menangis atau tertawa. Itu sama artinya dengan Junda mengatakan secara tidak langsung, bahwa orang yang dianggap tepat menemaninya ke pesta adalah dirinya.
Syalu bukanlah orang yang Junda anggap cocok. Relina merasa sedikit tersanjung karena dirinya adalah tipe perempuan yang disukai, tapi itu tidak berarti karena sudah terlanjur rasa kesal dan jengkel pada Junda lebih mendominasi.
‘Apa itu artinya tidak ada hubungan sama sekali di antara mereka selama ini? Aku pikir mereka pasangan kekasih'
“Lalu hanya kerna itu, Anda seenaknya membawa orang ke pesta? Kalau Anda tidak suka maka akan diabaikan begitu saja?”
“Kalau kamu tidak mau, maka saya akan datang setiap hari ke sini, menagih dan bilang pada Pak Danu, kamu berhutang satu malam denganku!”
“Apa?”
__ADS_1
‘Dasar gila sialan!’
Tanpa diperhatikan oleh Relina, kopi yang ada di hadapan Junda sudah habis, laki-laki itu meminum kopinya, setiap kali Relina bicara. Dia berdiri, memajukan badannya ke depan, bertopang pada kedua tangannya di atas meja.
Dia berkata, sambil menghunjamkan pandangannya tepat di bola mata Relina. “Kamu bisa memilih mana yang terbaik menurutmu.”
“Tapi, Pak ...” ucapan Relina terpotong.
“Apa Kamu sendiri yang membuat kopi ini? Rasanya lumayan.” Katanya kemudian membuat Relina tersadar dari lamunannya.
“Lumayan, katanya. Terima kasih saja nggak.” Relina bergumam lirih sehingga hanya dirinya sendiri yang bisa mendengarnya.
Junda beranjak melangkah, sambil melirik Relina yang masih terdiam di tempatnya, lalu berkata dengar suara datar. “Bilang terima kasih sama pamanmu.”
‘Dari mana dia tahu Pak Danu itu pamanku?’
“Pak, tunggu!” Relina berkata sambil berdiri mengikuti Junda. Pria itu berbalik dan kini mereka berdiri saling berhadapan di dekat kursi yang tadi mereka duduki.
“Baiklah, Pak. Saya mau menemani Anda ke pesta itu, sebenarnya pesta apa sih?”
Semula Relina merasa tidak perlu tahu pesta seperti apa yang akan dia datangi bersama Junda. Akan tetapi keputusannya berubah, sehingga dia merasa perlu untuk menyesuaikan diri, dengan pesta macam apa yang akan dia hadiri nanti.
Aneh memang, tapi bagi Relina permintaan Junda kali ini adalah yang terakhir kalinya, sehingga dengan senang hati dia melakukannya. Sesuai janji yang dikatakan, apabila dia mau menemani maka laki-laki itu tidak lagi mengganggunya.
“Kenapa tidak tanya dari tadi?” tanya Junda dan kembali duduk di kursinya semula begitu pula dengan Relina.
Apa yang mereka lakukan di sana tidak lepas dari perhatian dari Danu. Laki-laki itu terus melirik keponakannya itu sambil menggelengkan kepala dan tersenyum kecil.
Biar bagaimanapun juga Relina adalah keponakan yang dia sayangi. Dia adalah anak pertama yang sangat diandalkan oleh kakak perempuannya, Renita. Hanya saja Danu tidak menyangka bahwa Relina akan mendapati cobaan yang merepotkan, sehingga dia pun menjadi kasihan.
Danu hanya berharap, bahwa pekerjaan yang dia berikan pada keponakannya, bisa menjadi batu sandungan yang cukup bagus, untuk masa depannya.
Renita, ibu kandung Relina, adalah wanita yang pernah berjasa pada Danu, ketika dia pertama kali mendirikan usaha kopinya di Martapura. Saat ini, menolong Relina adalah salah satu bentuk balas budi atas kebaikan kakaknya.
Selain itu Relina adalah anak yang baik, mempunyai disiplin tinggi dan rajin . Selama Relina bekerja di sana anak itu tidak pernah malu ataupun pilih-pilih dalam mengerjakan sesuatu, apa saja dilakukan walaupun itu harus menyapu dan mengepel lantai.
Sikap disiplin seperti ini yang membuat Danu, sangat menghargai Relina. Padahal dia tahu, bila di kampungnya, anak itu termasuk anak yang dihargai karena kepandaiannya dan sudah mendapat gelar sarjana. Siapa yang menyangka bahwa di kota ini dia hanya menjadi seorang pelayan saja.
Setelah Junda dan Relina duduk saling berhadapan, Junda menjelaskan bahwa dia membutuhkan pendamping untuk menghadiri pesta gala dinner. Pesta ini merupakan puncak acara dari penerimaan penghargaan label top brand beberapa produk unggulan di seluruh negeri.
__ADS_1
Tentu akan banyak tamu yang hadir di sana yang biasanya membawa pendamping mereka masing-masing. Oleh karena itu, Junda membutuhkan pendamping juga.
Sejak bertemu dengan Relina dan mengalami beberapa hal bersamanya, membuat Junda berfikir dan tercetus ide gila untuk membawanya. Biar bagaimana pun caranya, walau dengan memaksa, seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya.
Meskipun begitu, Syalu akan tetap hadir bersamanya, seperti biasa, sebagai asistennya.
Setelah mendengar penjelasan itu, Relina berkata, “Maaf, Pak. Saya tidak bisa, bukannya saya tidak mau, tapi saya tidak memiliki pakaian yang pantas untuk datang ke acara seperti itu. Saya tidak ingin mempermalukan Anda.”
Tentu saja Relina akan sangat menghargai Junda atau siapapun yang bersamanya, seperti prinsipnya selama ini bahwa seseorang akan menghargai orang lain sebagai mana dia ingin dihargai oleh orang lain pula. Sejauh mana seseorang menghargai orang lain, maka seperti itu pula dirinya akan dihargai.
Relina berpikir bila dia akan datang bersama Junda dan juga Syalu. Dia tidak bisa membayangkan apabila dia hanya berpakaian biasa, untuk acara seperti itu. Dia tidak miliki pakaian yang cocok ....
Mendengar keraguan Relina, Junda berdiri dan berjalan keluar tanpa mengucapkan sesuatu. Dia menuju ke mobilnya mengambil sesuatu dan dia menyerahkan sebuah bungkusan kepada Relina
“Apa ini pak?”
“Pakai saja, aku rasa ukurannya cocok.”
Relina melihat isi tas, hingga membuatnya tercengang karena di dalamnya, ada sebuah pakaian dengan warna peach kesukaannya.
“Apa Anda sengaja memilih warna ini?” Relina bertanya heran.
“Kenapa, kamu nggak suka?”
“Oh, bukan seperti itu.”
“Terserah kamu suka atau tidak, aku asal pilih saja.”
‘Dasar menyebalkan sekali'
“Boleh saya coba dulu, Pak? Kalau nanti tidak cukup, saya akan mengembalikannya pada Anda.”
“Tidak perlu, kau pakai saja, itu pasti cocok. Ingat nanti malam jam tujuh aku jemput, oke?” setelah berkata demikian Junda pun pergi meninggalkan meja, sambil mengangguk kepada Danu, yang dibalas dengan anggukan kecil oleh pria tambun itu.
Sementara itu, Relina masih duduk di kursinya, mencoba mencerna dengan hati-hati pada kenyataan yang ia hadapi kali ini.
‘Apa aku mimpi, Pak Junda, ngasih aku baju? Haha kenapa rasanya lucu sekali? Tapi tunggu dulu, jangan-jangan bajunya ... terbuka'
Relina kembali melihat isi dalam tas itu.
__ADS_1
Bersambung